Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
49. Menyiapkan Baju Suami


Anyelir tak mau menjadi gila karena menuruti permintaan Dylan. Lebih tepatnya, sang akal sehat, menyadarkan agar perempuan itu tak terlena dengan permintaan pria yang sedang tidur tak sadarkan diri tersebut.


Perlahan, dia mengangkat tangan Dylan. Pelukannya kini sudah tidak terlalu erat dan mengendur hingga Anyelir pun bisa pergi dari sana.


Dia mencoba melangkah perlahan, keluar dari kamar milik sang anak menuju kamarnya sendiri. Entah bagaimana posisi tidur mereka semalam, yang jelas kasur sempit milik Rio itu muat untuk mereka bertiga dengan keadaan Anyelir berada di tengah diimpit oleh kedua pria kesayangannya tersebut.


Menuju ke kamar, langsung mandi dan membersihkan diri. Anyelir tak ada pekerjaan hari ini karena ia harus bekerja shift malam nanti. Sehingga pagi-pagi, dia bisa fokus di rumah dan menemani Rio.


*


“Bu Anyelir, udah nggak usah bantuin bibi. Di sini banyak kok  yang mau masak dan beres-beres,” ujar Bi Ai yang melarang Anyelir saat wanita itu hendak mencuci.


“Ah, Bibi. Kenapa tidak? Aku juga tinggal di rumah ini dan sekarang sedang tak ada pekerjaan,” ujarnya sambil tetap membawa baskom pencuci beras di tangannya.


“Aduh, ibu ini ya. Sudah, masak beras biar sama saya.” Bi Ai malah merebut lagi beras tersebut dan memberikan pada pelayannya.


“Ya sudah, biar saya menyiapkan sarapan.” Perempuan itu bersikukuh ingin bekerja di dapur.


Bi Ai menggelengkan kepalanya. “Bi, nanti para pelayan itu ada yang menganggur kalau ibu bekerja sekarang,” ujarnya kemudian.


“Anyelir!” Terdengar suara seorang pria memanggil namanya.


Serentak semua pelayan menengok ke atas dan melihat sumber suara tersebut.


Seorang pria dengan handuk kimono sedang berada di dekat tangga dan memberi tatapan tajam pada Anyelir. Kedua tangannya terlipat, lalu ia menggerakkan kepalanya ke kanan seakan memberi perintah pada Anyelir agar wanita itu segera ke atas menghampirinya.


“Itu, ibu lebih baik menghampiri Pak Dylan saja. Dia terlihat menginginkan sesuatu dari ibu.” Bi Ai memerintah Anyelir segera ke atas agar perempuan itu tidak mengambil alih pekerjaan para pelayan.


Bukan apa-apa, Bi Ai hanya tak mau salah satu nyonyanya bekerja dan ia membiarkan ada salah satu pelayan yang bersantai karena pekerjaannya telah diambil alih oleh Anyelir.


Berjalan agak terburu-buru, tapi Anyelir tak mau melihat ke depan. Apalagi saat berjalan menaiki tangga, wanita itu tak mau menatap ke atas. Karena di sana terdapat Dylan yang sedang melipat kedua tangan sambil menatap tajam ke arah Anyelir di ujung tangga.


“Siapkan baju kerja untukku,” titah Dylan saat Anyelir berada di tangga terakhir.


Pria itu berjalan mendahulu sang istri dengan wajah yang serius. Seakan-akan tak satu pun otot di wajahnya yang santai.


“Biasanya juga dia tak mau aku yang memperhatikan dirinya. Lalu sekarang kenapa orang ini tiba-tiba memberikan tugas padaku,” gumam Anyelir dalam hati.


Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu.


“Jangan-jangan ....”


Wanita itu langsung menutup bagian depan tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangan. Jangan-jangan dia melakukan sesuatu pada Anyelir? Wanita itu pun menjadi gugup dan ketakutan oleh pikirannya sendiri.


“Apa yang kaulakukan di sana? Cepatlah!” titah Dylan yang memberi perintah dengan mutlak.


“Kau memikirkan apa?” tanya pria tersebut pada Anyelir.


Sang perempuan pun seakan tertangkap basah telah memikirkan sesuatu yang menjurus ke sana. Mendadak Anyelir salah tingkah dan melepaskan kedua tangan, lalu berjalan seperti biasa.


“Aku ... aku tidak memikirkan apa pun.” Ia pun segera menyusul langkah kaki Dylan dan masuk ke dalam kamar pria tersebut.


Ini ... adalah pertama kalinya Anyelir menginjakkan kaki di kamar Dylan. Perempuan itu sedikit menghirup bau yang tak asing di hidungnya. Ya, ini adalah aroma parfum yang sering digunakan oleh Dylan. Aroma seperti ini menempel dan terjebak dalam ruangan, sehingga kamar tersebut memiliki bau maskulin yang khas dengan pemiliknya.


Akan tetapi, masuk ke dalam kamar Dylan harus menyiapkan mental sekuat baja. Pasalnya, ini bukanlah kamar bujangan yang semuanya serba diatur oleh ibunya. Melainkan ini adalah kamar pasangan muda dari suami dan istri yang saling mencintai.


Bukan poster pemain bola yang menempel di dinding besar itu, akan tetapi foto pernikahan mereka yang memenuhinya. Bukan alat musik ataupun sepatu olahraga yang mengisi sudut kamar, akan tetapi potret mesra keduanya tertata rapi dan menunjukkan betapa harmonisnya mereka.


Ya, harmonis sebelum Anyelir masuk ke dalam rumah tangga ini.


“Kau akan terus berdiri di sana?” ujar Dylan pada Anyelir.


Bukan hanya sekedar mematung, tapi Anyelir sedang mengamati dan mencoba menata hati. Ia mencoba agar dirinya biasa saja ketika melihat kondisi kamar sang suami yang seperti ini.


“Aku akan menyiapkan baju untukmu. Kaumau mandi, kan? Mandilah saja dulu.” Anyelir berkata tanpa banyak protes.


Padahal, sebelum masuk ke dalam kamar ini ia menggerutu karena tiba-tiba Dylan meminta dirinya menyiapkan keperluannya. Di mana hal-hal semacam ini ditolak mentah-mentah oleh pria tersebut karena dinilai jika Anyelir sedang berusaha menggantikan peran Andin untuk Dylan.


Akan tetapi, niat untuk mengomel sebelumnya terhempas ketika ia melihat bagaimana dekorasi kamar ini. Keinginan untuk memaki suaminya itu pun terhempas digantikan dengan usahanya untuk menetralkan hati yang remuk redam.


Selagi Dylan masuk ke kamar mandi, dirinya berada di area walk ini closet untuk menyiapkan baju seperti yang diminta oleh Dylan.


Anyelir mengambil baju untuk Dylan, ia mengambil setrika uap dan melicinkan kembali jas yang hendak digunakan oleh pria tersebut, juga kemeja dan celananya. Tak lupa Anyelir memilihkan dasi dan juga peralatan lain untuk sang suami.


Setelah semuanya sudah siap, Dylan keluar dari kamar mandi. Pria tersebut hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Lalu ia juga menggosok rambutnya yang basah sambil berjalan ke arah Anyelir.


“Aku keluar dulu,” ujar perempuan tersebut dan ia pun keluar meninggalkan Dylan yang sedang bersiap di area walk in closet.


Saat Anyelir hendak keluar dan membuka pintu kamar, dirinya merasakan ponsel di sakunya bergetar.


Ia urung membuka pintu dan malah merogoh ke dalam saku. “Siapa?” Sebuah nomor baru mengiriminya pesan.


‘Jika kau mengabaikan pesanku, maka aku akan mengincar dirimu, anakmu dan suami yang kausayangi. Cepat berikan uang untuk mengganti hutang Joni yang dilimpahkan padamu dan jangan coba-coba memberitahu pada siapa pun!’


Anyelir mendadak teringat pada saat kejadian Joni yang datang ke rumah sakit waktu itu, lalu setelah itu ia terus menerus mendapat teror pesan singkat seperti sekarang ini.


Tentu saja wanita itu tidak bodoh dan menyanggupi uang tersebut begitu saja, akan tetapi jika anaknya dan juga sang suami yang menjadi incarannya, maka apa yang harus dia lakukan?


Karena terfokus pada pesan tersebut, wanita itu tak sadar ada seseorang yang telah berdiri di belakangnya. “Sedang apa kau masih di sana?”