
Sisa-sisa hujan sore hari masih tertinggal. Ada hawa basah dan aroma yang dingin saat Anyelir pulang dari rumah sakit. Menjadi seorang dokter muda di rumah sakit tidaklah mudah. Namun semua ini terasa menyenangkan bagi dirinya.
Payung lipat itu ia keluarkan. Meski hanya sekedar gerimis, ada baiknya ia tidak kehujanan, bukan?
Bunyi jam pulang kantor memang sangat gaduh. Selain klakson dan suara kendaraan, beberapa suara cipratan air juga terdengar. Untuk itu ia menghindar agar tidak terbasahi oleh cipratan tersebut.
Tin tin
Anyelir berjalan keluar dari gerbang rumah sakit. Ia berlari kecil menuju ke halte untuk menaiki bus trans ke arah rumahnya.
Tin tin
Wanita itu melirik pada mobil yang sedari tadi membunyikan klaksonnya. Mobil itu mengurangi lajunya dan senantiasa berjalan di belakang Anyelir.
"Bu Anyelir," panggil seorang perempuan yang keluar dari kursi depan mobil samping pengemudi.
Anyelir menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan jika dirinya yang dipanggil tersebut.
"Ini Bibi! Bi Ai!" teriaknya sambil mengeluarkan payung dan mendekati Anyelir.
"Oh, Bi Ai." Anyelir bukan tak mengenali, sebenarnya ia hanya tak yakin jika pelayan pribadi Nyonya Lastri itu memanggilnya.
"Ayo, Bu Anye. Sudah sore, nanti keburu malam!" Bi Ai menggandeng pergelangan tangan Anyelir.
Anyelir merasakan genggaman Bi Ai yang dingin di pergelangannya. Mungkin karena hujan membuat suhu tubuh wanita ini menurun.
Belum sempat otaknya berpikir panjang, Anyelir mengikuti saja langkah Bi Ai dan mereka masuk ke dalam mobil.
Bi Ai membantu dokter muda itu melipat payung. Ia membiarkan wanita yang akan menjadi nyonya mudanya itu masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.
"Hati-hati, Bu," ucapnya sembari membukakan pintu.
"Terima kasih." Anyelir duduk di bagian belakang sementara Bi Ai kembali duduk di samping pengemudi.
"Bi, ini ada apa? Kenapa saya dijemput?" tanya Anyelir dengan agak memajukan kepalanya ke jok bagian depan.
Spontan wanita paruh baya itu menoleh. "Apa ibu lupa? Akad nikah Bu Anye dan Pak Dylan, kan, langsung diadakan malam ini. Bu Lastri bilang sudah mengirim pesan memberi tahu ke Bu Anye."
Anyelir langsung mengeluarkan ponsel. "Aku belum membuka ponsel sejak istirahat siang tadi."
"Ah, Bu Anye pasti sibuk. Tenang saja, Bu Lastri sudah mempersiapkan keperluan untuk akad malam ini. Yang penting Bu Anye tinggal datang."
"Bi, bisa panggil saya Anyelir saja? Saya merasa tidak enak dipanggil ibu oleh Bi Ai." Anyelir menyatakan keberatan baginya.
"Ya, mana bisa atuh, Bu. Bu Anye, kan, mau jadi istri Pak Dylan, menantu dari majikan saya. Nggak, pokonya Bibi akan panggil Bu Anye saja."
"Baiklah."
Apalah arti sebuah panggilan. Sebenarnya yang lebih membuat wanita itu risau bukan karena panggilan itu sendiri. Melainkan status yang sebentar lagi akan ia sandang kembali.
Hidupnya sudah cukup tenang, mengamati Rio dari kejauhan, berinteraksi dengan Rio walau anak itu tak tahu jika dia adalah ibunya. Bagi Anyelir, semuanya baik-baik saja.
Sebagai calon dokter, Anyelir juga tahu jika penyakit kelainan darah ini cukup sulit diobati. Talasemia sendiri merupakan penyakit kekurangan hemoglobin pada sel darah merah, sehingga membuat darah tersebut tak bisa mengikat oksigen dengan cukup untuk keperluan tubuhnya.
Penyakit ini tak bisa dicegah memang, karena talasemia diturunkan dari orang tua anak mereka. Mendiang ayah dari Dylan, dikabarkan meninggal karena penyakit ini. Talasemia terdeteksi pada suami Nyonya Lastri setelah ia dewasa. Sedangkan untuk Rio, penyakit ini terdeteksi lebih dini saat anak itu berusia 2 tahun.
Dilema memang, namun Anyelir akan melakukan apa pun untuk anaknya. Terlebih jika saat ini keluarga dari ayah Rio telah menyadari keberadaannya dan menerima Anyelir untuk menjadi ibu dari anak itu.
Gerimis berubah kembali menjadi hujan deras. Bintik air di luar jendela semakin rapat dan berembun. Tak ada yang bisa ia lihat dari dalam, namun setidaknya Anyelir sudah hapal dengan posisi kota ini.
Mobil berhenti di sebuah rumah mewah. Ia melihat bayangan Bi Ai berdiri di dekat pintu belakang dan membukanya.
"Ayo, Bu. Ini payungnya." Wanita paruh baya itu membukakan satu buah payung lagi untuk Anyelir. Sungguh luar biasa pengabdian wanita ini terhadap keluarga Bagaskara.
Bi Ai merangkul Anye dan mereka berjalan bersama untuk segera masuk. Sementara itu di dekat pintu, terdapat seorang lagi yang menyambut mereka dan membantu Anyelir membawa tasnya.
"Bu Anye, silakan pakai handuknya."
Anye disambut dengan hangat oleh keluarga ini. Siapa sangka, keluarga dari seorang Dylan Bagaskara akan memperlakukannya dengan begitu lembut dan penuh kekeluargaan. Mengingat, perlakuan Dylan pada Anyelir sendiri begitu tidak menyenangkan.
Anyelir dibawa ke sebuah kamar, begitu mewah dan luas. Dalam kamar itu, semua perlengkapan untuk perempuan tersedia. Ini sangat jauh dari kondisi kontrakannya.
"Bu Anye, air panasnya sudah siap. Silakan mandi, semua keperluan ibu sudah ada di kamar ini. Kalau masih ada yang kurang bisa panggil saya saja dengan telepon itu." Bi Ai menunjuk pada sebuah telepon kabel yang ada di atas nakas samping kasur.
Anyelir mengangguk. "Terima kasih," jawabnya seraya menggosok kepala menggunakan handuknya.
Bi Ai pun keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan Anyelir.
Wanita itu pun bersiap untuk mandi namun bingung dengan ruangan ini. Bagaimanapun juga ini di rumah orang lain. Meskipun semua kebutuhannya tersedia, ia merasa sungkan untuk memakainya.
Wanita tersebut mengelilingi kamar dan membuka sebuah pintu untuk menuju area walk in closet. Ia pun langsung menelan ludah karena semua baju yang sesuai dengan seleranya dan ukuran yang pas dengan tubuhnya ada di sana.
Ia kenal dengan merek-merek yang tercantum pada pakaian tersebut, namun tak pernah ada satu dari semua merek itu pernah ia beli. Tak satu pun dari mereka yang merupakan pakaian murah. Semuanya berasal dari brand luar negeri atau merek lokal kelas atas. Apa semua baju ini untuknya? Begitu pikir Anyelir yang sedang berkhayal. Iya, hanya berkhayal. Bagi Anyelir, memiliki semua baju ini adalah khayalan semata.
"Baju itu hanya menjadi milikmu ketika kau adalah seorang menantu keluarga Bagaskara. Bagaimana? Kau sangat bahagia karena mendadak jadi orang kaya?"
Anyelir spontan menoleh untuk melihat sang pemilik lidah tajam yang mengatakan ucapan pedih barusan.
"Kenapa melotot seperti itu padaku? Wanita murahan sepertimu tidak pantas mendapatkan semua kemewahan ini!"
Plak!
Sebuah telapak tangan mendarat dengan keras di pipi Dylan. Dengan berkaca-kaca, Anyelir pun berkata. "Jika bukan karena Rio, aku tidak sudi menikah denganmu!" Ucapan Anyelir juga bagai belati yang menikam jantung. "Ingat ya, tadi ketika di rumah sakit, Pak Dylan yang tiba-tiba berubah pikiran dan ingin menikah dengan saya." Anyelir tersenyum miring mengingatkan saat Dylan termakan oleh hasutan ibunya tadi.
Mendengar hal tersebut, Dylan tiba-tiba kebingungan sendiri. Lalu, dengan spontan ia pun mengeluarkan kata-kata lagi.
"Ok! Setelah Rio sembuh kita bercerai!" timpal Dylan dengan tegas.
Anyelir pun tak mau kalah dan ia menjawab. "Fine!"