
Anyelir berjalan ke arah pintu yang tentu saja dicegah oleh Dylan.
“Hei!” Pria itu menarik tangan Anyelir dan menahannya.
Perempuan itu pun berhenti berjalan dan menatap pada Dylan yang sedang menahan pergelangannya. Dia tidak memberontak walau sebenarnya ingin. Rasanya ada yang mendebarkan dalam hatinya jika Dylan mencegah dia pergi seperti ini. Hal seperti ini jarang terjadi dalam hidupnya. Diinginkan oleh orang yang ia cintai.
Dylan sendiri terkejut akan refleksnya menahan pergelangan Anyelir. Sebagian hatinya berkata jika ia tak bisa membiarkan perempuan ini pergi dalam keadaan marah padanya.
“Tinggallah di sini, sebentar lagi aku selesai dan hendak pulang,” ucap Dylan dengan nada yang melembut. Dia berkata demikian tentu sambil membuang muka dari istrinya itu.
Anyelir tak menjawab, ia hanya diam sambil memegangi perutnya yang lapar.
Menyadari hal itu, Dylan langsung melepas tangan Anyelir dan mengeluarkan ponselnya. “Aku akan memesankan makanan untukmu. Kaumau apa?” tanya Dylan dengan nada yang dingin. Walau tidak ketus, tapi dia tidak berekspresi sama sekali.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, Anyelir tak mau menjawab apa makanan yang ia inginkan, dia hanya terdiam dan membiarkan Dylan berasumsi tentang makanan kesukaannya.
Dylan ingin geram dan melampiaskan amarah, tapi tak bisa ia lakukan. Terlebih, bagaimana jika Anyelir mengadu perilakunya pada sang ibu. Nyonya Lastri terang-terangan berbicara di telepon saat sambil makan sup iga tadi. Dia berkata, jika kelanggengan investasi sang nyonya pada perusahaan Dylan, tergantung pada sikap Dylan ke Anyelir. Juga saham-saham milik Dylan, akan menjadi milik sang istri jika dirinya berani menyakiti Anyelir.
Entah kenapa sang ibu bersikap demikian, yang menurut Dylan, Nyonya Lastri sangat berlebihan pada Anyelir.
“Aku memesan makan malam untukmu. Jadi tinggallah sebentar lagi, sampai aku pulang,” ujarnya.
Anyelir sama sekali tak mengerti, apa fungsi keberadaan dirinya berada di sini. Diam dan duduk menunggu pria tersebut bekerja. Perempuan itu melamun sambil mengamati wajah tampan itu begitu serius membuka dokumen di tangannya.
“Aku ... makan di kantin saja,” ucap Anyelir. Selain karena ia terlalu lapar, ia juga akan merasa canggung jika harus makan dalam satu ruangan yang sama dengan Dylan.
“Aku memesan makanan dari kantin kantor ini, tak akan lama. Diam saja dan jangan bicara lagi! Kau mengganggu konsentrasiku,” sinis Dylan sambil menunjuk Anyelir menggunakan pulpen.
Anyelir pun tak punya pilihan, dia duduk sambil melihat artikel berita dari ponselnya. Namun tak terlalu lama, ada seseorang mengetuk pintu disertai dengan sebuah kereta dorong untuk membawa makanan ke hadapannya.
“Silakan, Bu.”
Ada banyak makanan yang diantar ke dalam ruangan tersebut. Dylan memesan lebih dari lima menu yang ia sukai di kantin itu, karena tak tahu apa makanan yang disenangi oleh istri keduanya itu.
“Ini ... semua?” Anyelir terkejut.
“Iya, ini untuk ibu, silakan dimakan.”
Anyelir pun melongo sambil menatap pada suaminya. “Apa dia pikir aku ini adalah b4bi apa?” Dia pun terpaksa memberikan senyum pada orang yang mengantar makanan, meski di hatinya dongkol.
Bukan maksudnya tak bersyukur, hanya saja ... ini keterlaluan. Anyelir pun makan salah satu menu yang tersaji. Ia memilih mi dengan ayam goreng saja. Anyelir makan tanpa menawari pada Dylan, dia tahu jika pria itu tak akan mau makan bersama dengannya.
Asal perutnya terisi, perempuan itu tidak jaga image juga. Meski sedikit risi saat mengunyah karena ada Dylan di depannya.
Dalam pikiran wanita itu juga teringat pada Rio. Dia telah berjanji jika malam ini akan tidur bersamanya lagi. Namun jika ia pulang terlalu larut, mungkin Rio sudah tertidur lebih dulu. Anyelir tidak mau mengecewakan anaknya.
Mi panjang itu ia potong menjadi lebih pendek dan muat di mulutnya. Anyelir memasukkannya sedikit demi sedikit dalam mulut, hingga telah habis setengahnya. Begitu pula ayam goreng tersebut, sendok dan garpu miliknya dengan terampil memotong daging paha hingga telah habis menyisakan bagian tulang saja.
Anyelir menyerah, ia meletakkan piring tersebut kembali ke atas meja. Entah akan dijadikan apa makanan yang lain. Dia tak sanggup menghabiskan.
Karena menyadari hal tersebut, Anyelir langsung memunggungi Dylan sambil memegang gelas dan sedotan dan berpura-pura terus menyeruput minumannya. “Sedang apa dia? Bukannya tadi sedang sibuk membaca dokumen,” gumam perempuan tersebut dalam hati.
Ujung mata Anyelir mencoba melirik dan sepertinya pria tersebut masih memperhatikannya.
“Uhuk ... uhuk!” Dia pun tersedak karena ulahnya sendiri.
“Hati-hati kalau makan!” omel Dylan sambil kembali menatap pada dokumennya.
Anyelir segera mengeluarkan tisu dalam tasnya. Dalam hati ia menggerutu, “Padahal aku tersedak juga karena kamu. Memang menyebalkan kau ini, Dylan,” umpatnya.
Perempuan tersebut pun berdiri dan tak peduli lagi dengan larangan Dylan.
“Mau ke mana kau?” tanya Dylan langsung begitu melihat Anyelir berdiri dari tempatnya.
“Aku harus menemui Rio. Dia pasti telah mengantuk karena menungguku, aku sudah berjanji untuk membacakan cerita padanya.” Anyelir seakan tak peduli lagi larangan dari Dylan, wanita itu langsung berjalan ke luar dari ruangan dengan tegas dan membiarkan pria yang sejak tadi duduk di kursinya itu meneriakkan namanya.
“Anyelir! Anyelir!”
Tera yang duduk di kursi sekretaris depan ruangan sang bos pun kebingungan, setelah setumpuk makanan diantar seakan sang wanita pergi dan bosnya berteriak memanggil-manggil. Dia semakin tak mengerti, kenapa harus bertengkar di kantor? Apakah ada pelayan yang berani mengabaikan panggilan majikan ketika ia dipanggil dengan nada begitu keras.
“Tolong bereskan kantor saya. Makanan sisanya bisa kaubagikan pada orang yang belum makan saja. Yang lain masih utuh,” ujar Dylan sambil terburu-buru, bahkan pria itu terlihat memakai jasnya sambil berlari.
“Mereka ini sedang apa sih? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Pak Dylan dan Bu Andin? Kemarin ketika Bu Andin pulang di bandara, aku tak melihat bosku menjemputnya.” Tak mau ambil pusing, Tera lebih baik melaksanakan perintah Dylan saja.
Tera masuk ke perusahaan tersebut atas rekomendasi keluarga Bagaskara, itu yang menyebabkan dia bisa lolos dari sekian banyak sekretaris yang melamar. Namun selain itu, Dylan juga menyukai performa kerjanya, dia merupakan keturunan luar negeri yang kuliah di Amerika. Dia memilih bekerja di perusahaan bonafid Indonesia karena orang tuanya yang tinggal di negara ini.
*
Kembali pada Dylan yang mengejar rubah cantik miliknya.
Mereka akhirnya masuk lift bersama meski Anyelir tak mau menyapa pria tersebut selama mereka di ruangan sempit itu berdua saja.
Dylan mengikuti Anyelir sampai lantai dasar dan pria itu menggandeng lengan Anyelir dengan paksa.
“Ayo kita pulang!” ajak Dylan sambil membawa Anyelir menuju ke mobil.
Anyelir meronta. “Lepas tanganku!”
Dylan tak mau melepas genggaman tangan itu. Hingga ponsel Dylan bergetar lagi. Siapa yang menelepon pria tersebut malam-malam.
Sekilas Anyelir melihat foto profil milik Andin tertera dan sedang menghubungi Dylan.
Dylan mengangkat panggilan tersebut dan hampir melepaskan tangan Anyelir.
Namun refleks saat itu juga, Anyelir memegang tangan Dylan. “Jangan lepas tanganku.”