
Anyelir melihat langit sore ini tak menumpahkan tetesan air seperti sore sebelumnya. Hanya memang sedikit mendung dan gelap yang menyertai perjalanannya. Wanita itu berjalan keluar IGD seperti biasa bila telah menyelesaikan pekerjaan.
Hari ini, seperti biasa Nyonya Lastri selalu mengirim mobil jemputan untuk membawa Anyelir pulang. Hal tersebut dikarenakan Dylan pulang pada waktu yang tidak dapat ditentukan, maka dari sang ibu mertua memutuskan untuk mengirim jemputan tersendiri untuk sang menantu kesayangan.
Ketika Andin masih menjadi menantunya dulu, mana ada Lastri sangat memperhatikannya seperti ini.
Tapi ... jika dipikir-pikir, meski Lastri sebagai mertua tak perhatian seperti ini, dulu Andin telah mendapat perhatian yang sangat melimpah dari Dylan, suaminya. Bahkan perhatian itu mengalahkan perhatian dari pria tersebut kepada keluarga dan ibunya sendiri.
Wanita berkemeja merah jambu tersebut membuka ponsel, melihat-lihat barangkali ada notifikasi yang berarti di dalamnya. Meski yang ada hanya promo super sale dari aplikasi belanja favoritnya. Dia masih menyibukkan diri dengan benda pipih itu, ya setidaknya agar dirinya tidak terlihat melamun sambil melihat mobil yang keluar masuk area rumah sakit.
“Anyelir!” panggil seseorang dari kejauhan.
Suara sedikit serak dengan frekuensi yang tajam, mendapat panggilan seperti itu, Anyelir langsung meningkatkan waspada. Wanita itu pun menyimpan ponsel ke dalam tas dan ia mendapati pria berbaju biru dongker nan lusuh melambai dari arah gerbang masuk rumah sakit.
Jarak mereka hanya beberapa meter terpotong jalan yang memisahkan bagian teras IGD dengan gerbang. Wanita tersebut menatap dengan tatapan mematung lalu terpaksa sedikit mundur.
Pria tersebut melihat kanan kiri, kendaraan telah berhenti lalu lalang. Dia pun mencoba untuk berjalan. Senyumnya begitu lebar memperlihatkan gigi-gigi tidak rapi dengan warna yang sedikit tak enak dilihat. Rambut keriting agak panjang yang sangat tak terawat, pria dengan usia hanya berbeda lima belas tahun dari Anyelir ini semakin dekat dengan sang dokter muda.
Menoleh ke sekitar, rasanya tak pantas jika Anyelir menghindar. Apabila dia masuk, Anyelir takut pria ini mengejarnya dan menimbulkan keributan di IGD. Namun bila ia tidak masuk, tetap saja pria tersebut pasti tetap membuat kegaduhan dengan memaksa Anyelir untuk memenuhi kehendaknya.
“Hei, Anyelir!” Pria itu dengan wajah tak berdosa mendekati wanita muda tersebut.
“Ada apa? Aku tidak punya uang!” tolak Anyelir sejak awal, bahkan sebelum pria itu mengatakan sesuatu.
Pria itu melirik ke sekitar. Wajahnya kusam dengan pipi cekung dan tulang rahang melancip ke arah dagu. Matanya yang bulat dengan kelopak mata besar itu memiliki area hitam di sekelilingnya. “Kau pasti punya satu atau dua juta saja!”
Seperti yang diduga, pria itu memang meminta uang pada Anyelir.
Tanpa memberi jawaban, wanita berkemeja merah jambu itu segera memeluk tasnya. Ia memang tidak memang membawa uang sebanyak itu, tapi bisa jadi barang-barang dalam tasnya ini diacak-acak atau parahnya pria tersebut mencuri ponselnya seperti yang pernah dilakukan di masa lalu.
“Tidak ada!” tolak Anyelir dengan tegas tanpa menoleh ke arah pria tersebut.
Pria itu pun mengembuskan napas dengan keras sambil membuka mata besarnya itu lebih lebar. Kini mulutnya mengatup, gigi-gigi kuning tak terlihat lagi karena tertutup oleh bibir tebal dengan warna hitamnya.
“Pergilah, tak ada gunanya kau meminta uang padaku.” Anyelir memundurkan langkah kaki.
Pria itu pun mengamati kondisi sekitar. Walaupun dia dapat melihat di IGD banyak orang, hanya saja ruangan itu tertutup dan di luar pun sepi.
Grep.
Dengan cekatan pria itu merebut tas Anyelir.
“Kemarikan!”
Hampir berhasil, Anyelir meremas tasnya dengan erat sehingga pria itu tak mudah merebutnya begitu saja.
“Jangan jadi anak durhaka, Anyelir!” Pria itu sedikit membentak.
“Aku bukan anakmu!” tegas Anyelir dengan kesal.
“Aku pernah menikah dengan ibumu!” Pria itu tak mau kalah sedikit pun dan terus berusaha merebut tas milik Anyelir.
“Kau hanya menipu ibuku! Kau penipu! Pergi!” Anyelir berusaha meronta dan teriakannya itu menarik perhatian beberapa orang yang ada di sana.
Termasuk seorang dokter yang hendak keluar dan menahan tangan pria tersebut hingga tercekal begitu erat.
“Dokter Rian,” ucap Anyelir sambil berusaha menyelamatkan tasnya karena pegangan pria lusuh itu telah melemah.
Beberapa orang dari IGD berlari keluar, termasuk sekuriti yang berada di posnya pun ikut menghampiri dan melihat keributan tersebut.
Rian pun melepaskan tangannya.
Pria tersebut mengaduh kesakitan.
“Kau tak tahu, aku adalah ayahnya!” Pria itu berusaha menghasut agar membuat Rian merasa bersalah. “Dia menelantarkan orang tua!”
Anyelir menggeleng. “Bukan, dia bukan ayahku!” tolaknya dengan tegas.
“Lihat! Dia bahkan tak mengakuiku!” Pria itu menunjukkan wajah bengis yang semakin memperburuk penampilannya.
“Apa benar itu, Anyelir?” tanya Dokter Rian.
Sekali lagi Anyelir menggeleng. “Ayah kandungku sudah meninggal! Dia ini adalah penipu!”
“Apa?” Pria itu membentak tak terima.
“Sekuriti! Tolong bawa dia! Jika kau menemukan lagi dia datang ke area rumah sakit, jangan diizinkan masuk!” titah Rian pada pria bertubuh besar dengan baju cokelat seperti polisi itu langsung mengangguk dan meringkus si penipu yang disebut Anyelir.
“Kau sudah ditipu olehnya! Kalian sangat tega padaku!” teriak pria tersebut menolak untuk diamankan.
“Aku lebih percaya pada dokter yang menjadi kolegaku daripada dengan orang yang tak kukenal sama sekali seperti dirimu!" ujar Rian.
Pria dokter yang berwajah khas pria Jawa nan tampan itu pun menyadari jika mereka telah menjadi pusat perhatian, dia pun segera membubarkan masa.
“Kalian bisa kembali, tidak ada apa-apa di sini. Semua sudah ditangani!” ujarnya dengan kedua tangan yang digerakkan ke depan bak orang yang sedang menenangkan.
“Maafkan saya telah membuat kegaduhan,” ucap Anyelir sambil menundukkan pandangan.
Semuanya pun membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing. Ada perawat, dokter lain, bahkan wali pasien yang ikut menyaksikan keributan tadi.
Anyelir merasa benar-benar dipermalukan.
“Kau tak apa-apa?” tanya Dokter Rian.
Wanita itu menggeleng pelan sambil menyelipkan rambut ke balik telinganya. “Joni adalah ayah tiri saya. Tapi usianya hanya terpaut lima belas tahun dari saya. Dia ... menikahi ibu hanya untuk menipunya.”
Dokter Rian mengusap pucuk kepala Anyelir. “Aku bersyukur kau baik-baik saja!”
Wajah Anyelir tertunduk sambil menyembunyikan senyum manisnya.
Tak terasa, mobil jemputan yang dikirim oleh Nyonya Lastri pun datang dan Anyelir berpamitan dengan Dokter Rian yang telah menyelamatkan dirinya.
Selagi ia duduk dalam mobil, ponsel Anyelir berdering. Saat ia lihat, ternyata ada nomor yang telah menghubunginya sejak tadi.
Ia pun mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal tersebut, karena takut jika itu urusan penting.
“Halo?” jawab Anyelir yang duduk di kursi mobil bagian belakang.
“Apakah kau Anyelir?”
“Ya, betul dengan saya sendiri.”
“Bosku memintaku untuk menagih hutang milik ayahmu! Kau harus menyiapkan lima ratus juta itu minggu ini. Jika tidak, aku akan menghampirimu!”