
“Dylan!” Anyelir langsung berdiri begitu ia melihat kedatangan sang suami di lorong rumah sakit.
Pria tergopoh-gopoh sambil terus berlari tanpa peduli dengan napas yang terengah-engah. “Ibu, mana ibu!”
Anyelir menutup mulut lalu menyambar dada bidang pria tersebut. Mereka berpelukan dan menumpahkan tangis di sana.
Ketika berpelukan dengan sang istri, Dylan melihat seorang pria berjalan dengan terburu-buru menggunakan jas putihnya.
“Rian! Rian!” Dylan melepas pelukan dari Anyelir dan langsung berlari menghampiri sahabatnya tersebut.
“Kami sedang terburu-buru karena harus menghentikan pendarahan. Sementara ibumu masih dalam kondisi kritis, berdoa saja untuk sekarang. Kami sedang berusaha sebaik mungkin.” Pria berjubah putih itu langsung berlari meninggalkan Dylan.
Sementara itu, direktur utama dari perusahaan konstruksi dan properti tersebut tersungkur di atas lantai dengan bertumpu pada kedua lututnya yang lemas. Orang-orang berlalu lalang melewatinya, dia tetap diam sambil memikirkan kondisi ibunya.
Untuk sejenak pikirannya kosong dan tak bisa mengendalikan akalnya yang dia ingat adalah bagaimana cara agar ibunya diberi kesembuhan.
Kemudian, tepat beberapa meter dari pria tersebut, sepasang kaki yang juga melangkah gontai. Dari sekian banyak langkah, hanya sepasang kaki itu yang menghampirinya.
Perempuan itu ikut tersungkur dan berlutut di depan suaminya. Dia memeluk dan menyalurkan sedikit sisa-sisa energi untuk pria tersebut. Menguatkan dan mencoba untuk tegar.
“Ayo berdiri, jangan di sini,” ajaknya pada Dylan. Dia berdiri sambil mengulurkan tangan.
Pria itu mendongak dan mengikuti apa kata istrinya. Dylan pun berjalan menuju ke ruangan operasi dan berhenti di depannya. Mereka menatap pada pintu dengan lampu berwarna merah di atasnya sebagai tanda bila operasi sedang berlangsung.
Anyelir menatap pada sebuah bangku panjang di sisi kanan lorong rumah sakit, dia pun menduduki salah satunya. “Ayo,” ujarnya sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya.
Dylan pun mengikuti ajakan Anyelir dan duduk di sana. Pria itu berusaha untuk duduk dengan tegak sambil melipat kedua tangannya.
Wanita di sampingnya pun menatap pada pria pemilik hidung mancung di sampingnya ini. “Kau boleh bersandar di sini,” ucap Anyelir sambil menepuk bahu sendiri.
Pria tersebut malah menoleh dan hanya menatap pada Anyelir. “Yang ada juga, kau yang harus bersandar denganku,” tolaknya sambil berusaha meraih kepala sang istri agar bersandar di bahunya.
“Jangan begitu, tak usah malu! Laki-laki itu adalah manusia, kau tetap berhak kok untuk menyandarkan kepalamu padaku.” Anyelir tersenyum sambil memaksa sang suami agar bersandar di bahunya.
"Kau nanti keberatan,” pungkasnya lirih. Walau menolak begitu, Dylan tetap menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
“Tidak kok. Selama hanya bahuku yang kaujadikan sandaran, aku tidak pernah merasa keberatan,” ucap perempuan itu.
Pria tersebut menghela napasnya dengan lebih keras. Dia sedikit merasa lebih lega, meski sang ibu belum keluar dari ruang operasi ... akan tetapi adanya Anyelir seakan menghilangkan sesak dalam paru-parunya.
“Bagaimana ini bisa terjadi pada ibu?” gumam Dylan sambil memejamkan mata dan memeluk Anyelir.
“Polisi masih menyelidiki penyebab kecelakaannya. Beberapa saksi mengatakan sopir truk itu sedang mengantuk.”
Dylan menggelengkan kepala saat ia mendengar penjelasan dari Anyelir. “Terkadang kita sudah berhati-hati dalam berkendara, tapi orang lain yang sembrono.”
“Kita berdoa saja semoga ibu baik-baik saja.” Anyelir merangkul kepala suaminya dari samping dan mencium pucuk kepala pria dengan aroma maskulin tersebut.
Lama mereka menunggu, hingga terasa bosan. Dylan sudah duduk dan berdiri berulang kali, sementara Anyelir bolak-balik menengok pada layar ponselnya dan sesekali membalas pesan.
“Bapak,” jawab Anyelir.
Dylan pun mengerutkan dahi. Dia akhirnya melihat pada ponselnya sendiri, ternyata sang bapak juga menghubunginya dengan mengirim pesan. Tapi ternyata tak ia balas sejak tadi.
“Apa katanya?” tanya Dylan.
“Beliau sedang bersiap untuk pulang,” jawab Anyelir dengan nada yang lemah.
Mereka semua duduk dan masing-masing bergulat dengan pikirannya. Rasa khawatir terhadap keselamatan sang ibu masih mengganggu pikiran mereka.
Tuk tuk tuk tuk.
Suara langkah kaki diiringi sepatu pun terdengar mendekat. Dari bunyi yang mereka dengar, orang tersebut buru-buru.
Baik Dylan maupun Anyelir menoleh pada orang tersebut. “Tera?” panggil mereka bersamaan.
Perempuan itu mengangguk. “Maaf, Pak. Saya baru datang,” jawabnya. “Bagaimana kondisi Nyonya Besar?” tanyanya dengan wajah khawatir.
“Masih di rumah sakit. Belum ada dokter yang keluar dari sana,” jawab Dylan. “Bagaimana dengan kantor, apa ada masalah?”
Tera menggeleng. “Saya sudah mengirimkan laporan Proyek Pondok Intan, Pak. Tapi ... menurut saya tidak ada masalah dalam pengerjaannya. Untuk saham, perusahaan kita masih stabil dengan harga yang sebelumnya. Anda tak perlu khawatir, Pak,” ucapnya dengan terburu-buru.
“Kalau ada masalah, laporkan padaku. Sepertinya, aku tidak akan mengurusi pekerjaan selama kondisi ibuku masih seperti ini,” timpal Dylan.
“Baik, Pak. Saya akan coba untuk mengatasi semuanya,” jawab Tera. “Oh, iya. Tim Humas dari perusahaan mengatakan banyak sekali reporter dan juga kolega yang menanyakan kondisi Nyonya Besar. Apa perusahaan kita akan merilis kondisinya sekarang?” tanya gadis berambut pirang itu lagi.
“Katakan pada Tim Humas jika kondisi ibu masih kritis dan kami memohon doa dari masyarakat untuk kebaikannya.”
Tera mengangguk sambil mengetik sesuatu pada tabletnya. “Sebelum kemari, saya datang ke TKP terlebih dahulu. Beberapa polisi datang ke sana dan meminta keterangan dari saya, Pak Dylan dan Bu Anyelir tak perlu khawatir, saya akan membantu mengurus masalah yang lain selagi kalian fokus pada kesembuhan ibu.” Gadis itu bekerja dengan sangat giat. Seperti yang dikatakan sebelumnya, jika Tera anak dari kerabat Lastri, maka dari itu ... dia merasa cukup dengan keluarga Bagaskara ini.
“Terima kasih, Tera. Kau pasti lelah,” ucap Anyelir yang merasa salut saat melihat pada sekretaris suaminya tersebut.
“Ini adalah bagian dari pekerjaan saya,” jawab gadis berambut pirang tersebut.
Selain Tera, ada seorang lagi yang tergopoh-gopoh sambil membawa satu rantang makanan.
“Bi Ai, kenapa ke sini? Bagaimana dengan Rio?” tanya Anyelir yang langsung berdiri dan membantu perempuan paruh baya itu untuk membawa rantangnya.
“Ada sama pelayan, saya titip ke mereka. Ini saya bawa bekal makan untuk kalian. Pasti belum makan dari tadi. Bu Anyelir tadi baru mau makan sudah pergi, bagaimana bibi bisa tenang kalau seperti ini,” omel perempuan tersebut.
“Kalau menunggu orang sakit, kita harus memperhatikan kesehatan.” Bi Ai berkata lagi dengan penuh kekhawatiran.
“Ayo, ini mbaknya juga makan bareng, ya!” Bi Ai menunjuk pada Tera yang berdiri di sana.
Tapi ... tiba-tiba Anyelir berdiri dengan menunjukkan wajah khawatirnya.
“Bapak, katanya ... beliau terkena serangan jantung saat pesawat hendak lepas landas.”