
Tulang punggung rasanya patah, kaki yang kebas, tangan ngilu dan area pangkal paha yang perih. Semua itu bukan apa-apa dibandingkan hatinya yang hancur berkeping-keping. Anyelir menahan air mata agar ia tak menangis begitu keluar dari kamar Dylan, perempuan tersebut berjalan dengan cepat untuk menuju ke kamarnya.
Sekali lagi dia membersihkan diri. Padahal tubuhnya belum sehat secara normal kembali, tapi dirinya harus berurusan dengan air lebih lama. Anyelir mengguyur dirinya di bawah pancuran sambil menangis merasakan sakit di hati dan tubuhnya.
Perempuan itu keluar dari kamar mandi dalam keadaan menggigil. Dia membungkus tubuhnya dengan menggunakan handuk, lalu mengganti dengan baju hangat segera. Anyelir pun tidur meringkuk di bawah selimut yang menghalau udara dingin mengusap kulitnya.
Terpejam, kemudian tertidur.
Karena rasa lelah dan juga tubuh yang masih belum normal. Perempuan itu pun kembali demam.
“Mama ...?” Suara seorang anak kecil yang memegang tangannya.
Anyelir merasakan sebuah genggaman hangat di dekatnya, perlahan ia membuka mata dan mengerjap-ngerjap. Ia pun melihat ke arah samping ranjang, seorang anak kecil berdiri menggunakan piyama dan memegang boneka robot.
“Rio ....”
“Mama sakit?” tanya Rio sambil memegang dahi Anyelir.
Seketika, Anyelir memeluk anaknya. Dia merasa banyak bersalah pada anak kecil tersebut karena tak bisa memberikan banyak waktu untuknya. Bahkan berulang kali Anyelir berpikir untuk kabur dari rumah ini karena ia merasa tak betah oleh tekanan yang diberikan Dylan padanya.
“Maafkan mama, Sayang.” Dalam pelukannya, Anyelir menangis. Perempuan itu menumpahkan rasa sakit sekaligus rasa bersalah dalam hatinya.
“Mama, aku menyayangimu.” Rio mengusap kepala sang mama. Anak kecil yang menderita penyakit kelainan darah itu pun naik ke ranjang ibunya dan tidur di sana.
Lastri mengintip melalui celah pintu. Dialah yang meminta Rio untuk menemui ibunya, karena Anyelir sama sekali belum keluar kamar setelah menantunya itu kembali dari kamar Dylan. Karena rasa khawatir, dia pun meminta Rio untuk memeriksa kondisi ibunya.
Melihat interaksi antara Rio dan Anyelir, hal itu membuat Lastri terenyuh. Perempuan paruh baya itu juga merasa bersalah. Mungkin karena tuntutan darinyalah yang membuat anaknya melakukan hal ini. Sehingga Rio dan Anyelir yang menjadi korban.
Tapi semuanya telah terjadi, untuk itu, sebagai seorang ibu, Lastri tak putus berdoa untuk meminta kebahagiaan bagi anak, menantu dan cucunya.
*
“Mama, aku senang tidur di sini bersama mama,” ucap Rio begitu ia terbangun di pagi hari.
Anyelir memeluk anaknya dengan begitu hangat, dirinya sendiri sudah bangun sejak tadi karena hendak meminum obat dan juga salat malam.
“Kalau begitu, tidurlah di sini setiap hari dengan mama. Mama tidak keberatan,” ujar Anyelir.
“Tapi mama jarang pulang,” jawab Rio dengan suara polosnya yang parau karena baru bangun tidur.
Anyelir kembali merenung, dia mengusap pipi lembut anaknya dan mengecup kening Rio sekali lagi. “Maafkan mama, ya. Mama harus bekerja, Sayang.”
Rio tersenyum. “Tak apa, aku mengerti. Aku akan tidur di sini untuk menggantikan mama. Rio tidak pernah takut tidur sendirian.”
Sang ibu pun memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Ingin sekali ia menyirami sang buah hati dengan kehangatan setiap harinya, tapi sayang, banyak halang dan rintang untuk bisa mewujudkannya.
“Mama ... tubuh mama hangat,” ujar Rio dalam pelukan Anyelir. “Apakah mama sedang sakit?”
Anyelir menggeleng. “Mama tidak apa-apa.” Perempuan itu pun melepaskan pelukan dari sang bocah, ia baru ingat jika dirinya sedang demam dan takut menulari Rio.
“Kenapa, Ma?”
“Tidak, mama lupa harus ke kamar mandi. Sayang, pagi ini mandinya dengan Bi Ai dulu, ya.” Anyelir memberikan alasan untuk sang anak.
“Benar, ya? Mama sedang sakit.” Rio menatap ibunya dengan mata sedih.
“Apa ini karena mama sedang hamil. Rio lihat jika para mama sedang hamil biasanya mereka sakit demam dan muntah-muntah,” ujar anak itu dengan polosnya.
Tapi Anyelir pun menggeleng. “Tidak, Sayang. Kamu keluar dulu, ya. Mama antar ke Bi Ai.” Perempuan itu menggendong Rio untuk turun ke lantai agar diurus oleh pelayan untuk hari ini karena Anyelir sedang sakit.
Namun, karena pertanyaan Rio tadi, perempuan tersebut jadi memikirkannya. Apalagi, jika diingat-ingat, jadwal bulanan Anyelir terlambat sekitar satu minggu lamanya.
Seusai memberikan Rio pada Bi Ai, Anyelir pun terburu-buru berjalan ke atas. Dia melihat Dylan baru bangun dan membuka pintu kamarnya.
Pria itu terlihat tampan dengan rambut acak-acakan dan baju tidur yang berantakan, akan tetapi bagaimana pun tampannya Dylan saat itu, Anyelir tak mau melihatnya.
Perempuan itu langsung masuk ke kamar dan menguncinya tanpa menunggu Dylan mendekat padanya. Malah jika bisa, Anyelir tak perlu lagi berpapasan dengannya.
Anyelir memperhatikan kalender. Dia masuk ke rumah keluarga ini sekitar tiga sampai empat minggu yang lalu. Apa benar dirinya hamil?
Perempuan tersebut bertanya-tanya, tapi dia tak bisa menguji kehamilan karena tak memiliki alat ujinya sekarang. Anyelir tak pernah berpikir untuk membelinya kemarin-kemarin.
*
“Anyelir, kamu ada jadwal hari Minggu ini?” tanya Nyonya Lastri saat melihat menantunya tengah bersiap di pagi hari saat sarapan.
Perempuan itu menggeleng. “Saya ada perlu, Bu.”
“Oh begitu,” timpal Lastri kemudian.
Seketika udara dingin menghampiri tubuh Anyelir. Dirinya memegang ke arah tengkuk dan melirik ke arah Dylan.
Benar saja, pria itu sedang melirik sinis ke arahnya. Buru-buru Anyelir pun menundukkan kepala dan menghindari tatapan tajam itu.
“Kalau mau pergi, diantar sopirlah. Jangan sendiri, bapak lihat tubuh kami ini dari kemarin-kemarin seperti kurang sehat,” ujar Tuan Gunadi.
Bukannya sang suami, tapi malah bapak mertua yang peduli padanya. Bahkan sampai sadar dengan kondisi tubuhnya.
Anyelir tersenyum dan mengangguk.
“Dylan sendiri sedang libur kok. Masa diantar sopir?” timpal Lastri sambil melirik anaknya.
Sementara itu, orang yang dibicarakan malah santai dan masih mengunyah makanannya.
“Saya berangkat pakai sopir saja, ini tidak akan lama,” jawab Anyelir yang tak ingin membuat suasana menjadi canggung karena sikap dingin dari suaminya.
“Jadi ... kamu benar sedang sakit?” tanya Lastri sambil memegang dahi dan pipi Anyelir bergantian.
“Hanya demam ringan, nanti juga sembuh.”
Mereka pun melanjutkan sarapan, lalu masing-masing kembali pada aktivitasnya. Anyelir menuju ke atas dan segera bersiap.
Begitu ia membuka pintu dan turun ke lantai satu, perempuan itu terkejut melihat pada pria yang sudah berpakaian rapi dengan kemeja dan celana panjang. Pria tersebut berdiri sambil membawa kontak mobil dan terus menatap Anyelir.
Agak salah tingkah karena ditatap seperti itu, Anyelir pun menghindar.
Namun ternyata, Dylan malah mendekat. “Kamu mau diantar ke mana?”