
“Wah, Rio semakin pintar saja. Mama bangga pada Rio,” puji Anyelir yang sedang mengajari anaknya di rumah.
Dia sebenarnya baru datang dari rumah sakit, akan tetapi melihat Rio yang berlari kecil menyambutnya sambil menunjukkan hasil karya milik anak tersebut, tak mungkin Anyelir tega mengabaikannya.
Maka dari itu, perempuan tersebut pun rela berhenti sejenak, melepas tasnya dan duduk di ruang tengah memperhatikan Rio yang sedang menggambar dengan pensil.
Tarikan garis yang dibuat oleh Rio semakin tegas, hal itu menunjukkan jika motorik halus anak ini berkembang semakin baik.
“Aku akan mewarnai gunung dengan warna biru tua, sawahnya dengan hijau dan sungai dengan biru muda. Apakah menurut mama akan bagus?” tanya anak tersebut seraya memegang pensil berwarna biru tua.
Anyelir mengangguk sambil memberi apresiasi positif pada Rio dengan menunjukkan dua jempol di depannya.
“Sudah, kau boleh beres-beres dulu di kamar. Biar ibu yang urus Rio,” ujar Nyonya Lastri yang sepertinya baru usai mandi sore.
Perempuan itu pun mengangguk. “Rio, mama boleh ke atas dulu, ya?” pamitnya.
Anak itu mengangguk sambil tetap matanya tertuju pada gambar.
Anyelir akhirnya tak ragu untuk meninggalkan sejenak sang anak yang tengah asyik bersama neneknya.
“Rio menggambar sama nenek, ya, sekarang. Biar nenek bantu.” Nyonya Lastri ikut membungkuk memperhatikan gambar milik Rio.
“Tak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Nenek hanya melihatku saja.” Rio menolak bantuan dari neneknya tanpa menoleh pada wanita tua dengan rambut putih yang disanggul di belakang kepalanya itu.
Anyelir tersenyum melihat interaksi mereka dan langsung masuk ke kamarnya yang berada di dekat tangga.
Perempuan itu segera membersihkan diri dan mengganti bajunya. Dia menatap nanar pantulan dirinya di depan cermin. Bekas ciuman yang masih kebiruan itu ada di sana. Dia meraba beberapa tanda itu menggunakan ujung jarinya.
Seketika bagaimana cara Dylan mengecup permukaan kulitnya itu terbayang kembali. Wanita itu pun merinding bulu kuduknya jika hal tersebut melintas lagi di pikiran. Segera Anyelir membasuh tubuh menggunakan air hangat dan lagi, ia menggunakan sabun sebanyak-banyaknya untuk membersihkan sekujur tubuh.
Bukan karena ingin menghamburkan sabun, akan tetapi dia masih merasa frustasi selama masih teringat akan kejadian semalam. Jika bukan karena Rio, dia akan berlari saat itu juga meninggalkan rumah ini.
Selain itu, ucapan Dylan juga terlalu menggores hatinya. Kenapa dia diperlakukan bak sampah oleh suaminya sendiri. Kemarahan Anyelir rasanya berujung pada kebuntuan. Walau ia mengutuk perilaku Dylan yang telah meniduri dirinya dengan paksa, tapi Anyelir harus menerima benih dari laki-laki itu demi sang anak. Dengan kata lain, mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus rela ditiduri oleh Dylan.
Meski dalam benaknya bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan program bayi tabung yang telah mereka rencanakan? Bukankah Dylan sudah setuju dengan keputusan tersebut?
Wanita itu pun membilas seluruh tubuhnya. Wangi jeruk yang segar ditambah moisturizer menempel di tubuhnya begitu busa-busa itu menghilang. Ia juga membilas kepala hingga membasahi ke akar rambutnya. Terasa dingin, tapi tidak menenangkan. Kejadian nahas kemarin malam masih teringat lagi.
Ya, Anyelir menganggap semalam adalah kejadian nahas.
Dia pun mengeringkan tubuh dengan mengambil handuk dan bathrobe. Ketika bathrobe ia pakai untuk menyerap air dari tubuhnya, maka handuk ia lilitkan di atas kepala untuk menyerap air dari rambut.
Anyelir kembali berdiri di depan cermin dan wastafel. Dia pun teringat dengan gel lidah buaya pemberian dari Dokter Rian.
Wanita itu pun segera memakai gel tersebut dan mengoleskannya pelan-pelan ke area leher yang kemerahan.
Sebenarnya ada banyak bekas serupa di sekujur tubuh, namun Anyelir merasa malu sendiri saat melihat tanda-tanda itu di berbagai area sensitifnya. Area yang bahkan dirinya sendiri tak pernah menyentuhnya selain ketika sedang membersihkannya. Untuk itu, dia hanya cukup mengoleskan di bagian leher saja yang akan memalukan bila terlihat oleh orang lain.
“Anyelir,” panggil Nyonya Lastri yang mengetuk pintu dari luar.
Wanita itu pun buru-buru keluar sambil menutup gel lidah buaya dalam tube.
“Iya, Bu.” Dia pun menatap pada Nyonya Lastri yang berada di depan kamarnya.
“Bu?” panggil Anyelir pada mertuanya.
Lastri pun tersadar, ia terkekeh sambil melihat ke arah leher Anyelir.
Sontak perempuan itu sadar apa yang menjadi perhatian sang mertua ini.
“Jadi, kemarin kalian sudah ....” Lastri terkekeh mendengarnya. Ia merasa sangat bahagia karena Dylan telah mau menyentuh Anyelir.
Padahal yang terjadi semalam tak seperti yang Lastri pikirkan, yang ada Anyelir harus terpaksa kesakitan baik hati dan tubuhnya karena perilaku sang suami.
Anyelir menutup leher menggunakan tangannya dengan canggung.
“Nanti malam coba lagi, barangkali bisa jadi dengan cepet.” Lastri menepuk pundak Anyelir. “Pantesan tadi pagi pakai syal. Untung ibu sudah curiga ke sana.”
Perempuan itu hanya tersenyum kecil dengan sedikit menunjukkan giginya. Ia sama sekali tak berpikir untuk melakukan lagi hal seperti semalam dengan Dylan, karena dirinya berharap untuk segera hamil saja setelah ini agar semua urusannya dengan anak tunggal keluarga Bagaskara ini selesai.
Iya, semuak itu Anyelir oleh perilaku Dylan yang telah menyakitinya berulang kali.
“Tadinya ibu mau bicara apa pada saya?” tanya Anyelir heran.
Nyonya Lastri pun menjawab, “Anyelir, tadinya ibu mau mengatakan hal tentang batalnya program bayi tabung tersebut. Tapi sepertinya, Dylan tengah mengambil langkah yang lebih cepat.”
Anyelir pun menggumam. “Oh, begitu, ya?” respons Anyelir yang cukup tak peduli pada ucapan sang ibu mertua.
“Ya sudah, lanjutkan kegiatanmu. Ibu mau ke tempat Rio lagi.” Lastri pun berbalik dan meninggalkan kamar Anyelir.
Sementara wanita tersebut pun kembali melanjutkan kegiatannya dengan mengoleskan gel lidah buaya ke lehernya.
Anyelir hanya mengoleskannya secara perlahan karena bila terlalu digesek, nantinya akan jadi peradangan di kulitnya.
“Aku tidak mau melakukan itu lagi, tidak mau,” gumam perempuan tersebut sambil berdiri menatap pada pantulan bayangannya di depan cermin.
*
Suara hewan-hewan malam tak terdengar, karena malam ini didominasi oleh suara hujan. Anyelir membacakan cerita sebagai pengantar tidur anaknya. Dia membelai lembut rambut dan pipi Rio dengan perlahan.
Tanpa disadari, Anyelir juga tertidur di sebelah anak itu berada.
Hingga ketenangan itu pun hancur saat hujan mulai reda.
Suara hujan yang menyamarkan suara lain itu pun merendah hingga Anyelir bisa mendengar apa yang terjadi di lantai satu. Beruntungnya, Rio telah tertidur pulas selagi ia membaca dongeng tadi. Untuk itu, perempuan tersebut pun terpaksa turun dari ranjang dan mengintip apa yang terjadi di bawah sana. Ia hanya takut jika itu adalah pencuri karena hari sudah sampai pukul setengah tiga dini hari.
Namun betapa terkejutnya Anyelir, saat melihat pria yang menjadi suami sahnya itu datang sambil dibopong oleh kawannya yang Anyelir tidak mengenalinya.
“Pak Dylan, kenapa?” Anyelir kembali memanggil Dylan dengan embel-embel Pak di depan nama sang suami.
“Biasa! Dia mabuk. Bawa ke kamar dan beri obat pengar kalau nanti sudah bangun dan sadarkan diri,” ujar sang kawan yang tak lain adalah Farel.
Anyelir dengan susah payah menerima tubuh Dylan yang cukup berat. Ia tak tega membangunkan yang lain untuk membantunya. Maka dari itu, dialah yang mencoba untuk membopong sang suami.
Saat itu juga, mulut Dylan berkata, “Andin, aku senang melihatmu lagi. Ayo, kita perlu bicara.”