Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
58. Pertemuan Saingan


Sore itu, tetesan infus terakhir telah jatuh. Seorang perawat membantu Anyelir untuk melepas selang tersebut dari punggung tangannya. Setelah kasa putih itu menutup bekas masuknya selang infus, Anyelir pun mencoba berdiri dan membereskan barang-barangnya.


“Ternyata benar,” ucap seorang dokter yang berdiri di depan pintu. Bajunya sudah berbeda dengan yang ia gunakan saat pagi tadi.


“Permisi,” pamit salah seorang perawat yang baru saja telah melepas infus dari tangan Anyelir.


Setelah perawat itu keluar, Rian pun masuk.


“Apa yang benar?” tanya Anyelir sambil membereskan barang-barangnya.


“Benar kalau kaumau pulang sekarang?” Rian tersenyum. Setelah pengakuannya dengan Anyelir siang tadi, bukannya semakin canggung, pria itu malah memberanikan diri untuk semakin terang-terangan mendekati istri kedua dari temannya ini. Apalagi jika sebenarnya Rian telah mengatakan hal tersebut pada Dylan juga.


“Ah, iya. Aku tak bisa meninggalkan Rio terlalu lama.” Jawaban Anyelir cukup masuk akal.


“Bu Lastri tadi juga meneleponku, dia menanyakanmu,” ujar Rian memberitahu.


“Oh, iya. Ponselku kutinggalkan di loker beserta barangku yang lain,” tukas Anyelir. Dirinya memang seharian tadi beristirahat sehingga sama sekali tak mengingat keberadaan ponselnya.


“Aku bilang dia ada tugas tambahan dan sekarang sedang istirahat agar dia tidak khawatir. Kaubilang jangan sampai Dylan tahu, itu artinya ... orang rumah yang lain juga jangan sampai tahu, kan?”


Anyelir mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih sudah mengerti.”


“Bukan apa-apa.”


Seusai membereskan barang, Anyelir keluar dari rumah sakit dan memilih pulang. Perempuan itu menanyakan pada bagian administrasi, ternyata tagihannya benar-benar sudah dibayar seperti yang dikatakan oleh dokter Rian. Dia merasa tak enak dan seakan berhutang pada pria tersebut jadinya.


Baju kemarin yang masih menempel, wajah pucat yang tidak baik-baik saja dan tenaga yang masih belum pulih. Hal itu membuat Rian melihatnya dengan khawatir.


“Anyelir, tunggu!” panggil Dokter Rian saat perempuan itu hendak keluar dari rumah sakit.


“Aku akan mengantarmu!” ujarnya.


Anyelir menggeleng. “Saya akan naik taksi. Dokter sedang ada jadwal sebentar lagi.”


Rian menggeleng sambil melihat ke arah jam tangannya. “Masih ada waktu empat puluh lima menit lagi, aku akan mengantarmu. Tunggu di sini, aku mau ambil mobil dulu.”


Pria itu tak mau mendengar lagi penolakan dari Anyelir, dia mengambil mobilnya dan kemudian berhenti tepat di depan perempuan berwajah pucat tersebut.


“Masuklah!” Rian membukakan pintu dan juga membantu membawakan tas mungil milik Anyelir.


Istri kedua dari Dylan Bagaskara tersebut memasuki mobil milik pria lain. Di mana hal seperti ini tak pernah sekalipun terpikir dalam hidupnya. Duduk berdua dalam mobil dengan interior yang didominasi oleh warna hitam, juga aroma kopi yang menguar dari pengharumnya.


Begitu mobil dinyalakan, alunan musik pun mengalun pelan. Rian menjalankan mobil dan membawa Anyelir pergi dari rumah sakit.


“Kita akan pulang ke rumah Dylan?” tanya Rian.


Anyelir mengangguk sambil menunduk.


Berbeda dengan Rian yang semakin berani dan terang-terangan mendekati Anyelir setelah mengungkapkan perasaannya, perempuan itu justru sebaliknya.


Anyelir justru merasa canggung dan bingung jika berhadapan dengan Rian.


“Kau tak perlu terbebani dengan ucapanku tadi,” ujar Rian membuka percakapan.


“Hmmm.” Anyelir menimpalinya tanpa kata-kata.


“Tapi ... kau harus mempertimbangkannya ketika kau benar-benar memutuskan untuk pergi dari Dylan,” lanjut pria yang berprofesi sebagai dokter tersebut.


Anyelir masih menunduk dan belum memberikan jawaban lagi.


Kali ini Anyelir berani menoleh sambil menunjukkan senyum cantiknya. Dia pun mengangguk. “Baiklah.”


“Ketika hubungan dengan Dylan berakhir nanti, baru kau ingat-ingat lagi apa yang aku ucapkan pagi tadi. Aku menunggu jawabanmu di saat itu,” lanjut pria tersebut sambil terus fokus pada kemudi.


Anyelir hanya mengangguk saja dan tak memikirkan apa pun. Karena yang menjadi fokusnya kali ini bukanlah hubungannya dengan pria mana pun, melainkan Rio seorang.


“Untuk sekarang, aku masih belum bisa memikirkan ke arah sana. Bakal seperti apa hubunganku dengan Pak Dylan, aku tak tahu dan tak peduli dengan hal itu. Karena yang menjadi bahan pemikiranku sekarang ini benar-benar tentang Rio, Dok. Kautahu sendiri, aku adalah ibu kandung yang telah meninggalkannya bertahun-tahun, aku akan merasa sangat buruk jika tak bisa membantu Rio dalam proses penyembuhannya.”


Rian mengangguk. “Aku mengerti perasaanmu, Anyelir. Sangat mengerti.”


Selanjutnya, perjalanan mereka pun dihiasi oleh keheningan. Macet sedikit sudah biasa dengan jalanan kota metropolitan ini. Beruntungnya ada radio yang selalu menyala dan mengusir suasana sepi dalam mobil ini.


Sampai akhirnya, gerbang rumah keluarga Bagaskara pun terlihat. Rian membelokkan mobilnya dan masuk ke arah rumah mewah keluarga tersebut.


“Jangan turun, aku yang akan membukanya.”


Ingin Anyelir menolak, tapi tanpa diminta, Rian sudah turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk perempuan itu. Sehingga Anyelir pun turun dengan bantuan Rian.


Tapi yang mengejutkan bukan itu, melainkan keberadaan seorang pria yang menatap tajam pada mereka berdua dan berdiri tepat di pintu utama rumah besar tersebut.


“Kau ada shift pagi? Melanjutkan pekerjaan dari shift malam hingga shift pagi tanpa istirahat?” tanya Dylan dengan nada penuh sindiran.


“Maaf, tapi aku tak bisa menghubungimu sejak semalam. Jadi ... aku tak memberitahumu.” Anyelir memang menghubungi Dylan semalam, meski bukan untuk memberitahu jika dirinya sedang sakit, melainkan karena hendak meminjam uang.


Dylan hanya tersenyum miring mendengar jawaban Anyelir. “Lalu seorang dokter muda ini diantar oleh dokter senior. Sungguh kemajuan yang sangat hebat, kariermu akan cemerlang, Anyelir!”


Rian menggelengkan kepala dan terlihat sangat kesal, ingin ia beberkan kenyataannya, tapi sayang Anyelir telah melarangnya.


“Dylan, cukup biarkan dia istirahat karena semalam dia kelelahan,” ujar Rian yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


Sekali lagi, Dylan pun tersenyum miring melihat perlakuan spesial dari seorang Rian untuk istri keduanya saat itu. “Perhatian sekali kau kepada ISTRIKU!” Dylan menekan kata terakhir untuk membuat Rian cemburu.


Anyelir tak bisa berkata apa-apa untuk melerai mereka.


“Mama!” Suara kecil itu pun memecah perhatian ketiganya.


Anyelir langsung berjongkok dan memeluk Rio yang berlari ke arahnya.


“Eh, ada Rian juga. Kamu mengantar Anyelir? Ayo masuk dulu, ayo!” Bahkan Nyonya Lastri pun ikut menghampiri.


Dalam hati Anyelir bersyukur, untung ada Rio dan sang mertua yang datang dan memecah suasana penuh perselisihan tersebut.


“Tidak perlu, Tante! Saya mau pulang.”


“Ah, begitu. Sayang sekali. Terima kasih sudah mengantar Anyelir,” ujar Nyonya Lastri lagi.


Setelah Anyelir, Lastri dan Rio masuk, kini tersisa Rian dan Dylan yang masih saling bertatapan.


“Aku pulang dulu!” Rian berbalik dan meninggalkan Dylan. Ia tak peduli dengan tatapan benci dari sahabatnya itu.


Namun ketika Dylan hendak masuk ke rumah, tiba-tiba saja Rian pun berbalik dan mengatakan sesuatu pada pria tersebut.


Lalu yang lebih tak diduga lagi adalah respons Dylan terhadap ucapan Rian.


“Kurang ajar kau!”


Bug!