
Karena telepon yang diterima oleh Dylan begitu lama, entah apa yang pria itu bicarakan. Akhirnya Anyelir pun memutuskan untuk urung melakukan konsultasi dengan sang dokter. Beruntung dia sedikit mengenal pada perawat yang bekerja mendampingi dokter kandungan tersebut.
Anyelir kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan. Setelah itu, dia sama sekali tak menemui Dylan lagi. Bahkan pria itu juga tak menanyakan ke mana dirinya pergi.
“Mungkin semua ini tidak terlalu penting baginya,” gumam Anyelir seorang diri.
*
Sore hari setelah Anyelir datang kembali ke rumah keluarga Bagaskara. Suasana rumah keluarga tersebut terlihat tak menyenangkan lagi. Namun kali ini, ada seorang pria tua yang wajahnya kurang familiar di mata Anyelir.
“Pak, kumohon ... jangan marahi Dylan lagi jika nanti dia datang,” ucap Nyonya Lastri ketika Anyelir menginjakkan kaki di ruang tengah.
Pria tua dengan kumis berwarna putih itu tak menjawab apa-apa. Dia hanya menatap tajam ke arah pintu masuk. Bukan ke arah Anyelir, melainkan pintu masuk dengan seseorang yang juga baru datang tepat setelah kedatangan Anyelir.
Dokter muda itu pun menoleh, ternyata itu adalah Dylan.
“Berita apa yang kudengar ini Dylan!” bentak pria tua itu pada anak laki-laki semata wayangnya.
Dylan menatap pada ibunya, sementara itu sang ibunda justru memalingkan muka seakan tak ingin membantu anaknya untuk menjawab pertanyaan.
“Ibu! Bagaimana semua ini bisa terjadi tanpa kauberitahu padaku? Hah?” Pria itu masih mengeluarkan amarahnya.
Anyelir bahkan tak berani bergerak satu senti pun dari posisinya. Suasana menyesakkan apa ini yang tengah ia rasakan?
Pria tua itu kembali menatap tajam ke arah Dylan. “Kalian sudah menganggapku mati?” tanyanya dengan suara yang keras. Dia juga meremas pada pegangan kursi yang terbuat dari kayu jati itu.
“Bapak, maafkan aku!” Dylan langsung berlari menghadap pada pria tersebut kemudian berlutut.
“Kau!” Kini pandangan pria yang sedang menatap kejam itu beralih pada Anyelir. “Kau adalah ibu kandung Rio?” tanyanya dengan nada yang lebih dingin daripada yang biasanya Dylan lakukan pada Anyelir.
Anyelir mengangguk dengan kepala yang menunduk. Ia tak menjawab menggunakan suara.
“Kau ini wanita tidak punya otak atau bagaimana? Kenapa bisa kau merelakan anakmu diasuh wanita lain, sementara dirimu tak dianggap istri oleh suami sendiri?” bentaknya pada Anyelir.
Seketika keringat dingin mengucur di belakang punggung wanita itu. Ia baru saja datang dari tempat koas di rumah sakit. Belum lagi saat hendak konsultasi pada dokter kandungan dia mengalami hal buruk karena Dylan yang terlalu mementingkan Andin. Sekarang tiba-tiba ia dibentak oleh pria tua yang tak ia kenal, namun sepertinya pria ini memiliki kedudukan yang berpengaruh dalam keluarga Bagaskara.
“Pak, Pak, jangan marahi Anyelir. Dia tidak salah apa-apa. Yang salah di sini itu anakmu, Pak.” Nyonya Lastri berusaha melindungi Anyelir dari amukan suaminya. “Tapi ... kau jangan marahi Dylan juga.”
“Tentu saja, kalian berdua yang akan kumarahi dan kutanyai habis-habisan!” tegasnya pada istri dan anaknya.
“Iya, Pak. Iya. Tanyai saja kita berdua.” Nyonya Lastri mengibaskan tangannya untuk memberi kode karena ia menyuruh Anyelir untuk segera pergi.
Bi Ai pun segera menggandeng Anyelir agar segera meninggalkan ruangan tersebut.
Karena tidak tahu apa-apa, Anyelir pun menurut saja dan ia masuk ke dalam kamar bersama Bi Ai.
Sementara itu, Dylan malah merasa gusar karena ucapan sang ibu yang terkesan membela Anyelir daripada dirinya.
“Pak, aku terpaksa melakukan ini. Kumohon maafkan aku!”
Gunadi Bagaskara adalah kepala keluarga Bagaskara. Perangainya sungguh keras, namun ia begitu lembut pada perempuan. Pria ini begitu tegas dalam mengambil keputusan dan tak bisa diganggu gugat.
Dia menobatkan diri untuk tidak akan pernah jatuh cinta, namun pilihannya justru jatuh pada Lastri yang saat itu masih berusia cukup muda. Setelah mencintai seorang wanita, pria itu begitu setia dan menunjukkan sedikit sisi lembutnya. Meski jika berhadapan pekerjaan dan musuh-musuhnya dalam berbisnis, dia tak akan segan untuk kembali menjadi pribadi yang sebelumnya.
Untuk itu, Gunadi sangat tidak memberi toleransi pada anaknya yang mempermainkan dua orang perempuan tanpa sepengetahuannya.
PLAK
Tangan berkulit kasar dan tebal itu mendarat dengan begitu keras di wajah tampan milik Dylan.
“Bapak!” Lastri menjerit hendak melindungi anaknya. Dia pun menangis sejadi-jadinya karena merasa ikut bersalah dan andil dalam kasus ini.
“Jelaskan padaku apa yang telah kauperbuat pada dua perempuan itu!” Suami dari Nyonya Lastri tersebut mengeratkan rahangnya hingga mulutnya terlihat bergerak-gerak sedikit menunjukkan kebengisannya.
Tentu saja Dylan diam saja. Pria itu merasakan bau darah di sekitar hidungnya. Tangannya pun bergerak dan mengusap sesuatu yang sepertinya keluar dari sekitar indra penciumannya itu. Noda merah membekas di punggung tangan dan jari-jarinya.
“Jika kau mencintai Andin, pertahankan wanita itu tanpa perlu membuat anak dari wanita lain. Tapi jika membutuhkan anak, maka nikah perempuan yang bersedia mengandung anakmu tanpa menduakannya!” bentak pria tersebut sambil bersiap mengepalkan tangannya lagi. “Apalagi kau sampai membuangnya setelah keinginanmu terpenuhi!”
“Bapak, cukup, Pak.” Lastri memeluk sang suami yang sudah dua minggu terakhir tidak pulang karena sedang ada bisnis di daerah Timur Tengah tersebut.
“Kenapa kau membela anakmu?” Kali ini tatapan bengis jatuh dan menikam pada Lastri.
Wanita paruh baya itu kembali menciut dan melepaskan pelukannya. Dia juga merasa bersalah karena dirinyalah yang memaksa adanya seorang pewaris dari anaknya. Apalagi, ia menggunakan hak waris Dylan sebagai ancaman.
“Pasti kau yang memaksa Dylan agar memberi keturunan, kan?” tanya Gunadi sambil menunjuk ke wajah sang istri.
“Tapi ..., Pak. Itu bukan keinginanku seorang. Kau juga pernah berkata ingin segera menginginkannya, bukan?” Lastri membalik pertanyaan.
Hidung Gunadi menjadi kembang kempis dengan dada yang naik turun sesuai dengan ritme pernapasannya.
“Aku hanya menginginkannya, bukan berarti memaksanya. Bahkan dulu saat kita menikah, pernahkah aku memaksamu untuk mengandung anakku? Saat kau berkata ingin memiliki satu anak saja, pernahkah aku memaksamu untuk melahirkan lagi?” Pria itu balik bertanya.
Lastri pun menunduk, ia mengaku ia salah. Namun tak mungkin bagi wanita paruh baya itu untuk mengakui.
“Panggil istri keduamu sekarang juga!” titah Gunadi dengan nada yang tinggi.
Tak ada pelayan yang berada di sekitar mereka karena tadi pria tua itu mengusir semuanya agar menjauh dari ruang tengah. Sehingga tak ada satu pun yang melaksanakan perintah Gunadi untuk memanggil Anyelir.
“Dylan! Panggil wanitamu itu sekarang juga!”
Dylan masih tak bergeming dari tempatnya.
“Biar ibu saja yang memanggilkan, kau bisa diam di sini.” Lastri hendak berdiri untuk menggantikan tugas anaknya. Hanya saja, sang suami menekan pundak wanita itu dan mencegahnya untuk berdiri.
“Aku memerintah padamu, Dylan!”