Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
23. Anyelir Atau Andin?


Datanglah ke rumah hari ini, bapak mencarimu. Jika tidak, aku akan tetap datang ke persidangan dan menuntut untuk membatalkan perceraian kita. ~ Dylan


Pesan itu terkirim pada Andin pada pukul delapan lewat lima belas menit. Pria itu tak tahu di mana Andin berada, namun yang ia pikirkan adalah, wanita itu tak akan bisa berada jauh darinya. Maka dari itu, di mana pun Andin berada sekarang, dia pasti bisa datang ke tempat Dylan tanpa perlu waktu yang lama.


Namun sayang hingga pukul sepuluh, wanita itu tidak datang. Jangankan untuk datang, bahkan membalas pesannya pun tidak.


Berulang kali Dylan telah menelepon wanita tersebut, namun nomor itu tak dapat ia jangkau.


“Bagaimana, Dylan? Apa Andin bisa datang?” tanya Nyonya Lastri menghampiri anaknya yang sedang berada di balkon kamar.


“Kamu sudah mau tidur malam ini, mau selarut apa wanita itu akan datang?” Bahkan saat itu Lastri telah mengenakan baju tidurnya.


“Dia ... sedang berada di luar kota. Beri aku waktu, dia pasti akan datang.”


Nyonya Lastri tak menimpali lagi dan ia pun langsung pergi menuju ke kamar Anyelir.


Dylan selalu merasa tak suka jika melihat sang ibunda terlalu dekat dengan Anyelir. Karena ia sendiri sering melihat bila ibunya tak pernah sedekat itu terhadap Andin. Kenapa bila pada Anyelir bisa sangat akrab?


“Dasar penjilat!” umpat Dylan pada Anyelir saat melihat perempuan itu mengobrol sambil tersenyum di depan pintu kamar.


Pria itu masuk lagi ke kamar sambil membanting pintu. Dia masih berusaha terus menghubungi Andin, namun tak sekalipun wanita itu mengangkat panggilan darinya.


Berbaring di atas ranjang bukan untuk beristirahat. Melainkan ia hanya sekedar meletakkan tubuh secara horizontal agar ia bisa berpikir lebih keras namun tubuhnya lebih santai.


Dylan membuka ponselnya dan mencari sosial media milik sang istri.


‘Pengguna Tidak Ditemukan’


Dia terkejut sampai akhirnya bangun dan duduk lagi.


“Andin memblokir semua sosial medianya dariku?” Ia tak percaya jika sang istri melakukan hal sejauh itu.


“Aku coba hubungi temannya saja.”


Pria itu melangkah mondar-mandir dengan gelisah. Ia mengetik pesan untuk menanyakan keberadaan Andin pada satu per satu kawannya. Namun tak ada satu pun yang sedang online pada saat itu.


Dylan semakin gelisah.


Dia duduk di tepi ranjang sambil sebelah tangannya meremas seprai. Sambil menunggu ada yang aktif, pria itu pun melihat-lihat story yang dibagikan oleh kawan-kawan Andin.


Tak ada yang penting. Tak ada satu pun story mereka yang berkaitan dengan Andin.


Sampai ada satu story yang memunculkan gambar tas rotan, lalu pada gambar tersebut disertai sebuah tulisan.


‘Yang lagi di Bali tolong belikan ini satu lusin, ya. Xixixi @and_ien’


Sebuah nama pengguna baru yang tidak dikenal oleh Dylan. Pria itu pun menekan nama pengguna itu dan muncullah sebuah profil baru dengan orang yang ia kenal.


Ya, itu Andin.


Perempuan itu mengganti akunnya dan memblokir Dylan dari akun lamanya. Namun sayang, akun tersebut dikunci sehingga Dylan tak bisa melihat isinya.


Tapi setidaknya, sekarang Dylan tahu keberadaan wanita yang ia cintai itu.


Dylan pun membalas story milik kawan Andin yang bergambar tas rotan tadi.


Apa kautahu ada di mana Andin sekarang? ~Dylan.


*


Pagi yang dingin karena hujan telah turun sejak dini hari. Anyelir telah bangun dan menyiapkan bekal sarapan seperti biasanya.


Sementara itu, Tuan Gunadi telah duduk di ruang keluarga sambil menunggu sarapannya disiapkan.


“Dylan!” panggil pria tua itu saat mengetahui jika anak semata wayangnya sedang menuruni tangga.


“Iya, Pak?” Pria itu pun mendekat pada Gunadi.


Dia telah rapi dan siap untuk pergi. Rambutnya mengilap karena pomade yang dioleskan, juga tubuhnya begitu wangi karena parfum yang ia semprotkan ke sekelilingnya.


Dylan langsung duduk di depan Gunadi.


“Ada apa?”


“Kau berhasil menghubungi Andin?” tanya pria tua itu.


“Emmm ... dia sedang berada di luar kota.”


“Tapi kau berhasil mendapat kabar darinya?”


Dylan diam saja.


“Dia pergi ke luar kota setelah mengajukan gugatan cerai. Lalu mungkin dia hanya akan datang saat sidang pertama dimulai.” Tuan Gunadi menggelengkan kepalanya. “Dylan, menurut bapak, dia sudah tak menaruh perasaan padamu. Jika dia masih memberatkan dirimu, mana mungkin dia pergi tanpa pamit pada kamu yang masih berstatus sebagai suaminya.”


Anyelir sedang menata makanan di ruang makan ikut mendengar percakapan tersebut. Ia bukan berniat untuk menguping, melainkan memang terdengar saja  pembicaraan mereka.


“Dia pasti akan kembali, Pak.”


“Aku tak peduli dengan keputusan yang kauambil terhadap Andin. Tapi bapak mau kamu tegas untuk keputusan yang kauambil terhadap Anyelir. Karena Anyelir sekarang sedang berada di rumah ini.” Tuan Gunadi benar-benar mendesak Dylan hingga pria itu tak bisa berkata apa-apa.


“Jika kau bertahan dengan rumah tanggamu bersama Andin, maka lepaskan Anyelir. Yang itu artinya kita harus merelakan obat Rio, kita jalani saja donor darah untuk Rio, meski entah sampai kapan anak itu akan bertahan,” ucap Gunadi.


“Atau jika kau mau bertahan dengan Anyelir, setidaknya demi Rio. Lepaskan Andin. Ceraikan wanita itu dan kamu bisa mendaftarkan pernikahanmu bersama Anyelir secara resmi. Aku menentang adanya pernikahan siri di keluarga ini.” Gunadi mengatakan hal tersebut dengan irama yang santai namun selalu ada penekanan di setiap kalimatnya.


Dylan masih menunduk, berpikir dalam dilema.


Besar harapan dalam hati Dylan untuk bertahan dengan Andin. Ia masih saja tak percaya jika wanita yang selalu mencintainya itu bisa pergi dengan mudah bersama laki-laki lain. Bahkan Andin berani tampil di depan publik dengan laki-laki itu saat perayaan hari jadi perusahaan keluarga Rian.


“Bagaimana Dylan? Pertahankan Andin atau bertahan dengan Anyelir?” desak pria tua itu.


Anyelir menatap kejadian itu sambil terpaku. Ia seakan menantikan nama yang akan terucap dari bibir Dylan dan berharap jika nama yang keluar itu adalah namanya. Walau hal itu tak mungkin terjadi.


Sementara itu, Dylan menyadari ada sepasang mata dan telinga yang sedang berusaha untuk ikut mendengar isi percakapan ini. Pria itu pun menatap tajam pada Anyelir hingga membuat perempuan itu kikuk dan menghindari tatapan Dylan.


Namun saat itu juga, Anyelir merasakan ada seseorang yang berjalan di belakangnya lalu berbisik sekilas. “Biar ibu ikut bicara ke sana.”


Bisikan itu terlihat oleh Dylan. Pria itu berpikir jika Anyelir tengah membisikkan sesuatu pada ibunya.


Lastri pun masuk dan bergabung dengan mereka berdua. Wanita itu pun berkata,  “Menurut ibu, lebih baik bertahan dengan Anyelir. Kau ini seharusnya memikirkan obat untuk Rio. Bertahan dengan Anyelir membuat kau memiliki obat tersebut. Sementara bertahan dengan Andin, kau hanya akan membuat Anyelir pergi dan tak bisa memberi obat untuk anak kalian. Lagi pula, apa yang kau beratkan dari Andin? Dia sudah bersama laki-laki selain dirimu, apalagi dia telah melayangkan gugatan cerai, tunggu apa lagi.”


Dylan yang mendengar hal itu spontan langsung geram pada sang ibunda. “Apa Anyelir yang menyuruh ibu berkata demikian?”