Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
11. Ceraikan Suamimu!


Perginya Anyelir membuat wanita paruh baya itu pun masuk kembali ke rumahnya. Dia mempertanyakan pada diri sendiri mengenai apa yang telah dilakukannya hari ini.


Mengapa ia membawa Anyelir ke rumahnya meski ia sudah tahu jika hal tersebut mengundang risiko yang besar?


Benar, besar risiko yang harus Lastri tanggung apabila sampai orang luar mengetahui kondisi rumah tangga sang anak. Belum sampai berita perceraian Dylan terdengar oleh telinga orang luar, namun dirinya sebagai orang tua membawa wanita lain untuk calon istri sang anak.


Mau tidak mau, bisa tidak bisa, suka tidak suka. Lastri harus membungkam mulut-mulut mereka yang bergosip mengenai anaknya. Apalagi, ketika pesta perayaan kemarin, perilaku dari mantan menantunya itu mengundang buah bibir dari tamu yang lain.


Merapatkan kembali tali baju tidurnya, berjalan sambil mengangkat dagu. Dini hari itu, Lastri harus segera mengambil langkah yang jauh lebih besar untuk segera menyatukan anaknya dengan Anyelir. Bagaimanapun juga, kesembuhan Rio lebih penting daripada gengsi keluarga mereka terhadap buah bibir.


*


Beberapa jam yang lalu, di pesta perayaan hari jadi perusahaan milik kolega.


Perusahaan besar yang menguasai dunia kedokteran ini sedang merayakan hari jadi mereka yang ke-20. Dalam dua dekade, bisnis mereka tumbuh menjadi bisnis raksasa yang patut untuk mereka rayakan hari ini.


Para tamu undangan mereka bukan orang sembarangan, semuanya adalah kolega bisnis dan juga para pengusaha eksekutif yang turut andil dalam membantu pertumbuhan perusahaan ini.


Tak terkecuali Dylan dan Nyonya Lastri, mereka datang dalam kondisi tak bersamaan pada pesta yang diselenggarakan di dalam ruangan tersebut. Bahkan Dylan datang jauh lebih dahulu dibanding sang ibunda.


“Kau tak datang bersama istrimu, Dylan?” tanya seorang pria yang seusia dengan Dylan.


Dylan hanya tersenyum sambil menggeleng. Ia berdiri di tengah kawan-kawannya sambil membawa segelas jus jeruk di tangan kanannya.


Mereka berempat adalah teman baik. Semuanya merupakan pewaris dari berbagai perusahaan yang bergerak di bidang yang berbeda-beda. Salah satu dari kawan Dylan itu merupakan pewaris dari perusahaan yang sedang berpesta ini, dia merupakan seorang dokter sekaligus pengusaha yang sukses namun masih melajang di usianya.


“Jangan kau tanyakan tentang istriku, justru mana calon istri yang katanya akan kau perkenalkan pada kami?” tanya Dylan pada kawannya tersebut.


Pria dengan wajah tampan dan manis khas Orang Jawa itu pun terkekeh. “Tunggu saja, nanti kalian tahu-tahu dapat undangan dariku.”


Mereka pun berkelakar sambil menunggu acara puncak dari pesta tersebut.


Kemudian, seorang wanita bergaun panjang yang memperlihatkan lekuk tubuhnya itu mendekat ke arah mereka berempat. “Pak Rian, Anda ditunggu oleh keluarga.” Wanita itu memberitahu pada pria tersebut dengan cara yang sopan.


“Baiklah. Saya akan menyusul.”


Pria dengan nama Rian itu pun memiringkan kepala sambil menggerakkan alisnya. “Aku pergi dulu.”


Kini tinggal Dylan dan kedua temannya, mereka melanjutkan obrolan yang tertunda tanpa satu kawan yang telah pergi terlebih dahulu.


Namun salah satu dari mereka menyenggol siku Dylan sambil menunjuk pada pintu masuk. “Dylan, bukankah itu ibumu?”


“Iya, benar. Itu seperti Nyonya Lastri.”


Dylan langsung ikut melihat ke arah yang ditunjuk kawannya, pria itu mengerutkan dahi saat melihat wanita paruh baya berbalut gaun hijau tua tersebut masuk ke dalam acara. “Ibu? Aku pikir dia tak mendapatkan undangan.”


“Mana mungkin dia tidak diundang. Secara, Nyonya Lastri itu donatur utama di rumah sakit milik keluarga Rian.”


Hingga pertengahan acara pesta yang telah menghadirkan berbagai penyanyi papan atas di Indonesia, seluruhnya berjalan lancar. Dylan bisa menikmati acara ini seperti biasa, bahkan dirinya pun tak lupa memberi selamat untuk kedua orang tua Rian selaku pemilik acara.


Hanya saja, di pertengahan acara tersebut ia mendengar ibunya mengucapkan sesuatu yang membuat keributan dan menarik perhatian tamu undangan yang lain.


“Kau mengundang perempuan itu, Deswita?” tanya Nyonya Lastri yang memanggil nama dari sang pemilik acara.


Sementara itu, perempuan yang ditunjuk oleh Lastri berusaha untuk tidak menggubris seakan-akan yang dimaksud itu bukan dirinya.


Mata Dylan yang sedang menatap pada sang ibunda langsung beralih pada siapa wanita yang ditunjuk oleh ibunya itu?


“Andin?” Spontan Dylan pun merasa senang bisa melihat perempuan kesayangannya itu datang pada acara yang sama.


Kaki Dylan melangkah mendekat pada wanita itu, namun Rian menahannya dari belakang.


Saat itu ia pun mendengar jawaban dari ibunda Rian atas pertanyaan yang diucapkan Lastri sebelumnya. “Memangnya kenapa? Aku mengundang Dylan dan kau, Lastri. Apa Andin bukannya datang bersama kalian?” Deswita dan juga tamu yang lain juga berpikiran sama.


Mengapa Nyonya Lastri harus mempertanyakan kehadiran menantunya sendiri?


Wanita bergaun hijau tua itu mencoba mengatur napas agar tak menunjukkan amarahnya. “Dia bukan menjadi bagian dari keluarga kami lagi!” Jawaban tegas keluar dari mulut Lastri.


Andin membuang muka mencoba untuk tak bereaksi apa-apa. Meski ia tahu jika semua orang kini tengah membicarakan dirinya. Bahkan ia sadar jika Dylan sedang menatapnya dari kejauhan, namun ia mencoba untuk mengacuhkan dan menghindari tatapan pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya tersebut.


Sementara itu, Dylan mencoba melepaskan tangan Rian yang masih memeganginya. “Aku harus menghampiri Andin.”


Kali ini Rian tak mencegahnya, ia membiarkan Dylan untuk menyelesaikan masalah keluarganya.


Sebelum Dylan berbicara pada wanita itu, ia terlebih dahulu menenangkan Lastri yang masih diliputi kekesalan. “Ibu tenangkan diri dulu, ada banyak orang yang melihat kita. Biar Andin menjadi urusanku.”


Lastri pun akhirnya mengalihkan pandangan dari wanita yang menjadi mantan menantunya tersebut. Sontak kawan-kawannya langsung menanyai dirinya dengan berbagai macam pertanyaan. Ada yang iba, memberi dukungan, memintanya sabar, bahkan ada juga yang sedikit memberi nasihat bersifat sarkasme.


Sementara itu, setelah berhasil membuat ibunya tenang, Dylan langsung mencari di mana Andin berada. Karena sepertinya wanita itu sudah tak lagi di tempatnya yang semula.


Pria itu keluar dari pintu utama tempat pesta itu berlangsung. Ia menelusuri lorong hotel dan melihat Andin bersama seseorang entah siapa berada dalam lift.


Sontak ia pun berlari dan melihat ke lantai mana lift itu berhenti. Dylan pun masuk ke lift yang lain dan akhirnya ia berhenti di lantai paling bawah.


Pria itu melihat Andin keluar bersama seorang pria yang tak ia kenal. Dia mengikuti secara diam-diam dari kejauhan. Sampai ia mendengar suara sebuah percakapan.


“Kau lihat, kan? Perlakuan mereka padaku?” Itu suara Andin, dia sangat mengenali itu.


“Mertuamu tidak pernah memperlakukanmu dengan baik. Aku jadi sangat iba padamu.”


“Terima kasih karena selalu ada mendukungku.”


“Balas kebaikanku dengan perceraianmu dengan suamimu yang sekarang!”