Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
92. Masalah Dari Wira


Mobil itu melesat meninggalkan bandara, membawa seorang model yang baru saja melakukan photo shoot untuk beberapa iklan dan juga mengikuti cat walk. Wajahnya tampak lelah tertutup oleh masker. Mata yang tanpa riasan tersebut juga terlihat sayu dan benar-benar mengantuk.


“Andin, kautahu? Beberapa investor kembali ke perusahaan milik mantan suamimu. Sepertinya dia sangat berjaya dengan konferensi pers yang kemarin kalian lakukan,” ujar seorang pria dengan gaya necis yang duduk di kursi depan mobil berdampingan dengan pengemudi.


“Ya, tak apa, sih. Toh, kariermu juga naik saat ini. Sepertinya ... masyarakat lebih menyukai saat kalian menjadi mantan tapi akur daripada saat menjadi suami dan istri,” cerocosnya lagi.


“Andin sedang tidur,” timpal seorang perempuan yang duduk di belakangnya.


Eros pun menoleh. “Hiish! Kau pikir aku sedang podcast sendirian apa!” Pria itu menaikkan sebelah bibir untuk mengejek ke arah Andin yang sedang tidur menghadap ke arah jendela mobil.


Sementara itu, Talita memutar bola mata dan tak memedulikan Eros. Wanita itu langsung mengikuti jejak Andin yang terpejam sambil menghadap jendela mobil.


Kedua wanita yang sedang duduk di kursi mobil bagian belakang tersebut hanya memejamkan mata dan mencoba untuk tak mengindahkan suara-suara yang mereka dengar di sekitar. Meski tak benar-benar tidur, tapi mereka setidaknya memanfaatkan waktu untuk beristirahat.


Hingga akhirnya, istirahat dalam mobil mereka harus usai karena kendaraan yang membawa mereka telah sampai di tujuan. Yakni, apartemen mewah milik Andin.


“Ndin, kita udah nyampe!” Eros berusaha menepuk-nepuk tangan Andin.


“Emmh.” Wanita itu tak banyak bicara, ia hanya mengucek sedikit matanya, lalu duduk dan menggantung tas di bahu.


Sopir membukakan pintu untuknya dan model yang sedang naik daun itu pun turun.


“Lita! Aku duluan,” pamit Andin sambil turun.


“Hemmmh! Ntar aku datang lagi ke apartemen kamu,” ujar gadis itu dengan mata terpejam dan wajah yang tertutup oleh rambut bergelombang miliknya.


“Kamu nggak pamit sama aku! Hei, Andin!” teriak Eros dari dalam mobil yang tak digubris oleh wanita tersebut.


Sang model berjalan sambil menyeret koper miliknya dan masuk ke dalam apartemen mewah yang ia tinggali bersama Wira.


Bukan perasaan rindu ingin segera bertemu, lalu menghambur dalam pelukan pria tersebut atau ingin menghabiskan waktu seharian setelah lama tak bersama. Entah, bukan perasaan seperti itu yang menyelimuti hati Andin saat ini.


Tak bertemu dengan pasangan dalam kurun waktu cukup lama seakan bukan masalah baginya. Apa rasa cinta telah mati dari hatinya? Ah, baru saja dia memilih bersama Wira, mana mungkin ia bosan dengan begitu cepatnya.


Pintu apartemen terbuka setelah Andin memasukkan sidik jari di pintu unit tersebut. Ia berjalan menyeret koper dan melepas sepatunya.


“Oh, iya ... kau benar, itu bagus! Wah, aku seperti tak mengenalimu,” kata seseorang dengan suara bas dari arah ruang tengah.


“Kaumau datang ke acara pesta ulang tahun mantanmu menggunakan gaun itu? Bagus sekali.”


Andin sudah memaklumi, itu bukan suara Wira sedang membawa wanita ke apartemen ini. Melainkan pria tersebut sedang melakukan panggilan video dengan orang lain dan obrolan mereka terdengar oleh Andin.


“Sebentar, aku mendengar seseorang masuk ke dalam apartemen, mungkin Andin datang hari ini. Tadi pagi dia bilang akan naik pesawat untuk pulang,” ujar pria tersebut dan ... terlambat, Andin sudah ada di depannya sambil tersenyum mencibir.


Memang benar, bahkan Andin dan Wira tak melakukan komunikasi intens saat ia pergi ke Singapura. Hanya sesekali atau panggilan video untuk melepas hasrat satu sama lain. Termasuk hari ini, pesan terakhir dari Andin yang hanya dibaca oleh pria tersebut tanpa ada balasan.


“Hei, kau baru datang?” sambut Wira dengan wajah tersenyum lebar.


“Hei, Wira. Aku mau tidur siang ini, tolong jangan berisik, ya,” pinta Andin sambil masuk ke kamar dan langsung menutup pintunya.


“Hah, dia sangat dingin padaku, kaulihat itu?” Suara Wira terdengar samar dari kamar. Setelah itu, suara pria tersebut tak terdengar lagi, sepertinya dia telah berpindah tempat dan tak di depan kamar lagi.


“Hmmm? Kartu nama Dylan Bagaskara?” Wanita itu bertanya-tanya saat melihat ada tumpukan kartu nama di samping telepon apartemen yang terletak di atas nakasnya. Apalagi dari tumpukan kartu itu, terdapat kartu nama Dylan dan perusahaannya di bagian paling atas.


Andin pun dengan segera mengambilnya. “Siapa yang menyimpan di sini?”


Lalu ia pun mengambil lagi satu kartu nama di bawahnya. “Rumah sakit milik keluarga Rian? Untuk apa ada kartu-kartu ini di sini? Aku memiliki nomor mereka semua, bahkan mungkin Wira juga memilikinya.”


Perempuan itu membolak-balik kartu nama sambil memikirkan penyebabnya kenapa ada di sini. “Ah, mungkin orang lain yang memberikan pada Wira, tapi karena dia tak butuh makanya diletakkan di sini, lalu lupa membuangnya.” Andin menggumam sendiri dan tak peduli lagi dengan kartu nama - kartu nama tersebut.


***


“Sayang,” panggil Dylan yang pagi itu terlihat sangat sibuk. Dia memberikan kode pada Anyelir agar membantunya untuk memasang dasi.


Anyelir mendekat dan langsung membantu pria tersebut untuk merapikan dasinya. “Roti panggangmu sudah kumasukkan dalam tas. Makanlah selagi macet di jalan nanti,” ujar perempuan itu sambil tersenyum lebar.


“Kenapa kau masih bisa tersenyum padahal waktu kebersamaan kita sangat sedikit?” tanya Dylan sambil mengangkat sedikit dagu, agar istrinya tak kesulitan menata dasi.


“Lantas, aku harus menangis meraung-raung?” jawab Anyelir dengan memicingkan mata.


Dylan terkekeh. “Nanti kita ke rumah sakit, ya?” tawar pria tersebut.


“Ya, aku ingin melihat kondisi ibu di ruang ICU,” timpal Anyelir.


Dylan hanya mengangguk. “Aku ada perlu dengan Rian, jadi ... selagi kami mengobrol, kau bisa melihat kondisi ibu.”


Anyelir mengangguk, ia tahu kenapa Dokter Rian ingin bertemu dengan suaminya. Ini adalah sesuatu yang mereka bicarakan kemarin.


“Pak Dylan, apakah Anda marah pada saya?” Perempuan itu sedang merapikan dasi milik suaminya.


“Kenapa aku harus marah?”


“Entahlah, mungkin ini hanya firasat saya saja.” Kini Anyelir menepuk-nepuk pundak suaminya yang sudah selesai memakai dasi.


Dylan memundurkan sedikit tubuhnya. “Tunggu.”


“Apa?” tanya Anyelir sambil sedikit mengerucutkan bibir.


“Aku kalau mendengar kau bicara menggunakan saya dan Anda, firasatku mulai tidak enak. Bukan aku yang marah, tapi kamu.” Dylan mencolek ujung hidung Anyelir.


“Apa?” ujar perempuan itu lagi sambil beralih untuk duduk di tepi ranjang.


Dylan pun akhirnya duduk berlutut di depan istrinya, sambil memegang tangan wanita itu dia pun berkata, “Maafkan aku yang belum bisa memberikan waktu lebih untukmu, nanti kita bicara lagi, ya.”


Anyelir hanya mengangguk perlahan dan mencium punggung tangan pria tersebut.


Di tengah suasana romantis itu, Dylan pun mendapat sebuah panggilan. “Sebentar ya, ini Tera yang memanggil.”


Dia menjauh sedikit dan mengangkat panggilan dari Tera. “Kenapa? Wira?”