
Anyelir tersenyum-senyum sambil membereskan kasurnya pagi itu. Ia tetap tak membukakan pintu untuk Dylan walau pria itu memohon-mohon. Tak ada pula satu pesan pun dari suaminya itu yang ia respons.
Tapi wajahnya hari ini jelas terlihat bahagia.
“Mama, aku sudah selesai,” ujar Rio dari dalam kamar mandi.
Perempuan itu pun meletakkan selimut yang baru saja ia lipat dan kemudian menghampiri anaknya. “Sudah? Pintar sekali anak mama, membilas tubuhnya sendiri,” puji Anyelir pada Rio.
Dia pun melilitkan handuk setelah mengeringkan tubuh mungil bocah berusia empat tahun tersebut. Lalu ia gendong anaknya dan dibawa ke atas ranjang. “Ayo pakai baju,” ujarnya sambil membawakan minyak telon dan segala kebutuhan Rio.
Aroma lavender bercampur eucalyptus menguar memenuhi ruangan. Anak kecil itu merasa hangat karena baluran minyak telon di tubuhnya.
Anyelir memakaikan baju bergambar dinosaurus kesukaan Rio yang berwarna kuning campur hijau. Anak itu terlihat tampan apalagi setelah rambutnya disisir rapi.
Dia mengamati wajah anaknya. “Dylan!” ucapnya di depan sang anak.
“Kenapa dengan papa?” tanya Rio.
Anyelir terkekeh. “Wajahmu ini, kenapa mirip wajah papa? Mama yang mengandung kamu, tapi malah lahir mirip dengan papa!” guraunya sambil mencolek hidung sang putra.
Rio hanya meringis tertawa meski tak mengerti apa maksud dari ucapan ibunya.
“Sudah! Sekarang anak mama yang mirip papa sudah tampan dan wangi. Sana, sekarang sarapan sama nenek, nenek ada di kamarnya dia mau pergi katanya.” Anyelir meminta agar Rio keluar dari kamar.
Anak kecil itu dengan senang hati menuju ke kamar sang nenek untuk menemuinya terlebih dahulu. Karena sang nenek katanya mau pergi menyusul kakek untuk ke Singapura.
Sementara itu, Anyelir membuka lagi ponselnya sebelum ia melanjutkan beres-beres di kamar.
23 pesan belum dibaca.
Perempuan itu cekikikan saat melihat siapa pengirim pesan tersebut.
Ya, siapa lagi? Itu adalah Dylan.
Pria tersebut mengirimi Anyelir berbagai foto referensi desain undangan, dekorasi pernikahan dan atribut resepsi lainnya.
“Dia tidur jam berapa semalam?” gumam Anyelir saat melihat ada pesan dari Dylan yang pria itu kirim pada pukul 02:13 AM.
“Jadi ... kamu pilih yang mana?”
“Ha? Ah ... ekhm ... ekhm ....” Anyelir terkejut dengan suara bas yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Bahkan ponsel yang tak berdosa itu terlempar secara tidak sengaja ke atas kasurnya.
Perempuan itu pura-pura tak mau melihat pada Dylan.
“Aku pikir kau sedang membaca pesa dariku,” sahut pria tersebut sambil membungkuk dan hendak mengambil ponsel milik Anyelir. “Kau membaca pesan dariku, kan?” tanyanya.
Anyelir terburu-buru merebut ponselnya dan menjauhkannya dari Dylan. “Aku ... aku baca.” Dia menjawab tanpa menatap lawan bicaranya. “Sepintas,” lanjutnya.
Pipi perempuan itu bersemu merah karena ia tengah berbohong. Dia tak mau ketahuan oleh Dylan jika sedang membaca pesan dari pria tersebut.
“Emmm ... jadi bagaimana menurutmu? Ada yang kausuka?” tanya Dylan lagi.
Anyelir menggeleng. “Entah!”
“Kaumau kita langsung datang saja ke tempat vendor dan memilihnya di sana?” tawar pria itu lagi.
Namun sayang, perempuan itu tetap tidak menjawab.
“Anyelir,” panggil Dylan.
“Kau marah padaku?” tanya pria itu lagi.
Anyelir pun menoleh sambil menggelengkan kepalanya.
“Lantas, kenapa kau tak mau bicara padaku?” Dylan bertanya lagi. Kali ini wajahnya lebih dekat pada ceruk leher istrinya.
“Siapa bilang? Saya tetap bicara kepada Anda,” jawabnya sambil menggeser sedikit kepalanya untuk menghindari ciuman dari Dylan yang hampir menyerang bagian leher.
“Kan? Kamu marah padaku jika cara bicaramu seperti itu,” pungkas Dylan lagi.
Perempuan itu tak menjawab.
Dylan pun melingkarkan kedua tangan di pinggang istrinya. “Kalau begitu aku minta maaf,” ucap Dylan lagi.
“Lain kali aku akan mengakui hubungan kita. Pelan-pelan, ya?” ujarnya lagi.
Wanita itu masih diam, tapi setidaknya saat ini dia tak memberontak lagi dari pelukan Dylan.
“Sejujurnya, aku berkata demikian kemarin karena tak tega bila kamu disebut perusak rumah tanggaku dengan Andin. Apa kata masyarakat di luar sana, kalau ternyata kita sudah menikah saat aku dan Andin belum bercerai. Kau mengerti maksudku, kan?” ujar Dylan lagi.
Cup.
Pria tersebut mengendus wangi harum mullberry dari kulit wanitanya.
“Hentikan itu,” pinta Anyelir sambil sedikit menggeliat karena sentuhan-sentuhan dari pria itu membuatnya gelisah.
“Kamu jangan marah padaku,” ucapnya sekali lagi.
Kali ini tangan pria itu masuk ke dalam baju yang dikenakan oleh Anyelir dan dia melakukan hal-hal yang membuat istrinya tersebut mengerang mengeluarkan suara-suara aneh untuk didengar.
“Hen ... tikan,” ucap Anyelir sambil berusaha menahan tangan Dylan yang terus bergerak di dalam bajunya.
“Jangan diamkan aku kalau begitu,” ucap Dylan sekali lagi sambil membalik posisi Anyelir agar berhadapan dengannya.
Anyelir memalingkan wajah dan berusaha berbalik untuk membelakangi suaminya lagi. Namun pundaknya ditahan oleh Dylan agar perempuan itu terus menatap padanya.
“Berjanjilah untuk tidak marah padaku karena ucapanku pada jumpa pers kemarin,” pinta Dylan sambil mencubit dagu istrinya.
Anyelir menepisnya, tapi tangan Dylan semakin kuat memegang ujung dagu yang bergantung tersebut.
“Aku tidak bisa satu malam tidur tanpa ini.”
Dengan segera pria tersebut mencium dan mengabsen seluruh bagian dalam bibir Anyelir. Mereka berdua pun menghampiri ranjang dan berlayar di atasnya. “Dy ... lan, ber ... henti. Bu ... kankah khau hah ... rus bhe ... kerja,” erang Anyelir sambil mengucapkan kalimat terbata-bata.
“Aku bebas datang kapan saja ke kantor sendiri. Lagi pula hari ini tak ada pertemuan dengan siapa pun.” Pria tersebut terus mendorong dan melakukan usaha terbaiknya.
Meski sedikit ada gerakan-gerakan penolakan dari Anyelir, tapi Dylan bisa menguasainya sampai mereka berdua sama-sama sampai di tujuan.
*
“Rio ... sudah selesai makan?” tanya Anyelir pada anaknya.
Perempuan itu turun dari lantai dua dengan diikuti oleh Dylan di belakangnya.
“Mama kenapa lama sekali? Rio sampai selesai disuapi oleh nenek,” jawab anak kecil itu dengan menggemaskan.
“Tak apa-apa, nenek senang menyuapi Rio. Apa Rio tidak senang?” tanya Lastri pada cucunya.
Rio mengangguk. “Iya, aku tetap senang walaupun nenek yang menyuapinya,” timpal Rio yang kemudian kembali lagi fokus pada puzzle miliknya.
“Nenek hari ini akan pergi Singapura, menyusul kakek.” Lastri mengusap kepala sang cucu sambil menatap anak kecil itu dengan penuh senyum. “Kalian tak apa-apa, kan, kalau ibu tinggal?” tanya perempuan tersebut pada Anyelir dan Dylan.
“Tak apa, Bu. Ibu temani bapak di sana saja, tapi jangan lama-lama,” gurau Anyelir pada mertuanya.
“Jangan lupa oleh-oleh,” timpal Rio.
Lastri pun terkekeh dan memeluk cucunya. “Kalau nenek tidak lupa.” Dia memeluk Rio dengan sangat erat dan anak kecil itu pun membalasnya dengan pelukan yang tak kalah erat juga.
*
Setelah drama pagi karena istrinya yang merajuk, alhasil Dylan pun berangkat ke kantor lebih siang dari biasanya.
“Tera, kirimkan laporan pengerjaan proyek Pondok Intan dan juga ringkasan saham perusahaan kita sekarang,” titah Dylan begitu ia baru datang.
Perempuan berambut pirang yang tadinya memegang ponsel itu langsung berdiri dan membungkuk hormat pada atasannya. “Baik, Pak.”
Dylan berjalan menuju ke ruangannya. Ia menyadari jika gawai dalam sakunya berdering sejak tadi.
“Anyelir?” ucapnya saat melihat nama penelepon tersebut. “Iya, halo?”
“Apa?” Wajah yang semringah itu mendadak pucat. Ponsel di tangan tiba-tiba saja terlepas dan kaki yang kokoh itu mendadak lemas.
“Tidak, ibu?”