Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
75. Kesibukan Andin dan Hari Libur Anyelir


“Angkat dagu sedikit.”


Shoot. Cekrek!


“Logo brandnya ke kanan, Andin lihat atas!”


“Nice!”


“Lighting kurangi sedikit!”


Cekrek. Cekrek. Cekret.


Sang fotografer dan penata gaya sibuk mengarahkan pose dan mengambil gambar. Bagian perias artis berulang kali melakukan sentuhan ulang agar riasan di wajah sang model tetap menyala. Andin terlihat cantik dengan senyum yang lepas di depan kamera. Ekspresinya sangat natural dan rasanya dia begitu pantas untuk merepresentasikan merek tersebut.


Seorang Andin, yang bercita-cita sebagai model internasional, ia hanya ingin terus meroket demi mewujudkan mimpinya. Perempuan itu tak ingin terpengaruh oleh berita apa pun yang sedang membicarakan rumah tangganya. Selama berita-berita tersebut tak mempengaruhi kariernya, Andin tak akan memberi reaksi apa-apa.


“Terima kasih,” ucap Andin sambil menerima air minum yang disodorkan padanya. Dia telah kembali ke belakang layar setelah giliran pemotretannya selesai.


Wanita itu duduk dan kemudian bagian penata rambut mengubah sedikit gayanya untuk pemotretan produk lain dari merek yang sama.


“Hari ini ada berapa produk lagi?” tanya Andin pada Eros yang ada di sampingnya.


“Ada empat produk serta lima gaya yang diperlukan. Karena nanti di akhir, kau harus berfoto dengan semua produk itu bersamaan dan mereka meminta gaya riasan yang berbeda khusus untuk itu.” Eros menjelaskan sambil berdiri dan memegang minuman milik Andin.


Andin hanya mengangguk dan tak menimpali lagi. Perempuan itu membawa sebuah cermin dan melihat pantulan dirinya di sana.


“Mbak coba sebelah sini bisa ditambah sedikit gelombang agar ... ada perbedaan dengan gaya sebelumnya,” ujar Eros sambil menunjuk pada sisi kanan bawah rambut Andin.


“Sebelah sini, Mas Eros?” tanyanya.


“Benar!” Eros pun beralih ke depan Andin dan menatap penampilan artisnya.


“Awas!” Pria itu menyingkirkan cermin yang sedang dipegang oleh Andin agar wajah dari model tersebut dapat terlihat dengan jelas.


Sang model memutar bola matanya. “Sudah bagus?” tanya Andin.


Eros mengangguk sedikit.


“Kau jangan sampai membuat tim hair do ini kabur karena sifat cerewetmu yang suka mengkritik mereka,” celetuk Andin sambil menatap Eros dengan wajah yang malas.


“Aku hanya memberi masukan.” Eros meletakkan minuman milik Andin di meja depan wanita tersebut.


Selama ini, Eros yang selalu menjadi penata gaya utama untuk Andin. Mulai dari memesan dress, tim perias wajah dan juga rambut untuk model para model di agensinya, termasuk Andin. Namun terkadang ada beberapa momen di mana perias disediakan oleh vendor lain dari pihak pembuat iklan, di sini Eros cukup sering mengkritik kerja mereka.


Seorang perempuan dengan heels sepuluh sentimeter berjalan mendekat. Seperti biasa, wanita itu selalu akrab dengan tablet di tangannya. “Eros, apa jedanya masih lama?”


Pria yang dipanggil pun menoleh. “Ada sebentar lagi, kenapa memang, Ta?”


Talita yang mendekat itu pun memasang wajah genting dan serius. “Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dulu dengan Andin,” ujarnya. “Kemarilah!” Talita memanggil Eros agar pria tersebut menghampirinya.


Andin seketika melambaikan tangan untuk memerintah agar asisten manajernya itu mendekat pada Talita dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh perempuan itu.


Sementara Eros pergi, sang fotografer pun memanggil Andin kembali. “Andin siap?” teriaknya.


"Oke nanti kita bicara lagi," ujar Eros sambil berjalan terburu-buru dan kembali mendekat pada Andin.


“Oke, siap!” Eros kembali mengambil blazer yang menutupi tubuh Andin, dia juga memakaikan sepatu untuk kaki perempuan itu dan sang model kembali berjalan ke area layar hijau yang ada di sana.


“Pose yang pertama!”


Penata gaya pun menunjukkan hal yang dilakukan oleh Andin, beberapa produk dan alat peraga menemani wanita tersebut dalam berfoto.


Eros pun terkekeh. “Justru itu yang kuinginkan. Ini akan berjalan dengan sangat baik dan orang akan semakin simpati pada Andin sehingga bisa meningkatkan karier modelingnya,” ujar pria tersebut sambil tersenyum miring.


“Di pikiranku juga sama seperti itu, hanya saja ... kautahu sendiri, Andin sangat menolak jika sampai nama dari perempuan yang menjadi selingkuhan suaminya itu terpublish. Yang aku takutkan adalah suasana hatinya memburuk dan dia menolak menerima job. Itu saja!” timpal Talita dengan berbisik tapi setiap ucapannya penuh penekanan.


Eros menganggukkan kepala. “Kau benar juga!”


Mereka pun terdiam sambil melihat Andin dengan baju oranye sedang berpose di sana.


“Lagi pula, siapa yang menyebarkan foto dari perempuan itu?” tanya Eros lagi.


“Kalau aku tahu, sudah kutangani ini sendiri tanpa harus bicara padamu!” timpal Talita dengan sangat ketus. Pikirannya benar-benar tak bisa tenang barang sehari saja tanpa memikirkan segala sesuatu tentang Andin. Ah, jangankan sehari, satu jam. Ia ingin punya satu jam saja tanpa masalah tentang artisnya itu.


“Apa kau akan bicarakan ini pada Andin?” Eros berbisik sambil menutup mulutnya di sebelah telinga Talita.


“Entah! Aku takut dia akan mengamuk.”


“Aku akan mencari tahu siapa orang menyebarkan foto wanita tersebut.”


“Percuma, sudah tersebar luas di internet.”


Andin yang sedang berpose di depan kamera, menangkap gelagat aneh dari manajernya tersebut. Apa yang sedang mereka obrolkan? Meski penasaran, perempuan itu berusaha profesional dan tetap memberikan wajah terbaik untuk ditangkap kamera.


*


Jika Andin masih melakukan pemotretan  di hari libur, maka itu berbanding terbalik dengan Dylan dan Anyelir yang malah bergulat di bawah selimut sejak tadi pagi hingga siang hari ini.


“Kamu bilang siang ini akan ke kantor, kenapa masih di sini?” tanya Anyelir pada suaminya. Tangan kekar pria itu masih saja melingkar di pinggul ramping milik sang istri yang tak dilapisi seutas benang pun.


“Aku tidak akan ke kantor,” timpal Dylan tanpa membuka matanya.


“Meski tidak ke kantor, tapi jangan tidur lagi. Apa kau tidak lelah sejak tadi tertidur dan belum bangun lagi?” Anyelir sebenarnya yang merasa gerah karena pria itu terus menempel padanya.


“Aku bangun, kok.” Dylan menjawab seperti itu, tapi matanya yang tertutup.


“Apanya yang bangun? Kau masih tidur!” sewot Anyelir pada suaminya itu.


“Bagian bawahku yang bangun!”


Gurauan Dylan pada Anyelir tersebut menyeret mereka pada kegiatan menyenangkan yang basah dan penuh keringat lagi, sampai mereka berdua merasa lelah dengan sendi-sendi di sekujur tubuhnya yang seakan terasa ingin lepas semua.


*


Kembali pada kegiatan Andin yang baru selesai melakukan seluruh pemotretan sesuai dengan permintaan dari bagian iklan. Perempuan itu akan selalu meminta minum air mineral kepada Eros setiap usai pemotretan.


“Terima kasih,” ucapnya setelah menyedot beberapa mililiter air mineral dari botolnya.


“Ndin,” ucap Talita dengan nada seriusnya.


Andin pun menoleh tanpa menjawab.


“Ada seseorang yang berhasil mendapatkan potret wanita itu dan menyebarkannya. Jadi, kita harus bagaimana?” Talita menyodorkan tablet dengan foto-foto Anyelir.


Perempuan itu menyimpan botol air mineral dan memberikan tanggapannya.


Talita pun berkata lagi. “Bukankah kau tak ingin sampai media tahu bagaimana identitas juga wajah perempuan tersebut? Apa kita harus melakukan sesuatu?”


Namun ternyata, jawaban yang keluar dari mulut Andin justru tak seperti yang diduga oleh Talita dan juga Eros. “Kita tak perlu melakukan apa-apa. Dylan pasti akan mengurus semuanya begitu dia tahu.”