
Anyelir langsung mematung di tempat begitu mendengar nama Wira disebut oleh Dylan. Kenapa pula pria itu harus menelepon ke kantor perusahaannya Dylan? Apa ini ada kaitannya dengan dirinya?
“Oh, jadi begitu? Aku tak punya urusan apa pun dengannya! Katakan saja, jika dia ingin menemuiku karena masalah dengan Andin, kami sudah berpisah. Kita sudah jalani kehidupan masing-masing!” Dylan masih berbicara di teleponnya.
“Ya, ya begitu! Benar!”
“Aku mengandalkanmu, Tera! Kau urus mainan baru mantan istriku itu!” ujar Dylan yang langsung menutup panggilannya dan meletakkan ponsel miliknya di atas meja rias.
“Sempat-sempatnya dia menelepon ke kantor dan ingin membuat janji bertemu untuk bicara,” omel Dylan sambil melihat pada layar ponselnya.
Anyelir mengembuskan napas lega. “Itu ... Wira pacarnya Bu Andin?” tanya wanita itu yang merasa penasaran.
Dylan mengangguk. “Kau benar! Entah apa yang dia inginkan, tiba-tiba mengajak bertemu! Sungguh tak sopan!”
Wanita itu pun ikut mengangguk. Setidaknya, hal yang paling ia resahkan kini telah terjawab. Pasti Wira yang sering meneleponnya itu, bukanlah Wira yang menjadi kekasih Bu Andin. Ya, pasti bukan! Begitu Anyelir mencoba meyakinkan diri dalam hati.
“Tunggu, kalau Tera yang menerima telepon di kantormu, itu artinya ... dia sudah berangkat sejak pagi?” tanya Anyelir lagi yang kini mengkritisi sekretaris dari suaminya itu. “Tapi ... kenapa kau berangkat begitu siang?”
Dylan terkekeh. “Karena aku bosnya!”
“Ya, mana mungkin bisa begitu?” protes Anyelir seakan dirinya yang mendapat perlakuan tidak adil.
Pria itu masih saja tertawa. “Kau ini, sepertinya tidak tahu, ya?” ujar Dylan sambil menggerak-gerakkan telunjuknya di depan Anyelir.
“Apa memang?”
“Kautahu, Bapak?” tanya Dylan.
“Bapak Gunadi?” ulang Anyelir untuk memastikan.
“Iya, Bapakku!” Dylan memperjelasnya.
“Kenapa memang?” Anyelir mengernyit.
“Kautahu pria yang sering berjaga di depan kamarnya dan keluar masuk ketika ada sesuatu yang terjadi pada bapak?” tanya Dylan pada Anyelir.
“Pria bertubuh tinggi, pakai kacamata dan selalu diikuti oleh beberapa wanita pelayan bapak?” Anyelir memperjelas lagi, meski begitu ia masih belum mengerti.
“Benar, pria itu! Namanya adalah Pak Tori!” ucap Dylan menyebut nama sekretaris dari Gunadi. “Dia sekretaris bapakku. Kaulihat? Dia bahkan tidak pulang dan menempel pada bapakku selama 24 jam!” jelas Dylan.
Anyelir hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. “Kenapa bisa seperti itu?”
“Karena biasanya sekretaris seperti itu!” ujar Dylan lagi.
Anyelir malah menggelengkan kepala.
“Begini, ya! Mungkin kau belum tahu, bahkan sekretaris dari Leon sendiri, Leon ini kawan dekatku. Eeeu ... dia selalu datang dua jam sebelum Leon ke kantor. Dia menjemput Leon, lalu menyiapkan segala keperluannya, termasuk memeriksa makanan yang menjadi sarapannya. Kemudian saat waktunya pulang pun, dia selalu mengantar bosnya sampai ke rumah dan memastikan sang bos pulang dengan selamat,” jelas Dylan sekali lagi.
“Tapi ... dia tetap pulang.”
Dylan mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. “Mungkin terdengar aneh, tapi ... semua sekretaris bekerja seperti itu. Termasuk Tera. Hanya saja, aku tak meminta Tera untuk mengurusi hal pribadiku. Mengurus keperluan kantor saja sudah merepotkan, cukup dia bisa datang lebih awal saja sudah baik, tanpa harus menjemput ke rumahku terlebih dahulu.”
Wanita itu pun tersenyum tipis. “Aku tidak tahu, karena benar-benar awam dengan dunia bisnis. Yang kutahu, bisnis itu hanya tentang memproduksi barang atau jasa lalu menjualnya ke konsumen. Kukira hanya sesederhana itu, ternyata banyak hal yang harus diperhatikan dalam sistem manajerialnya."
“Nanti kita bertemu di rumah sakit,” ujar Anyelir lagi.
“Aku akan menjemputmu!”
“Tak perlu! Kita langsung ke rumah sakit saja,” timpal perempuan itu sambil mengantar sang suami untuk turun tangga.
*
Jika pagi itu begitu romantis untuk Dylan dan Anyelir, maka hal itu juga berlaku untuk Andin dan Wira. Pasangan tersebut menghabiskan waktu bersama di atas ranjang setelah beberapa hari tak bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
Mereka bergulat, bergumul dan saling memuaskan satu sama lain? Bagaimana tidak disebut romantis? Jika yang mereka lakukan saja, sudah lebih dari sekedar berciuman di bibir pagi ini.
“Apa kau lelah?” tanya Anyelir sambil membelai dada milik Wira yang tak banyak ditumbuhi bulu itu.
“Tidak! Aku hanya sedikit mengantuk,” jawab pria tersebut sambil memejamkan mata dan menutupi bagian wajah menggunakan lengannya.
“Ini sudah pagi!” ujar wanita itu.
“Lantas kenapa? Aku tidak harus pergi bekerja. Biarkan aku tidur dulu,” jawab Wira yang malah menarik lagi selimutnya.
“Ah, baiklah kalau kau memang ingin tidur.” Andin pun turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya lalu mengenakan semua itu. Dia berjalan ke luar kamar menggunakan baju tidur dan penampilan yang berantakan.
“Jika ada kawanmu atau siapa pun ke sini, jangan biarkan dia masuk kamar! Aku tak ingin diganggu!” teriak Wira dari dalam selimutnya.
“Eeemmm!” jawab Andin pertanda ia mengiyakan permintaan pria tersebut. “Lagi pula siapa yang akan ke sini? Talita? Eros? Kemarin dia berkata akan kemari sore hari, tapi dia berbohong. Ya, untuk apa kau datang ke tempat rekan kerja saat hari libur. Lebih baik gunakan waktu untuk memanjakan diri saja,” gumam wanita itu sambil berjalan menuju ke mesin kopi yang ada di dapur.
Perut kosong, belum terisi makanan dan wanita itu pun menyeduh segelas kopi. “Kalau Eros melihatku pagi ini, dia pasti akan mengomeliku.”
Dia pun bergidik sendiri. “Haaah! Dia benar-benar menyebalkan, tak membiarkanku untuk menikmati bahkan segelas kopi saja di pagi hari.”
Ia bawa kopi tersebut ke sebuah meja yang berada di dekat jendela apartemen. Lalu ia duduk di kursinya sambil meniup minuman tersebut. “Kenapa suara Eros yang bawel itu terngiang-ngiang! Ah, menyebalkan! Sungguh-sungguh menyebalkan!”
Sambil menunggu kopi dalam gelas itu dingin, wanita tersebut melamun dan menatap ke luar jendela. Tiba-tiba ia pun teringat akan sesuatu yang sempat menggelitik pikirannya kemarin.
Wanita itu menyesap sedikit kopinya, lalu ia tinggalkan dan kembali masuk ke dalam kamar dengan mengendap-endap. Ia mengusahakan agar setiap langkah yang ia ambil tak terdengar oleh Wira.
Pintu yang dibuka pun hampir tak bersuara. Andin melebarkan langkah dan begitu pelan saat menjejakkan lagi kakinya ke atas lantai, ia pun berusaha meraih ponsel yang ada di nakas.
Sret!
Ponsel itu pun berada dalam genggamannya. Dia pun sempat melambaikan tangan terlebih dahulu sebelum pergi.
“Syukurlah ...,” bisiknya dalam hati yang merasa lega karena ternyata Wira masih pulas. Pria tersebut menonton sepak dan bermain game semalam selain ia juga bermain dengan Andin.
“Aku hanya penasaran.” Andin memasukkan kode sandi ponsel Wira dan gawai berwarna hitam tersebut pun akhirnya bisa dibuka.
Wanita itu mencoba untuk ke kamar mandi dan melihat isi dari ponsel tersebut. Tanpa berlama-lama untuk membuka aplikasi lain, Andin langsung menuju ke aplikasi pengirim pesan.
Tapi ... kejanggalan pun ia temukan dalam riwayat panggilannya.
“Kapan ini? Kapan dia menghubungi kantornya Dylan? Untuk apa?”