
Jalannya mediasi tidak sesuai dengan keinginan Dylan sama sekali. Kuasa hukum Andin menyudutkan rumah tangga yang mengatakan jika kebersamaan mereka tak bisa dipertahankan lagi.
Andin tidak bisa hadir karena alasan sakit, padahal Dylan tahu jika wanita yang sebenarnya masih sah menjadi istri pertamanya itu sedang berlibur ke Bali.
“Saya tahu dia tidak sakit, dia hanya sedang berada di Bali. Beri tahu saya di mana dia berada, saya akan membawanya pulang.” Dylan bersikukuh untuk bertemu Andin. “Saya akan berbicara dan mendengar dari mulutnya sendiri, jika Andin memang tidak ingin bersama saya. Karena saya masih yakin, apabila istri saya tersebut sedang dalam pengaruh orang lain.”
Kuasa hukum Andin pun tidak mau menyerah. “Anda tidak bisa mendatangi klien saya dengan cara yang seenaknya. Anda bisa kami tuntut atas tuduhan penguntitan jika masih memaksa untuk melakukannya.”
“Sudah cukup. Pak Dylan, di sini sudah ada surat keterangan dari dokter yang menyatakan jika Bu Andin tidak bisa datang karena beliau sedang sakit? Dan bukti ini sudah saya anggap cukup,” ucap sang mediator menengahi.
Lalu melanjutkan lagi perbincangan dan Dylan merasa semakin dipojokkan saat kuasa hukum Andin menunjukkan sesuatu.
“Saudara tergugat telah menikah lagi setelah klien saya pergi dari rumah. Hal ini menunjukkan jika tergugat memang menginginkan klien saya untuk pergi,” jelas sang kuasa hukum Andin.
Dylan tercengang saat foto pernikahannya dengan Anyelir ada di sini.
“Saya terpaksa melakukan pernikahan ini dan Andin tahu itu, dia sangat mengerti akan kondisiku yang terpaksa melakukannya.” Dylan membela diri. “Lagi pula, siapa yang memberikan gambar-gambar ini? Tidakkah bapak berpikir jika gambar ini diambil dan digunakan secara ilegal?” Pria itu tak terima jika pernikahannya dengan Anyelir diabadikan oleh siapa pun.
Dylan mengamati sudut pengambilan gambar dari semua foto-foto tersebut. Jika dilihat dari setiap foto, sepertinya kamera tersebut berada di dekat pintu yang menghubungkan antara ruang tamu dan ruang keluarga. Lalu akad nikah dadakan saat itu dilaksanakan di ruang keluarga yang tempatnya lebih luas.
Tapi masalahnya, siapa?
Akad nikah itu hanya dihadiri oleh para saudara. Apakah ada saudara-saudaranya yang berkhianat padanya? Atau mungkin, si pengambil gambar itu adalah para pelayan yang bekerja di rumahnya?
“Foto ini tidak ilegal, karena dimiliki oleh Bu Andin secara pribadi. Dan lagi ini tidak disebarkan ke publik, namun digunakan untuk kepentingan mendesak,” bela kuasa hukum Andin.
“Baik, jika dilihat dari fotonya ... lalu mendengar reaksi Anda tadi, sepertinya memang benar ini adalah pernikahan Anda dengan wanita lain.” Sang mediator pun membenarkan ucapan kuasa hukum Andin.
“Tapi, Pak. Saya akan menceraikan istri kedua saya demi Andin!” Dylan memohon-mohon.
Namun apa pun yang dilakukan oleh Dylan, yang jelas mediasi kali ini dianggap gagal.
Pihak penggugat yang diwakili oleh kuasa hukum maupun pihak tergugat yang dihadiri secara pribadi pun meninggalkan ruang mediasi.
Dylan pun merasa kesal dan memutuskan untuk pulang.
Saat ia berjalan ke parkiran dengan hati yang gusar, dia melihat pada sang kuasa hukum Andin. Lalu dengan terburu-buru pria itu pun mendekat dan mencoba untuk bernegosiasi.
“Pak, saya mohon, beritahu keberadaan Andin pada saya. Saya harus bertemu dengannya. Saya mohon, ini sangat mendesak.”
Kuasa hukum mencoba bersikap profesional, dia pun menggelengkan kepala. “Maaf, Pak Dylan, saya tidak bisa membocorkan privasi dari klien saya.”
Kuasa hukum itu urung masuk mobil, dia bahkan menutup kembali pintu mobilnya dan berdiri menghadap Dylan dengan tegak. “Pak, Bu Andin menghubungi saya secara pribadi. Kami bertemu empat mata dan saya tidak melihat jika Bu Andin sedang dalam pengaruh orang lain saat mendatangi saya dan meminta perwakilan saat mediasi pertama ini. Lagi pula Bu Andin saat ini sedang sakit, jadi Anda jangan menambah beban pikirannya. Selain itu, jika Anda terus menerus bersikap seperti ini, maka saya akan benar-benar melaporkan Anda.”
Dylan pun terpaksa mundur. Hatinya terpukul karena pernyataan pengacara Andin barusan. Sedikit pun ia tak pernah percaya jika sang istri tersebut benar-benar ingin bercerai darinya.
Pria itu akhirnya meninggalkan kantor pengadilan agama dan berusaha menghubungi Anyelir.
Dia pun duduk di belakang kemudi sambil mengeluarkan ponselnya. Saat hendak menghubungi Anyelir, pria itu melihat jika foto profil milik Anyelir telah berganti. Dalam foto itu, baju yang dikenakan Anyelir adalah baju yang ia gunakan saat keluar menuju optik tadi, itu artinya foto ini baru saja diambil. Namun ada yang berubah, cara Andin mengikat rambut, dandanan dan lensa kontaknya.
Pria itu melakukan zoom in dan zoom out pada foto Anyelir dan mencibirnya. “Hih, sok cantik!”
Saat melihat wajah itu, Dylan mendadak kembali teringat mengenai insiden saat mereka berpisah sebelum pria itu memutuskan untuk menghadiri mediasi. Dia tak menyangka jika Anyelir marah seperti itu sampai berani mengumpatnya.
“Akhirnya keluar juga wajah aslinya,” ungkap Dylan sambil tersenyum miring. “Aku sudah menduga jika kau tak sebaik itu, Anyelir!”
Ia pun urung untuk menghubungi Anyelir. Dia tak peduli jika wanita itu akan pulang bersama siapa, masa bodoh jika dirinya akan dimarahi orang tuanya lagi atau bagaimana. Harinya saat ini sudah cukup buruk untuk dilalui.
*
Malam belum terlalu larut, Anyelir pulang dari toko optik setelah ia berjalan-jalan sendirian. Entah kenapa tiba-tiba dia mau saja menuruti saran dari Lina untuk berjalan-jalan memanjakan diri.
Setelah turun dari bus, Anyelir memutuskan untuk berjalan saja dari halte menuju ke rumah mewah keluarga Gunadi Bagaskara. Perempuan itu membawa tas kecil di tangannya, juga tas selempang yang bertengger di bahunya.
Begitu ia datang dan sampai di gerbang rumah tersebut, sang satpam pun melihat Anyelir.
“Loh, Bu, kok jalan kaki?” tanya satpam tersebut.
“Oh, nggak apa-apa. Tadi turun di halte sana,” jawab Anyelir dengan wajah lelahnya.
Begitu ia hendak masuk gerbang, sebuah cahaya mobil menerpa wajahnya dari arah seberang. Anyelir berjalan menepi tanpa menggubris itu mobil siapa yang datang dan ikut masuk ke rumah.
Mobil itu pun terparkir di depan pintu masuk keluarga Gunadi, sementara itu Anyelir hanya berjalan terus tanpa peduli dengan pria yang baru saja turun dari sana.
Keduanya masuk bersama, Dylan tahu jika Anyelir juga tiba di saat yang sama. Sementara Anyelir, meskipun tahu namun dia tak peduli.
“Bu,” sapa Dylan yang melihat ibunya keluar dari rumah.
“Anyelir, kamu cantik banget.” Lastri begitu antusias melihat menantunya itu.
Dylan pun menoleh dan melirik lagi pada perempuan yang langsung mengambil alih perhatian ibunya. “Tukang pencitraan, dasar!”