Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
84. Kekesalan Dalam Secangkir Kopi


Rambut itu masih sedikit basah, Anyelir sengaja tidak membuatnya kering sempurna dengan mesin pengering rambut. Dia beranjak dari depan cermin dan menghampiri anaknya.


“Mama, kenapa dinosaurus punah?” tanya Rio pada ibunya.


Dia tersenyum sambil membelai rambut anak-anaknya. “Sebenarnya, hewan-hewan semacam dinosaurus itu tidak punah. Tapi ... mereka berevolusi. Evolusi itu ... adalah perubahan bentuk makhluk hidup dari waktu ke waktu dan terjadi dalam waktu yang sangat lama.”


“Kenapa mereka harus berubah bentuk?” Anak kecil yang menderita penyakit kelainan darah itu selalu serius dengan semua pertanyaannya. Dia cukup kritis dan cerdas, sayangnya ... dia menderita penyakit yang cukup parah dan mempengaruhi usia hidupnya.


“Karena mereka harus menyesuaikan diri. Bahkan manusia pun berevolusi, loh,” jelas Anyelir dengan sabar.


“Manusia juga? Bagaimana evolusi manusia?” Anak kecil itu menatap wajah sang ibu dengan mata bulatnya.


“Manusia berasal dari Nabi Adam,” celetuk seseorang yang muncul dari balik pintu.


Rio menggeser kepalanya dan Anyelir menoleh ke belakang. Ada Dylan yang muncul dan menghampiri mereka.


“Papa?” sorak Rio kegirangan.


Akhirnya Dylan bisa pulang dan istirahat setelah melakukan jumpa pers tadi sore. Pria itu pun mendekat pada sang anak, ia juga duduk di samping sang istri.


“Sayang, tolong buatkan aku kopi,” ucap Dylan pada Anyelir. “Rio main sama papa dulu, ya?”


Anyelir tak menimpali apa-apa, perempuan itu hanya turun dari ranjang dan keluar kamar untuk membuatkan permintaan suaminya.


Dylan pun menggantikan peran Anyelir sebagai teman bermain dan belajarnya Rio. Selama masih bersama Andin dulu, pria itu jarang meluangkan waktu untuk anaknya. Namun dibandingkan dengan Andin, setidaknya dulu Dylan yang lebih sering mengobrol berdua dengan Rio. Mungkin karena Rio bukanlah anak kandung Andin, sementara Dylan adalah orang tua kandung.


Tidak sulit juga bagi Rio untuk melupakan Andin dan menerima Anyelir. Sekali lagi, mungkin ini karena ikatan batin di antara mereka atau mungkin juga karena kemampuan Anyelir yang hebat dalam mengambil hati anak kecil.


“Aku suka dengan dinosaurus yang berwarna biru ini, Papa. Dia bertubuh tinggi dan baik hati, karena dia hanya memakan rumput.” Rio mengambil pensil warnanya yang berserakan di atas ranjang milik Anyelir.


“Memang, ada dinosaurus yang jahat?” tanya Dylan menimpali obrolan anaknya.


“Ada, namanya Tyrex. Roar!”


Tok tok.


Anyelir masuk ke kamarnya sendiri, lalu menyimpan kopi milik Dylan di atas nakas. Perempuan itu langsung mendekat kembali pada putranya. “Sekarang, kamu mewarnai?” tanyanya.


Rio mengangguk tanpa menatap ibunya. Tangannya terus bergerak dengan lincah menggoreskan pensil warna ke atas kertas gambarnya.


“Uhuk, uhuk!” Dylan terbatuk-batuk ketika menyeruput kopinya.


Hal itu membuat Rio menoleh pada papanya saat ia sedang serius menggambar. “Kenapa? Papa tersedak?” tanyanya.


Dylan masih senantiasa terbatuk sebelum menjawab pertanyaan anaknya. “Anye? Kamu nggak ngasih gula ke kopinya?” Pria itu tak tahan dengan kopi pahit dan langsung menjulurkan lidah karena rasa pahit yang menggigit indra perasanya.


“Anda hanya meminta saya membuat kopi. Masih untung saya tambahkan air panas ke dalam bubuk kopinya juga, karena tadinya saya hanya akan menyajikan bubuk kopi dalam gelas Anda,” ujar Anyelir tanpa menatap pada suaminya.


Deg!


Jantung Dylan langsung melambat, serasa berat untuknya memompa darah. Dia menatap sang istri dengan beberapa kedipan pelan. Dalam hati ia bergumam, “Dia memakai bahasa formal lagi, apa aku berbuat salah?”


*


Malam semakin larut, Anyelir telah menidurkan Rio di kamarnya. Semua alat gambar yang digunakan oleh sang anak tersebut telah ia bereskan dan kembali ke tempatnya.


Kini dirinya yang bersiap untuk tidur, berbaring dan menarik selimut.


Sebelum itu, dirinya memeriksa ponsel. Ia melihat ada satu pesan masuk ke nomornya.


[Sayang, tidur sini, ya?] ~ Dydy.


Baru beberapa tarikan napas sambil berbaring dan memeluk anaknya, Anyelir mendapati pintu kamarnya diketuk pelan.


Tok ... tok ....


Perempuan itu tahu siapa yang mengetuk pintu, untuk itu ia mengabaikannya.


Tok ... tok ....


Dia terus memejamkan mata dan berusaha untuk tidak terganggu oleh bunyi ketukan pintu.


*


“Anye ... aku tadi hanya mengambil ponsel sebentar, kenapa kau malah mengunci pintu kamarmu?” ujar Dylan berbisik melalui lubang pintu.


Sudah pasti wanita itu tak akan mendengarnya, tapi ia tetap melakukan hal konyol tersebut.


Pria itu menghirup dan mengembuskan kembali napas sambil menggembung pipinya. Dia masih berusaha mengetuk pintu kamar sang istri dengan pelan.


Tok ... tok ....


“Anye ...,” bisiknya. “Sayang ....”


“Aku akan habiskan kopinya. Kopi buatanmu paling manis sedunia. Kumohon, buka pintunya.” Masih tak ada jawaban dari dalam.


Pria tersebut tidak putus asa dan tetap mengetuk kembali pintu kamar itu.


Tok ... tok ....


Ia pun mendengar suara langkah kaki mendekat dan naik ke atas tangga. Dia mendapati Lastri berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di ujung anak tangga paling atas. Mereka berhadapan.


Ibu dari laki-laki menatap putranya dan melihat dari atas ke bawah. Dia memberi tatapan aneh karena hal yang sedang dilakukan oleh sang anak sangat tak biasa.


Dylan berhenti mengetuk pintu karena ada sang ibu. “Kenapa?” tanya Dylan.


Lastri mengedikkan bahu. “Kau yang kenapa? Gelagatmu sangat aneh.”


Pria itu gengsi mengakui pada sang ibu jika Anyelir sedang marah padanya.


“Aku ... aku mau masuk ke kamar Anyelir, kenapa ibu melihatku?” tanya Dylan lagi. Ia berharap agar perempuan paruh baya ini segera enyah dari hadapannya.


“Kenapa kau memasuki kamar perempuan yang belum kaunikahi? Hah?”  Lastri balik bertanya pada sang anak.


Kalimat tersebut begitu menohok untuk Dylan.


“Apa maksud ... ibu?” Mendadak dia teringat pada jawabannya saat jumpa pers tadi. Di mana ia mengaku jika dirinya belum siap untuk menikahi Anyelir, padahal sebenarnya mereka sudah sah menikah secara agama.


“Aku saja yang bukan Anyelir merasa kesal sampai ubun-ubun, apalagi dia sendiri!” ketus Lastri sambil berlalu melewati anaknya. Dia pun menuju ke kamarnya sendiri dan meninggalkan Dylan yang mematung di sana.


“Aku ... salah?” tanya Dylan pada dirinya sendiri. Dia pun mengetuk kamar Anyelir sekali lagi.


Tok tok tok!


Ketukan kali ini lebih keras dari yang sebelumnya. “Anye ... aku minta maaf,” ucapnya.


Dari dalam masih belum ada respons apa pun.


Pria itu pun merogoh ponsel dan menuliskan pesan untuk istrinya yang bernada putus asa.


[Baiklah, besok aku akan mengurus resepsi pernikahan kita dan akan kuumumkan hubungan kita secara resmi.]