
Suasana yang tak menyenangkan untuk sore yang cerah.
Di sebuah kafe dengan latar belakang biru muda, bergambar awan dan juga burung yang tampak sangat ceria. Bunga-bunga artifisial pun tertata rapi di setiap sudut untuk mempermanis tampilan ruangan. Kafe ini terlalu menggemaskan untuk menjadi tempat pertemuan dua pria yang sedang bersaing memperebutkan seorang perempuan.
Dylan datang terlebih dahulu dan dia menunggu sahabatnya dengan wajah yang ketus. “Cih, kenapa dia mengajakku bertemu di tempat seperti ini?” Pria tersebut terus menggerutu sambil memilih tempat duduk di bagian paling sudut.
Para gadis yang sedang berkumpul dengan tongkrongannya atau pasangan muda-mudi yang sedang berkencan, mungkin mereka pantas datang pada kafe dengan suasana yang cukup romantis.
Tapi untuk Dylan yang datang sendiri? Apalagi dia di sini juga bukan untuk menunggu seorang gadis, melainkan menunggu satu orang pria tampan lain.
“Hah!” Pria itu sudah semakin kesal dan bosan. Belum lagi para gadis yang sejak tadi melihat ke arahnya dan mengambil gambarnya diam-diam.
Mereka pikir mungkin Dylan tidak tahu apa yang mereka lakukan?
“Hei!” Dylan pun melambaikan tangan, begitu pria dokter muda yang menjadi sahabatnya itu datang ke kafe tersebut. Wajahnya begitu terlihat kusut dan penuh kekesalan pada Rian. Pria itu sama sekali tak menunjukkan rasa antusiasnya karena pertemuan ini.
“Kenapa kau terlambat?” ujar Dylan begitu saja karena ia sangat kesal akibat bosan menunggu.
“Maaf, aku kedatangan pasien dadakan saat hendak pulang,” jawabnya sambil menarik kursi dan mendudukinya.
“Dan kenapa pula kau harus memilih tempat ini untuk titik bertemu kita? Hah!” kesal Dylan sambil mengetatkan rahangnya saat bicara.
Rian pun menoleh dan melihat sekeliling tempat tersebut. “Kenapa memang? Suasana kafe ini bagus juga,” komentar Rian.
“Bagus gundulmu!” umpat suami Anyelir itu sambil memutar bola mata.
“Maaf, maaf! Aku hanya mencari kafe yang lokasinya ada di titik tengah antara perusahaanmu dengan rumah sakitku. Dan aku menemukan kafe ini, aku tak melihat bagaimana tempatnya, aku hanya mencari berdasarkan saran dari peta di internet,” jawab Rian sejujurnya.
Dylan kini memutar bola mata lagi, sepertinya ... bila bertemu dengan Rian sekarang rasanya tak lengkap jika pria tersebut tak memutar bola matanya karena kesal.
“Jadi ada apa kau mengajakku bertemu?” tanya pria berjas hitam itu dengan nada yang ketus.
Dokter Rian pun membuka menu terlebih dahulu. “Sebaiknya kita memesan minum dulu.” Dia pun melambaikan tangan pada pelayan yang bekerja.
Dylan merasa diabaikan dan semakin kesal pada berkemeja biru di hadapannya ini. Sudah sejak tadi membuatnya menunggu dan sekarang pria tersebut malah bersikap santai. Apa dia ingin bermain-main? Begitu pikiran Dylan yang sedang dipenuhi kekesalan.
Setelah memesan pada gadis pelayan berseragam biru muda tersebut, Rian pun mengalihkan pandangannya pada lawan bicara. Wajah Dylan sudah begitu masam dan tak enak dilihat.
“Beberapa hari yang lalu, sebenarnya ... saat Rio dirawat di rumah sakit, aku memergoki seorang penguntit yang mencoba mencari tahu tentang kalian,” kata Rian yang mencoba mengawali pembicaraan mereka.
Dylan yang semula acuh pun langsung memasang telinga di depan Rian. “Apa maksudmu? Seorang penguntit?"
Rian pun mengangguk dengan penuh keyakinan. “Ya, bahkan dia sempat mengambil beberapa potret tentang kalian secara diam-diam. Mungkin kau dan Anyelir tidak menyadarinya. Tapi aku melihatnya dan langsung meminta kameranya.”
“Kau menghapus fotonya?” tanya Dylan.
“Tentu saja!” jawab Rian sambil mengangkat kedua alis dan tersenyum miring. “Kau pikir aku adalah pria picik yang akan membiarkannya? Meski kau ... itu ....”
“Aku apa?” Dylan tak terima dengan nada bicara Rian yang terdengar merendahkan.
“Ya, pokoknya aku menghapus semua foto-foto Anyelir dan dirimu yang ia ambil waktu itu. Aku tidak tahu apa dia masih menguntit kalian atau tidak, jadi aku minta kau berhati-hatilah!” tukas Rian pada sahabatnya tersebut.
“Kau menyuruhku duduk di sini menunggumu juga sudah mengundang beberapa kamera ke arahku. Mereka sepertinya mengira aku akan bertemu dengan Anyelir atau Andin. Mereka seperti ingin mengonfirmasi diam-diam mengenai berita hubungan kami, konyol sekali!” gerutu Dylan sambil melipat kedua tangannya.
“Tak tahunya kau hanya bertemu dengan pria sepertiku.” Rian menyahuti.
“Gagalah, ekspektasi mereka.” Dylan terkekeh.
“Iya, itu lebih baik. Daripada kau digosipkan berkencan denganku,” timpal Rian sambil terkekeh, tapi itu malah membuat sahabatnya kembali kesal.
“Haha, maaf!” Rian berkata sambil menunjukkan kedua telapak tangannya untuk meminta agar Dylan lebih bersabar.
Saat Rian sedang terkekeh di depan wajah kesal Dylan, seorang gadis pelayan datang membawa minuman mereka.
“Terima kasih,” pungkas sang dokter tampan itu dengan sangat manis pada si gadis pelayan.
Perempuan tersebut pun berlari malu-malu sambil membawa kembali nampannya.
Dylan mencibir kelakuan sahabatnya tersebut. “Apa-apaan dengan senyum itu? Kau tak akan bisa menggoda Anyelir dengan cara yang tadi! Istriku tak akan tergoda olehmu! Tidak akan!”
Rian tertawa. “Tapi kau terlihat begitu khawatir,” timpalnya sambil mengaduk minuman miliknya menggunakan sedotan.
“Kautahu tentang siapa yang menyebarkannya?” tanya Dylan.
Rian menggeleng. “Aku tak tahu, apakah ada kaitannya dengan pria yang terpergok olehku atau bukan, akan tetapi aku menyimpan nomor kontak pria penguntit kalian waktu itu. Mungkin kau bisa menghubunginya untuk menggali informasi darinya.” Pria tersebut mengotak-atik ponsel dan mengirimkan nomor kontak untuk Dylan.
“Sudah kukirim,” ujarnya sembari memasukkan lagi ponselnya dalam saku.
“Hmmm.”
“Emm, sebenarnya ... aku ingin katakan sesuatu lagi padamu,” ujar Rian pada sang sahabat. Ia sedang memikirkan apakah bijak jika dirinya memberitahukan perihal Anyelir yang pernah sakit dan dirawat di rumah sakit tempatnya bekerja. Tapi ... bagaimanapun juga dia telah berjanji untuk tak membocorkan apa pun tentang sakitnya Anyelir saat itu pada Dylan.
“Apa?” tanya Dylan yang penasaran.
Rian menghela napas. “Ah, tidak. Sepertinya itu saja dulu,” ujarnya.
Dylan langsung mengerutkan alis. “Katakan, Rian!” paksa Dylan.
Pria dokter itu hendak bicara, tapi ia terbentur oleh janjinya pada Anyelir waktu itu. “Bukan apa-apa, hanya ... tentang kedua orang tuamu yang membeli lagi saham dari perusahaanku. Mereka adalah pengusaha, tapi mereka juga senang menanam investasi di perusahaan lain,” ujar Rian.
Dylan menggelengkan kepala. “Apa itu informasi penting?”
“Tidak!” Rian pun langsung berdiri terlebih dahulu setelah meminum satu sedot lagi dan kemudian pria itu pun pergi.
Dylan pun masih sendiri di tempat ini dan belum berdiri karena sedang mengamati foto-foto Anyelir yang tersebar di internet. Pria itu duduk membelakangi pintu seraya menggeser-geser layar ponselnya. Saat ia hendak meninggalkan tempat tersebut, telinganya menatap sebuah tawa yang tidak asing di telinganya.
“Wah, aku senang sekali, akhirnya Rio mau ikut dokter Lina jalan-jalan juga.” Seorang wanita dengan blouse putih berjalan dengan seorang anak kecil dan ibu dari anak tersebut.
“Haha, kita datang ke sini karena mau ditraktir Bu Dokter Lina,” timpal wanita berbaju oranye yang menggendong putranya.
“Beruntung ada Dokter Lina yang mengajak kita pergi. Jika tidak, maka kami akan sangat bosan di rumah. Mama kita duduk di sini saja, dekat jendela!”
Dylan mendengar suara-suara tersebut dan dia pun mengarahkan kamera depan ponselnya untuk menangkap bayangan mereka. Benar saja! Itu adalah Anyelir, Rio dan seorang kawan Anyelir yang menjadi dokter.
Pria tersebut hendak berbalik dan melambaikan tangan, tapi ... dia tersenyum sambil memicingkan matanya.
“Aku akan meneleponnya,” ucap Dylan dalam hati.
Pria itu pun membuka ponsel dan menekan kontak Anyelir untuk memanggilnya.
“Mama, ponselmu berbunyi,” ujar Rio menunjuk ke dalam tas mamanya.
“Ah, iya.” Anyelir terburu-buru membuka tasnya dan melihat nama Dylan terpampang di layar.
Pria yang menelepon itu tersenyum-senyum. “Anyelir pasti terkejut karena saking senangnya mendapat telepon dari aku,” gumam Dylan dalam hati dan penuh percaya diri.
“Dari siapa? Kok disimpan lagi ponselnya?” tanya Lina dengan aneh.
“Bukan siapa-siapa, nggak penting!” timpal Anyelir dan mengabaikan panggilannya.
Dylan mendadak lemas, lututnya serasa dilepas dari bagian kakinya. Kenapa Anyelir bisa mengatakan dirinya tidak penting? Jadi seperti ini, anggapan Anyelir terhadap suaminya bila di belakang? Dylan benar-benar kesal!
Tanpa tedeng aling-aling, pria bertubuh tegap itu pun berdiri. Dia pun mencoba menghubungi Anyelir kembali dan melihat reaksi istrinya tersebut secara langsung.
“Issh!” Anyelir langsung mematikan panggilan dari Dylan tanpa peduli dengan apa yang akan dikatakan oleh suaminya tersebut.
“Kurang ajar,” gumam Dylan sambil terus melangkah. Dia mengumpat sambil terus mencoba menelepon Anyelir dan betapa menyebalkannya karena ia melihat secara langsung jika istrinya itu mengabaikan panggilannya.
Dia pun semakin dekat dengan tempat duduk sebelah jendela yang digunakan Anyelir.
Rio pun menatap pada papanya. “Ma, ada papa di belakangmu!”
“Anyelir, Sayang. Kenapa kauabaikan panggilanku!”
Sontak Anyelir pun merasa terkejut, dia menghela napas dan menahannya sampai beberapa detik. “Dylan kenapa kau ada di sini? Ini ... ada banyak orang yang mengambil foto kita di sini.” Anyelir berbisik sambil mencoba memperingatkan suaminya.
Pria itu tak menggubris, dia terus mendekati Anyelir dan mendorong sandaran kursi yang diduduki perempuan tersebut.
“Aku tak peduli, apa perlu kita adakan siaran pers saja untuk klarifikasi dan menunjukkan seberapa pentingnya kamu dalam hidupku?”