
Tak cukup dengan mengumpat, Dylan harus melakukan sesuatu untuk mobilnya yang rusak. Motor yang lewat tadi benar-benar membuatnya terkejut. Terpaksa ia menepi dan perjalanannya pun terganggu.
Mengambil ponsel dan hendak memanggil derek. Namun ternyata, malah nomor Anyelir yang muncul memanggilnya.
“Pak Dylan ... Pak Dylan ... Sekarang kamu di mana? Kau baik-baik saja?” Suara Anyelir terdengar panik dari telepon.
Dylan terkejut mendengar Anyelir yang tahu jika sedang terjadi sesuatu padanya. “Aku tidak apa-apa, hanya ....”
“Hanya apa? Sungguh kamu tidak apa-apa? Sekarang kau berada di mana? Aku ke sana, ya.” Anyelir memberondong Dylan dengan berbagai pertanyaan dan berniat untuk menghampiri pria itu.
Dylan benar-benar tak mengerti, kenapa Anyelir sekhawatir itu padanya. Padahal dia tak memberitahu kepada siapa pun jika dirinya sedang terkena musibah. Pria itu juga mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari barang kali ada orang yang dikenal oleh mereka dan melihat Dylan sedang celaka, sehingga Anyelir bisa tahu dari orang tersebut.
Tapi siapa?
Tak ada orang yang ia kenal di sekitarnya.
“Halo, Pak Dylan. Kamu masih di sana? Kamu benar-benar tak apa-apa?” tanya Anyelir lagi yang panik karena Dylan mendadak diam.
“Ah, iya. Aku baik-baik saja. Aku ada di jalan Cendrawasih, tapi ... sepertinya mobilku masih bisa dikendarai.”
“Kau benar tak apa?” tanya Anyelir lagi. Perempuan itu bergetar suaranya saat menanyakan hal tersebut.
Dylan diam saja, ia tak tahu kenapa Anyelir bisa memiliki firasat jika dirinya sedang mengalami kecelakaan ringan.
“Aku, baik-baik saja,” jawab Dylan sekali lagi. “Aku akan melanjutkan perjalanan ke kantor. Sepertinya, biar nanti mobil dereknya datang ke kantor saja.” Dylan melanjutkan ucapannya.
Akhirnya mereka pun mengakhiri panggilan dan Dylan kembali masuk ke dalam jalur lalu lintas untuk melanjutkan perjalanan.
*
Pria itu mengendarai mobil dengan pintu di bagian kanan depan yang penyok. Belum lagi lampu sein belakang rusak dan pintu belakang juga lecet. Pengendara motor yang menyerempetnya tadi langsung kabur dan menyelinap di antara ratusan mobil yang sedang terjebak dalam kemacetan.
Dylan tak sempat meringkus pengendara tersebut, akan tetapi semua kejadian ada dan terekam dalam kamera dashboard. Mungkin dia akan meminta bagian kepolisian untuk mengusut pelaku tersebut, meski asuransi telah mengganti biaya perbaikan, setidaknya pria tersebut perlu mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Pak Dylan!” Pria itu terkejut karena kedatangan perempuan yang tadi meneleponnya dengan nada yang sangat khawatir.
“A ... Anyelir? Kenapa kau datang kemari?”
Perempuan itu tak menjawab dan langsung berlari ke arah Dylan. Perasaannya kacau dan panik bercampur menjadi satu. Melihat pria yang ia khawatirkan sejak tadi bisa berdiri dengan tegak tanpa lecet dan kurang suatu apa pun, membuat dirinya bisa bernapas lega.
Meski ancaman teror hutang Joni masih menghantui, setidaknya pria di depannya itu tidak celaka dan sehat seperti semula.
“Aku mengkhawatirkan dirimu,” ucap Anyelir sambil terisak dan memeluk Dylan.
Pria dengan bahu tegap itu seketika merasa ada sesuatu yang hangat ikut merasuk ke dalam jantungnya, seiring dengan pelukan Anyelir yang tiba-tiba. Sejenak ia mematung, sambil melihat pucuk kepala perempuan tersebut yang tepat berada di bawah dagunya.
Tangannya pun perlahan terulur ke depan, kemudian melingkar dan membalas pelukan sang istri. Ini adalah kali pertamanya mereka berpelukan. Iya, berpelukan yang sebenarnya. Ada rasa canggung dalam diri Dylan, tapi juga perasaan menenangkan yang lebih tenang dibanding saat ia bersama Andin.
Dalam diri Anyelir seakan ada magnet yang kuat menarik dirinya. Sulit untuk mengatakan tidak suka dari hati yang terdalam. Meski bibirnya terus menolak dan berkata tidak, hanya saja alam bawah sadar telah terbuai dan terlena akan kelembutan perilaku Anyelir yang memberinya kenyamanan.
“Ah, maaf!” Perempuan itu dengan segera melepaskan pelukan dari suaminya. Ia juga langsung mengusap air mata yang menetes di pipi menggunakan punggung tangannya. “Aku hanya ... hanya ....”
Ketika Anyelir kebingungan menjelaskan alasan dari kenapa dia memeluk Dylan secara tiba-tiba, pria tersebut yang sekarang memeluk Anyelir lebih dahulu. Ia melingkarkan tangan di sekujur tubuh mungil Anyelir dan mengecup pucuk kepalanya. Lebih erat dari sebelumnya, seakan pria itu tak mau melepas lagi.
Saat dirinya merasa begitu dihargai dan diinginkan, lalu dikhawatirkan kala musibah kecil melanda.
Bukannya ia tak pernah mendapat hal semacam itu saat bersama Andin. Istri pertamanya itu juga begitu mencintainya, akan tetapi selama ini ....
Dylan baru benar-benar mengerti sekarang, bagaimana rasanya dicintai dan diperjuangkan.
*
Tok tok tok
Kesyahduan tersebut berlangsung dalam beberapa menit saja, mereka segera usai karena mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan.
Anyelir duduk di sofa dan kemudian Dylan kembali pada bangkunya.
“Masuk!” ujar Dylan menimpali ketukan pintu.
Daun pintu pun terbuka, Tera muncul di baliknya diikuti oleh sepasang suami istri paruh baya dengan wajah tegang penuh kekhawatiran.
“Dylan, kau tak apa?” tanya Lastri yang langsung menghampiri anaknya dan melihat sekeliling tubuh sang putra.
“Kamu di sini juga rupanya, Anyelir?” Sebuah suara serak bertanya pada seorang perempuan yang sedang duduk.
Anyelir menjawab dengan anggukkan singkat.
Melihat anaknya baik-baik saja, Lastri pun langsung duduk di sofa bergabung dengan sang suami dan menantu. Ia membenarkan kacamata miliknya sedikit sambil menatap mereka berdua.
“Dari mana kalian tahu ada yang telah menyerempet mobilku?” tanya Dylan sambil duduk di sofa kantornya.
“Jadi ... mobilmu itu ada yang menyerempet?” Gunadi balik bertanya. Pasalnya ia tadi hanya tahu kabar ini dari sang sopir.
“Hmmm, seorang pengendara motor yang melakukannya. Bapak dan ibu tak perlu khawatir. Semua baik-baik saja.” Dylan mencoba menenangkan.
“Mobilmu dengar-dengar masuk bengkel?” tanya Lastri yang masih dipenuhi kekhawatiran.
Dylan mengangguk. “Ya, tadi mobil derek yang membawanya.”
“Si pembawa motor itu, sudah ditemukan?” Gunadi bertanya sambil mengangkat sebelah kakinya. Dia menilai bahwa hal ini termasuk tindak kriminal tidak bertanggungjawab yang harus diusut dengan tuntas.
“Aku menyerahkan pada pihak kepolisian juga, mereka yang mengusut tadi. Kerusakannya cukup parah, jika aku sedang mengebut tadi, mungkin aku akan menabrak sesuatu dan dia tidak akan selamat.” Dylan menjelaskan sambil mengingat-ingat kejadian beberapa jam yang lalu.
“Lantas, pembawa motor itu bisa kabur tanpa lecet?” tanya Anyelir yang terdengar ikut kesal.
“Aku melihat ada kaca spion motor jatuh, sepertinya itu milik orang tersebut,” jawab Dylan.
“Syukurlah kau tidak apa-apa. Tadi sopir Anyelir tiba-tiba kembali ke rumah dan mengatakan kamu kecelakaan, otomatis kami semua panik dan langsung berusaha kemari!”
Nyonya Lastri menatap pada menantunya. “Tapi ... ibu berterima kasih padamu, karena sudah memiliki firasat yang kuat sebagai seorang istri dan tahu ketika suaminya sedang dalam musibah.”
Anyelir hanya bisa diam mendengar ucapan Lastri.
Apakah ia pantas diberi ucapan terima kasih? Padahal dirinya adalah penyebab kecelakaan itu terjadi.