
Dylan dan Anyelir mendengarkan apa yang dikatakan oleh Gunadi baru saja, tapi pada akhirnya Dylan hanya menarik Anyelir untuk segera masuk dalam kamarnya. Kemudian pria tersebut menutup pintu.
Anyelir berdiri di balik pintu bersama dengan Dylan yang mengimpitnya. Perempuan itu pun terkejut begitu pria di depannya menarik tangan dan membawanya masuk.
Pria itu tak berkata apa pun, dia menatap Anyelir dengan tajam dan penuh kemarahan.
Begitu perempuan itu mendongakkan kepala, dia langsung menunduk lagi karena takut tertusuk oleh tajamnya tatapan sang suami tersebut.
“Kenapa kau kemari?” tanya Dylan sambil menjauhkan dirinya dari Anyelir. Tidak terlalu jauh, hanya sekitar dua langkah ke belakang.
“Aku ....” Melihat raut Dylan yang seperti ini, perempuan menjadi ragu dengan tujuannya.
Dylan melipat kedua tangan dan menancapkan tatapannya itu ke arah Anyelir, lalu menguncinya. Dia sama sekali tak melirik ke arah lain, selain pada gadis yang sedang menunduk ketakutan itu.
"Kau hanya mau seperti ini? Kalau begitu kembali lagi ke kamarmu!” bentaknya.
Anyelir mengikuti ucapan Dylan tanpa berkata apa-apa, perempuan itu melangkah dan berbalik. Namun saat memegang gagang pintu dan hendak keluar, sang dokter muda yang cantik itu pun berbalik lagi dan mengatakan pada Dylan keinginannya. “Pinjami aku uang 500 juta,” ucap Anyelir secara spontan.
Dia sudah menduga hal ini akan terjadi pada Dylan ketika merespons ucapan Anyelir. Marah, benci, kesal, memaki, merendahkan bahkan mungkin menghina. Perempuan itu memberanikan diri untuk menatap pada sang suami dan kemudian mengulang permintaannya.
“Kalau kau tak keberatan, aku ingin pinjam uang padamu sebanyak lima ratus juta.” Perempuan itu menutup mata dan menunggu respons dari suaminya.
“Kau ...?” Dylan mendekat lalu sedikit membungkuk dan menatap pada perempuan itu lekat-lekat.
Anyelir memberanikan diri untuk membuka mata, begitu sadar wajah Dylan tepat di depannya, dia segera memalingkan muka. Aroma tembakau dari embusan napas suaminya itu secara langsung terhirup oleh Anyelir. Perempuan yang memang sedang sakit sejak awal tersebut semakin mengeluarkan keringat dingin karena perlakuan suaminya.
“Boleh,” jawab Dylan tanpa ragu.
Seketika Anyelir pun mencoba menatap sang suami yang ada di hadapannya. Ia mengedipkan mata beberapa kali dan berusaha untuk mencerna kesadaran. Benarkah ini seorang Dylan Bagaskara?
“Be ... benarkah?”
Dylan mengangguk, lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat ke samping telinga Anyelir. “Benar, untuk berapa malam?”
Spontan Anyelir pun menoleh pada Dylan. Perempuan itu sekali lagi mengamati ekspresi wajah suaminya yang saat ini malah tersenyum miring melihat reaksi Anyelir.
Sudah diduga, Dylan tak akan semudah itu meminjamkan uangnya pada Anyelir. Apalagi lima ratus juta bukan jumlah yang kecil.
“Apa maksudmu?” tanya Anyelir dengan suara lembut nan polosnya.
Dylan pun mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Anyelir. Wangi bunga yang segar terhirup begitu dalam oleh pria tersebut dan ia semakin menempelkan hidung ke sana untuk mecium wanginya. “Layani aku untuk beberapa malam, kapan pun aku meminta, kau tak boleh menolak. Sebelum aku selesaikan keinginanku, jangan kau pergi apalagi tinggalkan aku seperti yang pernah kaulakukan sebelumnya.” Pria tersebut menjelaskan dengan cara yang mendominasi Anyelir. Selain karena tubuhnya yang tinggi, suara Dylan yang penuh dengan nada bossy itu membuat sekitarnya seakan harus tunduk padanya.
Perempuan itu kini malah memundurkan kepala dan bergidik. “Aku ... aku ....”
“Kau masih ingin uangnya atau tidak?” tanya Dylan lagi.
Nada menyebalkan itu harus ditelan oleh Anyelir mentah-mentah, tak tahu karena kondisinya yang sedang sakit, tenggorokannya seakan tercekat dan membuat wanita itu tak bisa menimpali apa-apa.
Dylan pun memiringkan senyum, lalu ia berbalik dan menuju ke arah nakas untuk mengambil ponsel.
Ting!
Suara pesan masuk pada ponsel Anyelir yang tidak dalam mode getar.
Perempuan itu tergopoh-gopoh melihat pada ponsel, sementara Dylan menatap Anyelir dengan alis yang terangkat sebelah.
“Ini ... apa maksudnya?” Anyelir menunjukkan isi dari layarnya. Ada sebuah notifikasi dari aplikasi bank daring yang mengatakan jika rekeningnya terisi Saldo sebanyak seratus juta.
“Bankmu tidak bisa menerima uang lebih dari seratus juta dalam sehari, jadi aku akan transfer secara bertahap setiap satu malam kau tidur denganku,” ucap Dylan sambil menghampiri istrinya dan tersenyum miring.
Dylan berjalan mendekat, tapi semakin langkahnya berada di dekat Anyelir, perempuan itu malah mundur dan mencoba menjauh. Tetapi posisinya telah tersudut di belakang pintu.
Pria bertubuh jangkung yang telah berada di dekat Anyelir lagi tersebut langsung mengulurkan tangan untuk mengunci pintu. Dia menarik tubuh Anyelir agar semakin dekat dengan dekapannya. Lalu pria itu membawa sang istri bertubuh mungil tersebut naik ke atas ranjangnya.
Anyelir menggelengkan kepala dan berusaha untuk memberontak.
Dylan berguling dan membuat Anyelir berada di bawah.
Rambut Anyelir yang tergerai pun berantakan di atas kasur, tubuhnya terkunci dengan tangan diangkat oleh Dylan, dia hanya bisa menggelengkan kepala. “Pak Dylan, jangan!”
Dylan tak menggubris ucapan wanita itu. Ia menatap wajah cantik istrinya yang terlihat pucat. Lalu menghujani wajah yang lembap oleh keringat dingin itu dengan ciuman. Pria tersebut tak menyadari ada yang janggal dengan tubuh ringkih istrinya.
Dia seakan menutup mata untuk tak mau tahu tentang kenapa tubuh istrinya dingin, kenapa permukaan kulit Anyelir tertutup keringat atau yang seharusnya paling kentara adalah kenapa wajah sang istri sangat pucat?
“Pak Dylan kumohon!”
“Anyelir, aku sudah membayarmu untuk melakukan ini! Jadi diamlah!” paksa Dylan yang melanjutkan kegiatannya.
“Aku belum menyetujuinya, aku tidak mau!” berontak Anyelir.
“Memang kau masih bisa setuju atau tidak setuju. Kau hanya butuh uang, kan? Kau hanya tahu tentang uang, kan?”
Pria tersebut dengan kasar menjamah sekujur tubuh Anyelir dengan telapak tangannya yang lebar.
“Kautahu apa yang membuatku tadi begitu marah pada Rian?” tanya Dylan sambil mencoba melepas segala bentuk kain yang menempel pada tubuh Anyelir.
Anyelir menggeleng sambil terus menangis, wajah pucatnya kini memerah. Terutama di area sekitar mata dan ujung hidungnya.
“Rian telah mengakui semuanya padamu, kan?” tanya Dylan. Mereka pun berimpitan di atas ranjang tanpa sehelai benang pun.
Perempuan itu tak menjawab ucapan Dylan, dia hanya menangis dan sesekali mengerang karena sentuhan suaminya yang terkadang lembut terkadang kasar tersebut.
“Jangan pernah sekali-kali merespons pria lain selain aku. Termasuk Rian, aku bisa membuatmu dikeluarkan dari rumah sakit jika kau terus seperti itu!” ancam Dylan.
Pria tersebut melakukan hal yang sudah ia tunggu-tunggu sejak kemarin pada Anyelir. Segala yang ingin ia lakukan, ditumpahkan oleh Dylan di malam itu.
“Dan ingat-ingat olehmu sekali lagi, hanya aku yang boleh melakukan ini padamu!”