Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
10. Pergi Sejenak


Kata ibu, merupakan gelar bagi seorang wanita.


Tak harus melahirkan untuk menjadi seorang ibu.


Namun panggilan itu tersemat begitu seorang wanita melahirkan.


Akan tetapi, apakah ada perempuan yang merelakan panggilan itu setelah ia melahirkan seorang anak?


Mungkin ada, dengan berbagai alasan yang hanya tersimpan di hatinya.


*


“Saya tak berharap Rio memanggil saya mama, ibu atau apalah itu. Yang penting saya hanya bisa bertemu dengannya, berinteraksi dengannya, mengamati perkembangannya dan mendampingi Rio saat sakit. Soal panggilan itu tak penting bagi saya, yang terpenting untuk saya adalah kebahagiaan Rio dan juga kesehatannya. Itu yang utama,” jawab Anyelir dengan mata menatap tajam pada Dylan.


Terserah nantinya Dylan mau menganggap Anyelir hanya modus atau apa. Hal itu tak penting bagi Anyelir, karena melihat Rio yang sakit-sakitan dari kejauhan itu sangat menyakitkan baginya. Mungkin lain lagi ceritanya jika Rio tak menderita penyakitnya, setidaknya hati Anyelir sedikit lebih tenang saat membiarkan anaknya itu dalam pengasuhan orang lain.


Namun mendengar Rio yang sakit, ditambah perlakuan wanita yang seharusnya berperan sebagai ibu untuk Rio justru sama sekali tak terlihat seperti seorang ibu.


Hati wanita mana yang tak sakit melihat fenomena tersebut.


Tidak dipanggil ibu?


Persetan bagi Anyelir. Yang penting ia bisa memberi Rio limpahan kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya. Itu adalah tujuan utamanya.


Jawaban yang diungkap oleh Anyelir baru saja, begitu telak membuat Dylan kalah berdebat. Walau sebagian hatinya ia menuduh jika Anyelir hanya wanita naif yang berpura-pura bisa bertahan dengan argumen sok bijaknya itu.


Meski dalam hati, pria tersebut masih ingin menyangkal alasan yang diucapkan oleh Anyelir, namun ia tak tahu harus mengucapkan apa saat ini. Sehingga kalimat-kalimat yang ia ucapkan setelah itu hanya ancaman kosong yang sama sekali tak membuat pihak lawan merasa terancam.


“Aku tidak tahu apa ucapanmu bisa dipegang atau tidak. Tapi lihatlah, jika kau melanggarnya, maka aku yang akan menjadi orang pertama untuk mengusirmu dari rumah ini!” tegas Dylan dengan wajah yang sangat ketus.


Matanya masih tajam menatap pada wanita yang menjadi ibu dari anaknya itu. Dengan rambut yang lurus dan naik ke atas dan rahang mengetat khas dari seorang pria, ekspresi Dylan menegaskan jika ia sedang sangat serius atas ucapannya ini.


Sementara itu, Anyelir tak menggubris. Ia membuang muka dan tak peduli jika Dylan mau pergi ke mana.


Begitu Dylan membuka pintu dan langkahnya hendak meninggalkan kamar ini, ia mendengar jika Anyelir mengeluarkan suara untuk mengucapkan beberapa kata lagi.


“Tapi, mungkin harapanmu itu tidak akan terwujud. Karena sepertinya, Rio sudah tahu jika aku adalah mama kandungnya,” ungkap Anyelir sambil sedikit berteriak agar Dylan mendengar ucapannya.


Wanita itu masih berdiri tegak pada tempatnya sambil menatap ke arah pintu, tempat Dylan berada. Napasnya terengah-engah meski ia tak sedang berlari. Hal itu menunjukkan jika dia sedang menahan kekesalan pada pria yang ditatapnya tersebut.


Dylan pun berpikir sejenak, lalu ia ingat dengan percakapan mereka sebelum ia berangkat ke pertunjukan. Dalam hati ia merutuki sang ibunda. Karena wanita paruh baya itulah yang mengungkapkan siapa Anyelir di depan Rio.


Namun kali ini ia tak mau berkata apa-apa lagi tentang hal tersebut. Dylan pun memilih pergi meninggalkan Anyelir yang masih berada dalam kamarnya.


Setelah perginya Dylan, Anyelir pun mengunci pintu dan sesegera mungkin ia bersiap untuk berangkat ke rumahnya yang dulu.


Ia tak tahu apakah Nyonya Lastri sudah pulang kembali atau belum, ia sendiri tak berani mengintip ke kamar wanita paruh baya tersebut. Tapi untungnya, Anyelir telah berpamitan kemarin sebelum sang nyonya pergi.


Anyelir membuka pintu perlahan dan berusaha sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara. Ia menghampiri Rio yang tidur membelakangi pintu. Anak kecil itu menggunakan baju tidur berwarna putih dengan motif jerapah yang pas di tubuhnya.


Embus napas Rio yang teratur tersebut diperhatikan oleh sang ibu. Dengan tangan lembutnya, Anyelir membelai dahi anak semata wayangnya itu.


Ia pikir, akan mudah hidup melepaskan anak yang telah ia lahirkan. Namun ternyata sesulit itu.


Rasa berdosa begitu menumpuk dalam dada Anyelir yang sering kali membuat ia merasa sesak.


Bagaimana ketika ia harus melahirkan bayi di usia yang begitu muda, lalu ia meninggalkan bayi itu dengan keluarga tanpa disusui olehnya.


Ia benar-benar merasa bersalah jika mengingat beberapa tahun ke belakang.


Sambil menahan air mata yang ingin mengalir, Anyelir pun mengecup kening Rio lalu ia bangkit meninggalkan kamar itu.


“Mama pergi dulu, ya, Sayang.”


Masa bodoh dengan Dylan yang melarang menyebut dirinya sebagai ‘mama’ di hadapan Rio. Toh, Rio sendiri sudah tahu jika dirinya juga mama untuk anak itu.


Anyelir yang bangkit berjalan menuju pintu pun berusaha melangkah dengan pelan dan ia juga menutup pintu dengan perlahan agar tak menimbulkan suara.


“Kamu masih di sini ternyata?”


“Eh, Ibu?” Anyelir agak terkejut melihat ada Nyonya Lastri di depan kamar Rio. Dengan segera wanita itu menyembunyikan wajahnya karena ia takut jika jejak air mata itu terlihat oleh nenek dari Rio tersebut.


“Ibu pikir kamu sudah berangkat karena tadi ibu lihat di kamar kamu sudah tidak ada,” ujar wanita tersebut.


“Saya menengok Rio sebentar.”


Nyonya Lastri menatap pilu pada Anyelir, ia seakan merasakan sendiri bagaimana rasanya harus berpisah dengan anak kandungnya. Untuk itu ia tak mau bertanya penyebab ekspresi sedih dari wanita di hadapannya ini. Karena ia sudah bisa menerka jawabannya.


“Hati-hati, ya. Ibu sudah memberitahu sopir untuk mengantarmu,” ucap Lastri yang mengantar Anyelir ke teras depan.


Sementara itu, di lantai dua. Tempat kamar Dylan berada.


Pria itu berdiri di balkon dengan bathrobe. Ia baru saja mandi dan hendak beristirahat, namun pria tersebut bangun ketika mendengar suara mobil dipanaskan dari bawah.


“Mau ke mana dia pagi-pagi?” tanya pria itu pada dirinya sendiri.


Namun sepertinya, ia tidak peduli ke mana Anyelir akan pergi di pagi buta seperti ini. Karena dalam hatinya masih gundah oleh sebuah pemandangan yang membuat hatinya terluka dan bisa membusuk.


Kembali masuk ke kamar dan menutup pintu balkon. Dylan mencoba berbaring meski ia tak bisa terpejam. Potret pernikahannya dengan Andin masih tergantung rapi dan tertata tanpa ada yang mengubahnya sedikit pun.


Begitu pula saat foto maternity, di mana Andin berpura-pura sebagai wanita hamil dan melakukan pemotretan bersama Dylan. Selama masa kehamilan, Andin dan Dylan tinggal di luar negeri dan ia mengirimkan foto-foto itu kepada Nyonya Lastri.


Tentu saja, meski merasakan ada kejanggalan, Nyonya Lastri percaya-percaya saja terhadap sandiwara yang dilakukan oleh mereka berdua. Sampai akhirnya ia meminta pada asistennya menyelidiki semuanya.