Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
47. Wanna Fly High


Dalam kebimbangan, tatapan mata Dylan terpaku pada pergelangannya yang sedang dicengkeram erat oleh Anyelir.


Wanita itu pun baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Melihat reaksi Dylan yang menatapnya seperti itu, Anyelir pun langsung melepaskan genggaman eratnya.


"Maaf."


Satu kata itu terucap diiringi jutaan rasa sadar diri yang membendung keberanian Anyelir dalam memiliki sang suami seutuhnya.


Sejak kapan ia egois seperti ini?


Sejak Dylan memperlakukannya dengan posesif?


Atau ... sejak dia tidur dalam satu ranjang dengan pria itu?


Dylan yang mendapati tangannya dilepas oleh Anyelir, langsung bergegas menerima panggilan dari istri pertamanya.


"Andin, kau telah di Jakarta lagi, bukan?" tanya Dylan dengan suara yang berat.


Dia sangat meyakini jika sang istri pertama itu sudah ada di sekitarnya, hanya saja belum menampakkan diri.


"Aku meminta tolong darimu, Dylan." Suara di seberang sana begitu penuh penekanan.


Dylan berpikir apakah itu benar-benar sang istri dalam kesadaran sepenuhnya?


"Apa yang kau minta, Ndin? Aku tak pernah tak mengabulkan keinginanmu selama ini." Dylan bersungguh-sungguh.


Hatinya sungguh masih lemah jika harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ia telah kehilangan Andin.


Tak mengerti kenapa, Andin adalah wanita nomor satu dan satu-satunya dalam hati Dylan.


Sementara Anyelir? Dia hanya wanita yang ia kenal secara tak sengaja, kebersamaan mereka hanya karena terikat bisnis dan perjanjian saja. Bisakah hubungan seperti itu menghadirkan cinta di dalamnya?


Berdebar hati menunggu ucapan selanjutnya dari seberang telepon, Dylan memegang benda pipih itu seraya menyepi agar suara wanita di sana tak terhalangi oleh suara berisik kendaraan yang berlalu lalang.


"Dylan, aku bahagia dengan kehidupanku yang sekarang. Bisakah kau mengabulkan keinginanku untuk berpisah darimu?" tanya Andin.


Dylan mencoba mencari kesalahan dari kalimat yang ia dengar. Namun hingga telinganya berdengung sekali pun, tak ada yang salah dari kalimat tersebur, yang salah adalah dirinya yang tak bisa menerima kebenaran dari apa yang diterima oleh indra pendengarnya.


"Andin ...." Kali ini suaranya bergetar. Dia merasa jika wanita itu sungguh-sungguh ingin berpisah darinya.


Ini cukup sulit untuk diterima hati dan nuraninya.


Pria itu menatap langit untuk menahan air mata agar tak menetes.


Di saat yang sama, terdengar sebuah mobil menjauh dari area perkantoran milik keluarga Bagaskara tersebut.


Pria yang berantakan di dalam hatinya itu pun menoleh karena baru menyadari sesuatu.


"Anyelir!"


Dia belum sadar, jika ponsel miliknya masih terhubung dengan panggilan di seberang sana. Dylan hanya menggenggam benda pipih itu sambil berlari.


"Anyelir! Anyelir!" Pria itu meneriakkan nama sang istri kedua sambil mengejar taksi yang baru saja pergi.


Sadar jika berlari tak akan bisa mengejar kendaraan tersebut, maka dia pun dengan segera mengambil mobil miliknya. Lalu tanpa pikir panjang, ia mengejar taksi yang dinaiki oleh Anyelir.


*


Sebuah Hotel Di Jakarta


Tempat mewah para kalangan elit yang ingin mengistirahatkan badannya.


Seorang wanita menepiskan ponsel dari telinga sambil mengembuskan asap rokoknya. Dia duduk menggunakan piyama kimono di balkon kamar menghadap pemandangan kota malam tersebut yang dipenuhi oleh gemerlap cahaya.


"Anyelir?" gumamnya sambil tersenyum miring.


Ia tidak salah dengar tadi. Calon mantan suaminya tadi memang menyebutkan nama itu sebelum mereka mengakhiri panggilan.


Meski batang lintingan tembakau itu masih panjang, tapi dia melempar benda tersebut ke dalam tong sampah. Namun sebelumnya ia menekan ujung bara dari rokok tersebut untuk mematikannya.


Wanita itu berjalan kembali dalam kamar hotel sambil menutup pintu balkon. Dia menuju pada meja rias dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


Sebuah pelembab bibir yang mengembalikan kadar air di bibir tebalnya itu setelah menghirup nikotin. Ia oleskan hingga terlihat bagian itu menjadi bening dan berkilau saat terkena cahaya.


Selain itu, ia juga menyemprotkan penyegar napas, juga mengupas permen untuk menghilangkan aroma tembakau dari mulutnya.


"Bu Andin," panggil seorang wanita yang mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk," jawab Andin dari dalam.


Pintu kamar hotel itu pun terbuka dan wanita berseragam putih hitam khas hotelier yang bekerja di sana masuk ke tempat Andin.


"Bagaimana dengan baju untuk besok?" tanya Andin pada wanita tersebut.


Beberapa orang mengikuti wanita itu sambil mendorong sebuah gantungan baju.


"Ibu besok tinggal memilih, semuanya sudah siap dipakai dan pas dengan ukuran ibu," ucap pegawai hotel tersebut.


"Terima kasih," jawab Andin sambil tersenyum.


Mereka pun mengangguk lantas pergi dari tempat Andin, kecuali wanita hotelier yang pertama masuk, dia masih di sana dan mengatakan sesuatu pada Andin. "Pak Wira sudah menyiapkan apartemen untuk Anda, Bu. Besok Anda sudah bisa menempatinya dan keluar dari hotel ini."


Dengan penuh senyum semringah, Andin mengangguk. "Sampaikan rasa terima kasihku padanya."


"Baik, Bu," timpal pegawai hotel tersebut.


Wanita itu adalah pegawai hotel yang khusus ditugaskan untuk menangani segala keperluan Andin.


Andin pun duduk di depan cermin, ia memotret pantulan dirinya yang sedang memegang ponsel, lalu mengunggah ke sosial media.


Gambar itu disertai sebuah caption singkat di bawahnya.


'Wanna Fly High'


Setelah itu wanita tersebut merebahkan diri di atas ranjang sambil menatap langit-langit.


Sedang apa dia di sana?


Apa yang dilakukan olehnya sekarang?


Ingatkah dirinya kepadaku?


Biasanya Andin sama sekali tak pernah peduli atau sekedar ingat dengan suaminya, akan tetapi mendengar Dylan menyebutkan nama 'Anyelir' berulang-ulang seperti tadi membuat ia mendadak gelisah.


Tak pernah mengira jika dirinya akan tergantikan secepat itu dalam diri Dylan.


Wanita itu mencoba memejamkan mata meski suara Dylan yang memanggil-manggil nama madunya tersebut terus terngiang-ngiang.


"Maafkan aku, Dylan."


Andin berpikir, ia tak akan pernah bisa mewujudkan keinginan Dylan. Selain itu, selama ia bersama dengan Dylan, Andin pikir ia tak akan pernah bisa untuk melebarkan sayapnya.


Wanita itu membutuhkan sosok laki-laki yang mendukung setiap karirnya. Sehingga mungkin hal itu tak ia temukan dalam sosok Dylan, melainkan ia dapatkan dari pria lain, yaitu Wira.


Dia pun memikirkan ke depannya, semua kebohongan pasti akan terungkap secara cepat atau lambat. Lelah bagi Andin ketika apa pun sikapnya tapi tak pernah disukai oleh sang mertua, apalagi jika dirinya masih harus tetap berakting dan berpura-pura menjadi ibu sambung untuk Rio.


Andin tak bisa menyembunyikan hal tersebut lebih lama, ia benar-benar tak tahan.


Dalam terpejamnya kelopak mata, model sekaligus selebgram tersebut meneteskan air mata.


Bukan karena ia sedang bersedih apalagi menyesal. Ia hanya berpikir jika mereka telah membuang waktu sia-sia dengan melakukan hal-hal tersebut. Karena pada akhirnya, mereka sama sekali tak bisa memperjuangkan hal lain selain cinta.


"Aku ingin terbang, maafkan aku yang telah pergi dari hidupmu, Dylan."