Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
19. Program Kehamilan


Ketika makanan yang mereka pesan datang, Lina bahkan masih menatap Anyelir penuh dengan rasa curiga.


“Kamu kenapa, sih? Aku, kan, udah bilang bakal jelaskan semuanya nanti. Karena kalau dijelaskan sekarang, aku sendiri masih bingung,” ujar Anyelir mencoba untuk menghilangkan kecurigaan di wajah sahabatnya itu.


Lina pun akhirnya berhenti memicing dan ia menarik piring nasi miliknya. “Aku mau makan saja kalau begitu.”


Anyelir lagi-lagi terkekeh karena sahabatnya itu.


“Oh, ternyata kau sedang makan,” ucap seseorang yang tiba-tiba ada di dekat meja mereka.


Sontak Anyelir dan juga Lina pun langsung mendongak melihat siapa yang datang.


“Kalau sudah, aku tunggu di lobi ya.” Pria berkacamata hitam itu pun pergi meninggalkan mereka berdua dan meninggalkan seribu tanda tanya di benak Lina.


“Itu orang nggak salah, kan, ngajak ngomong ke kita?” ujar Lina.


Anyelir tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala.


“Dia itu tadi ngomong sama kamu, ya?” tebak Lina yang melihat reaksi Anyelir tidak terkejut seperti dirinya.


“Iya, kan, Anye!” tuntut Lina yang ingin jawaban. Bagi gadis itu, sahabatnya ini semakin hari semakin misterius saja.


“Iya, Lin. Iya! Puas?” jawab Anyelir yang lagi-lagi ingin tertawa melihat Lina yang kebingungan.


Namun bukannya puas, pertanyaan lain bertambah lagi di benak Lina. Seperti, kenapa pria itu mencari Anyelir? Apa yang akan mereka lakukan? Kenapa dia menunggu Anyelir di lobi rumah sakit? Dan yang paling penting, pria tadi itu siapanya Anyelir?


Lina kali ini menggelengkan kepala. “Aku nggak puas sama sekali, Nye! Kamu berhutang banyak penjelasan padaku!” Dia pun melanjutkan makan dan menghabiskan nasi di piringnya.


Setelah selesai makan, Anyelir dan Lina pun berpisah. Jika Lina pergi ke ruang loker untuk mengambil barang-barang dan kembali bekerja, sementara Anyelir tentu saja datang ke lobi tempat Dylan tadi menunggu.


Pria itu duduk dengan gaya maskulin, kemeja hitam bergaris, celana panjang dan kacamata hitam yang terlepas disimpan belahan kemejanya. Selama menunggu Anyelir, dirinya duduk di ruang tunggu sambil memainkan ponsel.


Anyelir berjalan mendekat. Ada rasa tak percaya karena ternyata pria pemarah itu bisa menunggunya juga.


“Pak Dylan, ada apa?” tanyanya saat mendekat.


Dylan pun mendongak sambil menyimpan ponselnya. “Duduk saja dulu, giliran kita sebentar lagi.”


“Giliran kita?” Anyelir mengulang ucapan Dylan. Dia pun baru sadar jika Dylan sedang duduk di depan ruangan dokter kandungan.


“Apa maksud Anda?”


Dylan pun kembali menatap Anyelir. “Bisakah kau berhenti menggunakan bahasa formal selagi di depanku?” protes pria tersebut. Karena setiap berbicara dengan Dylan, Anyelir selalu menggunakan kata pengganti saya dan Anda.


“Maaf. Saya ... masih belum terbiasa dengan Anda.” Wanita itu memalingkan wajah dan duduk di samping Dylan. Tentu saja tidak berdekatan, melainkan dengan jarak dua kursi kosong di antara mereka.


“Aku bukan kenapa-kenapa, hanya aneh saja jika orang lain mendengar kita berbicara dengan kaku namun status kita adalah suami-istri,” timpal Dylan yang juga tak menatap wajah Anyelir sama sekali.


“Kita akan berkonsultasi tentang bayi tabung.” Dylan memberitahu pada Anyelir.


Wanita itu agak terkejut dan mengerutkan alisnya.


“Bukankah sudah tahu? Ibu yang menyuruh kita kemarin malam, kan?” Dylan malah heran saat melihat Anyelir yang terkejut seakan baru mendengar hal tersebut. “Kalau masalah keberatanku kemarin, aku sudah memikirkannya. Ini demi Rio, semakin cepat semakin baik. Jika program ini selesai dan adik dari Rio sudah lahir, kita akan bercerai lebih cepat.”


Anyelir pun mengangguk. “Tapi ....” Dia seakan menemukan kejanggalan pada ucapan Dylan.


“Kenapa? Kau tidak setuju kita bercerai setelah kau melahirkan? Ingat, ya! Kita tidak akan pernah menjadi pasangan yang sesungguhnya,” ucap Dylan memperingatkan Anyelir.


“Lantas?”


“Setahu saya, Poli kandungan di rumah sakit ini tidak bisa melayani bayi tabung. Lagi pula, dokter obgyn di sini, bukanlah dokter obgyn dengan subspesialis fertilisasi. Sementara bayi tabung harus ditangani oleh dokter kandungan yang spesifik menangani fertilisasi.” Anyelir mencoba menjelaskan.


“Ah, benarkah?” tanya Dylan ragu.


Anyelir pun mengangguk. “Memang saat daftar, apa yang Anda katakan di bagian registrasi?”


“Aku berkata ... mau program kehamilan bersama istri,” jawab Dylan.


Anyelir tersenyum. Entah kenapa ada rasa ingin tertawa karena lucu melihat ekspresi Dylan, juga tertawa karena bahagia saat Dylan menyebut istri kepadanya.


“Kenapa kau tertawa?” Dylan merasa tak terima karena Anyelir menertawakannya.


“Baiklah, nanti kita jelaskan maksud dan tujuan kita pada dokter di dalam. Biar beliau yang menjelaskan dan mengarahkan kita harus ke mana.”


Saat bayi tabung pertama dahulu, Anyelir dan Dylan melakukan program bayi tabung di luar negeri. Hal itulah yang membuat Dylan kurang paham dengan prosedur bayi tabung, lagi pula kejadian tersebut juga sudah begitu lama. Sehingga dia pun lupa bagaimana pelaksanaan program bayi tabung sampai berhasil hamil dan melahirkan anak.


Saat ada orang lewat, Dylan mengambil topi yang ia simpan di bangku sebelah dan segera mengenakannya. Ia kembali memakai kacamata hitam seperti sebelumnya.


Anyelir yang melihat itu langsung ikut melirik ke kanan dan ke kiri. Apa yang sedang dihindari oleh Dylan? Kenapa dia seakan bersembunyi dari sesuatu.


“Aku hanya takut jika ada seseorang yang mengenaliku. Kalau bisa, kau pura-pura saja tak mengenalku,” titah Dylan sambil memutar arah duduknya dan membelakangi Anyelir. Pria itu kembali memainkan ponsel seperti sebelumnya.


Sementara itu, Anyelir sendiri malah berdiri. “Sini biar kulihat nomor urut antrean kita!” pinta Anyelir mengulurkan tangan pada Dylan.


“Kenapa kau malah mendekat?” gusar Dylan pada wanita tersebut.


“Dokter Rian sudah tahu tentang kita, bukan? Kenapa Anda terlihat risau?” jawab Anyelir dengan santai. “Apa ada orang lain yang mengenal Anda di rumah sakit ini? Kalau ada juga seharusnya saya yang lebih risau daripada Anda, karena ada banyak kawan saya yang sedang menjadi koas di rumah sakit ini. Kemarikan nomor urut kita?” pintanya sekali lagi.


Dylan menelan ludahnya saat mendengar jika kawannya itu telah mengetahui hubungan dirinya dengan Anyelir. “Kau yang memberitahukan tentang kita pada Rian?”


Anyelir pun memutar bola matanya karena kesal. “Tentu tidak! Dia berkata tahu dari keluarganya. Bukankah keluarga kalian adalah kolega bisnis? Dokter Rian berkata, jika beliau tahu mengenai hubungan kita karena keluarga kalian saling berhubungan,” terang Anyelir pada Dylan.


“Tidak mungkin.” Dylan menggelengkan kepalanya.


“Pak Dylan! Ibu Anyelir!” panggil suster dari ruangan dokter kandungan.


“Itu kita, ayo!” Anyelir yang sudah berdiri pun jalan terlebih dahulu.


Namun saat itu, Dylan menerima telepon yang membuat pria itu pamit dulu sebentar.


“Sebentar, ya? Tunggu!” Pria itu terlihat buru-buru sambil mengangkat teleponnya.


Anyelir malah merasa aneh, ketika giliran mereka tiba, justru Dylan malah pergi dan mementingkan telepon.


“Bu Anyelir, Pak Dylan, silakan!” panggil suster sekali lagi.


Akhirnya Anyelir berjalan sendiri pelan-pelan sambil melihat Dylan yang sedang mengangkat telepon.


“Ayo,” bisik Anyelir. Dia menegaskan gerak bibirnya untuk memberi kode pada pria itu bahwa mereka sedang ditunggu.


“Sebentar, ini Andin!”