Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
37. Sarapan Di Mobil


Niat hati wanita itu tak mau berangkat bersama dengan Dylan. Namun melihat sang mertua yang berharap mereka berangkat bersama membuat Anyelir tak punya pilihan lain.


Apalagi melihat Dylan yang mengancam akan menggendongnya lagi jika perempuan itu bersikeras tak mau masuk dalam mobilnya. Karena Dylan sendiri sebenarnya tak mau banyak berdebat dan mendapat omelan dari sang ibu. Sehingga dia terpaksa untuk setuju saat ibunya meminta.


“Kau bisa memasang sabuk pengamanmu sendiri, kan?” tanya Dylan pada Anyelir.


Karena wanita itu masih belum kunjung memasangkan sabuk pengaman di depan tubuhnya akibat terlalu banyak melamun sejak tadi.


“Apa perlu aku lagi yang melakukannya? Barangkali kau masih ingin berdekatan denganku,” celetuk Dylan yang terdengar menyebalkan.


“Ih, tidak perlu! Aku bisa sendiri.” Wanita itu memasangkan sabuk pengamannya sambil membawa tas di pangkuan.


Dylan tak kunjung mengendarai mobil, dia masih memijat kepala karena pening bekas mabuk sama sekali belum hilang.


Melihat hal itu, Anyelir langsung mengerti apa yang terjadi pada suaminya.


“Ayo bertukar posisi!” tawar Anyelir.


“Ah, sudahlah!” Dylan menolak tawaran wanita itu dan memutar kontak mobil.


Dia mencoba untuk memanaskan mesin sejenak sebelum akhirnya menginjak pedal gas.


Di sela-sela perjalanan Dylan masih memijit kepalanya. Rasa pening membuat kendaraan di depannya terlihat seperti ada tiga kali lipat. Bahkan plat nomor kendaraan yang ada di depan tampak berbayang.


Tangan Dylan bergoyang ketika memegang kemudi.


Hal itu terasa oleh Anyelir dan ia pun semakin khawatir. “Pak Dylan, sudahlah! Berhenti. Kaumau aku mengamuk lagi?” ancam Anyelir yang tak diindahkan oleh Dylan.


Perempuan selugu Anyelir akan mengamuk? Siapa yang akan takut karena amukannya. Yang ada mereka mungkin malah merasa gemas dengan tingkah Anyelir.


“Pak Dylan, sudah!”


Serong kanan, serong kiri. Kebut, rem dadakan. Maju lagi, berbelok-belok.


“Berhenti!” paksa Anyelir sambil menarik tangan Dylan dengan paksa.


Beruntungnya jalanan sedang sepi tak seramai tadi.


Dengan wajah penuh kekesalan, Anyelir membuka sabuk pengaman dan menyimpan tas juga barang bawaan lainnya di jok belakang. Dia juga melepas sabuk pengaman milik Dylan dan menarik pria tersebut agar duduk di samping.


“Aku tak apa-apa,” ucap Dylan sambil bersikukuh hendak memasang lagi sabuknya.


“Jangan keras kepala. Kita bisa celaka jika kau terus memaksakan diri. Biar aku yang membawa mobil!” tegasnya.


Dylan pun terdiam sambil memejamkan mata, kini dirinya telah berganti di posisi bangku penumpang. Sementara itu, Anyelir yang duduk di kursi pengemudi.


Sebelum menjalankan mobil, perempuan itu menatap pada Dylan. Dia menyentuh kening pria tersebut menggunakan telapak tangannya.


“Syukurlah, kau tidak demam.”


Anyelir pun mengambil tas bekalnya. Lalu mengeluarkan termos hangat berisi wedang jahe yang ia buat. Selain jahe, ia juga memasukkan ginseng merah ke dalam minuman tersebut.


Dituangkan ke dalam gelas yang ia bawa, Anyelir memberikan wedang itu pada Dylan. “Minum dulu.”


“Apa ini?” Pria itu menatap pada gelas plastik pemberian Anyelir.


“Ini wedang yang aku buat untuk menghilangkan pengar akibat mabukmu semalam. Jangan manja, kau bukan anak kecil yang tidak mau minum obat!” omel perempuan itu padanya.


Dylan memicingkan mata, selain sang ibu, kini ada perempuan lain yang berani mengomelinya. Namun ia tak memiliki tenaga yang cukup untuk mendebat wanita itu.


Anyelir menatap dan memastikan Dylan menghabiskan minumannya.


“Kita akan kesiangan,” protes Dylan sambil menatap pada Anyelir.


“Lebih baik kesiangan daripada aku harus kecelakaan di jalan.” Anyelir menimpali tanpa menatap pada Dylan.


Dia mengambil box nasi dan mengambil sedikit nasi pada tutupnya. Mangkuk kosong berukuran kecil yang ia bawa. Kemudian, ia tuang kuah sup iga ke atas nasi tersebut.


“Kaumau apa lagi?” Dylan mengernyitkan dahi.


“Makan!” jawab singkat Anyelir yang terdengar seperti sedang memarahi Dylan.


Pria itu agak terkejut mendengar cara Anyelir bicara padanya. Memang benar-benar, wanita ini memiliki berbagai wajah yang berubah-ubah. Begitu pikir Dylan tentang istri keduanya.


“Buka mulutmu! Aku sengaja membuat sup ini agar kaumakan saat sarapan, tapi kau malah langsung pergi dan melewatkan makan pagi. Jadi sekarang makan ini, walau sedikit saja!” paksa Anyelir pada Dylan.


“Aku tak mau! Tak usah sok perhatian padaku. Kau tak akan mendapatkan apa-apa dariku!” bentak Dylan sambil menutupi mata dengan tangannya. “Sudah, jalankan saja mobilnya!”


Anyelir pun langsung melotot mendengar jawaban Dylan. Dia pikir dia melakukan ini karena ingin merayu pria tersebut. “Dasar terlalu percaya diri! Lama-lama kau membuatku muak!” omel Anyelir dengan cara menggerutu.


“Apa kaubilang tadi?” Dylan langsung membuka mata dan menatap pada Anyelir.


“Tidak bilang apa-apa. Cepat buka mulutmu!” titah Anyelir.


Dylan terkekeh mencibir pada wanita itu. “Apa-apaan ...?”


“Anggap aku adalah doktermu dan jangan membantah!” tegas Anyelir, untuk ke sekian kalinya ia berbicara dengan nada seperti itu pada Dylan kali ini.


“Rian adalah dokter pribadiku. Satu-satunya,” tolak Dylan sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.


Anyelir memutarkan bola mata. “Kalau begitu aku telepon dokter Rian dan mengatakan jika kau mabuk dan pulang saat dini hari, lalu sekarang memaksakan untuk berangkat kerja dalam keadaan kepala pening, penglihatan agak kabur dan tangan gemetar. Itu aku belum mengukur bagaimana frekuensi napasmu dan juga denyut nadimu! Kau bisa bayangkan, apa yang dokter Rian minta jika dia tahu kondisimu seperti ini?” tanya Anyelir yang mencoba membalikkan ucapan Dylan.


Pria itu termangu, ia sudah tahu jawabannya, namun tak mau mengucapkan.


“Ya, benar sesuai dugaanmu. Kau diminta untuk istirahat saja dan menjaga pola makan. Namun sebelumnya, kau pasti akan dimarahi karena telah menyentuh minuman keras. Sementara dokter Rian sangat tidak menyukai itu!” ujar Anyelir.


Dylan memperhatikan wanita di sampingnya yang sejak tadi berbicara.


“Jadi ... kau pilih yang mana sekarang? Mau aku telepon Dokter Rian atau menurut padaku!” ancam Anyelir.


Pria dengan rambut tebal dan rahang tegas itu pun tak menjawab, tapi ia langsung membuka mulutnya tanpa protes apa-apa. Meski matanya menatap kesal pada perempuan tersebut.


Anyelir pun tersenyum dan menyuapkan makanan itu pada sang suami.


Dylan mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya. Rasa sup iga yang hangat itu menyebar di seluruh area indra pengecapnya. Lidahnya seakan diselimuti oleh kenikmatan dari berbagai rasa gurih dan enaknya sup iga buatan istri keduanya itu.


Pria tersebut pun menegakkan tubuhnya dan mengambil mangkuk kecil di tangan Anyelir. Dia menghabiskan semangkuk kecil nasi dengan sup iganya. Lalu mengembalikan wadah tersebut pada sang istri.


“Ini! Sudah, jangan mengomel lagi! Cepat jalan!”


*


Gimana-gimana, Dylan? Enak supnya?


Haha.


Mau aku update berapa episode lagi hari ini?