
Tergeletak di atas ranjang, mengingat Anyelir melihat anaknya tadi sedang tertidur pulas di kamarnya. Oleh karena itu, dirinya yang dipenuhi rasa bersalah pun pergi ke kamarnya sendiri. Dia berbaring terlebih dahulu sebentar sebelum mengganti baju.
Menatap pada langit-langit kamar berwarna putih-abu tersebut, lalu ia sedikit memejamkan mata. Membayangkan saat ia merasa kesal ketika Dylan berhenti mencegahnya pergi, apalagi penyebab hal itu terjadi adalah telepon dari sang istri pertama.
Selama perjalanan pulang, Anyelir berulang kali menyadarkan diri dan mengatakan pada hatinya. Ia tak berhak untuk cemburu! Ia tak berhak untuk marah! Eksistensinya di rumah ini hanyalah karena Rio. Jangan ada tujuan lain!
Dia pernah menyukai Dylan pada pandangan pertama, gadis lugu itu mengiyakan saja saat pria tersebut menawarinya kerja sama. Pada saat itu, ia sadar, sedekat apa pun dia dengan Dylan, perasaannya tak pernah berbalas. Dia tak akan memiliki kesempatan untuk bisa bersanding dengan orang yang dicintainya.
Perempuan itu mundur perlahan dan ia hanya menjadi bayang-bayang yang mengawasi sang anak dari kejauhan.
Rasa cinta yang pernah dilukai tak akan pernah bisa kembali lagi. Tapi ... kenapa dalam beberapa detik tadi, rasa cemburu itu kembali hadir dan membuat ia langsung merasa kalah begitu saja?
“Anyelir!”
Perempuan yang sedang berbaring itu pun terkejut karena melihat ada sang suami membuka pintu kamar.
Pria yang baru datang itu pun terengah-engah dan menatap pada perempuan yang sedang berbaring di atas ranjang.
Keduanya bertatapan mata dengan prasangka yang berputar pada masing-masing kepala?
“Aku benci kamu yang meninggalkanku begitu saja! Aku tak suka jika kamu tak mendengarkan apa kataku! Aku tak suka jika kau pergi tanpa seizinku.” Begitu dalam benak Dylan penuh kekesalan pada Anyelir.
Sementara wanita itu sendiri langsung bangkit dari posisinya, lalu memandang Dylan dengan tatapan nanar. Dalam hatinya berkata, “Untuk apa dia mengejarku sampai terengah-engah? Tak puaskah telah mempermainkan perasaanku? Tak puaskah telah menjatuhkan aku setelah melambungkanku begitu tinggi? Sedang apa dia sekarang ini?”
Keduanya bertatapan dalam keheningan, lalu sesaat kemudian, Dylan pun masuk ke dalam kamar Anyelir. “Sedang apa kau?”
Anyelir diam tak menjawab. Ia hanya sedang istirahat sejenak sebelum lanjut membersihkan diri. Namun kalimat itu tak keluar dari mulutnya.
“Kenapa kau pergi?” tanya Dylan.
Anyelir tetap diam.
“Bukankah aku sudah memintamu untuk menunggu?”
Perempuan itu masih diam, tapi matanya mulai memanas.
Dylan pun mendekat pada Anyelir, lalu berbicara lagi pada wanita itu. “Kenapa kau tetap diam saja? Aku bertanya kenapa kau pergi?” Kalimat itu dilontarkan oleh Dylan dengan nada yang agak tinggi.
“Aku pergi, karena kau meninggalkan aku!” jawab Anyelir dengan suara tercekat. Dia masih menahan agar air mata tidak turun ke pipinya.
“Apa?” Dylan kali ini yang mengerutkan dahi. Tangannya masih berada di kedua pundak Anyelir saat itu.
“Bukankah aku sudah bilang, jangan lepas tanganku!” teriak Anyelir kali ini sambil menangis. Air matanya tumpah saat kelopak mata itu tak mampu lagi menahannya. Kini isak mulai terdengar dari hidung dan mulutnya.
“Apa maksudmu?” Dylan pun mengingat saat Anyelir sempat menahan tangannya. Tepat ketika dia hendak mengangkat telepon dari Andin.
“Lebih baik kamu pergi! Lepaskan aku!” Anyelir membanting tangan Dylan yang berada di pundaknya, dia sedikit memundurkan tubuh agar pria tersebut tak bisa menjangkaunya.
“Kau yang lepaskan tanganku, kenapa kau menyalahkan aku pergi? Kau yang melepasku? Kau yang tidak menginginkan aku!” bentak wanita itu sambil terus sesenggukan.
Dylan masih menatap pada Anyelir, tangannya berusaha untuk terulur dan hendak menyentuh pucuk kepala perempuan itu. Namun sayang, tangan tersebut ditepis begitu saja dan Anyelir pun mengelak darinya.
“Jangan permainkan perasaanku lagi.” Anyelir pun pergi dari tempat itu meninggalkan Dylan. Dia menuju ke kamar anaknya dan menumpahkan tangis sambil memeluk Rio.
Sementara itu, Dylan mematung di tempatnya. Ia duduk di tepi ranjang Anyelir sambil memikirkan banyak hal tentang perempuan itu.
Dirinya tahu jika Anyelir menyukainya sejak lama. Bahkan ia sering menuduh Anyelir ingin tidur dengannya karena kasus Rio. Ia menuduh Anyelir memanfaatkan sang anak untuk mendapatkan dirinya. Tapi kenapa, melihat kali ini perempuan itu tersakiti karena perbuatannya membuat ia langsung merasa buruk dan sangat bersalah.
Bahkan pria itu tak menyangka, jika akhirnya Anyelir merasakan kecemburuan karena Andin. Dia masih berusaha mencerna, apakah reaksi Anyelir yang tadi itu benar-benar sebuah kecemburuan?
Anyelir selama ini tak pernah menunjukkan sikap posesifnya. Selama ini Dylan hanya tahu jika perempuan itu menyukainya diam-diam, hanya saja ia terus mengabaikan dan berpura-pura tidak tahu.
Hingga informasi tentang terapi sel punca untuk Rio yang menderita talasemia, Dylan merasa begitu amarah pada perempuan itu yang seakan-akan tengah memanfaatkan situasi agar disentuh oleh pria tersebut. Dia melakukan hal tersebut pada Anyelir dengan paksa, bahkan ketika wanita itu menangis, dia pun masih menuduhnya jika wanita itu sedang berpura-pura.
Tapi ... sikap posesif tadi .... “Jangan lepas tanganku.” Kalimat itu terputar kembali dalam pikiran Dylan.
Baru pertama kali ini, Dylan merasa bersalah karena telah memilih Andin dibanding Anyelir.
Pria itu berjalan keluar dari kamar Anyelir dan mencari di mana wanita itu berada. Satu tempat yang ia tuju pertama kali adalah kamar sang buah hati, kamar milik Rio.
Perlahan ia mencoba membuka pintu, lalu melihat ada perempuan yang baru saja berseteru dengannya tengah memeluk sang anak.
Ada perasaan sakit yang sedikit menyayat dalam hatinya.
Sebuah perasaan bersalah yang lebih besar, karena telah memisahkan Rio dari ibunya begitu lama. Sementara Andin, tak pernah bisa menjadi ibu untuk anaknya.
*
Dini hari Anyelir bangun, ia baru sadar jika pakaiannya belum diganti dan ia langsung tidur dengan mata yang sembab karena menangis semalam.
Ditatapnya sang buah hati yang sedang tidur dengan lelap. Teduhnya ekspresi Rio membuat Anyelir merasa hangat.
Perempuan itu memeluk Rio sekali lagi sebelum ia terbangun dan mengganti baju di kamarnya. Akan tetapi, ia merasakan tubuhnya sedikit berat saat ia mencoba terbangun. Dilepasnya selimut yang menutup tubuh, tapi ada sesuatu yang menarik selimut itu lagi dari belakang.
Dengan segera Anyelir pun mengucek mata dan menoleh ke belakangnya. Dia melihat seorang pria dengan baju kantor yang belum diganti sepertinya, tangan dan kakinya memeluk perempuan itu dengan erat.
Dia sendiri tak mengerti, sejak kapan Dylan mengikutinya ke kamar ini. Mungkinkah saat ia tertidur?
Dengan hati-hati Anyelir menyingkirkan tangan dan kaki tersebut dari tubuhnya, akan tetapi ternyata pelukan itu semakin erat.
Pria tersebut pun mengeluarkan suaranya saat ia terpejam. “Jangan pergi, Anyelir! Aku tak akan melepasmu.”