Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
64. Rio yang Sakit


Keesokan harinya, mereka telah kembali pada kegiatannya masing-masing. Anyelir telah sembuh kembali dan Dylan tetap harus bekerja seperti biasa karena banyak hal yang dia urus di kantornya.


Seperti biasa, sebelum ia berangkat ke rumah saki untuk menjalankan shift pagi, Anyelir menemui anaknya terlebih dahulu. Dia akan memandikan bocah kecil itu lalu menyuapinya, baru setelah itu Anyelir bisa tenang meninggalkan Rio di rumah.


Akan tetapi, ada yang berbeda dengan Rio di hari itu. Kali ini wajah anak itu pucat dan Rio susah sekali dibangunkan.


“Ma ... ma ....” Rio memanggil Anyelir dengan suara yang lemah. Bocah laki-laki itu memeluk sang ibu dan ia enggan untuk bangun.


“Sayang, buka matamu,” pinta Anyelir sambil mengusap dahi Rio menggunakan tangan kirinya.


Rio masih saja terpejam sambil menyandarkan kepala ke dada Anyelir.


Perempuan itu pun menurunkan kelopak mata bawah Rio dan terlihat bagaimana warna merah muda dari bagian dalam mata mendominasinya. “Tidak, bukannya baru saja kamu mendapatkan donor darah?” gumam Anyelir seorang diri.


Anyelir memeluk Rio sambil menangis. Dia mengingat dirinya sendiri yang masih belum berhasil mengandung adik untuk anak sulungnya ini. Perasaan bersalah itu pun kembali menghantuinya.


Karena tidak kunjung turun, Dylan pun berinisiatif untuk melihat sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh anak dan istrinya tersebut sehingga mereka membutuhkan waktu cukup lama. Pria itu berjalan naik ke lantai dua, kamar Rio bersebelahan tepat di samping kanan kamar Anyelir. Jika dari arah tangga, maka belok sedikit ke arah kanan, karena yang bertepatan di depan tangga adalah kamar Anyelir.


Begitu ia membuka pintu kamar, dari celah ia dapat melihat jika Anyelir sedang memeluk Rio sambil menangis.


Dylan pun dengan segera menghampiri dan menanyakan apa yang sedang terjadi. “Kenapa dengan Rio?”


Anyelir tak menjawab, perempuan itu hanya mendongak dan menatap ke arah Dylan, kemudian ia berdiri. “Kita bawa Rio ke rumah sakit, dia mengalami anemia lagi dan tubuhnya sangat dingin dan lemas.”


Mendengar hal tersebut, Dylan segera menghampiri anaknya dan melihat kebenaran dari ucapan sang istri.


“Kita harus segera membawanya.”


Dylan pun turun sambil menggendong Rio, sementara Anyelir membawa berbagai perlengkapan yang dibutuhkan karena ia yakin jika anaknya nanti perlu untuk dirawat inap di rumah sakit.


Tentu saja, kedatangan Dylan sambil memboyong Rio ke lantai menggegerkan anggota keluarga Bagaskara yang sedang bersiap untuk sarapan. Mereka tak menyangka jika akan terjadi sesuatu pada Rio di hari ini.


“Apa yang terjadi?” Nyonya Lastri sudah jelas akan menjadi yang paling panik dari semua yang ada di sana.


Perempuan itu sampai terlihat bingung menggerakkan tangannya sendiri. Dia menghampiri Dylan dan melihat cucunya terpejam dengan wajah yang pucat dalam gendongan papanya.


“Kenapa dengan Rio?”  tanya Tuan Gunadi yang melihat itu dengan khawatir.


Dylan tak menjawab satu pun pertanyaan bernada panik itu. Ia hanya berlari keluar dan menghampiri mobilnya.


Sementara itu, Anyelir menyusul berlari di belakang Dylan.


“Apa yang terjadi, Anyelir?” tanya Nyonya Lastri, ketika ia tak mendapat jawaban dari dylan maka ia menanyakan pada Anyelir.


“Rio mendadak terkena anemia, Bu. Padahal baru dua hari yang lalu dia menerima donor darah, tapi hari ini wajahnya pucat dan tubuhnya dingin.” Anyelir menjelaskan hal tersebut sambil berlari mengejar Dylan.


Ketika Dylan membawa Rio dalam mobil, Anyelir pun bergabung dengannya.


Sementara itu, Lastri dan Gunadi menyusul mereka menggunakan mobil yang lain. Semuanya cukup panik karena kondisi Rio.


*


“Penyakit Rio sudah semakin parah, setidaknya tahun ini, dia harus menjalankan terapinya. Saya waktu itu sudah menyarankan mengenai jenis terapi untuk penyembuhan Rio, apa kali ini ibu sudah menunjukkan tanda-tanda?” tanya dokter tersebut.


Semuanya mengerti maksud dari sang dokter.


Nyonya Lastri dan Tuan Gunadi pun menatap pada pasangan yang sedang duduk berdampingan tersebut.”


“Bagaimana, Dylan?” tanya Tuan Gunadi dengan suara serak dan beratnya.


Dylan belum mengeluarkan suara, dirinya sendiri malah menatap sang istri yang tampak kebingungan untuk memberikan jawaban. Karena hari kemarin, Anyelir justru sedang datang bulan, jelas sekali jika wanita itu belum mengandung anak dari Dylan lagi.


“Kami sudah berusaha, Dok,” jawab Dylan mewakili Anyelir.


Pria itu menggenggam tangan perempuan di sampingnya, hingga Anyelir menoleh dan bertanya-tanya akan maksud dari perilaku sang suami tersebut.


Sang dokter pun mengangguk. “Kalau bisa, saya harap kalian melakukan program kehamilan dipandu dengan dokter kandungan. Apa kalian sudah mencobanya?”


Dylan menggeleng. “Kami belum mencobanya,” jawabnya.


Pembicaraan dengan sang dokter pun selesai dan setelah itu wajah Anyelir sangat murung akibat memikirkan Rio.


Di sisi lain, Rio dirawat di rumah sakit tempat Anyelir menjadi koas. Tentu saja, banyak teman-teman dari perempuan itu yang melihat dirinya berada di tengah keluarga Bagaskara. Sebagian besar dari kawan-kawannya, mengenal keluarga pengusaha yang termasuk konglomerat Indonesia. Karena hal itulah, berbagai desas-desus tentang Anyelir pun mulai menyebar bagai tertiup angin.


Seakan menjadi bumbu, berita tentang Anyelir pun melengkapi berita tentang kepergian Andin bersama Wira yang sebelumnya telah ramai diperbincangkan di media masa.


Berbagai berita dengan tajuk utama tentang seorang model yang berselingkuh karena sang suami konglomeratnya melakukan poligami pun menyirami setiap laman berita. Bahkan ketika sekedar ingin membuka media sosial pun, yang muncul adalah berita tentang hal itu.


*


Di rumah keluarga Bagaskara, semua orang berkumpul membahas kondisi Rio yang semakin tidak baik-baik saja.


“Anyelir, sepertinya ibu sarankan kamu untuk mengambil cuti saja. Mungkin kamu belum hamil juga karena kelelahan. Ibu sering melihat kamu pulang dengan wajah yang begitu letih, jadi ibu harap kamu sekarang istirahat saja dan mengambil cuti. Biar Dylan yang mengurus semuanya ke kampus.” Nyonya Lastri menyarankan hal tersebut.


Dylan pun mengangguk, mengikuti saran dari sang ibu. Bukan sekedar saran, tapi perintah.


Mau tidak mau, Anyelir harus mengikutinya. Meski sejak awal, Anyelir memang berniat untuk cuti. Tapi nanti, niat Anyelir adalah cuti saat nanti dirinya tengah positif hamil. Hanya saja, karena saran sang ibu mertua, Anyelir pun menurut dan memutuskan untuk cuti sejak awal saja.


Malam itu, Nyonya Lastri yang memutuskan untuk menginap di rumah sakit menemani sang cucu. Dia cukup mengerti, karena anak dan menantunya harus melakukan tugas mereka malam ini. Sehingga tugas untuk menjaga Rio setiap malam, tidak akan dibebankan pada mereka.


Sementara itu, Anyelir sendiri merasa gelisah. Dia terburu-buru ingin memberikan adik untuk Rio, tapi sayang sekarang dirinya sedang kedapatan siklus bulanan sehingga ia tak bisa melakukan apa-apa.


Ketika ia sedang gelisah sambil menatap rembulan melalui jendela, Anyelir merasakan ada sebuah tangan yang cukup hangat melingkar di pinggangnya.


Perempuan itu tak menoleh, karena orang di belakangnya meletakkan dagu tepat di atas kepalanya.


Sudah jelas orang itu adalah Dylan. Dari aroma parfum dan juga cengkeraman jari-jarinya, Anyelir mulai mengenal pria tersebut meski tidak melihatnya.


Dylan pun mengusap dua tangan Anyelir yang berada di depan. Pria itu juga mengatakan sesuatu tepat di telinga Anyelir. “Jangan gelisah dan tak perlu buru-buru, besok kita datang untuk konsultasi ke dokter kandungan.”