Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
15. Belum Bisa Menerima Anyelir


Pria itu tak ambil pusing dengan orang yang sedang membuntuti ke mana pun ia pergi. Menurut Dylan, silakan ikuti saja sementara dirinya tak peduli. Terserah saja, jika sopir tersebut memberi laporan yang aneh-aneh pada ibunya. Toh, dia sudah menikahi Anyelir sesuai dengan keinginan ibunya. Selain itu, bagi Dylan ibunya tak berhak mencegah dirinya untuk mempertahankan Andin sebagai istri pertamanya.


Sampai dini hari, akhirnya Dylan baru pulang. Rasa putus asa dan juga tekad kuat bercampur dalam hatinya. Dylan bertekad akan mempertahankan Andin apa pun yang terjadi, meski lubuk hatinya merasa sedikit putus asa untuk berharap Andin mau kembali ke pangkuannya.


Dia pun kembali ke rumah dan tepat berpapasan dengan Andin yang hendak pergi lagi.


“Nanti biar Bi Ai yang bantu kamu bawa barang-barang dari rumah lama kemari. Ibu merasa khawatir melihat kamu harus bolak-balik tiap pagi-pagi buta begini,” tukas Nyonya Lastri sambil mengusap pundak menantunya.


Mereka melihat Dylan yang baru saja turun dari mobil, pria itu langsung masuk ke rumah begitu saja tanpa berkata apa-apa.


Anyelir melempar senyum pada mertuanya dan berpura-pura tak melihat Dylan.


Begitu pula dengan wanita paruh baya itu, ia merasa tak enak pada Anyelir karena anaknya yang kini sudah berstatus menjadi suami Anyelir itu malah bersikap seenaknya dan pulang pada dini hari.


Maka dari itu, Nyonya Lastri tiba-tiba memeluk Anyelir yang kini sudah resmi menjadi sang menantu keluarga Bagaskara. “Hati-hati, ya, Sayang.”


Anyelir mendadak gugup saat mendapat pelukan dari sang mertua, wanita itu pun hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Setelah itu, ia segera masuk ke mobil dan pergi dari rumah mewah tersebut.


Setelah Anyelir pergi, seperti biasa, Nyonya Lastri akan langsung masuk ke rumah. Namun kali ini, ia perlu menemui anak semata wayangnya yang baru saja pergi dan pulang seenaknya.


“Dylan!” panggilnya dengan tegas.


Dini hari yang tenang itu terganggu oleh suara sang nyonya rumah saat meneriaki anaknya.


“Dylan!”


Tanpa tedeng aling, wanita itu membuka paksa kamar sang anak.


“Hmmm?” jawab Dylan yang ternyata langsung berbaring di atas ranjang dan menutup wajah menggunakan bantal.


Lastri mengembuskan napasnya dengan keras begitu melihat apa yang terjadi pada anaknya. Ia sebenarnya tak tega ketika melihat Dylan hancur hanya karena seorang wanita. Namun Lastri juga lebih tidak rela, jika hidup Dylan semakin tidak benar karena tetap bersama dengan Andin. Maka dari itu, Lastri sebenarnya agak bersyukur karena Andin mau pergi dengan sendirinya dari kehidupan sang anak.


“Sepertinya kau harus melihat apa yang dikirim oleh Andin semalam saat kamu pergi,” ucap Nyonya Lastri.


Dylan langsung bangkit dari tidurnya. “Andin mengirim sesuatu untukku?” Pria itu langsung antusias begitu mendengar jika sang mantan istri telah mengirimkan sesuatu padanya.


“Iya, tapi saat paket itu diterima kau malah pergi. Kami tak ada yang berani membukanya,” ujar Nyonya Lastri sambil berdiri dari tempatnya semula.


“Kenapa dia tak memberikan langsung padaku?” gumam Dylan dengan wajah berseri.


“Mungkin dia enggan bertemu denganmu, Dylan!” seru Nyonya Lastri yang langsung mematahkan semangat dan rasa optimis Dylan.


“Biar aku lihat!” Dylan pun akhirnya berdiri juga.


“Ada di kamarku, ayo kita ambil dan kaulihat sendiri apa isinya!” ajak Lastri pada anaknya tersebut.


Dylan sedang mengira-ngira, memangnya apa yang mungkin untuk diberikan oleh Andin?


“Ulang tahunku masih cukup lama. Ah, tidak terlalu lama sih, pertengahan bulan ini. Sekitar sepuluh hari lagi. Ternyata dia memikirkanku juga,” batin Dylan yang berbunga-bunga.


Pria itu benar-benar tak mengira jika istri yang ia cari setengah mati, masih peduli padanya.


Kali ini ia sampai di kamar sang ibunda. Pria itu duduk di kursi yang ada di kamar Nyonya Lastri sambil menunggu sang ibu mengeluarkan sesuatu dari laci.


“Benar, ibu belum membukanya?” tanya Dylan yang mencurigai ibunya.


“Untuk apa aku membukanya? Dari amplopnya saja sudah kutahu apa isinya,” timpal Nyonya Lastri sambil melempar sebuah map coklat yang tipis untuk Dylan.


Pria itu segera mengambil dan senyumnya pun luntur begitu ia membaca tulisan dari kop suratnya.


“Gugatan cerai?” gumamnya saat membaca isi dari surat tersebut.


“Ya, pengadilan agama yang mengirimnya malam-malam. Untungnya surat itu diterima secara diam-diam oleh Bi Ai. Jika tidak, maka bisa-bisa ketahuan oleh saudara-saudara yang lain. Itu akan mencoreng muka keluarga kita.”


Dylan tak menimpali lagi, pria itu meremas kertas yang ada di tangannya hingga kesal. Betapa sudah tinggi harapannya pada sang istri, sampai-sampai ia bertekad untuk menjemput kembali wanita itu karena ia pikir jika Andin sedang menderita di sana.


Namun ternyata, dia berpikir terlalu tinggi.


“Kenapa Andin mengajukan gugatan cerai padaku?” gumam Dylan tak mengerti.


Kertas yang baru saja ia remas itu pun terjatuh dari genggamannya. Pria tersebut bangkit dari kursi dan berjalan keluar dari kamar sang ibunda.


“Ibu harap kamu tak lagi terobsesi oleh Andin. Setelah ini, kita akan fokus pada program kehamilan Anyelir karena Rio sangat membutuhkan obat tersebut,” jawab Nyonya Lastri yang sebenarnya tahu jika anaknya itu pasti sedang terpukul.


“Bisa kita tunda dulu programnya, Bu? Aku masih belum siap,” jawab Dylan sambil bersandar pada kusen pintu.


“Kamu tidak akan kunjung siap jika selalu memikirkan Andin. Seharusnya kamu sadar, Dylan, Andin sudah tak menginginkan pernikahannya denganmu,” ucap Nyonya Lastri yang sama sekali tak menghibur anaknya.


Dylan berbalik menatap ibunya dengan tegas. “Ibu yang salah, Andin tak akan pernah melakukan itu padaku. Saat ini dia sedang berada di bawah pengaruh pria lain yang membuat perasaannya goyah. Aku tahu betul, Andin tak akan pernah merelakan perasaannya padaku begitu saja.” Pria itu pun langsung pergi meninggalkan kamar ibunya.


Sementara Nyonya Lastri hanya mengedikkan bahu melihat reaksi Dylan yang bagai budak cinta terhadap Andin tersebut. “Dylan, Dylan!” gumamnya sambil menggelengkan kepala.


“Ya Allah, sadarkanlah Dylan dari pengaruh bayang-bayang mantan istrinya tersebut. Tunjukkan pada anak hamba, wanita mana yang lebih baik untuknya,” gumam Nyonya Lastri seorang diri, setelah itu ia langsung menutup pintu kamar dan melanjutkan tidurnya.


*


Hari berjalan seperti biasa bagi Anyelir di rumah sakit. Wanita itu berperan sebagai ko-as dan melakukan banyak hal. Setelah beberapa hari kemarin ia berjaga di IGD, hari ini dia bergantian dengan kawan yang lainnya untuk berada di bangsal rawat anak.


Rasa pilu menyilet di hatinya, ia serasa melihat Rio yang terbaring di sana.


“Menurut Dokter, anak ibu masih belum boleh pulang karena demamnya masih tinggi. Tapi jika keluarga memaksa, maka kami akan menyarankan rawat jalan dan diberi obat khusus. Hanya saran kami, lebih baik ikuti saran dokter saja untuk tetap berada di sini sampai benar-benar sembuh,” saran Anyelir pada salah satu pasiennya.


“Baiklah, Dok. Kami akan tetap di sini sampai anak kami benar-benar sembuh.”


Anyelir tersenyum dan ia pun berpindah pada pasien yang lainnya. Setelah memeriksa sang pasien, Anyelir dari kamar rawat kelas II tersebut.


“Anyelir,” sapa seorang dokter yang lebih senior darinya.


“Iya, Dokter Rian,” jawabnya.


“Bisa kita bicara sebentar?”