
Senyum berkibar di wajah pria tersebut, dia kembali lagi ke kantor dalam suasana hati yang sangat baik. Bagaikan perahu yang berlayar di tengah laut dengan ombak yang tenang, rasanya siang ini begitu hangat bagai berjemur di tepi pantai.
Meski ia gagal untuk melakukan sesuatu pada sang istri, tapi ada saja tingkah Anyelir yang membuat pria tersebut merasa berbunga-bunga.
“Tera, bagaimana dengan pertemuan siang ini?” tanya Dylan begitu ia sampai di depan ruangannya.
Wanita bersepatu merah itu langsung berdiri begitu melihat bosnya datang. “Pak, mereka membatalkan jadwal. Saya sudah memberitahu bapak, tapi ... bapak tidak mengangkat telepon. Saya bilang, agar Anda tetap di rumah saja karena klien membatalkan janji temu dan ... selain itu ....” Tera seakan ragu untuk mengatakan alasan lainnya.
“Selain itu kenapa?” tanya Dylan. Ada raut wajah yang tak enak dilihat dari ekspresi Tera. “Apakah ini kabar buruk?” Pria tersebut menebak sambil bertanya.
Tera menelan salivanya sejenak lalu ia berkata lagi. “Ada berita yang baru saja tersebar di internet tentang Anda dan istri Anda,” ujar Tera lagi. “Anu ... maksud saya, kedua istri Andai.” Tera meralat perkataannya dan hal itu terdengar semakin aneh di telinga Dylan.
“Bukankah dari kemarin berita itu memang sudah berembus?” tanya Dylan.
Tera mengangguk lagi. “Benar, tapi yang baru saja ini agak berbeda dan ... tidak hanya menjatuhkan reputasi Anda, bahkan ....”
“Bahkan apa?” Dylan benar-benar tak sabar karena Tera terus memotong-motong penjelasannya.
“Anak Anda juga terseret di dalamnya. Anda bisa baca sendiri beritanya, Pak,” ujar Tera sambil menyodorkan tablet yang ada berita tersebut di dalamnya.
Dengan gusar, Dylan merebut tablet yang ada di tangan sang sekretaris. Pria itu membaca bagaimana berita tersebut ditulis dan dirinya terkejut dari siapa para reporter mendapatkan fakta tentang ibu kandung Rio.
‘Bukan Andin yang Berselingkuh, Tapi Anak Laki-Laki Sang Suami adalah Anak Perempuan Lain.’
Dari tajuknya, Dylan sudah bisa menerka jika kali ini berita tersebut menggosipkan Rio dan membeberkan fakta jika Andin bukan ibu kandung Rio.
“Mereka mengatakan jika ... Bu Anyelir adalah ibu kandung dari anak Anda. Untuk sementara, Bu Andin sendiri masih bungkam dan tak mengatakan apa-apa.”
“Kautahu dari mana Andin masih bungkam sampai saat ini?” tanya Dylan pada sang sekretaris.
“Itu ... saya menghubungi salah satu anggota tim manajemen yang ada di agensi Bu Andin, Pak. Namanya Eros dan dia mengatakan jika Bu Andin tidak tahu menahu mengenai berita tersebut, bahkan sampai saat ini Bu Andin sendiri masih tak memberi jawaban apa-apa pada pihak agensi,” jelas Tera yang merasa bingung.
Dylan pun masuk ke ruangannya, sejak tadi ia berdiri di depan meja milik Tera karena membaca berita tersebut. Gara-gara berita itu, suasana hati seorang Dylan kembali memburuk. Padahal sebelum berangkat ke sini ia benar-benar berbunga-bunga.
“Apa yang harus saya lakukan, Pak? Apa saya harus menelepon pihak media yang memunculkan berita ini?” tanya Tera sambil mengejar sang bos yang berlari ke dalam ruangannya.
“Ya, hubungi mereka dan tanyakan dari siapa mereka mendengar kabar tersebut.” Dylan memberikan perintah dari kursinya, pria itu meletakkan siku di atas meja sambil berpikir segala kemungkinan yang memiliki potensi menjadi penyebab kekacauan. Meski dalam pikirannya, Andin juga termasuk sebagai salah satu orang menyebabkan semua ini. Ya, tidak menutup kemungkinan jika perempuan itu yang membocorkan pada media mengenai Rio.
Ketika dia sedang sibuk berpikir, Tera kembali masuk disertai dengan seseorang dari bagian keamanan. “Ada apa?” tanya Dylan pada mereka.
“Lapor, Pak. Ada banyak para wartawan yang datang ke depan kantor kita. Mereka berdesakan untuk menemui Anda,” ujar orang keamanan tersebut.
Dylan pun terperanjat dan langsung bangkit dari kursinya. Dia berjalan menuju ke arah jendela dan melihat ke bawah. Benar saja, beberapa orang yang membawa kamera dan mikrofon sedang berkerumun di depan kantornya.
“Apa yang mereka inginkan?” Dylan tampak semakin gusar.
“Mereka ingin Anda melakukan klarifikasi, Pak,” ujar Tera yang menimpali.
Sang satpam pun mengangguk dan membenarkan ucapan Tera.
“Baik, Pak.” Orang keamanan itu pun pergi dan diikuti oleh Tera.
“Tera, ada yang perlu kubicarakan denganmu,” ujar Dylan mencegah sekretaris itu agar tidak pergi.
“Iya, Pak. Ada apa?” tanya gadis berambut pirang yang kali ini diikat bagian tengahnya tersebut.
“Kauhubungi pihak media yang menyebarkan berita ini, tapi ... jangan kautanyakan langsung siapa pengirim berita tersebut,” ujar Dylan.
Tera pun mengerutkan dahi. “Lantas apa yang harus kucari tahu?”
“Buat janji temu saja, lebih baik aku bertemu langsung dengan pimpinan redaksinya.”
Tera akhirnya mengangguk. “Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu.”
Setelah sang sekretaris undur diri, Dylan pun kembali melihat ke area bawah di depan perusahaannya. Bahkan ia masih melihat ada mobil-mobil baru yang berdatangan membawa para pencari berita haus akan gosip tersebut.
Dylan kini membuka pada komputer miliknya sendiri untuk membaca berita tersebut. Penulis artikel itu merilis tentang kebenaran Rio yang merupakan anak Dylan dari perempuan pihak ketiga. Ibu kandung dari Riolah yang membuat hubungan Andin dan Dylan kandas.
Jika dilihat dari tujuan beritanya, semua ini menguntungkan Andin. Namun Dylan berusaha menepis kemungkinan tersebut. “Tidak mungkin Andin melakukan ini.” Pria tersebut mencoba mengelak, tapi lagi-lagi ini adalah kemungkinan kuat yang terjadi.
Tujuan dari Andin hanyalah untuk menaikkan kembali nama baiknya. Bagaimanapun juga, beberapa hari terakhir Andin digosipkan selingkuh dengan seorang pengusaha muda sehingga membuat suaminya menikah lagi. Namun sekarang, muncul berita ini yang seakan menjadi pembersihan nama Andin dari berita sebelumnya. Opini yang digiring dari artikel tersebut, seperti menunjukkan jika Andin berselingkuh bukan karena suatu alasan, melainkan karena adanya perempuan lain yang membuat rumah tangga mereka goyah.
“Tidak, Andin tidak mungkin melakukan hal seperti itu.” Saat Dylan sedang berpikir keras untuk mencari setiap kemungkinan, teleponnya pun berdering.
Nama Rian muncul di layar dan Dylan langsung mengangkat telepon dari kawan sekaligus lawannya tersebut.
“Ada apa?” Tanpa basa-basi, Dylan langsung bertanya dengan nada yang penuh kegusaran.
“Kautahu berita yang muncul beberapa jam yang lalu?” tanya Rian.
“Ya, apa urusanmu dengan berita itu. Jangan berani-berani mencoba menyentuh Anyelir hanya karena berita ini menjadi alasan untukmu!” ancam Dylan.
“Bodoh! Ini lebih penting dari sekedar itu, para wartawan muncul dan mewawancarai pihak rumah sakit. Mereka menanyakan tentang kebenaran ibu kandung Rio!”
“Lalu bagaimana dengan Rio yang dirawat di sana?” Wajah Dylan mendadak panik.
“Nyonya Lastri sudah meminta orang untuk melindungi kamar rawat mereka.”
Jawaban Rian membuat Dylan sedikit merasa lega. Setidaknya wartawan itu tidak menembus ke dalam kamar yang merawat anaknya.
Di tengah kegelisahannya saat mendengar kabar dari Rian, tiba-tiba pihak keamanan pun kembali menghampiri.
“Pak, ini gawat!”
“Ada apa?” tanya Dylan pada pihak keamanan tanpa menutup telepon dari Rian.
“Bu Anyelir datang dan terjebak dalam kerumunan wartawan.”