Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
80. Dia Bukan Selebritas


“Ssst, Rio, Sayangnya mama. Maafkan mama, tadi ada urusan yang genting dan harus segera diselesaikan. Mama tahu kamu marah, tolong mengerti dan maafkan mama, Sayang,” ucap Anyelir sambil menggendong dan menciumi anaknya berulang kali.


“Kenapa papa jahat?” tanya Rio.


Tepat saat Rio bertanya demikian, Dylan masuk ke kamar Anyelir. “Kenapa Rio bilang papa jahat?” tanya Pria tersebut tak terima pada ucapan bocah kecil yang baru saja ia dengar.


“Mama bilang, papa yang menggagalkan acara bermain soreku bersama mama tadi!” ucap Rio yang jujur dan polos.


Anyelir yang sedang menggendong Rio pun tersenyum penuh kemenangan. Apa yang dikatakan oleh anaknya itu memang benar adanya, Dylan adalah pengganggu mereka saat tadi.


“Kenapa jadi papa yang menggagalkan?” Pria tersebut menghampiri sambil menatap sang bocah dari dekat.


“Karena saat kita hendak memesan makanan tadi, papa datang tiba-tiba dan karena papa yang datang tadi kita langsung pergi. Aku memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi dalam pikiranku juga membenarkan ucapan mama. Bahwa papalah yang menggagalkan acara kami tadi, karena kedatangan papa yang membuat kami harus bubar,” jawab Rio dengan lantang dan jujur. Anak kecil itu juga memasang ekspresi sedih di depan papanya.


Kali ini Dylan beralih menatap pada Anyelir.


“Kenapa?” tanya Anyelir lagi. “Aku tidak menjelaskan hal seperti itu padanya, hal itu murni ada di pikiran Rio.” Perempuan itu menyela karena tahu apa yang ada di pikiran Dylan.


Dylan memijat keningnya sendiri dan sebelah tangannya berada di pinggang. Ia tidak bermaksud seperti itu, tapi entah kenapa dirinya juga setiap melihat Anyelir selalu terlintas keinginan untuk menjahili perempuan tersebut.


“Aku ... akan ada perjalanan bisnis ke luar kota besok. Tidak jauh sih, hanya di Bandung. Bagaimana kalau kalian berdua ikut denganku? Ya, itung-itung mengganti waktu bermain yang aku kacaukan tadi.” Dylan menawari pada Anyelir dan Rio.


Ibu dan anak itu pun bertatapan.


“Bagaimana, Ma?”


“Kalau mama sih, terserah Rio,” jawab Anyelir sambil tersenyum.


Rio pun mengangguk. “Aku memberikan papa satu kesempatan untuk memperbaiki. Jika liburan kita kali ini gagal, aku akan menyalahkan papa lagi.”


Dylan terkekeh sambil menunjukkan dua jarinya. “Papa janji!”


“Dylan! Dylan!” Sebuah panggilan terdengar, hal itu bersumber dari lantai satu atau lebih tepatnya itu adalah Nyonya Lastri.


“Ada apa, ya?” gumam Dylan sambil pada Anyelir.


“Kau pergi saja dulu untuk menghampiri ibu,” tukas Anyelir.


“Dylan! Dylan!” panggil Nyonya Lastri lagi.


Kini suara langkah kaki perempuan itu terdengar menaiki tangga.


“Turun dulu, gih!” Anyelir memerintah sang suami agar menghampiri ibunya.


Dylan pun segera berjalan menuju ke pintu dan keluar, dia melihat ibunya sedang berada di tangga dan pria itu mendekat. “Ada apa, Bu?” tanyanya dengan suara berat khas dari seorang Dylan.


Lastri tak menghentikan langkah, ia terus berjalan ke atas sambil mengibaskan tangan agar anaknya itu ikut berbalik menuju ke lantai dua lagi.


“Ada apa memangnya, Bu?” tanya Dylan lagi.


“Kita bicara di atas!”


Mereka pun berjalan kembali dan berhenti tepat di depan kamar Anyelir yang paling dekat dengan tangga.


“Dylan, kenapa kalian bisa viral lagi di internet?” tanya Lastri dengan suara gemasnya.


Dylan pun menatap ke arah ibunya. “Apanya yang viral?” Pria itu pun mendadak teringat pada kejadian barusan yang menimpanya dengan Anyelir. “Jangan-jangan,” ujarnya sambil terburu-buru membuka ponsel.


Benar saja, padahal belum ada satu hari berlalu, tapi berita itu sudah tersebar dengan cepat dan menambahi kadar kerunyaman masalah mereka.


“Apa maksudnya ini?” gumam pria tersebut sambil meremas ponselnya sendiri.


“Jadi ... itu benar kalian?” tanya Lastri lagi.


“Ada apa, Bu?” Anyelir pun muncul dari balik pintu dan bertanya pada keduanya. Kebetulan, suara perbincangan Dylan dan sang ibu terdengar oleh Anyelir. Sehingga hal tersebut membuat perempuan itu ikut penasaran.


“Ha?” Perempuan itu langsung menutup mulutnya. Kenapa foto itu yang muncul? Anyelir merasa panik sendiri.


“Kalian habis dari mana sebenarnya?” tanya Lastri lagi.


Anyelir masih merasa shock, sementara Dylan malah berjalan menuju ke kamarnya sendiri. “Biarkan aku yang urus masalah ini, kalian tak perlu khawatir.” Dylan berkata sambil masuk dan menutup pintu kamarnya.


Kini pandangan Lastri pun beralih pada Anyelir. “Sayang, mulai sekarang kau harus berhati-hati bila pergi ke mana pun. Jangan sampai ada orang yang memanfaatkan situasi ini dan berusaha merugikanmu.”


Perempuan paruh baya itu sangat mengkhawatirkan cucunya. Dia berpikir, Anyelir tadinya hanya orang biasa, jadi mungkin menantunya itu tak akan terbiasa dengan kondisi ini. Di mana wajahnya tersebar di dunia maya. Maka dari itu, sebisa mungkin Lastri menasihati Anyelir agar lebih berhati-hati.


“Ibu tidak perlu khawatir, terima kasih atas perhatian ibu,” jawab Anyelir.


“Semoga Dylan bisa mengurusnya. Sedikit saja kau keluar rumah bersama Dylan, orang-orang akan langsung menggosipkan kalian.”  Lastri berkata sambil menepuk pundak Anyelir dan berlalu.


Perempuan itu pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat sang anak yang sedang melihat-lihat buku bergambar miliknya. Anyelir pun menghela napas panjang, sambil menempatkan tubuh di sisi Rio.


Sambil menatap sang buah hati, ia menggumam tanpa bersuara. “Seandainya bukan karena Rio, aku tak akan menjalani pernikahan yang sulit ini.”


***


Sore itu di apartemen milik Wira dan Andin.


“Siapa yang meneleponmu?” tanya Wira sambil memeluk kembali tubuh wanitanya.


“Bukan hal yang penting.”


Wira pun menatap pada Andin dan menelisik pada wajahnya. “Ekspresimu tidak akan seperti ini jika itu bukan hal yang penting.”


“Talita yang menelepon.” Andin pun akhirnya menjawab.


“Ada apa?”


“Pihak dari Dylan meminta kami mengadakan jumpa pers. Mereka memintaku untuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi. Dan ... tentu saja mereka meminta agar aku menjelaskan jika perempuan itu tidak ada kaitannya dengan masalah kita.” Andin menjelaskan dengan nada malas. Dirinya pun menyandarkan kepala di dada bidang Wira.


Pria itu membelai surai wanita tersebut dengan lembut sambil sesekali mengecupnya. Aroma sampo yang cukup feminin menyeruak di hidungnya. “Kenapa perempuan itu begitu banyak yang membicarakan kali ini?” Wira bertanya sambil tersenyum miring.


“Lihat, padahal dia juga biasa saja dan tidak terlalu cantik!” Andin melihat pada ponselnya dan di sana ada foto Anyelir bersama dengan Dylan.


Wira mengerutkan dahi. Dia merasa familiar dengan wajah di foto itu. “Dia biasa saja memang. Wajar, bukan dari kalangan selebritas.”


“Iya, makanya. Aku pusing karena berita-berita itu. Kau mau obati aku?” tanya Andin dengan manja.


Wira terkekeh. “Dengan apa? Checkout semua keranjang belanjamu?”


Andin pun tersenyum manis sambil mengangguk.


“Kalau begitu ... seperti biasa.”


“As  you wish, Baby!”


“Tapi tunggu, siapa nama perempuan itu?” tanya Wira sambil mengungkung tubuh Andin.


“Kenapa memang? Kau juga penasaran?”


Wira pun menggelengkan kepalanya. “Tidak.”


“Kalau begitu kau tak usah peduli.” Andin pun langsung menyambar bibir seksi Wira dan mengalungkan kedua tangan di leher pria tampan tersebut.


Meski tubuhnya bergerak menguasai Andin, tapi ... Wira sendiri malah memikirkan perempuan dalam ponsel Andin yang wajahnya seperti tidak asing. “Apakah perempuan itu adalah Anyelir?”


“Apa Wira? Kamu ngomong apa?”