Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
72. Jangan Di Sini!


Mentari telah ditelan oleh malam, seketika bumi pun menggelap disertai dengan tumpahan air menghunjam daratan. Suara berisik dari genting dan dahan itu membuat Anyelir tak bisa tidur. Dia membalikkan badan ke kanan dan kiri mencari posisi yang nyaman untuk tubuhnya.


Tapi bukan karena ini. Bukan karena bantal yang tidak pas untuk menjadi sandaran. Bukan pula salah ranjang yang berderit setiap ia membuat gerakan. Apalagi salah selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dari udara dingin.


Dia tak bisa tidur meski berkali-kali menguap, bahkan sejak tadi matanya terpejam, akan tetapi pikirannya terjaga.


Perempuan itu pun membuka selimutnya. Dia melihat bocah kecil yang telah tertidur lelap di samping sembari memeluk boneka dinosaurus berwarna hijau. Sejenak ia mendaratkan kecupan, lalu beralih pada jendela kamarnya.


Pemandangan taman belakang dan genting-genting rumah tetangga terbentang dari jendela kamar Anyelir. Dia yang gelisah malam ini, tapi dahan pohon di luar sana yang terombang-ambing.


Brak!


Suara sesuatu jatuh dari pepohonan. Benda itu tak terlihat, tapi menambah kadar kegelisahan yang dirasakan oleh Anyelir.


Dia melihat ke arah jam.


Pukul 22:00


“Dia belum juga pulang,” gumam perempuan itu.


Disambarnya sweater yang menggantung di ujung kamar. Anyelir membuka pintu perlahan agar suaranya tak membuat sang buah hati terbangun. Dia pun menutup pintu lagi dan bergegas untuk lari ke lantai satu.


Tepatnya di ruang tamu, sambil melihat terus ke arah ponsel, perempuan tersebut menunggu seseorang. Ya, tidak lain adalah suaminya sendiri.


Ketika di kamar ia tak dapat memejamkan mata, tapi saat di ruangan ini kantuk benar-benar mengusiknya. Dia pun mencoba melihat pada ponsel, berselancar di media sosial untuk mencari segala sesuatu yang mungkin bisa membuatnya tetap terjaga.


Jarinya menggeser layar naik turun untuk melihat video pendek yang ada di sana, kumpulan berita hoax, tips tidak penting, bahkan tutorial yang tak berguna berjalan melewati halaman beranda miliknya.


Sampai suara mobil terdengar.


Bruuum bruuuum


Mata sayu perempuan itu langsung terbuka lebar seiring dengan tubuhnya yang kembali tegak.


Dia berjalan ke arah jendela, lalu mengintip di sana. Senyumnya mengembang begitu melihat pria yang dia tunggu turun dari mobil dan berjalan menuju ke dalam rumah. Perempuan itu langsung membukakan pintu dan menunjukkan wajahnya.


“Kok belum tidur?” tanya Dylan yang terkejut melihat wajah Anyelir.


“Assalamu’alaikum,” ucap Anyelir sambil tersenyum.


“Wa’alaikumsalam. Baru juga mau ngucap salam,” timpal Dylan yang merasa tersindir oleh ucapan Anyelir.


Perempuan itu langsung menutup pintu begitu Dylan masuk ke rumah. Dia berjalan di belakang suaminya dan menuju ke lantai dua bersama-sama.


Dylan yang berjalan terlebih dahulu pun menoleh ke belakang, dia menatap wajah istri mudanya tersenyum-senyum sendiri sejak tadi. “Kamu kenapa? Kayak yang seneng banget perasaan,” ucap Dylan sambil menatap wanita tersebut.


Anyelir menggeleng. “Nggak,” sahutnya.


Mereka tiba di lantai dua, Dylan langsung berjalan terus menuju kamarnya, sementara Anyelir langsung membuka pintu kamarnya sendiri.


Tapi tiba-tiba, Dylan memundurkan langkah dan menggaet tangan istrinya. “Kamu mau ke mana?”


“Mau ... kembali ke kamar.” Dia menjawab pertanyaan sang suami sambil urung membuka pintu kamarnya.


“Ayo,” ucap pria tersebut seraya mengerlingkan sebelah matanya.


Seketika rona merah menjalar ke apel pipi hingga telinga Anyelir.


Anyelir benar-benar merasa malu dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Dylan. Tapi ... pada akhirnya ia tetap menjawab. “S ... sudah.”


Senyum Dylan mengembang begitu lebar, dia langsung mengempit tangan sang istri dan membawa ke kamar miliknya yang berada di dekat balkon menghadap ke bagian depan rumah.


Pintu kamar itu terbuka, lampu dinyalakan dan keduanya masuk ke sana. Dylan terburu-buru menyimpan tasnya. Sementara Anyelir, masih diam mematung di balik pintu.


Pria itu pun berbisik di telinga istri mudanya tersebut. “Aku mandi dulu, ya. Awas jangan kabur!” Bahkan dia masih sempat mengancam Anyelir sebelum masuk kamar mandi.


Dylan pun menghilang ke dalam bilik tersebut. Pintunya tertutup dan hanya terdengar suara cipratan air dari luar.


Secara sadar, Anyelir melihat kembali ruangan tersebut untuk yang kedua kali. Masih sama seperti sebelumnya, foto pernikahan, bulan madu bahkan momen-momen lainnya pun terpampang di dalam kamar tersebut.


Rasa nyeri masih menusuk ulu hatinya, meski jutaan rasa sadar diri telah mengukuhkan pemikirannya, tapi ego itu masih ada. Perasaan ingin memiliki itulah yang membuat dirinya merasakan sakit hati hanya karena potret-potret kebersamaan mereka.


“Sadar, Anyelir, sadar,” bisiknya pada diri sendiri.


Anyelir berbalik dan tak ingin melihat ke bagian sandaran ranjang, karena di sana terdapat foto pernikahan Dylan yang tercetak dengan ukuran sangat besar. Tapi mengubah arah pandangannya pun tak memberi dampak apa-apa, Anyelir tetap saja melihat foto mereka berdua.


Ia pindah ke selatan, utara, timur, barat hingga tenggara, tetap saja yang ia lihat adalah foto-foto kebersamaan. Hingga Anyelir pun merasa kamar Dylan ini begitu sempit dan tak bisa menerima dirinya.


Perempuan itu memilih duduk di tepi ranjang. Ia menunduk dan memutuskan untuk melihat lantai.


Jadi begini rasa cemburu yang dibatasi oleh rasa sadar diri?


Dia ingin marah tapi sadar dirinyalah yang menjadi orang ketiga.


Dia ingin sekali membanting potret-potret tersebut dan membuangnya ke tong sampah, tapi dia juga sadar bahwa dia sama sekali tak berhak untuk melakukannya.


Apalagi jika berkata terang-terangan pada suaminya. Siapa dia? Hingga merasa boleh melakukan itu.


Iya, dia tahu, dia hanya orang ketiga. Dia adalah istri kedua dari Dylan Bagaskara. Juga hanya seorang madu untuk Andin. Untuk itu Anyelir tak bisa melakukan apa-apa dan hanya diam sambil menahan semua sesak di dadanya.


Suara keran air berhenti, hingga tak lama kemudian pintu kamar mandi pun terbuka. Seorang pria tampan keluar dengan rambut yang basah dan handuk yang mengelilingi bagian bawah tubuhnya.


“Aku berusaha untuk cepat,” ucap Dylan yang disambut dengan senyum tipis oleh Anyelir.


“Anyelir,” panggil Dylan sambil mendekat dan menciumi tengkuk leher beraroma vanila milik istrinya itu.


Anyelir mengerang, tapi ia sedikit menghindar dari suaminya.


Tanpa pikir panjang, Dylan pun mendorong Anyelir meski tubuhnya belum benar-benar kering.


Tetes-tetes air dari rambut pria tersebut bahkan membasahi pipi Anyelir. Akan tetapi ... perempuan itu tak membalas ciumannya.


Pria itu mengangkat tubuh dengan menggunakan kedua lengan sebagai penyangga. Kini dirinya menatap pada wajah ayu yang sejak tadi merona, tapi kali ini menjadi sayu.


Anyelir membalas tatapan itu, dengan senyuman. Senyum tipis sambil membuang muka.


Dylan akhirnya mengerutkan dahi, dia menyadari ada yang berbeda dengan senyum perempuan di dalam kungkungannya ini. Saat ia hendak bertanya ada apa? Saat itu juga dia melihat sorot mata Anyelir berusaha menghindar dari sesuatu. Dylan segera melihat sumber yang membuat kesalahan itu.


Potret-potret kebersamaan dirinya dengan Andin dalam bingkai.


“Anyelir.” Pria itu mencoba memanggil kembali perempuan di bawahnya ini dengan bisikan sensual.


Tapi kali ini Anyelir menahan tubuhnya. Dia pun menatap suaminya dengan tegas. “Aku tak bisa melakukannya di sini.”