Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
53. Semalam Tanpamu


Karena insiden yang menimpa Dylan sejak siang tadi, Anyelir tak bisa beristirahat di rumah. Sehingga ia harus datang ke rumah sakit pada shift malam ini dalam keadaan yang sangat lelah.


Akan tetapi, meski dirinya lelah, ada sesuatu yang membuat Anyelir sedikit berbunga kala berangkat kerja sore ini.


“Hati-hati,” ucap Dylan ketika istrinya itu turun dari mobil.


Iya, karena itulah Anyelir berbunga-bunga. Karena Dylan mengantarnya ke rumah sakit untuk bekerja.


Biasanya juga pria itu mengantar Anyelir?


Iya, memang. Tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda darinya saat mengantar sang istri.


“Aku besok akan menjemputmu sejak dini hari,” ujar Dylan lagi.


“Tak perlu, aku akan pulang pagi-pagi saja dan tidur sebentar di rumah sakit,” jawab Anyelir.


“Tidak! Aku akan jemput kamu!” tegasnya sekali lagi.


Anyelir hanya tersenyum dan tak melawan lagi. Ia mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Dylan, daripada pria itu mengamuk di tempat.


“Aku pergi dulu,” pamitnya sekali lagi.


Setelah Anyelir menutup pintu, Dylan pun segera memundurkan mobil dan kemudian memutar balik. Pria tersebut meninggalkan rumah sakit dengan hati yang berat. Mungkin baru kali ini perasaan itu ada.


Selama ini bagi Dylan, ada atau tidaknya Anyelir tak memberi pengaruh apa-apa untuknya. Tetap sama saja. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Dirinya sedikit merasa kehilangan dan malam ini rasanya tak akan sama dengan sebelumnya.


*


Jika Dylan di sana mulai merasa tak bisa tanpa sang istri, maka begitu pula dengan Anyelir. Entah karena ini adalah shift malamnya yang pertama, entah pula karena malam ini ia tidak akan bersama dengan suaminya.


Meski malam sebelumnya dia lalui dengan penuh pertengkaran pada pria tersebut, akan tetapi rasa khawatir dan rindu itu membalut perasaannya hingga mendominasi dalam kepala. Kemarin malam, dia hanya melampiaskan kemarahan bukan karena benci atau sekedar kesal.


Melainkan rasa cinta.


Cinta yang membuat Anyelir merasa kesal dan marah pada pria tersebut.


*


Setelah melalui malam yang melelahkan, Anyelir pun menyelesaikan tugasnya. Dirinya hendak pergi ke ruang loker untuk mengambil tas dan memakai jaketnya.


Waktu masih menunjukkan pukul 05:00


Perempuan itu melihat pada jam dan melihat teman-temannya sebagian ada yang tertidur sambil duduk dan menyandarkan kepala di meja, ada juga yang tidur di atas ranjang dan sofa bahkan yang masih terbangun dan memilih langsung pulang juga ada.


“Eh, Anyelir. Kukira siapa kau,” sapa seorang teman sesama koas yang tertidur dengan kepala di atas meja. Dia terbangun karena mendengar Anyelir membuka pintu lokernya.


“Iya, ini. Aku baru selesai salat,” jawabnya.


“Mau langsung pulang sekarang atau nunggu pagi?” tanyanya.


Anyelir seketika bingung. Dia memang tak berharap sang suami menjemputnya, akan tetapi ... kenapa sekarang dirinya telah membereskan barang-barang?


“Entah. Aku menunggu jemputan saja. Mungkin sekarang, mungkin juga nanti. Kalau kamu?”


“Aku ... nanti saja, menunggu yang shift pagi datang.”


Anyelir pun membawa tasnya ke luar dari loker tempat istirahat teman-temannya tersebut. Ia tak mau mengganggu yang lain, sehingga ia memilih untuk keluar.


Namun kali ini yang membuat bingung, haruskah Anyelir menunggu?


“Kalau dia tidak datang bagaimana? Lebih baik aku menunggu di ruang istirahat tadi,” gumam Anyelir pada dirinya sendiri.


Ia ingin berkata jika dirinya sama sekali tak berharap, tapi ... apa mau dikata, hati dan pikirannya tak henti-henti memikirkan sang suami sejak semalam, juga janji dari pria tersebut yang hendak menjemputnya pagi ini.


Ia melihat beberapa dokter jaga lain ada yang baru datang dan berlalu lalang. Anyelir menunduk hingga ia hampir tertidur dan kepala yang terantuk-antuk. Hingga ia pun melihat sepasang sepatu kets laki-laki berwarna biru berada di depannya. Kemudian sebuah tangan terulur menggenggam pergelangan Anyelir dengan hangat.


“Pak Dylan,” ucap perempuan itu begitu ia mendongakkan kepala.


“Ayo pulang!” titah pria tersebut yang membuat Anyelir pun langsung berdiri dan berjalan mengikuti Dylan yang ada di depannya.


“Bisakah kau berhenti memanggilku ‘Pak’?” tanya Dylan saat mereka telah berada di dekat pintu mobil.


“Ah ... itu ....”


“Kemarin kau berbicara menggunakan kata ganti ‘Saya’ dan ‘Anda’. Lalu sekarang sebutan ‘Pak’ itu masih belum sembuh dan sangat mengganggu!” ujar Dylan sambil mencubit pipi Anyelir, lalu kemudian pria tersebut membukakan pintu.


Deg deg!


Detak jantung Anyelir menjadi lebih cepat karena hal itu. Pipinya pun seketika memerah bak bunga mawar yang siap dipetik. Merah itu entah karena merona, entah karena cubitan dari kedua jari suaminya.


“Kau mau pulang atau melamun saja di sini?”


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Dylan seketika menyadarkan si perempuan berpipi merah jambu dari lamunannya. Sejak tadi Dylan sudah membukakan pintu untuk Anyelir.


Menaiki mobil. Anyelir langsung terdiam seketika tak banyak bicara. Selain karena lelah yang ia rasakan, dirinya juga masih malu-malu kucing terhadap sang suami.


Sulit baginya untuk membuka pembicaraan, terkadang diam membisu lebih baik daripada harus berbicara, tapi malah membuat suasana semakin canggung.


Sampai akhirnya mereka sampai ke rumah, tak ada satu pun yang bicara. Masih terlihat jika Dylan sesekali menguap, bahkan ketika mereka telah berada di rumah.


“Hei, terima kasih sudah menjemputku,” ucap Anyelir sebelum perempuan tersebut masuk ke dalam kamarnya.


Dylan pun menoleh dan berbalik memperhatikan istrinya.


Perempuan dengan jaket sweater berwarna hijau tosca itu berbicara padanya, tapi bukan itu yang menarik bagi Dylan.


Laki-laki bertubuh tinggi itu berjalan menghampiri Anyelir dan langsung mengapit dagu perempuan tersebut menggunakan ibu jari dan telunjuknya. Ia menatap bagian dari Anyelir yang sangat menggodanya pagi itu.


Ya, bibir yang ranum bak buah sakura itu tak pernah sekalipun tak menggodanya. Dengan segera dia pun melahap kedua lapisan tersebut dan menyalurkan kehangatan.


Dylan mendorong istrinya itu untuk masuk ke kamar dan ia menutup pintu menggunakan kakinya.


Perempuan itu cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Dylan. Hanya saja, dia tak menolak dan memilih memejamkan mata.  Bagaimanapun juga, sentuhan yang diberikan sang suami saat ini begitu lembut dan memabukkan.


Begitu pula saat pria tersebut berusaha membuka jaket sweaternya, Anyelir hanya pasrah dan mengangkat tangannya untuk memudahkan Dylan melepas benda berwarna hijau tosca itu dari tubuhnya.


Ciuman Dylan pun turun menuju ke leher dan mereka berdua kini tengah berguling di atas ranjang kamar milik Anyelir.


Drrrrt drrrrrt.


Suara ponsel mengganggu aktivitas yang mereka lakukan. Namun Dylan tak peduli dengan suara itu, ia terus fokus untuk melanjutkan apa yang ingin ia tuntaskan pagi itu. Semalam tak bertemu Anyelir benar-benar membuat ia cukup frustasi dan tak bisa tidur karena membayangkan tubuhnya.


Drrrrt drrrrt.


“Sebentar, aku harus melihatnya.” Anyelir meraih ponsel yang ada di atas nakas.


Meski tangan perempuan yang ada di bawahnya ini sedang memegang ponsel, Dylan sama sekali tak menghentikan kegiatan.


Hingga tiba-tiba Anyelir menahan dada sang suami agar menjauh darinya dan itu membuat Dylan terkejut.


Wajah perempuan berpipi bak kelopak mawar tersebut mendadak tak baik-baik saja dan ia juga terburu-buru memunguti pakaiannya.


“Hah? Maaf, aku harus pergi!”