
Penolakan dari Anyelir semalam membuat Dylan menjalani pagi dalam kegusaran. Pria itu akhirnya sengaja bangun siang dan melewatkan sarapan paginya. Setelah salat subuh, dia tidur lagi dan tak mau keluar kamar. Lastri pun tak berani membangunkan anaknya dengan alasan semalam dia kelelahan.
“Dylan tidak ke kantor?” tanya Gunadi Bagaskara.
“Entah,” jawab Lastri dengan acuh.
“Anyelir?” Gunadi mengalihkan pertanyaannya pada sang menantu.
“Anu ... dia bilang mau berangkat nanti siang,” jawab Anyelir seadanya. Dylan memang bilang seperti itu kemarin, sebelum perempuan itu ‘ngambek’ pada sang suami.
“Ya sudah kalau begitu.” Gunadi pun kembali melanjutkan suapannya.
Mereka sarapan bersama, kecuali Dylan yang tak muncul sama sekali.
Anyelir hanya diam ketika ibu dan bapak mertuanya membicarakan Dylan. Ia ingat bagaimana semalam perasaannya menjadi sekacau itu karena dirinya melihat potret Andin. Bagaimana mungkin dia bisa tidur di atas ranjang milik wanita lain dan menikmati malam dengan foto sang suami bersama istri pertamanya.
Perempuan itu memang sudah berjanji untuk tak cemburu, dia memang sudah sadar jika dirinya hanyalah wanita kedua dalam hidup suaminya. Tapi setidaknya ... Anyelir tak mau disentuh oleh Dylan jika ia melihat wajah Andin terpampang di depan mata. Rasanya, aroma parfum Andin bahkan masih menempel di atas ranjang itu.
Cukup sekali saat Dylan melakukan itu dengan paksa di sana. Selebihnya, jangan! Karena itu melukai fisik dan perasaannya.
“Saya duluan, ya, Bu, Pak.” Anyelir menyudahi sarapannya terlebih dahulu. Dia hanya menyuapi Rio saja dan makan sedikit untuk dirinya sendiri.
“Anyelir!” panggil Lastri sambil berdiri dari kursinya.
Sang menantu yang dipanggil pun menoleh, kemudian ia melihat Lastri menyodorkan sekeranjang buah-buahan.
“Kamu bawa ini ke atas,” titahnya.
“Kenapa harus dibawa ke atas, Bu?” tanya Anyelir bingung. Meski ia mempertanyakan, tetap saja Anyelir berbalik dan menerima keranjang buah.
“Buat kamu makan di atas sambil belajar. Sudah, sana!”
Anyelir pun tersenyum. “Terima kasih, Bu.”
“Oh, ya, Anyelir!” panggil Lastri lagi.
“Kenapa, Bu?”
“Kamu tidak bertemu dengan dokter kandungan? Mumpung Dylan libur, berkonsultasilah kalian, ya?” ucap Lastri. Sang mertua itu memang sedang sangat mengharap hadirnya cucu baru untuknya.
Anyelir hanya tersenyum sambil mengangguk, dia pun membawa keranjang buah tersebut sambil pergi ke lantai dua tempat kamarnya berada. Sebelum membuka pintu, sejenak dia melirik kamar milik Dylan yang masih tertutup. Anyelir bahkan bertemu lagi dengan sang suami setelah kejadian semalam.
Dirinya bukan meminta agar kamar milik Dylan tersebut dibersihkan dari semua barang-barang Andin, wanita itu hanya ingin setidaknya dia tidak melakukan hal itu tepat di depan wajah milik perempuan lain.
Terserahlah jika sekiranya Dylan marah dan membenci dirinya. Anyelir tak peduli.
Ponselnya berdering, Anyelir pun melihat ke arah layar yang menunjukkan nomor tak dikenal tanpa foto. Dilihat dari ujung nomornya, perempuan itu kenal dan tahu siapa yang menelepon.
“Bagaimana? Sudah ada uangnya?” Pria di seberang sana berbicara.
Anyelir hanya diam. Dia merasa ingin marah saja karena ini bukan tanggung jawabnya.
“Kalau kau tidak menjawab dan mencoba lari, aku akan menelepon keluarga suamimu dan mengaku sebagai selingkuhanmu, bagaimana?”
Pria gila di sana terus memaksa Anyelir untuk melakukan sesuatu yang tak ia suka. “Kenapa kau memaksaku. Itu bukan kewajibanku dan kejar saja Joni, jangan aku!” bentak Anyelir pada telepon dan kemudian mematikannya.
Kini peneror itu terdengar lagi dan membuat Anyelir teringat akan momen di mana Dylan memaksa untuk tidur di kamarnya. Anyelir merasa harga dirinya tergores saat Dylan memberikan uang seratus juta, lalu dengan paksa pria tersebut membuatnya tak berdaya di atas ranjangnya. Ranjang yang biasa pria itu gunakan dengan istrinya yang lain.
Nomor baru itu terus membuat ponsel Anyelir berdering, getarannya membuat perempuan itu merasa pusing dan akhirnya ponsel tersebut dinonaktifkan olehnya. Rasa kesal dan geram yang dirasakan oleh Anyelir semakin menumpuk. Belum lagi pesan-pesan singkat yang berisi ancaman, di mana pria bernama Wira tersebut mengatakan akan meratakan rumahnya dengan tanah. Hal itu sungguh membuat Anyelir tak bisa berbuat apa-apa.
Mengumpat pun tak ada gunanya.
Ponsel Anyelir sempat tak aktif selama beberapa menit, tapi akhirnya dia nyalakan lagi dan memutuskan untuk memblokir nomor tersebut. Walau sepertinya masih ada kemungkinan jika nomor lain akan menghubunginya lagi untuk membicarakan hal yang sama.
Benar saja, dugaannya. Ada sebuah nomor baru menghubunginya.
“Assalamualaikum.”
Baru saja Anyelir hendak mengumpat, tapi nyatanya dia malah mendengar suara yang begitu ia kenal. Suara berat yang begitu lembut dan penuh kehangatan.
“Anyelir, maaf. Mungkin kamu terkejut, ini aku, Dokter Rian,” ucap pria di seberang sana.
Seketika Anyelir mengembuskan napasnya dengan lega. Dia pikir ini adalah pria peneror yang hendak meminta uang lagi, ternyata ini adalah dokter senior tempat ia bekerja sebagai koas.
“Iya, Dok. Ada apa?” tanya Anyelir.
“Aku hanya ingin memastikan apakah kamu baik-baik saja?” tanya Dokter Rian melalui teleponnya.
“Saya ... baik, Dok.”
“Syukurlah. Aku sebenarnya ingin menanyaimu tentang hal ini sejak kemarin, tapi ... aku sangat sibuk sehingga lupa hendak bertanya.”
“Saya baik-baik saja, Dok. Ada apa memang? Kenapa dokter bertanya seperti itu pada saya?” tanya Anyelir.
“Aku hanya khawatir saja. Kau harus berhati-hati, banyak orang yang sedang ingin mengincar dirimu dan ingin tahu segala rupa tentangmu,” pesan sang dokter tampan itu dengan penuh kekhawatiran. Entah apa yang terjadi, tak biasanya Dokter Rian menelepon padanya. Bahkan nomor yang digunakan oleh sang dokter itu pun bukan nomor pribadinya.
Anyelir mengangguk. “Baik, Dok. Terima kasih nasihatnya.”
“Bukan apa-apa. Ya sudah, aku minta maaf telah mengganggu waktumu,” ucap Dokter Rian. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Anyelir pun menutup kembali telepon dan meletakkan ponselnya.
“Telepon dari siapa?” tanya seorang pria yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat pintunya.
“Anu ... itu ....”
“Siapa?” Dylan hampir merebut ponsel Anyelir yang disimpan di atas meja rias.
“Dokter Rian!” jawab Anyelir dengan lantang. Tapi ia tak berani menatap suaminya.
Kedua mata Dylan langsung menyorot pada Anyelir. Dia melihat perempuan itu tanpa berkedip sedikit pun dengan cara yang begitu tajam.
“Ada apa?” tanya Anyelir yang langsung gugup.
Dylan mengusap pada dagunya sambil melirik sinis pada Anyelir.
Mendapat lirikan seperti itu, Anyelir langsung membuang muka. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh pria tersebut darinya?
“Jangan angkat lagi telepon dari Rian!” ancam Dylan sambil pergi ke luar dan terdengar langkah kakinya yang menuruni tangga.
Anyelir pun membuka ponselnya sendiri, dia merasa aneh kenapa Dokter Rian menghubunginya menggunakan telepon kantor, bukannya nomor pribadi sendiri. Begitu ia lihat kontak dengan nama Dokter Rian berwarna abu tanpa ada foto profil, barulah Anyelir sadar apa yang terjadi.
“Dasar freak! Seenaknya blokir nomor orang pakai kontakku!” gerutu Anyelir seraya membuka blokir pada kontak Dokter Rian.
“Bi Ai! Bi!”
Anyelir mendengar suara Dylan yang berteriak dari lantai bawah dan memanggil-manggil nama Bi Ai. Perempuan itu keluar dari mengintip dari depan kamarnya, apa yang dilakukan oleh pria itu? Kenapa baru bangun tidur saja sudah berteriak-teriak.
“Iya, Pak Dylan. Ada apa?” tanya sang kepala pelayan di rumah mewah tersebut.
“Tolong beresin kamarku!” ujar Dylan.
“Baik, Pak. Saya akan panggil pelayan untuk membersihkannya.”
Pria tersebut pun melihat ada Anyelir yang menatapnya dari lantai dua.
“Bi Ai! Bi Ai!” panggil Dylan lagi, saat itu Bi Ai hendak berlari ke belakang untuk memanggil pelayan.
“Sekalian buang semua foto Andin yang ada di kamarku! Buang juga barang-barangnya, lalu belikan ranjang baru untuk kamarku. Buang saja ranjang yang lama.”
Perintah itu membuat Anyelir benar-benar terkejut.
Lalu seketika, Dylan menatap pada Anyelir dengan tatapan sinisnya. Pria itu mengangkat dagu yang membuat perempuan di sana hanya bisa mengedip-ngedipkan mata.
Seketika, Anyelir pun masuk ke kamar dan menguncinya. “Apa tadi aku tidak salah lihat?”