
Karena harus mengurus masalah skandal Dylan yang diduga selingkuh, membuat jadwal yang sudah disusun dengan cukup rapi menjadi berantakan. Mulai dari para klien yang menggagalkan pertemuan sampai ada jadwal tambahan yang mendadak harus dilaksanakan, membuat business trip yang hendak dilakukan oleh pria tersebut harus diundur.
Tidak hanya Dylan, tapi seluruh karyawan terutama yang bekerja tepat di bawahnya.
“Konferensi pers, Pak Dylan. Konferensi pers Pak Dylan. Konferensi pers Pak Dylan.” Kalimat itu berulang-ulang keluar dari mulut Tera sambil ia berjalan terburu-buru.
“Iya, Halo. Hari ini sidang perceraiannya, Pak. Iya, Pak Dylan memutuskan untuk tidak datang. Iya, iya. Iya benar, Pak, hari ini jumpa persnya. Iya. Sama-sama.” Tera menutup teleponnya.
Baru saja ia sampai dan duduk di kursinya, telepon yang bertengger itu terus berdering dan tidak sabar untuk diangkat.
“Iya, ini dengan kantor direktur utama kami. Ada yang bisa saya bantu, Pak? Benar sekali. Aston Hotel Panorama, Pak. Iya, tepat setelah sidang perceraian selesai. Iya. Sama-sama.”
Brak.
Tera membanting telepon lagi. Lama-lama, benda berwarna putih merah yang berada di ujung mejanya itu rusak karena hal seperti ini.
Kriiing ... kriiing ... kriiing ....
Berulang kali telepon itu berdering lagi. Kali ini dia mengangkat telepon sambil memegang ponselnya. Tangannya sibuk mengetik pesan, sementara mulutnya sibuk menjawab telepon.
“Benar, Pak. Hari ini, mungkin pukul empat sore. Silakan berkumpul di gedung serbaguna Aston Hotel Panorama. Iya, benar, tepat setelah sidang perceraiannya usai. Kami kurang tahu, Pak. Karena direktur kami memutuskan untuk tidak hadir. Iya, kemungkinan seperti itu. Tunggu saja nanti di jumpa pers ya, Pak. Iya, selamat siang. Sama-sama.”
Brak.
Gagang telepon dibanting.
Kriiing ... krriiiing ....
“Fyuuh!”
Krriiiing ....
Plup. Kabel telepon itu dilepas.
Seseorang berdiri di balik mejanya. Itu membuat Tera mendongak dan melihat siapa yang berani-beraninya mencabut kabel telepon di atas mejanya. Bagaimana jika ada telepon penting dari klien dan lain sebagainya?
“Pak Dylan?” gumam Tera saat melihat siapa orang yang selancang itu menarik kabel teleponnya. Mulutnya terbuka dengan sebelah tangan memegang alat komunikasi tersebut.
Dia melihat pada layar ponsel dan membaca pesan yang sudah terlanjur ia kirim pada rekan kerjanya di bagian humas.
[Aku minta tolong agar telepon semua reporter dialihkan pada kalian dan juga batasi panggilan ke mejaku. Aku tidak sanggup untuk menjawab semua panggilan itu semua] ~ Tera.
Sang bos menatap pada layar ponsel Tera juga, sepertinya ia membaca pesan yang ada di gadget milik sekretarisnya itu.
“Eh ... ini, Pak.” Dia menekan tombol power dan segera menyembunyikan benda pipih itu ke dalam sakunya.
“Kau bisa mencabut kabel itu dengan cepat tanpa harus banyak drama!” pungkas sang bos sambil berlalu dan masuk ke dalam ruangannya.
Tera hanya bisa mendelik sambil mengumpat dalam hatinya. “Kau yang membuat dramanya.”
*
Beberapa reporter telah berdiri di tempat mereka. Bersiap dengan alat tempur yang memadai agar bisa mendapatkan hasil yang lebih legit dan memuaskan para netizen di luar sana.
Lampu kilat menyorot berulang kali untuk mengambil gambar. Ruangan yang lega itu dipenuhi oleh pemburu berita yang berjajar dan di depan terlihat beberapa pengawal berdiri di samping podium.
Sementara itu, di luar dari ruangan itu. Seorang pria datang bersama dengan wanita berambut pirang di sampingnya. Lalu beberapa orang dengan jas hitam mengawal mereka dan hendak masuk menuju ruangan serbaguna yang terletak di lantai empat hotel tersebut.
“Apa Andin sudah datang?” tanya Dylan pada Tera saat mereka masih dalam lift.
Dylan mengangguk dan pintu lift pun terbuka.
Pihak hotel yang menyediakan tempat untuk mereka juga memberi dukungan keamanan agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.
“Bu Andin belum datang, silakan menunggu pada ruangan yang kami sediakan.” Pegawai hotel itu mengarahkan mereka untuk menuju ke sebuah ruang. Tera dan pengawal lainnya menunggu di luar, sementara Dylan berada di dalam.
Pria itu mengeluarkan ponsel. Dia menggeser ke atas bawah layar gawai tersebut untuk mencari sesuatu.
“Ah, aku sudah menghapus nomornya,” ucap Dylan. Lalu ia pun memutuskan untuk menghubungi Tera.
Bukannya diangkat, perempuan itu masuk saja ke ruangan tempat sang atasan menunggu. “Ada apa, Pak?”
Dylan pun mematikan telepon saat Tera masuk ke ruangannya. “Aku minta nomor Andin!” ujarnya.
Tera pun mengangguk. “Akan saya kirimkan.”
Setelah pengakuan Andin pada saat perempuan itu datang ke kantornya, entah kenapa ada yang aneh dengan perasaan Dylan. Laki-laki itu tak merasakan sakit di hatinya, sama sekali. Seharusnya ia menangis karena telah dikhianati ataupun menyimpan sejuta amarah pada Wira yang telah merebut istrinya. Tapi nyatanya, tidak.
Meski ada yang aneh, tapi pada saat itu dia datang ke rumahnya untuk pulang. Bertemu dengan ibu dari anaknya dan ... di sanalah ia mengerti penyebab dari kenapa tak ada rasanya sakit itu. Ya, karena perempuan itu.
Entah rasanya cinta yang telah berpindah, entah memang dia sudah tak peduli lagi dengan wanita yang sebelumnya. Entah, entah dan entah.
Dylan mencoba menghubungi perempuan yang telah resmi menjadi mantan istrinya tersebut.
Ya, telah resmi, karena persidangan telah berakhir dan Dylan tidak hadir. Hakim menjatuhkan putusan verstek, di mana gugatan cerai Andin dikabulkan oleh pengadilan agama.
Bunyi tut terdengar berulang kali.
Panggilan yang Dylan lakukan tidak tersambung sejak tadi.
Ceklek.
Pintunya pun terbuka.
“Pak,” panggil Tera.
Dylan mematikan gawai dan menoleh.
“Bu Andin sudah datang.”
Ternyata perempuan itu telah tiba dan akhirnya Dylan pun bersiap untuk keluar dari ruangan tersebut.
Pria itu berjalan dan seperti biasa, Tera mengikutinya.
Sebelum masuk ke ruangan, Dylan berpapasan dengan sang mantan istri yang memberinya senyum kaku tersebut. Tak tahu apa arti dari senyum tersebut, yang jelas itu bukanlah senyum seperti saat mereka bersama dulu.
Sejenak mereka berdua berhenti dan saling bertatapan. Pihak pers yang menunggu di luar ruangan meliput pertemuan mereka yang menggemparkan dunia maya.
Seorang perempuan yang tersakiti dan seorang pria yang berselingkuh dari sang istri. Begitulah gambaran keduanya di mata pers saat ini.
“Aku harap nanti kau berkata dengan jujur dan membersihkan nama Anyelir,” bisik Dylan saat ia berdiri di samping mantan istrinya tersebut.
Sementara itu, Andin pun memberikan senyuman untuk bisikan dari Dylan yang baru saja ia dengar. Selagi ada kesempatan, wanita itu pun berbisik pula di telinga mantan suaminya.
“Kalau begitu kau juga harus jujur mengenai penyebab perceraian kita. Dimulai dari tuntutan egois ibumu dulu.”