Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
71. Orang Ketiga Dalam Berita


Anyelir kembali pulang bersama dengan sopir. Dylan tak bisa menemani sang istri karena ada pertemuan yang harus ia lakukan setelah jadwal siang tadi dibatalkan.


Dalam perjalanan, perempuan itu merenung dan melamunkan apa yang tadi sudah ia bicarakan pada sang suami.


“Mungkin aku sudah gila karena telah bicara seperti itu padanya.” Anyelir berbicara sendiri di dalam hatinya.


Jika sikap Dylan seperti itu terus, mungkin lama-kelamaan Anyelir bukan hanya sekedar suka, tapi dia akan ingin memiliki. Jika pria itu terus memperlakukan Anyelir dengan manis, bukan tidak mungkin di kemudian hari dia akan sulit untuk melepaskan Dylan.


Perempuan itu terus menatap ke arah jendela dengan perasaan gamang. Satu sisi, dia tak mau rasa cinta terhadap suaminya tumbuh menjadi ego yang membuatnya ingin memiliki Dylan seutuhnya. Di sisi lain, ia tak mungkin menjadi orang ketiga dalam hubungan Andin dan Dylan yang semula baik-baik saja.


Apakah ini benar?


Di awal dia hanya ingin membantu rumah tangga mereka, tapi ujungnya ... perempuan itu ingin benar-benar memiliki sang pria seutuhnya. Satu-satunya, hanya untuk dirinya. Apakah ini tindakan yang benar?


Wanita itu menghela napas panjang, mobil yang ia naiki pun melambat saat telah berada di dekat rumah keluarga Bagaskara. Anyelir turun di depan teras sambil membawa kantung bekal yang kini lebih ringan dari sebelumnya.


*


Dua hari setelah berita itu naik ke media masa, perlahan karier Andin mulai membaik. Tawaran-tawaran untuk menjadi ambassador pun kembali dan produk-produk endorse juga memperpanjang kontraknya.


Tapi sayang, wanita itu masih belum memberi klarifikasi apa pun terhadap publik.


Berbagai potongan video dan juga gambar mengenai Andin dan Dylan di masa lalu kembali tersebar. Media menjadikan wanita X adalah seorang dengan karakter jahat yang menghancurkan hubungan romantis pasangan tersebut. Hingga berita ini dibuat, mereka masih belum menyebarkan potret maupun identitas Anyelir yang dirahasiakan.


“Andin, Andin!” Perempuan dengan blazer biru itu menghampiri sang model yang sedang dirias. Wanita itu membawa sebuah tablet dan terlihat buru-buru.


“Ada apa, Talita?” timpal model yang sedang memejamkan mata tersebut.


Manajer Andin itu mengibaskan tangan agar tim wardrobe tersebut keluar terlebih dahulu dari ruangan.


“Reporter dari Busur.com berita mengatakan padaku dia memiliki identitas istri kedua dari Dylan. Apa kau yakin berniat ingin mengubur identitas wanita tersebut? Padahal, jika kita ungkap namanya, itu bisa menjadikan namamu lebih naik lagi. Netizen akan mencari bagaimana foto wanita itu, lalu mereka akan menyanding-nyandingkannya denganmu. Setelah semua itu, maka kamu akan naik dan akan banyak pihak yang ingin mewawancarai dirimu. Bagaimana?” bujuk Talita.


Sebagaimana seorang manajer, Talita juga bertindak sebagai pihak yang memberi usulan bagi Andin ketika ia butuh untuk menarik keputusan. Termasuk keputusan dalam menaikkan berita yang dapat meningkatkan pamornya.


“Kamu ingat kasus Bunga kemarin? Dia berhasil memenangkan penghargaan dari karakter film yang ia perankan, karena saat film itu sedang tayang di bioskop, dia juga menyebarkan foto sang suami yang sedang berselingkuh dengan pengasuh anak mereka. Alhasil, para netizen menjadi simpati kepada Bunga dan mereka semakin penasaran dengan film yang ia perankan. Lalu booom!” Talita berteriak. “Dia memenangkan award sebagai aktris terfavorit tahun kemarin,” lanjutnya menutup penjelasan.


“Mbak! Mbak Mirna? Ini tolong dilanjut lagi,” ujar Andin tanpa menanggapi ucapan Talita.


“Andin?” Talita merasa diacuhkan oleh artisnya yang satu ini.


“Kamu bisa kembali ke tempatmu, Talita. Aku harus segera pemotretan. Kautahu sendiri, jadwalku padat!” jelas Andin sambil melambaikan tangan pada wanita yang baru datang sambil membawa berbagai kuas di tangannya. “Lanjut, Mbak,” ujarnya.


“Andin! Bagaimana dengan reporter itu?” tanya Talita.


“Jangan pernah angkat nama lain selain namaku dan Dylan. Dan atur sebisamu, jangan sampai juga ada wajah Rio di media.” Andin mengatakan hal tersebut dengan pelan tapi penuh penekanan.


Wanita itu seakan sangat berhati-hati agar Anyelir dan juga Rio tidak terpampang di media. Dalam hati kecilnya, dirinya sadar apabila kebersamaan Dylan dan Anyelir adalah salahnya. Bukan salah Anyelir jika lambat laun Dylan berpaling darinya. Tapi biarlah berita berjalan seperti ini, dia hanya ingin nama baiknya kembali.


Sambil melanjutkan riasannya, Andin membuka ponselnya. Beberapa reporter menangkap gambar saat Dylan melindungi Anyelir dari kerumunan reporter beberapa hari lalu.


Dalam hati kecilnya, Andin mengakui, betapa setianya Dylan terhadap pasangan. Bahkan setelah ia melayangkan gugatan cerai dan terang-terangan datang ke pesta bersama Wira, Dylan pun masih bersikukuh untuk mengejar dirinya.


Bukan salah Anyelir jika suaminya kini lebih memperhatikan perempuan itu. Tapi memang Andin yang meninggalkan pria tersebut. Hanya saja ... Andin tak bisa membeberkan kebenarannya pada publik. Biarkan saja berita berjalan seperti ini. Biarkan saja dirinya menjadi korban seperti yang diceritakan oleh media.


Maka dari itu, perempuan tersebut tak berani mengangkat nama Anyelir. Sebisa mungkin dia menutupi identitas perempuan yang digosipkan sebagai perebut suaminya itu. Ia merasa bersalah, tapi ia butuh drama ini, setidaknya hanya ini yang bisa dilakukan oleh Andin untuk menutupi Anyelir.


*


Hari ini adalah hari kepulangan Rio. Tentu saja Anyelir sudah ada di kamar rawat anaknya itu sejak pagi. Dia sudah menyiapkan segala hal dan membereskan barang-barang yang harus dibawanya pulang.


Meski media tak mengangkat berita tentang Anyelir sedikit pun, tapi tidak dengan orang-orang rumah sakit. Mereka sudah tahu siapa orang ketiga yang dimaksud. Hal itu dikarenakan keluarga Bagaskara, termasuk Dylan yang mondar-mandir di rumah sakit ini untuk merawat Rio dan aktivitas mereka itu selalu dibarengi dengan keberadaan Anyelir.


“Anye,” panggil suara dari seorang gadis.


“Hei.” Anyelir menoleh dan melihat kawannya itu sedang masuk.


“Kamu pulang hari ini, Boy?” tanya Lina pada Rio yang sedang duduk sambil memakan camilannya. Selang infus di lengannya telah dilepas, pakaiannya pun telah diganti. Rio sudah benar-benar siap untuk meninggalkan rumah sakit ini.


“Emmm!” jawab Rio disertai dengan anggukkan yang tegas.


“Wah, Dokter Lina tidak punya teman lagi dong untuk bercerita,” celetuk Lina.


“Kalau begitu, Bu Dokter yang main ke rumah Rio.”


Anyelir pun tersenyum dan melihat ke arah sahabatnya. Dia baru saja selesai mengepak barang milik Rio. “Aku senang di rumah sakit ini ada kamu.”


“Ya, setidaknya ada aku yang bersedia memukul orang-orang yang menggosipkan kamu. Kautahu, tak ada yang membicarakanmu di belakang jika mereka melihatku,” tukas Lina sambil terkekeh pada Anyelir.


“Terima kasih, Lina.”


Tak lama kemudian, Dylan pun datang sambil membawa beberapa mainan. Dia juga terlihat buru-buru, entah apa yang membuat ia berlari-lari.


“Kenapa kamu berlari seperti itu?” tanya Anyelir.


Lina pun langsung pamit untuk keluar karena suami dari kawannya itu sudah datang.


“Aku hanya buru-buru saja, karena jam istirahatku tidak lama dan akan ada rapat lagi setelah ini.” Pria tersebut menjelaskan.


“Padahal aku bisa meminta sopir kemari, kamu tak perlu buru-buru seperti itu.”


Dylan mendekat pada istrinya. “Aku juga kangen sama kamu.”


Seketika, apel pipi itu pun matang dan membuat Anyelir salah tingkah.


Pria itu tersenyum dan langsung menggendong sambil membawa salah satu tas. Sementara itu, Anyelir juga membawa tas yang lainnya dan berjalan di belakang Dylan.


“Kenapa tidak memanggil sopir?” Anyelir terlihat khawatir karena suaminya tersebut tampak kelelahan.


“Aku ingin menjemput kalian sendiri.”


Anyelir hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya.


*


Cekrek, cekrek.


Sebuah kamera mengarah pada pasangan tersebut. Pria itu tersenyum dan merasa jika dirinya sudah menang banyak karena berita eksklusif yang akan ia setorkan untuk tim redaksi nanti.


“Berikan kameramu padaku!”