Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
57. Jika Kau Pergi, Datanglah Padaku!


“Kalau tahu sedang sakit, lebih baik tidak datang. Kau boleh minta izin,” nasihat Dokter Rian yang merawat Anyelir secara langsung waktu itu. Padahal shift jaga malamnya sudah berakhir karena hari ini sudah hampir pukul enam, tapi pria tersebut masih menyempatkan diri untuk menengok Anyelir.


“Aku merasa baik-baik saja, Dok,” jawab Anyelir dengan nada yang lemah. Perempuan itu bersikukuh dengan keadaannya yang tidak apa-apa, padahal dirinya sedang sakit. Ya, dia sakit karena memikirkan sisa hutang Joni dan juga rumahnya yang hilang.


Ah, mungkin sisa hutang Joni tidak terlalu membebaninya, tapi yang ini adalah rumahnya. Ayah tiri dari perempuan itu memiliki hutang sebanyak 500 juta dan dia membayar sebagian kecil hutang tersebut dengan menjual rumah milik Anyelir dengan harga  yang bahkan tidak sampai setengah dari hutang Joni secara keseluruhan.


“Kau tidak menghubungi Dylan?” tanya Rian yang menyodorkan ponselnya dan menunjukkan kontak Dylan pada Anyelir.


Wanita itu menggeleng. Panggilannya saja sejak tadi diabaikan dan sampai saat ini pria tersebut tak menelepon balik padanya.


“Kau yakin? Apa mungkin Nyonya Lastri? Bi Ai?”


Anyelir tetap menggeleng. “Tak perlu, ini masih terlalu pagi, mereka pasti sedang sibuk.”


“Baiklah. Terserah padamu. Aku tak menyarankanmu untuk pulang terlebih dahulu. Bahkan aku ingin kau tetap tinggal di sini sampai pulih. Biar aku yang mengurus administrasimu.” Dokter Rian pun berbalik dan meninggalkan Anyelir yang sedang berbaring dengan tangan yang terhubung pada selang.


“Dokter,” panggil Anyelir yang menghentikan langkah pria tersebut.


“Hmmm?”


“Terima kasih, ya.”


“Sama-sama.”


“Dan ... itu ....”


“Apa?” Dokter Rian berbalik kembali mendekat ke arah Anyelir. Melihat gelagat perempuan tersebut, sepertinya ada hal yang cukup serius untuk disampaikan.


“Ah, tidak apa-apa.” Anyelir urung untuk mengatakannya.


Dokter Rian pun mengembuskan napasnya dengan agak keras, lalu pria itu menarik kursi hingga deritnya terdengar dan ia pun mendudukinya. “Katakan saja. Aku akan dengarkan, anggap aku ini tiang infus kedua. Apa yang aku dengar, akan aku lupakan setelah aku keluar dari kamar ini.”


Anyelir pun terkekeh pelan mendengar perumpamaan yang diungkapkan oleh sang dokter ini. “Tidak ada apa-apa, kok. Sungguh!”


“Benar?” tanya Dokter Rian sekali lagi.


Perempuan dengan selang infus itu pun tertegun. Dia ragu untuk mengatakannya, tapi sebagian kecil dari hatinya berkata ... mungkin pria di hadapannya ini bisa dipercaya. “Tidak ada yang begitu penting, hanya aku minta tolong jangan beritahukan pada Pak Dylan kalau aku sedang sakit.”


Rian pun melipat bibirnya ke dalam. Dia mengangkat alis sambil menganggukkan kepala. Untuk beberapa  detik ia terdiam seraya memikirkan beberapa kemungkinan, tapi pada akhirnya dia pun bersuara. “Kalau boleh, aku ingin menanyakan beberapa hal.”


“Apa?”


“Ini tentang pernikahanmu dengan Dylan. Hal yang belum aku tahu karena baik kau maupun Dylan belum memberitahuku.” Rian memberanikan diri membuka suara tentang hal ini. Bukan karena dirinya terlalu ikut campur, tapi dia memang peduli terhadap keduanya. Anyelir, juga Dylan.


“Apa?” tanya Anyelir lagi.


“Bagaimana kau bisa menjadi ibu kandung dari Rio?”


Pertanyaan sederhana untuk perempuan yang sedang sakit itu, tapi begitu berat mulutnya untuk membuka suara menjelaskan apa yang terjadi di masa lalunya.


“Kenapa Anda mau tahu?” Anyelir malah balik bertanya.


“Karena aku peduli pada kalian berdua. Aku mengerti bagaimana perasaan Dylan terhadap Andin, tapi ... di sisi lain melihatmu seperti ini, aku tak mau kau terluka.”


Anyelir pun membuka mulutnya. “Aku bingung harus menjawab apa dan menceritakannya mulai dari mana," ujar perempuan itu pada akhirnya.


“Kalau begitu, biar aku yang memberimu pertanyaan.”


“Silakan.”


“Apa saat mengandung Rio, kau berada dalam pernikahan yang sah dengan Dylan. Anu ... maksudku, kau bukan mengandung karena unsur tidak sengaja?”  tanya Rian kali ini.


Perempuan itu mengangguk. “Aku menikah dengan Pak Dylan, lalu melakukan program bayi tabung dan kemudian mengandung Rio. Jadi ... kehamilanku itu sangat disengaja.”


“Kau melakukan bayi tabung? Kenapa bukan dengan Andin? Ah, begini ....” Rian meralat pertanyaannya. “Jika dilihat dari usia Rio, sepertinya kau melahirkan anak itu saat Dylan telah bersama dengan Andin, bagaimana mungkin dia bisa menikah denganmu?” Dokter tampan itu semakin serius menanggapi cerita dari Anyelir.


“Kalau masalah Pak Dylan dan Bu Andin, aku kurang. Yang jelas, mereka membayarku agar aku mau menjadi istri Pak Dylan lalu melakukan program bayi tabung dan mengandung anaknya. Sebenarnya ... aku dibayar untuk melakukan itu,” jelas Anyelir dengan suara yang tercekat.


Rian terkejut dan melihat Anyelir dengan tatapan yang miris.


“Kau pasti berpikir yang macam-macam tentangku, kan, Dok?” tanya Anyelir sambil tersenyum miring. “Aku sudah menduganya, itulah kenapa aku tidak mau menceritakan pada siapapun.”


Dokter tampan itu pun menggeleng. “Aku yakin kamu punya alasan tersendiri kenapa melakukan itu, dan aku ... tak berhak untuk menghakimi bagaimanapun masa lalumu.”


Anyelir sedikit tersenyum, ia bukan lega karena pendapat Rian padanya, tapi ia lega karena hari ini ada yang bisa diajaknya bicara.


“Setidaknya aku mengerti garis besar dari kisah kalian. Lalu ... apa kautahu bagaimana nasib pernikahan Andin dan Dylan sekarang?”


Anyelir menggeleng. “Aku hanya berharap yang terbaik untuk mereka.”


“Kau berharap untuk mereka kembali bersama? Karena jika aku lihat, semenjak kau datang ke kehidupan mereka, Dylan dan Andin sudah tak bersama.” Rian tahu tentang pria lain di hidup Andin, tapi ia sengaja tak membicarakan hal tersebut di depan Anyelir.


“Jika itu yang terbaik untuk mereka, maka biarkan saja itu yang terjadi.” Jawaban Andin terdengar bagai orang yang putus asa. Mungkin bukan, tapi ... pasrah dan tak berharap banyak.


“Wajahmu seperti orang tak rela. Kau menyukai Dylan?” tanya Rian langsung tanpa basa-basi. Pria itu terlihat begitu peduli pada Anyelir.


Anyelir diam, ia hanya berbaring dengan wajah yang tersenyum tipis sambil menatap kosong ke sembarang arah.


“Diamnya kamu kuanggap itu adalah jawaban ya. Sekarang aku mau satu pertanyaan lagi,” ujar Rian.


Perempuan itu menatap pada Rian untuk menunggu pertanyaan yang selanjutnya. “Jika Dylan dan Andin kembali, apa yang akan kamu lakukan?”


Sejenak Anyelir berpikir, lalu perempuan itu pun menjawabnya. “Aku akan pergi, asal Rio sudah sembuh dan baik-baik saja. Aku akan pergi. Sejak awal, aku tak harus ada dalam kehidupan mereka. Jadi ... aku akan pergi.” Jawaban Anyelir terdengar mantap, tapi Rian dapat melihat sirat kesedihan dalam wajah sayu tersebut.


Pria itu pun memegang ujung jari Anyelir. “Kalau kau pergi darinya, datanglah padaku.”