Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
43. Tak Sabar


Gelisah!


Menunggu seseorang itu memang terasa lebih lama. Dylan memutuskan untuk tidak pulang sore ini karena berbagai urusan, akan tetapi dirinya lebih kesal lagi karena makanan pesanannya sama sekali belum diantar ke depan hidungnya.


Lidahnya itu sudah tak sanggup lagi untuk menunggu demi menikmati setiap dalam sup yang dibuat oleh istrinya.


Sambil mengusap dagu, pria itu duduk sambil memutar-mutar kursinya. Dia menatap ponsel dan melihat nomor Wira ada di sana.


Beribu kali dia berpikir. “Kuhubungi sekarang atau jangan?” Dia bertanya pada dirinya sendiri.


Ucapan dari Rian tadi siang benar-benar mengganggu. Sambil duduk dan menatap pada jendela, Dylan mengangkat sebelah kakinya. Bersaing dengan sahabatnya sendiri yang masih lajang.


“Rian pasti hanya menggertak, seleranya bukan Anyelir, bukan!” Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Namun lama-kelamaan pikiran yang mengganggu itu semakin membuat tubuhnya tidak enak untuk diam.


Suara langkah terdengar, semakin lama semakin jelas, tanda jika langkah itu adalah milik Tera. “Pasti Tera sedang datang bersama Anyelir,” gumamnya yang sebenarnya itu merupakan harapan dari hatinya sendiri.


Dengan segera dia pun membetulkan posisi duduknya. Ditegakkan punggungnya, diturunkan kakinya, lalu tangan pun di atas meja dengan mata terfokus pada layar. Untuk semakin meyakinkan, tangan kanannya memegang tetikus sambil menekan ‘klik’ pura-pura.


Tok tok tok


Ketukan pintu yang ditunggu pun terdengar. “Ya, masuk!”


Berlagak tak peduli, mata Dylan terus fokus pada laptopnya.


Namun ada yang janggal, suara sepatu itu hanya milik Tera seorang. Tapi Dylan gengsi untuk mendongak dan memeriksanya.


“Kemarikan!” pintanya tanpa menatap Tera.


Gadis berambut pirang itu tersenyum, dalam hati ia berkata, “Tumben Pak Dylan sudah tahu jika saya akan menyerahkan laporan.”


“Ini, Pak. Silakan diperiksa untuk laporan proyek graha Jasmine di Jakarta minggu ini.”


Yang diharapkan Dylan adalah rantang berisi sup iga, tapi yang sampai di tangannya malah berkas-berkas yang ukurannya cukup lebar.


Dylan pun melihat ke arah tangannya, kemudian pandangannya teralih pada Tera. Gadis itu datang sendirian? Otomatis dia pun celingukan, mencari barangkali di belakang Tera ada seorang lagi yang datang.


“Apa lagi yang bapak cari? Apa dokumen yang saya berikan kurang?” tanya Tera yang juga kebingungan.


“Kamu sendirian?” tanya Dylan pada akhirnya.


Tera mengangguk. “Kenapa? Pak Dylan mencari seseorang?” tanya Tera balik.


Dylan menggeleng sambil membetulkan dasi miliknya. “Tidak!” jawabnya dengan singkat dan dingin.


“Pergilah!” Pria itu pun mengibas-ngibaskan tangannya agar sang sekretaris pergi.


“Oh, hei, Tera!” Dylan kembali memanggil Tera yang sudah beberapa langkah lebih jauh dari mejanya.


“Ya, Pak,” jawabnya menyahut.


“Itu ... anu ... sup ... sup igaku?” Sang bos terlihat gugup saat menanyakan perihal sup iga. Entah karena ragu atau karena gengsi.


“Oh, tadi sudah saya telepon Bu Anyelir menggunakan nomor telepon yang bapak berikan. Bapak jangan khawatir, beliau berkata hendak kemari,” jawab Tera berusaha untuk meyakinkan.


Dylan pun mengangguk. “Baik, jika begitu. Pergilah!”


“Itu ... anu!” Dylan mau memanggil Tera lagi, tapi sayang gadis sekretarisnya itu malah telah lebih dulu keluar dari ruangan milik Dylan.


*


Sementara itu di rumah keluarga Bagaskara. Wangi sup iga kembali menguar dari arah dapur, hal tersebut memanggil para anggota keluarga untuk mengintip dari mana sumber aroma nikmat dan sedap itu bermula.


“Sayang, kamu memasak lagi?” sapa Nyonya Lastri yang kebetulan sedang lewat dan mencium aroma sedap dari dapur.


“Ah, ini Pak Dylan mau diantar sup iga,” jawab Anyelir sambil mengaduk supnya.


“Apa? Dylan minta kamu mengantar sup iga?” Lastri agak terkejut, tak biasanya  sang anak meminta perhatian dari istri keduanya.


Saat bersama Andin dulu, meski mereka terlihat sangat mesra tapi Nyonya Lastri tak pernah melihat Dylan meminta dikirimi masakan oleh sang istri.


“Iya, Bu. Benar. Tadi sekretarisnya yang bernama Tera menelepon saya,” jawab Anyelir bersungguh-sungguh. Ia bahkan tak mengira jika itu adalah hal aneh dari seorang Dylan.


Karena selama ini Dylan memang sering menyuruh Anyelir melakukan ini dan itu.


“Aku hanya aneh, dia tak pernah mau dibuatkan bekal oleh kami. Bahkan dia sendiri tak pernah menuntut Andin untuk membuatkan bekalnya,” jelas Lastri sambil menatap pada sup yang sedang mendidih di atas kompor.


“Oh, begitu? Jadi ini adalah pertama kalinya Pak Dylan meminta bekal?” Anyelir bertanya kembali.


Nyonya Lastri mengangguk.


“Ini sudah matang belum?” tanya Lastri sambil menunjuk pada sepotong iga yang ada di sana. “Sepertinya ini enak sekali, Anyelir! Apa aku boleh memintanya?” Lastri memasang mata memelas.


Anyelir tak tega, sebenarnya ia hendak mengirim semua sup untuk Dylan.


“Iya, ini sudah masak, sudah empuk. Karena sebelumnya, daging ini sebenarnya sudah direbus sebentar oleh Bi Ai. Kita bagi dua tak apa, Bu. Satu untuk Ibu, satu lagi untuk Pak Dylan,” ujar Anyelir sambil mematikan kompor.


Seketika suara gelembung udara yang meletup-letup saat sayur mendidih pun mendadak langsung berhenti dan suasana dapur kembali sunyi setelah suara itu tak ada. Namun meski suara air mendidih itu hilang, aroma sedap itu sama sekali tidak berhenti.


Lastri malah langsung mengambil mangkuk dan menyodorkan ke dekat panci tempat sayur dimasak. “Ibu sudah seperti Rio saja kalau sedang meminta makan.” Dia terkekeh sendiri.


Anyelir pun ikut menggelengkan kepala. “Tak apa, itu masih manusiawi kok, Bu. Ini silakan.”


Daging iga sapi itu dituangkan terlebih dahulu ke atas mangkuk yang dibawa Lastri.


“Biar Anye yang bawa, Bu. Ibu tunggu di meja makan saja, karena saya takut ini akan tumpah.” Anyelir mengambil alih mangkuk yang dibawa sang mertua.


“Baiklah, kalau begitu. Terima kasih, ya, Sayang.” Lastri pun meninggalkan dapur dan menuju ke ruang makan yang jaraknya sama sekali tak jauh dari posisi Anyelir memasak sayur.


Apalagi, rumah ini memakai konsep open space. Di mana tak ada dinding penghalang antara ruang tengah, ruang makan dan dapur. Sehingga Lastri masih bisa melihat sang menantu yang dengan anggun menuangkan sup untuknya.


“Anyelir, ibu berharap kamu panjang jodoh dengan Dylan. Ibu dan bapak akan bahagia di masa tua jika kau adalah menantu kami,” gumam Lastri seorang diri.


Tak lama setelah gumaman Lastri selesai, ada Anyelir membawa semangkuk sup. “Ibu saya bawakan sedikit nasi, barangkali mau dimakan pakai nasi.”


“Terima kasih,” ujar Lastri sambil membetulkan kacamatanya. Dia pun menyeruput kuah dari sup itu sampai indra pengecapnya bermain di rongga mulut menimbulkan suara decak sebanyak tiga kali. “Ini sangat enak.”


Mendengar pujian dari mertuanya, Anyelir pun tersenyum malu.


Namun saat dirinya hendak kembali ke dapur, ponsel yang ditaruh di ruang makan itu berbunyi dan ada nama suaminya yang tertera.


“Kamu kembali lagi saja ke dapur, biar ibu yang urus Dylan.”