
Meski tak suka, namun akhirnya Dylan merelakan jika Anyelir yang mengasuh Rio. Padahal, dalam hati ia berharap jika anaknya itu lebih memihak padanya. Entah kenapa ia merasa kesal dan melihat jika Anyelir sengaja melakukan hal itu untuk menarik perhatian ibunya.
Malam ini merupakan pesta penyelenggaraan hari jadi perusahaan milik kolega bisnis Dylan. Selain pria itu, Nyonya Laras juga diundang untuk menghadiri pesta tersebut, hanya saja dia tak memberitahu pada Dylan mengenai kedatangannya nanti.
“Ibu ... juga akan berangkat sekarang?” tanya Anyelir yang melihat wanita paruh baya itu berdandan.
Nyonya Lastri menoleh pada Anyelir lalu dia mengangguk. “Kau tidak keberatan untuk mengasuh Rio malam ini, kan? Anggap saja ini adalah waktu untukmu mengambil hatinya. Aku lihat, hubungan batinmu dengan Rio cukup dekat dan kalian begitu mudah akrab. Firasatku baik saat melihat kalian bertiga berkumpul seperti tadi.”
Anyelir langsung terlihat kikuk dengan pipi yang bersemu merah. Bagaimanapun juga, ia sempat menyukai Dylan. Meski pria itu menyebalkan di matanya, namun perasaan yang terpendam tersebut terkadang membuat wanita itu tersipu bila membicarakan tentang Dylan.
“Ya sudah, bagaimana penampilanku?” tanya Nyonya Lastri sambil memperlihatkan gaun hijau tuanya di depan Anyelir.
Anyelir mengangguk sambil mengacungkan dua jempolnya. “Anda terlihat luar biasa, Nyonya.”
“Kau ini memang bermulut manis.”
Nyonya Lastri pun meninggalkan Anyelir sambil tersenyum.
Wanita paruh baya dengan baju glamour itu pun berjalan ke luar rumah. Beberapa pelayan merapikan lagi baju yang dikenakan oleh sang nyonya.
Anyelir pun baru mengingat akan sesuatu dan harus ia katakan sebelum Nyonya Lastri pergi.
“Anu, Bu ...!” panggil Anyelir sambil setengah berlari menghampiri calon mertuanya tersebut.
Nyonya Lastri yang hendak menutup pintu mobil pun menahannya. “Ada apa, Anye?”
“Itu ... besok saya harus pulang dini hari untuk mempersiapkan diri karena ada jadwal pagi. Saya takut besok tidak sempat berpamitan. Jadi saya pamit sekarang.”
Lastri pun termangu mendengar ucapan Anyelir.
Dalam hati ia membanding-bandingkan perilaku Anye dengan mantan menantunya dulu. Jika dulu Andin hendak pergi, maka wanita itu akan langsung pergi saja tanpa peduli dengan bagaimana respons dari mertua atau suaminya. Bahkan seringnya, Nyonya Lastri sendiri tak tahu apakah menantunya itu sedang ada di rumah atau tidak.
Mendengar Anyelir berpamitan bahkan sejak awal sebelum ia hendak meninggalkan rumah, dirinya merasa terharu.
Wanita paruh baya itu pun ingat jika dirinya harus segera pergi, maka dari itu ia hanya mengangguk sambil tersenyum. “Baik, berhati-hatilah. Akan ibu sediakan sopir untuk mengantarmu dini hari nanti.”
Anyelir membungkukkan badan sambil mengangguk. “Terima kasih.”
Sopir Nyonya Lastri pun langsung menutup pintu mobil dan ia pun duduk di kursi kemudi untuk segera mengendarai mobilnya.
Sementara itu, Nyonya Lastri sedang termenung melihat pantulan bayangan Anyelir melalui spionnya. “Kenapa tidak dari dulu aku tahu jika Dylan pernah menikah denganmu.”
Sebuah lubang kekecewaan telah menganga begitu besar akibat perbuatan anaknya dengan sang mantan istri tersebut. Namun semua rasa sakit itu seakan terhempas begitu saja, karena kedatangan Anyelir bisa menjadi obat untuk itu semua.
*
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.” Anyelir menengok kanan dan kiri sambil mengucap salam, namun malam yang tenang itu seketika ambyar begitu ia melihat sesosok tubuh tinggi seorang pria dengan jas yang tak rapi melihat kepadanya.
“Pak Dylan?” ujar Anyelir tanpa melepas alat salatnya.
“Aku masih merasa janggal dengan keberadaanmu di sini?” ujarnya dengan suara parau.
Tidak ada bau alkohol dari tubuh Dylan, namun pria itu terlihat kacau karena belum tidur sejak tadi malam dan ia langsung datang ke tempat Anyelir seusai pesta.
“Asisten pribadi ibu yang memanggil saya kemari.” Jawaban Anyelir dengan jujur apa adanya.
Namun Dylan malah memberingsut dan membuang muka, ia tampak sangat kesal. Entah apa yang terjadi selama pesta itu berlangsung, hingga membuat pria itu murka begitu datang ke rumah dan melampiaskannya pada Anyelir.
“Aku tidak percaya ini terjadi begitu saja.” Dylan menggelengkan kepala.
Jika Dylan saja tak percaya, apalagi Anyelir? Dirinya yang sejak dulu hidup dengan tenang, kini harus diseret ke tengah keluarga mantan suami yang tak pernah mengetahui status mereka sebelumnya. Namun pembelaan itu tak pernah keluar dari hati Anyelir, semuanya tak ‘kan pernah terucap dari mulutnya.
“Kautahu? Tiba-tiba dokter mengatakan jika obat untuk Rio adalah memiliki adik kandung lagi? Apa menurutmu itu masuk akal? Lalu secara kebetulan, Andin pun pergi dari rumah, padahal sebelumnya hubungan kami baik-baik saja. Mendadak ia jadi membenciku dan menggugat cerai, kemudian tepat satu hari setelah kepergian Andin, kau pun langsung datang. Apa semua ini tidak mencurigakan?” cerca Dylan pada ibu dari anaknya itu.
Anyelir masih diam saja, bukan karena dirinya bersabar. Namun karena ia memang tak tahu harus menjawab apa?
Hanya saja, jika mulut Anyelir menjawab ‘tak tahu’ begitu saja, Dylan juga belum tentu percaya. Bukankah manusia hanya akan memercayai omongan orang yang sesuai dengan apa yang sudah ia yakini dalam hatinya?
Sementara Dylan sudah tak percaya pada Anyelir, percuma juga jika dia menjawab.
“Jawab aku hei!” Merasa diacuhkan, Dylan mendekati Anyelir.
Wanita itu menunduk dan menghindari tatapan mata Dylan yang menakutkan saat ia marah tersebut.
“Terserah Anda mau berpikir apa tentang saya. Tapi jika Anda menanyakan apa ada motif yang tersembunyi dari kedatangan saya kemari. Maka sekarang saya akan mengaku!” jawab Anyelir dengan lantang.
Saat itu juga, Dylan memiringkan senyum karena merasa jika tuduhannya pada Anyelir memang benar.
“Baiklah, cepat katakan! Apa motifmu? Uang? Atau kau menginginkan diriku?” seloroh Dylan seenaknya.
Anyelir memutar bola matanya karena kesal. Kenapa dulu ia sempat jatuh cinta pada pria sepicik Dylan?
“Sama sekali bukan. Tak ada satu pun dari yang Anda sebutkan itu menjadi motif saya yang sesungguhnya,” jawab Anyelir tak kalah ketus.
“Kalau begitu, cepat katakan!” desak pria yang masih belum berganti pakaian tersebut.
Anyelir tersenyum tipis. “Rio! Saya hanya ingin dekat dengan Rio.” Wanita itu menjawab tanpa terlihat ragu sama sekali. Meskipun mungkin nantinya Dylan yang justru akan meragukan jawabannya.
Benar saja, Dylan pun terkejut. “Kau tak bisa menjadi mama untuk Rio. Karena yang akan menjadi untuk Rio hanya Andin seorang, semua sudah ada dalam perjanjian!”