
Dijemputnya Anyelir oleh Dylan dan panggilan Rio yang menyebut wanita itu sebagai mama, membuat banyak orang yang ada di sana sangat penasaran. Apa hubungan Anyelir dengan keluarga Bagaskara?
Tak terkecuali Dokter Rian, sang dokter tampan dengan wajah hitam manis yang begitu menarik itu pun ikut tertarik terhadap apa yang terjadi. Apalagi, Dokter Rian ini dengan kedua belah pihak. Ia sangat mengenal Dylan yang menjadi teman dekatnya, ia juga mengenal Anyelir sebagai salah satu ko-as yang sering membantunya selama di rumah sakit.
“Anyelir, apa Rio memanggilmu?” tanya Dokter Rian sambil mencekal lengan Anyelir saat wanita itu berusaha untuk langsung berlari begitu mendengar suara Rio.
Wanita itu terkejut dan memperhatikan sekitarnya. Ia baru sadar jika semua kenalannya yang ada di sana turut mendengar bagaimana cara Rio memanggilnya.
Sementara itu, Dylan memperhatikan Anyelir yang sedang berdiri di tepi jalan bersama kawannya. Ia menghentikan mobil sejenak karena Rio yang berteriak.
Pria itu melihat bagaimana Rian menggandeng tangan Anyelir di depan matanya, namun hal tersebut bukan menjadi masalah untuknya.
“Rio ... memanggilku. Maaf, Dok. Saya harus pergi, terima kasih payungnya.” Wanita itu memberikan payung di tangannya kembali pada sang pemilik.
Tanpa banyak bertanya, Rian membiarkan wanita tersebut menghampiri mobil Dylan. Mungkin jika sudah saatnya, temannya itu juga akan bercerita padanya.
Anyelir berdiri di tepi mobil Dylan, pria itu sama sekali tak mau mengajukan pertanyaan untuk wanita yang baru datang tersebut. Bahkan sekedar menyapa pun enggan.
Rio yang melihat sang mama ada di samping pintu pun mencoba membuka penguncinya. “Papa, ini bagaimana?” ujarnya saat kesulitan membuka pengunci pintu.
Selagi Rio mencoba membuka pintu, Anyelir yang menunggu di luar sedikit terkena air hujan. Tanpa ia sadari, payung yang tadinya ia kembalikan pun kini menaungi kepalanya lagi.
“Do ... dokter Rian?” ujar Anyelir terkejut.
Dokter tampan itu tersenyum. “Biar aku yang memayungimu sampai kau masuk mobil.”
Anyelir mendadak canggung. “Terima kasih.”
Bertepatan dengan itu, Dylan berhasil membukakan pintu untuk Anyelir.
Rio menggeser posisinya dan ia memberi ruang untuk sang ibunda. “Masuklah, Mama.”
Rian yang juga berada di sana memastikan kali ini dirinya tak salah dengar. Dirinya memegangi daun pintu selagi Anyelir masuk ke mobil tersebut. Lalu matanya juga berserobok dengan Dylan, hanya saja keduanya tak bersuara, tak ada yang ingin menjelaskan, juga tak ada yang ingin bertanya.
Pria yang berprofesi sebagai dokter itu pun menutup pintu untuk Anyelir. “Berhati-hatilah kalian! Dah, Rio!” Dia melambaikan tangan pada anak kecil yang menatapnya dengan riang.
Dylan segera pergi meninggalkan area rumah sakit tanpa berkata apa-apa.
Sementara Anyelir sendiri juga tak memiliki pertanyaan apa pun untuk dua orang pria di sampingnya. Beruntungnya ada Rio yang bisa mencairkan suasana di antara keduanya.
“Mama, jaketmu basah!” ujar Rio sambil menunjuk pada jaket yang dikenakan oleh Anyelir.
“Oh, iya. Maaf. Mama akan melepasnya,” jawab Anyelir dengan bahasa yang santai sambil menurunkan resleting jaketnya.
Rio menggeser tubuhnya untuk memberi ruang pada sang mama. Namun tangannya tak sengaja mengenai bahu Dylan yang sedang mengemudi.
“Aw!” teriak Dylan dengan spontan.
“Maaf, Pa. Rio tak sengaja,” ucap sang bocah.
“Ah tak apa-apa,” jawab Dylan tanpa menoleh. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari bertatapan mata dengan Anyelir.
“Rio, duduk di pangkuan mama, ya? Agar Rio tak menyenggol papa lagi,” ajak Anyelir dengan lembut.
Dylan melihat hal tersebut rasanya ingin marah pada Anyelir. Apalagi saat wanita itu menyebut dirinya sebagai ‘mama’ pada anaknya. Namun melihat Rio yang langsung bisa semudah itu menempel pada Anye, membuat pria tersebut mengurungkan niat untuk marahnya.
Perjalanan mereka kembali sepi, apalagi setelah itu Rio tertidur di pangkuan Anyelir. Langit di sore ini tak berwarna jingga karena hujan masih turun dengan derasnya. Hanya awan kelabu menemani perjalanan mereka.
Sampai di pelataran rumah mewah milik keluarga Bagaskara, Dylan menepikan mobil dan mematikan mesinnya.
Anyelir memeluk Rio dan membuka pintu seorang diri. Ia membawa anaknya turun dan menuju ke dalam rumah sambil menutupi tubuh Rio dengan jaketnya, sedangkan dirinya sendiri rela ditimpa hujan.
Sementara itu, Dylan juga telah terlebih dahulu masuk menggunakan payung meninggalkan Anyelir tanpa peduli dengan wanita itu yang kesusahan karena menggendong anaknya.
Wanita itu melihat Dylan memutar-mutar lengan kiri dan memijat bagian sendinya.
Para pelayan yang baru menyadari kedatangan majikan mereka pun langsung berhambur keluar menawarkan payung untuk Anyelir yang kehujanan sambil menggendong Rio.
“Biarkan saya yang menggendong Rio,” ucap salah satu pelayan begitu Anyelir sampai ke dalam rumah.
Anyelir pun hendak menyerahkan Rio namun anak itu begitu erat memeluk leher sang mama.
“Aku mau sama mama,” ucapnya sambil memejamkan mata dengan kepala yang senantiasa bersandar di ceruk leher Anyelir.
“Biarkan saja, aku tak apa-apa.” Anyelir semakin mengeratkan pelukannya pada Rio. Dia sama sekali tak keberatan untuk menggendong anaknya ini.
Dylan sempat melihat kejadian tersebut. Lalu ia pun mencibir apa yang ia lihat. “Dasar pencitraan."
“Bu Anyelir sudah ditunggu oleh keluarga besar, ayo saya bantu Bu Anye untuk bersiap.” Seorang pelayan wanita berusia paruh baya mendekat.
“Oh, Bi Ai.” Anyelir mendadak terkejut.
Rio pun dengan terpaksa ia titipkan pada pelayan, sementara dirinya mengikuti Bi Ai.
Anyelir masuk ke dalam kamarnya yang kemarin menjadi tempatnya untuk tidur. Di sana telah ada beberapa orang yang menunggu.
“Silakan mandi dulu, Bu. Nanti kami yang akan mengurusi persiapannya.” Salah satu dari wanita yang ada di sana berkata padanya.
Mata Anyelir menangkap sesuatu yang kemarin tidak ada di kamar tersebut. Ya, kebaya putih yang menggantung di sudut kamar, lengkap dengan kain jarik dan juga rangkaian bunga melati.
Jangan-jangan, apa yang ia khawatirkan benar-benar akan terjadi?
Dengan ragu, Anyelir segera cepat-cepat membersihkan diri lalu mengganti baju.
Salah seorang wanita dengan seragam hitam bertuliskan beauty salon di bagian dadanya itu langsung menghampiri. “Silakan duduk di kursi, Bu.”
Sebelum menuruti perintah dari wanita tersebut, Anyelir pun bertanya, “Ini akan ada acara apa ya, Bu?” tanya Anyelir.
Semua wanita yang ada di sana saling berpandangan. Ia tak mengira jika Anyelir sendiri bahkan tak tahu dengan acara yang akan dilangsungkannya.
“Tolong rias mamanya Rio ini dengan cantik, ya.” Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar Anyelir dan berkata demikian.
“Baik, Bu Lastri,” jawab seluruh wanita berbaju hitam yang ada di sana.
“Anyelir, kamu tak keberatan, kan, menikah sekarang juga dengan Dylan?”