
Pria dengan wajah tampan itu pun merasa bersalah atas apa yang terjadi pada bapaknya. Ia berpikir jika dirinya telah menyebabkan orang tuanya itu kembali terkena serangan jantung.
Duduk sambil merapatkan kaki dan tangan. Dia menyangga dagu lalu menatap ke lantai.
Di samping ranjang tempatnya bapaknya berbaring, pria itu sedang berpikir. Ia mencoba untuk mencari jalan keluar yang sekiranya disetujui oleh bapaknya, namun juga tidak memberatkan perasaannya, apalagi sampai mengorbankan rumah tangganya dengan Andin.
Dylan menatap pada bapaknya. Kulit coklat muda yang kasar dan agak keriput di sekitar mata itu menutup. Lalu ada alat bantu pernapasan yang tadi sempat dipasang oleh Andin sebelum perempuan itu pergi dari ruangan ini.
“Selamat sore,” sapa seorang pria yang datang dan masuk ke kamar mewah milik keluarga Bagaskara tersebut. Di samping pria tersebut, terdapat seorang lagi dokter yang lebih muda mendampingi.
“Selamat sore, Dok. Yan!” Dylan membalas sapaan mereka.
“Apa yang terjadi pada Om Gunadi?” tanya Rian sambil mendekat.
“Sepertinya dia terkena shock saja,” jawab Anyelir yang akhirnya menyusul masuk ke sana.
“Anye ....” Rian agak canggung dan merasa aneh ketika melihat dokter koasnya berada satu rumah dengan Dylan.
Dylan pun terkejut melihat kedatangan Anyelir yang ikut bergabung dengan mereka. Namun ia tak bisa mencegah perempuan itu untuk masuk, apalagi sampai bersikap sinis pada Anyelir di depan orang lain.
“Saya sudah memeriksa tanda-tanda vitalnya, semuanya berjalan normal, Dok. Hanya pasien sedikit mengalami sesak napas tadi sehingga saya memasang nebulizer.” Anyelir menjelaskan mengenai kondisi Pak Gunadi yang baru saja pingsan itu.
“Biarkan saya periksa lebih lanjut,” ujar dokter yang datang bersama dokter Rian.
“Silakan.”
Saat sang dokter memeriksa, semuanya pun keluar dan menunggu di depan kamar.
Anyelir berdiri di samping dokter Rian, hal itu terlihat aneh di mata Dylan.
“Oh, sorry!” Rian pun langsung menjauh dari sisi Anyelir saat menyadari tatapan kawannya.
“Cih!” Dylan mengalihkan pandangannya. Kenapa pula Rian bereaksi seperti itu? Seakan-akan ia akan cemburu saja bila melihat Anyelir bersama pria lain. Itu tidak akan pernah terjadi.
Saat mereka bertiga saling terdiam. Seorang perempuan paruh baya dengan kacamata menghampiri. “Dokter sudah datang?” Nyonya Lastri tadi pergi sejenak sebelum dokter datang.
“Sudah, sekarang sedang diperiksa, Bu. Jangan khawatir.” Anyelir mencoba menenangkan mertuanya sambil mengusap pundak Lastri.
Gerak bibir Dylan mencibir apa yang dilakukan oleh istri keduanya tersebut. Dia menganggap jika kebaikan Anyelir hanyalah sesuatu yang bersifat manipulatif dan dibuat-buat semata. Dalam pikirannya masih sama seperti di awal. Ia menyebut Anyelir ingin menjebak untuk mendapatkan dirinya atau untuk mendapatkan hartanya lagi. Rio hanya menjadi alasan yang digunakan oleh wanita itu.
“Beliau akan segera membaik.” Dokter keluar dan mengabari keluarga yang menunggu di depan kamar. “Dia hanya terkena shock, itu bukan serangan jantung. Tapi kalau bisa ... tolong kalian menjaga agar tidak membuat beliau emosi,” lanjutnya.
“Lalu ... sesak napasnya bagaimana?” tanya Nyonya Lastri khawatir.
“Itu sudah ditangani, beruntungnya ada Anyelir yang segera memberikan nebulizer kepada pasien.”
“Terima kasih, Dokter Putra.” Anyelir membungkukkan badan pada dokter seniornya tersebut.
“Sama-sama, kalian tinggal menunggu saja sampai beliau siuman. Saya juga telah meninggalkan obat apabila serangan jantungnya kumat.”
“Baik.”
“Kalau begitu, kami pamit dulu ya.” Dokter Rian pun menepuk pundak Dylan.
“Anyelir, untungnya ada kamu yang bisa memberi pertolongan pertama untuk bapak,” ungkap Nyonya Lastri sambil menggenggam tangan menantunya tersebut.
Mereka berdua berjalan beriringan saat masuk ke dalam kamar Tuan Gunadi.
“Dylan ....” Terdengar suara bernada rendah memanggil pria yang sedang duduk di tepi ranjang.
“Ya, Pak.”
Dylan pun mendekat. Namun tak hanya pria tersebut, Anyelir dan juga Lastri ikut mendekat ke arah sumber suara.
“Uhuk ... uhuk ....”
“Pelan-pelan, Pak.” Lastri duduk di samping Gunadi dan membantu sang suami untuk duduk.
“Jangan pernah menyakiti hati seorang perempuan. Lalu ... kau, Anyelir!”
“Iya, Pak,” jawab Anyelir dengan suara yang lembut.
“Jika Dylan tak pernah menghargaimu, kau boleh pergi dari tempat ini.” Meski nadanya lemah, namun suara itu terdengar cukup tegas di telinga Anyelir.
Perempuan itu meremas rok yang ia gunakan. Lalu ia berkata, “Jika ada cara lain untuk menyembuhkan Rio saya akan melakukannya. Apa pun itu.”
Nyonya Lastri hanya bisa mengembuskan napas. Ia merasa kasihan pada menantunya tersebut. Apalagi, dirinyalah yang membawa Anyelir saat itu. Yang ada dalam pikirannya saat itu, bagaimana mereka bisa mendapatkan obat untuk Rio, tanpa memikirkan perasaan pribadi anak dan menantunya, juga nasib dari rumah tangga anaknya.
Namun tiba-tiba, wanita itu ingat akan sesuatu.
“Kau tak perlu merasa berat hati pada Andin, Dylan.” Lastri pun membuka mulutnya. “Sebenarnya, kemarin Dylan dikirimi surat gugatan cerai dari istri pertamanya, Pak. Apakah itu kurang cukup untuk menjadi bukti jika Andin sudah tak ingin bersama dengan anak kita?” tanya Lastri.
Dylan pun menatap kembali ibunya dengan wajah kesal. “Andin sedang dalam pengaruh pria lain, Bu. Itu bukan murni berasal dari keinginan pribadinya.” Dia masih saja mencoba membela Andin.
“Jika dia wanita yang baik, dia tidak akan mudah diperdaya oleh laki-laki lain,” celetuk Lastri yang terkesan lebih ingin Anyelir untuk menjadi menantunya.
Karena melihat kondisi bapaknya yang sedang buruk, maka dari itu Dylan mencoba menahan amarahnya.
“Sudah. Jika memang Andin telah mengirimkan gugatan cerai padamu, kenapa tidak kaukabulkan saja? Dengan begitu kau bisa bersama Anyelir dan mendapatkan anak kedua yang akan menyumbangkan obat bagi Rio.” Suara Tuan Gunadi terdengar lemah ditambah dengan serak dari tenggorokannya.
“Aku tidak akan menceraikan Andin,” ujar Dylan yang bersikukuh tak ingin bercerai dari istrinya.
“Dari mana kautahu jika istri pertamamu itu masih ingin bersamamu?” tanya Tuan Gunadi menegaskan pada Dylan.
Dylan pun diam, ia tak memiliki jawaban dan bukti yang kuat.
“Kalau begitu begini saja. Minta Andin untuk bicara denganku sekarang!” titah pria tua itu dengan tatapan yang tajam pada Dylan. “Kau sanggup untuk membawanya kemari sekarang?”
Pria yang diberi pertanyaan itu ragu, apakah dia akan sanggup untuk membawa Andin kembali sekarang juga. Bahkan ia pun tak tahu di mana Andin sekarang. Apalagi ... saat di rumah sakit, sebenarnya Andin menelepon untuk meminta Dylan tidak perlu hadir saat pengadilan. Hal itu ditujukan agar proses perceraian mereka cepat dikabulkan dan tidak mendapatkan banyak gangguan.
“Bagaimana, Dylan?” tanya Tuan Gunadi lagi karena anaknya itu tak kunjung bicara.
“Aku sanggup untuk membawa Andin kemari.”