Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
66. Berembusnya Berita


Sudah tiga hari Rio berada di rumah sakit, dokter berkata ingin memantau kesehatan Rio lebih lama setidaknya selama seminggu. Terkadang kondisi Rio memang sering tiba-tiba drop dan anemia akut menyerangnya.


“Anak pintar,” puji Anyelir setelah menyuapi putranya.


Perempuan itu tak peduli dengan berbagai gosip miring yang berembus di kalangan pegawai rumah sakit. Siapa yang tak membaca berita dengan tajuk utama ‘Seorang Pelakor Hadir Dalam Rumah Tangga Andin dan Dylan’? Semuanya tahu, termasuk kawan-kawannya yang sedang menjadi dokter koas dan juga tim pekerja yang lain di rumah sakit ini.


Kebanyakan dari mereka tak menyangka, jika dokter muda yang bekerja di rumah sakit ini adalah orang ketiga yang sedang ramai diperbincangkan dalam berita tersebut.


Namun Anyelir tak peduli, dengan semua penghakiman dari tatapan-tatapan tak bersahabat itu padanya. Di sini ia bukan untuk mendengar para pegawai rumah sakit membicarakan gosip tentangnya, melainkan dia ingin menemani anaknya, Rio, agar segera membaik dan bisa kembali pulang ke rumah mereka.


“Mama, apakah papa nanti akan datang?” tanya Rio.


Anyelir melihat jam tangan yang melingkar di bagian kanan pergelangannya. “Waktu makan siang nanti, papa bilang akan datang kemari.”


Anak kecil itu tersenyum menunjukkan gigi susunya yang kecil-kecil tersusun rapi dan jarang.


Tak tahan karena gemas, Anyelir pun mengusap pucuk rambut anaknya.


Baru satu bulan kebersamaan mereka, Rio dan Anyelir telah semakin dekat,  benar-benar interaksi ibu dan anak yang sesungguhnya. Adanya ikatan batin dari mereka, lalu Anyelir dan Rio yang pernah bertemu sesekali sebelum ini, membuat pendekatan mereka berjalan mulus dan tak muncul drama apa pun.


“Papa akan datang kemari, Rio berdoa saja agar papa bisa datang tanpa hambatan,” ujar Anyelir lagi.


Tok tok


Suara pintu diketuk sebanyak dua kali.


Baik Rio maupun Anyelir menoleh ke arah sumber suara dan mereka melihat seorang wanita cantik dengan rambut terikat satu mengenakan jas putih berdiri dengan senyum yang lebar.


“Akhirnya kita bertemu juga,” ujar Anyelir sambil berdiri menyambut kawannya.


“Rio, perkenalkan ini ....”


“Dokter Lina,” timpal Rio yang memotong ucapan sang mama.


“Loh, kamu sudah kenal?” tanya Anyelir yang terkejut.


Lina pun tersenyum lagi.


“Sudah dua malam aku visit ke kamar ini. Jadi Rio mengenalku,” jelas Lina sambil berjalan masuk.


“Apa kau tidak sibuk?” Anyelir menatap khawatir pada kawannya. Berbeda dengan dirinya yang sedang cuti, Lina pasti sedang menjalankan jadwalnya yang padat hari ini.


“Baru saja aku selesai menemani Dokter Putra menerima pasien kunjungan, jadi aku bisa ke sini,” ujar Lina dengan senyum yang lebar.


“Hari ini kau shift pagi berarti?”


Lina mengangguk. “Maka dari itu aku bisa ke sini. Setiap aku ke sini, pasti bukan kamu yang menemani Rio. Kadang neneknya Rio, lalu malam kemarin adalah Bi Ai. Dia sering merasa kesepian,” jelas Lina sambil mengusap dahi Rio.


“Tapi Dokter Lina adalah dokter yang baik,” kata Rio dengan jujur.


Perempuan dengan jubah dokter tersebut menatap sang kawan dengan tatapan yang agak sedih. Sesungguhnya kedatangan Lina kemari bukan hanya sekedar untuk mengunjungi Rio, tapi ia benar-benar ingin bertemu sahabatnya tersebut. Saking terlalu sibuknya Lina, ia sampai lupa untuk menanyakan bagaimana kabar Anyelir? Apa perempuan itu baik-baik saja? Apakah dia sehat? Apakah dia tak mendapat masalah?


“Ada apa?” tanya Anyelir sambil melihat ke sisi kanan dan kiri bajunya. “Kau melihatku terus dengan tatapan begitu, apa ada yang aneh dengan bajuku?” lanjut perempuan tersebut.


Lina menggeleng. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya penasaran, apa kau baik-baik saja?” tanya gadis itu pada sang kawan.


“Aku baik-baik saja, pikiranku dipenuhi dengan Rio. Aku ingin dia segera sembuh dan kembali tinggal di rumah bersamaku,” ucap Anyelir sambil menggenggam tangan Rio yang terhubung dengan selang.


Lina mengembuskan napas dengan sedikit lega, ia tahu jika temannya ini tidak baik-baik saja. Tapi dia tersenyum, karena Anyelir tetaplah Anyelir, temannya itu selalu tahu mana hal yang lebih penting untuk dipikirkan dan mana hal yang lebih baik untuk diabaikan.


“Aku bersyukur kau tak terpengaruh dengan berita di luar sana,” ujar Lina pada Anyelir.


Kali ini senyum Anyelir mengembang lebih lebar. “Aku juga bersyukur kau tak percaya begitu saja dengan berita-berita itu.”


“Karena aku sudah tahu lebih dahulu dari ceritamu,” jawab gadis berbaju dokter tersebut.


“Mereka semua membicarakanku?” tanya Anyelir dengan wajah yang santai.


Lina tersenyum sambil menggeleng. “Bukan hal yang penting untuk dipikirkan.”


“Tenang saja, jika mereka membicarakan hal buruk tentang dirimu dan sampai terdengar ke telingaku, aku yang akan menghajar mereka. Sekalipun mereka adalah kepala departemen di rumah sakit ini,” seloroh Lina yang membuat Anyelir terkekeh.


“Kamu mau menghajarnya dengan jurus apa? Apa kau mau dikeluarkan dari kampus karena menghajar atasan saat sedang koas?” gurau Anyelir, dia tertawa pelan sambil menutupi bibir sakura miliknya.


“Yang jelas itu tidak akan terjadi,” timpal Lina. “Sepertinya aku harus pergi,” ujarnya, dia pun berjalan lebih dekat ke arah Rio dan mengusap dahi lebar milik anak dari sahabatnya itu. “Cepat sembuh, ya,” ucapnya pada Rio.


“Dah, Dokter Lina. Kalau kau harus berjaga di malam hari, jangan lupa kunjungi kamarku, ya!” ujar Rio dengan wajah riang.


Lina yang telah berdiri di pintu itu menggelengkan kepala. “Aku tidak mau, karena saat aku shift malam nanti, kau sudah sembuh dan tidak dirawat lagi di sini.”


Ketiganya pun tersenyum mengembang dan Lina pergi dari ruangan tersebut.


Setelah perginya Lina, pintu kamar kembali terbuka dan kali ini seorang pria tampan berdiri di sana. Dia membawa beberapa bingkisan berisi mainan di tangannya.


“Papa,” panggil Rio dengan suara yang tidak terlalu kencang.


“Ini papa datang, Sayang,” jawab Dylan sambil berjalan menunjukkan jinjingannya.


“Papa membawa sesuatu untukmu,” lanjutnya.


“Apa itu?” tanya Rio yang antusias.


Dylan meletakkan bingkisan itu di atas ranjang Rio.


Anyelir membantu anaknya untuk duduk lebih tegak dengan menyesuaikan sudut sandaran pada ranjang, perempuan itu juga mengawasi anaknya saat membuka bingkisan agar tak mengenai selang infus di tangan kiri Rio.


“Biar mama yang membuka,” tukas Anyelir mengambil alih bingkisan tersebut. Dia perlahan membuka plastik dan juga perekat yang membungkusnya.


Terdapat beberapa mainan dari kayu, lalu buku mewarnai dan juga krayon. Mewarnai adalah kegiatan yang paling disukai oleh anak itu.


“Bilang apa pada papa?” ujar Anyelir pada Rio.


Dengan suara cemprengnya, Rio pun mengucapkan terima kasih sambil menyuguhkan senyum dengan gigi-gigi runcingnya yang mungil.


Dylan pun menatap pada Anyelir yang tersenyum, pria itu mengulurkan tangan dan membelai rambut sang istri. Setiap helai hitam nan lurus tersebut masuk ke sela-sela jari Dylan.


Anyelir pun menjauhkan kepalanya dari tangan sang suami. Dia merasa aneh dengan tingkah laku Dylan yang mudah berubah. “Ada apa?” tanya Anyelir.


“Aku mendengar percakapan kalian barusan. Maaf, ya, jika semua ini membuatmu dalam kesulitan.”