
Kedip.
Kedip.
Kedua kelopak mata Anyelir hanya bisa mengedip beberapa kali untuk sesaat. Bibirnya terkunci rapat, sementara jantungnya berdebar dengan begitu kencang.
Lina yang ada di sana terkejut melihat kedatangan suami dari sahabatnya. Lebih mengejutkan lagi, karena orang-orang di sekitar mereka tiba-tiba menjadi reporter dadakan yang mengarahkan kamera ponsel ke arah Dylan dan Anyelir saat itu juga.
“Pak Dylan, pssst! Anyelir, pssst!” Lina mendadak melotot ke arah mereka berdua yang seketika menjadi pusat perhatian orang. “Kalian pikir ini drama?”
Saat itu juga, Dylan langsung menegakkan tubuhnya. Sementara Anyelir pun langsung tersadar dari tatapan suaminya yang seperti hipnotis tersebut.
“Kita pergi!” Lina langsung menggendong Rio, lalu Anyelir dan Dylan mengekor dengan menutupi wajah mereka menggunakan tangan.
“Aku mau pulang bersama Lina,” ujar Anyelir yang berusaha melepaskan gandengan tangan dari Dylan.
“Tidak bisa, kau harus bersamaku.” Dengan terburu-buru, Dylan membuka pintu mobil dan membuat Anyelir segera masuk ke sana.
“Kalau begitu, Lina!” panggil Anyelir pada sahabatnya.
Tapi, sayang sekali karena Lina telah menghentikan taksi dan menaikinya.
“Ayo masuk, cepat!” Dylan memaksa Anyelir untuk segera masuk sebelum lebih banyak potret mereka diambil oleh orang-orang tersebut.
Dylan pun menyalakan mobil dan menekan pedal gasnya lebih dalam sehingga mereka pergi meninggalkan kafe bernuansa biru muda tersebut.
“Rio ...!” Anyelir masih saja memikirkan Rio yang dibawa oleh Lina.
“Sudah, kawanmu pasti akan menjaga Rio. Tak perlu khawatir!” ucap Dylan sambil melirik ke arah istrinya.
Jika Dylan berusaha menenangkan, maka Anyelir justru sebaliknya. Perempuan tersebut menatap sengit ke arah Dylan sambil memicingkan matanya.
Dylan merasakan ada sesuatu yang menggelitik dari sebelah kirinya. Pria itu pun sesekali melirik ke arah sana dan mendapat tatapan Anyelir yang berusaha terlihat sinis tapi malah sangat menggemaskan.
“Kenapa kau melihatku dengan cara yang seperti?” tanya pria tersebut. Ia tak merasa berbuat kesalahan pada Anyelir, justru yang ada dirinya yang berhak marah pada sang istri karena perempuan tersebut ketahuan tak mengangkat panggilan penting darinya.
“Ini semua gara-gara Anda, Pak!” Anyelir menggunakan lagi sebutan ‘Anda dan Pak Dylan’ setiap dia marah.
Sebelah kiri pundak Dylan terangkat. Ia cukup terkejut karena bentakan Anyelir dan bahasa formal yang mulai keluar lagi.
“Dia mulai lagi,” timpal pria tersebut.
“Seandainya Anda tidak menggoda saya di tempat tersebut, maka hal ini tidak akan terjadi. Kenapa Anda malah sengaja melakukannya?” tanya Anyelir dengan nada yang agak tinggi dan penuh interogasi. Bahkan wajahnya pun tak lepas dari menghadap ke arah Dylan dengan mata yang senantiasa membidik sasarannya.
“Kenapa harus aku? Siapa yang tak menjawab teleponku, lalu sengaja mengabaikannya. Padahal jika kau sedang sibuk, kau bisa membalasnya dengan pesan. Tapi ... tapi ini ... kau malah mengabaikan dan menyebut bahwa telepon dariku adalah telepon tidak penting,” jelas Dylan sambil mengepalkan sebelah tangannya dan sebelah lagi masih berada di kemudi.
Anyelir terdiam mendengar ucapan Dylan barusan. Dia memang sengaja mengabaikannya, karena pria itu bila menelepon Anyelir pasti ingin perempuan itu melakukan sesuatu. Sementara dirinya ingin menikmati waktu-waktu berkualitas bersama anak dan temannya.
“Kenapa kau tidak menjawab?” tanya Dylan lagi dengan kalimat yang penuh nada interogasi.
Perempuan itu malah bersandar pada kursi mobil sambil menatap ke luar jendela.
Anyelir diam untuk sesaat, tapi setelah itu perempuan tersebut berteriak. “Ah, entah! Terserah pada Anda saja, saya mengkhawatirkan Rio dan ingin bertemu dengannya!” Perempuan itu terengah-engah karena menahan amarah dan rambutnya yang berantakan karena baru saja dia mengacaknya.
“Kenapa kau ini?” Dylan terkejut atas istrinya yang sedikit tak seperti biasanya tadi.
“Saya yang bertanya kenapa? Anda itu kenapa tiba-tiba muncul di sana? Tepat di saat saya dan Rio ingin menghabiskan waktu bersama Lina. Kenapa harus di Kafe Blue, tidak ada kafe yang lain di sekitar sini?” Anyelir menatap Dylan dengan mata yang ia lebarkan.
Dylan menggeleng. “Bu ... bukan aku y ... yang menentukan tempatnya,” jawab pria tersebut yang mendadak tak lancar bicara. Nada pertanyaan Anyelir tadi, seakan menyalahkan dan menyudutkan Dylan.
“Oh, jadi Anda sepertinya sedang berjanjian dengan seseorang?” tanya Anyelir lagi.
Pria di sampingnya menjadi semakin ingin mengebut saja karena tak ingin mendengar ocehan istrinya.
“Anda sudah berjanjian dengan orang lain, tapi malah mengganggu saya! Kenapa Anda tidak menghabiskan waktu yang lebih lama dengan teman kencan Anda saja! Kenapa malah terpikir untuk menelepon saya lalu mengganggu saya? Tidak bisakah Anda diam dan pura-pura tidak kenal kepada saya?” berondong Anyelir dengan pertanyaan-pertanyaan yang beruntun. Ia tak memberikan jeda dari tiap pertanyaan agar Dylan bisa menjawabnya satu per satu.
“Ah, sial! Kenapa malah lampu merah?” Dylan menggerutu sambil memukul setang kemudinya.
“Kenapa? Mengalihkan pembicaraan? Anda tidak nyaman dengan pertanyaan saya?” Kali ini Anyelir benar-benar menunjukkan kekesalan pada pria di sampingnya ini.
Dylan menyandarkan kepala pada jendela sambil menutupi wajah menggunakan tangannya.
“Itu artinya saya benar. Anda sedang membuat janji temu dengan orang lain!” Anyelir pun membuang muka lagi sambil melipat kedua tangan. Bibirnya cemberut senada dengan dahinya yang mengerut menunjukkan kekesalan.
“Ah, sudah kuning.” Pria itu pura-pura tak mendengar apa yang dikatakan Anyelir dan ia fokus pada lalu lintas yang sudah mulai menghitung mundur dari sepuluh detik.
Setelah mengomel pada separuh perjalanan, kini mobil berisi pasangan suami istri tersebut hening tanpa ada yang mengeluarkan kata-kata. Hanya ada suara napas dan batuk sesekali agar setidaknya ada yang didengar selain suara kendaraan di luar yang berlalu-lalang.
Mobil mereka pun sampai di rumah mewah keluarga Bagaskara. Begitu Dylan menghentikan mobil di depan teras rumah, ia melihat taksi yang dinaiki Lina juga menyusul mereka.
Anyelir buru-buru keluar untuk melihat anaknya yang dibawa oleh sang kawan. Dia benar-benar khawatir dan merasa berasa bersalah telah membebani Lina.
“Rio,” panggil Anyelir begitu taksi itu berhenti.
Akan tetapi, tidak sesuai dugaan, Rio justru sedang menangis kencang dan membuat Anyelir terkejut. “Ada apa ini, Lina? Kenapa dia menangis?” tanya Anyelir.
“Rio, Sayang. Ini mama, Sayang,” ujar Anyelir yang langsung menggendong anaknya dan mengambil alih dari tangan Lina.
“Dia kecewa, karena baru saja keluar dan bermain bersama kita tapi malah harus pulang lagi,” jelas Lina sambil mengusap-usap dahi anak itu.
“Tenang saja, masih ada waktu lain untuk kita bermain, Sayang.” Anyelir memeluk anaknya dengan erat.
“Aku pamit ya, aku harus pulang,” ucap Lina sembari masuk lagi ke dalam taksinya.
“Terima kasih, ya, Lin. Aku minta maaf telah merepotkanmu.”
Kawan baik Anyelir itu pun pergi dari rumah mewah yang ditempati oleh keluarga Bagaskara.
Kini Anyelir yang sedang menggendong Rio pun langsung mengalihkan tatapannya pada pria yang sedang berjalan di teras rumah dan hendak masuk ke dalam.
“Rio ... asal kamu tahu ya! Ini semua gara-gara dia!”