Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
56. Tumbang


“Aku kemari hanya ingin menjelaskan tentang perceraian kita saja dan juga ... sedikit ingin tahu bagaimana kabarmu,” ujar wanita berbaju putih dengan rok seksi di atas lutut yang berwarna senada.


Andin, istri sah dan juga penguasa hati dari putra Bagaskara ini tiba-tiba kembali setelah beberapa minggu dirinya menghilang.


Bukan dengan alasan yang tak masuk akal, kepergian Andin disertai alasan yang kuat karena perempuan ini ingin masing-masing dari mereka berbahagia. Seperti Andin yang ingin meraih mimpinya untuk menjadi model dan bisa pergi ke mana pun yang ia mau, maka dari itu wanita tersebut juga ingin Dylan bisa hidup dalam ketenangan dan mewujudkan keinginan keluarganya.


“Aku tidak ingin berbicara denganmu, kecuali jika kau akan membatalkan perceraian.” Dylan menatap pada wanita yang duduk di sofa kantornya.


“Kalau begitu, kau memutus tali silaturahmi di antara kita selamanya,” ujar Andin yang masih bisa bicara dengan percaya diri saat itu. Wanita itu berdiri sambil menenteng tasnya.


Dylan pun menghampiri wanita tersebut dan berdiri tepat di depannya. “Apakah kau serius dengan tindakanmu ini?” tanya pria tersebut seraya menatap tajam pada calon mantan istrinya tersebut.


“Karena aku seserius itu, maka aku datang ke sini seorang diri dan memohon padamu, agar kau tak perlu datang ke pengadilan dan biarkan proses perceraian kita berjalan dengan lancar.” Ucapan Andin tak kalah serius, wanita dengan rambut lurus sepanjang pundak itu membalas tatapan tajam dari sang calon mantan suami. Dia tak gentar sedikit pun dan terlihat seperti tak akan menyesali perbuatannya.


Karena Dylan tak menjawab apa-apa, maka dari itu Andin pun berbalik dan pergi meninggalkan pria tersebut.


Saat tangannya meraih gagang pintu, bertepatan dengan itu seseorang memegang sebelah tangannya yang lain. “Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.”


Andin berbalik dan melihat Dylan memegang tangannya. Wanita itu perlahan melepaskan pergelangan dari genggaman pria tersebut. “Apa? Katakan saja!” tukasnya.


“Apakah kau berselingkuh dengan Wira sejak masih berhubungan denganku?” Pertanyaan Dylan ini mengarah pada kebersamaan Andin dengan pria tersebut waktu itu. Bagi Dylan, secepat itu mendapat pengganti dirinya ketika pria itu malah jungkir balik merasakan nyeri yang tidak terkira akibat perpisahan mereka.


Andin hanya tersenyum tipis. “Semuanya tak berbeda jauh dengan keberadaan Anyelir di dekatmu saat ini.”


Setelah menjawab demikian, Andin pun pergi dan meninggalkan ruangan tersebut.


Dylan mencoba berkata lagi, akan tetapi wanita itu terkesan tak peduli. “Hubunganku dengan Anyelir tak seperti yang kau pikirkan. Aku dan akan segera berpisah dan kami ... aaargh!”


Pria itu mengamuk saat melihat Andin masuk ke dalam lift dan wanita itu menghilang seiring dengan tertutupnya pintu dari elevator tersebut.


Beruntungnya di lorong tersebut tak ramai para karyawan. Hanya ada Tera yang melihat dan sekretaris berwajah blasteran itu berpura-pura melihat ke arah laptop seakan tak memperhatikan apa yang terjadi.


Dylan menggenggam tangannya dengan erat dan memukulkan ke arah tembok. Pria itu terengah-engah karena kemarahannya sendiri yang menguras tenaga.


Pintu lift pun terbuka lagi dan beberapa karyawan keluar dari sana. Dylan pun kembali berdiri tegak sambil membetulkan dasi dan jasnya seakan tak terjadi apa-apa. Pria tersebut berjalan kembali masuk ke ruangannya.


Drrrrt drrrrrt


Suara tersebut terdengar berulang begitu ia masuk ruangan. Dylan mencoba melihatnya, ternyata panggilan tersebut telah berakhir.


Nama Anyelir terpampang dan Dylan mengabaikannya. Perasaannya benar-benar sedang carut-marut. Pria itu juga bahkan masih merasa kesal pada Anyelir.


*


Hingga sore hari menjelang, Anyelir tak kunjung bertemu dengan suaminya. Pria itu tidak menelepon balik atau sekadar mengirim pesan.


Akan tetapi, Anyelir sudah harus berangkat ke rumah sakit. Dia bersiap dan memakai bajunya. Perempuan itu mengoleskan sedikit pelembab di atas bibir pucatnya agar ia tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit.


“Anyelir, kamu mau berangkat?” tanya Nyonya Lastri saat melihat menantunya itu mulai turun dari tangga.


Perempuan berpakaian putih itu mengangguk. “Iya, Bu.”


“Kamu apa nggak sebaiknya istirahat saja? Hari ini ibu lihat kamu tidak baik-baik saja.” Lastri tampak khawatir pada Anyelir. Dia bahkan mendekat dan menunggu Anyelir di bawah anak tangga.


“Saya baik-baik saja, Bu,” ujar Anyelir saat berpapasan dengan ibu mertuanya.


Lastri terlihat sangat khawatir, jelas-jelas Anyelir tidak enak badan. “Ya sudah, tapi kamu hati-hati, ya! Kalau merasa tidak enak badan mending istirahat saja. Nanti ibu bakal telepon ke Rian biar mengurusi kamu.”


“Ah, tidak perlu. Saya akan baik-baik saja.”


*


Beruntungnya hari ini bagi Anyelir, dia berada dalam satu shift dengan Lina. Setelah beberapa hari terpisah dan masuk kerja tidak satu waktu, pada akhirnya dia bisa bekerja bersama lagi dengan Lina.


“Nye, kamu pucet banget.” Gadis dokter muda dengan penampilan agak tomboi itu mengamati rekannya. Dia menunjuk pipi Anyelir dan melihat ke sekeliling wajah sahabatnya tersebut.


“Heem, aku kurang tidur, Lin. Tadi siang aku nggak bisa istirahat.”


Lina pun menggelengkan kepala. “Ya ampun. Oh kamu shift malam juga ya, kemarin?”


Anyelir pun mengangguk membenarkan ucapan Lina.


“Hei, kamu kok pucat, Anye?” tanya rekan koas yang lain.


“Wah, masa sih? Nggak ah, biasa aja.” Anyelir meraba pipinya.


“Kan, kata aku juga kamu pucat,” timpal Lina.


Rekan koas tersebut pun melihat ke arah Lina. “Eh, Lina kamu kebagian jadwal juga hari ini?”


Lina mengangguk. “Kenapa?”


“Wah, kalau jaga malam, aku takut pasien bakal banyak berdatangan.”


Lina pun terkekeh dan mengapit leher rekannya tersebut. “Enak aja. Kamu tuduh aku bau, ya?”


Bau adalah istilah yang digunakan oleh para rekan Anyelir dalam menyebut seseorang yang selalu kedatangan banyak pasien setiap ia berjaga. Mereka pun masih mengobrol dan sesekali bergurau sambil berjalan.


Pembahasan mengenai wajah pucat Anyelir pun berhenti di sana karena mereka harus memberi pertolongan pertama pada pasien kecelakaan dengan tubuh yang terluka.


“Dokter pasien ini adalah seorang sopir yang dadanya terkena benturan dengan setang kemudi.” Suara dari roda ranjang rumah sakit memenuhi IGD pada saat itu.


Dokter Rian menghampiri pasien tersebut dan memeriksanya. “Pasien mengalami temponade jantung,” ujarnya.


“Kami sudah memasang kateter,” timpal dokter yang memberi pertolongan pertama pada pasien. “Saat di jalan, pasien mengeluarkan busa dari mulutnya.”


Dokter Rian pun memeriksa pasien tersebut. “Berarti terjadi sesuatu dengan pernapasannya, aku akan melakukan intubasi endotrakeal, perhatikan!” Dokter Rian memberi contoh pada para koas yang ada. Besar kemungkinan, mereka juga akan melakukan hal yang sama di kemudian hari atau mungkin hari ini juga.


Keadaan IGD saat itu cukup ramai karena beberapa pasien kecelakaan yang datang. Hal tersebut membuat Anyelir semakin memforsir ternaganya dalam bekerja. Hingga tengah malam ia masih saja memberikan perawatan untuk pasien gawat darurat yang terus berdatangan.


Hingga pukul dua dini hari, pasien-pasien tersebut mulai berhenti dan akhirnya Anyelir bisa beristirahat sebentar.


“Wah Lina bau, nih!” gurau salah seorang dokter yang ada di sana.


“Iya, ya. Minggu kemarin kalau aku jaga malam pasti ramai.”


“Iya, kan. Kata aku juga kamu itu bau.”


Mereka berdua asyik mengobrol dan Anyelir pun tidak mengeluarkan suara untuk sekedar menimpali obrolan kawan-kawannya.


Namun tiba-tiba, Lina yang sedang terkekeh pelan itu merasakan ada seseorang yang memegang pundaknya dengan cengkeraman yang agak lemah.


“Anye ...?” Kedua gadis sesama dokter muda itu menoleh.


Mereka melihat Anyelir dengan wajah yang sudah sangat pucat juga keringat dingin membanjiri tubuhnya. "Nye?"


"Lin, kamu panggil perawat buat bantu angkat Anye! Aku yang mengurus dia di sini!”