
Anyelir mondar-mandir di ruangan milik sang suami. Dia terjebak dengan bodoh pada ruang kerja milik pria egois yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Tak ada suara jarum jam, yang ada hanya bunyi jam analog yang berkedip tiap detiknya.
Perempuan berlensa kontak dengan warna coklat di kedua matanya itu menatap sekeliling kantor milik pria tersebut. Istilahnya, dia akan sedikit lebih mengenal Dylan dengan mengamati bagaimana isi dari tempat kerjanya ini.
Foto wanita di samping layar komputer.
Tidak, seharusnya wajah yang terpampang itu tidak perlu menyakiti hatinya.
Happy Birthday, Sweet Heart.
29-01
Tulisan itu diukir dengan indah di belakang jam analog yang sejak tadi berbunyi. Sepertinya, benda tersebut merupakan hadiah dari sang istri. Ya, istri yang lebih disayangi oleh Dylan, bukan Anyelir.
Tak seharusnya ini terasa sakit, perempuan itu tersenyum sambil mengusap aksara Dylan & Andin yang ada di sana. Ibu jarinya sedikit bergetar di atas ukiran tersebut.
“Bu Anyelir,” panggil suara dari luar seraya diikuti dengan pintu yang terbuka.
“Oh, Tera. Iya, kenapa?” Anyelir dengan segera menyimpan benda yang digenggamnya kembali ke atas meja.
“Ibu belum pulang?” tanya Tera dengan suara agak sedikit terkekeh.
Anyelir tersenyum sambil menggaruk belakang lehernya. Dia tak mungkin mengatakan jika dia dikurung oleh Dylan untuk tetap berada di sini.
“Saya akan sampaikan ke bapak,” ujar Tera kemudian.
“Eh, anu ... Tera!” panggil Anyelir menghampiri sekretaris berambut pirang tersebut.
“Iya, Bu.”
“Jadi ... saya sudah boleh pulang?” tanya Anyelir berharap.
Tera tersenyum sambil menggeleng. “Sayangnya tidak, saya diminta untuk memeriksa ibu di sini.”
Anyelir memasang wajah kecewa, tapi tak ada pilihan lain. Terpaksa ia duduk diam di tempat tersebut untuk beberapa waktu ke depan.
“Aku lapar.”
Semua bekal bekas makan milik Dylan telah dibersihkan, semua yang dibawa oleh Anyelir tandas tak bersisa masuk ke dalam perut pria tersebut. Sekarang, giliran perempuan itu yang merasa lapar. Tak ada makanan yang bisa ia makan dan kini Dylan mengurungnya di ruangan ini.
Sementara itu, Tera yang menutup pintu sempat mendengar sedikit gumaman Anyelir. Wanita itu menggelengkan kepala.
“Bu Anyelir ini, katanya cuma pelayan di rumah Pak Dylan. Tapi ... kenapa dia sangat posesif pada Bu Anyelir sama seperti ketika pada Bu Andin?” Tera berjalan sambil bicara sendiri.
“Apa jangan-jangan ... Bu Anyelir itu ....” Tera segera menepis pikirannya.
Memang pikiran Tera ke mana? Ya, ke sana, kepada tuduhan jika laki-laki beristri bersama wanita lain.
“Aneh, sih. Bu Anyelir lebih penurut dibanding Bu Andin tapi. Aku mendukung saja, jika bosku ini ingin mencari madu.” Mulut gadis berambut pirang tersebut tak bisa diam selama ia berjalan, masuk lift, hingga keluar lagi.
Sang bos yang sedang mendengarkan presentasi pun langsung menoleh begitu melihat Tera, dia pun melebarkan kelopak mata sambil mengangkat alis seakan menanyakan hasil pada Tera.
Gadis berambut pirang tersebut menundukkan tubuh lalu berjalan mendekat pada bosnya. “Bu Anyelir masih ada di sana. Aman.” Tera mengacungkan jempol.
Dylan hendak tersenyum lebar, tapi Tera sedang mengamati wajah sang bos sehingga pria itu urung menunjukkan senyum. Dia hanya menganggukkan sedikit kepalanya. “Hmmm,” jawabnya cuek.
Tera pun kembali pada mejanya dan langsung berkonsentrasi pada presentasi desain proyek baru yang sedang dipresentasikan.
*
Anyelir menunggu di dekat pintu barangkali ada yang lewat lagi. Dia sangat antusias begitu mendengar langkah sepatu yang lewat di depan kantor ini. Bukan apa-apa, Anyelir sedang ingin makan dan ia berniat untuk menanyakan kantin pada para karyawan.
“Pak, permisi!” Anyelir memanggil seseorang yang lewat di depan kantor itu.
Bapak-bapak itu langsung menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari orang lain selain dirinya di koridor tersebut.
“Iya, Bapak,” ujar Anyelir lagi sambil tersenyum.
“Ada apa, Bu?” Pria berbaju biru tersebut terlihat kaget, melihat ada seorang perempuan keluar dari kantor sang bos dan langsung memanggilnya.
“Boleh saya bertanya, ada ... kantin di dekat sini?” Anyelir bertanya pada karyawan pria tersebut.
“Ada, Bu. Di lantai 12, di sana adalah tempat kantin. Kalau ibu mau kopi dan camilan, semuanya ada di lobi,” jawab bapak-bapak tersebut.
“Oh, terima kasih.”
“Sama-sama, Bu.”
Setelah percakapan itu, sang karyawan berlalu. Akan tapi saat di ujung koridor, Anyelir menatap ada seorang pria bermata tajam hampir bertabrakan dengan karyawan berbaju biru yang tadi.
Dylan mendekati pintu dan langsung melihat pada Anyelir. Sekilas dia melihat jika sang istri keduanya tersebut baru berbincang dengan salah satu karyawannya.
“Sedang apa?” tanya Dylan begitu berdiri di depan pintu berhadapan dengan Anyelir.
Sementara itu, Tera yang berada di belakang Dylan pura-pura tak melihat. Ia tak mau tahu dengan urusan asmara sang bos yang mungkin sedang berselingkuh dengan pelayannya tersebut.
“Aku ... aku ....”
“Apa yang kaubicarakan dengannya?” Dylan melangkahkan kaki maju ke depan sehingga mau tidak mau, Anyelir pun mundur agar tak bertabrakan dengan Dylan.
“Aku ... hanya ....”
“Lain kali jangan bicara dengan sembarang orang!” Dylan menutup pintu ruangannya dengan keras hingga membuat Tera yang ada di luar terkejut.
Bosnya kali ini bahkan lebih aneh daripada sebelumnya. Tera berusaha tak peduli, akan tetapi dia sangat ingin tahu urusan sang bos. Ingin mengintip, takut ketahuan, jadi dia duduk saja di bangkunya, barangkali ada beberapa kalimat yang sepintas terdengar oleh telinga.
“Aku lapar, Pak!”
Jawaban Anyelir membuat Dylan terkejut juga. Dia hanya memedulikan isi perutnya tadi tanpa tahu jika perempuan yang membawakan makanan untuknya juga kelaparan.
“Lantas kenapa kaubicara padanya? Kau tak tahu bagaimana para karyawanku itu tidak semuanya merupakan orang baik? Jangan suka cari perhatian pada orang asing!” omel Dylan yang sama sekali tak menyembuhkan rasa lapar Anyelir.
Anyelir malah kesal pada pria di hadapannya ini.
“Lantas aku harus bagaimana? Mengganggumu? Menghubungimu saat kau sedang rapat?” protes Anyelir.
“Rubah cilik, berani kau menjawab pertanyaanku?”
Anyelir tak kalah geramnya, tapi ia sangat kesal karena disebut rubah cilik oleh Dylan. Dia membuang muka dan kekesalannya pada Dylan semakin bertambah. Apalagi pria itu tadi terang-terangan mengangkat telepon dari Andin di depan Anyelir.
“Tadi, kan, ada Tera kemari. Kenapa kau tidak bertanya padanya terlebih dahulu?” ujar Dylan yang kali ini tak dijawab Anyelir.
Wanita itu lebih memilih membuang muka daripada menjawab Dylan. Dia sudah terlanjur sangat kesal dan sakit hati. Padahal hanya menanyakan letak kantin saja, tapi malah dibilang mencari perhatian. Tak ada yang menyenangkan memang bila bersama dengan Dylan.
Perempuan itu memeluk kantung bekal yang ia bawa, lantas kemudian berdiri. Dia beranjak dari kursi kantor itu sambil menahan kekesalan dengan pipi yang menggembung. “Aku mau pulang saja.”