Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
27. Pergi Ke Optik


Anyelir memegang pada pegangan di sisi atas mobil. Dia berusaha menahan tubuhnya agar tidak ikut terguncang karena pengemudi di sampingnya ini sangat ugal-ugalan. Namun Anyelir benar-benar menyesal telah memaksakan diri untuk setuju dengan ide membeli kacamata di optik langganan Tuan Gunadi yang ditemani oleh Dylan.


“Berhenti,” pinta Anyelir dengan lirih sambil ketakutan.


Dylan tak mau mendengar, ia hanya sedang melampiaskan amarah pada pedal gas dan terus fokus menghindar dari kendaraan lain.


“Pak Dylan, saya mohon berhenti!” Anyelir sedikit mengeraskan suaranya sambil menoleh pada pria di samping.


Sekeras apa pun Anyelir memohon, pria yang tengah diliputi amarah mencoba untuk tetap berkonsentrasi dan mengabaikan permintaan wanita di sampingnya.


Anyelir benar-benar terkejut saat mobil itu menghindar ke kiri karena hampir menabrak pengendara sepeda motor dari arah yang berlawanan. “Pak Dylan,” jerit Anyelir sekali lagi.


Wanita itu benar-benar meradang karena pria di sampingnya benar-benar egois dan penuh amarah. “Berhenti, aku mohon berhenti!” teriak Anyelir dengan kepala yang terantuk-antuk pada kaca.


Namun Dylan masih terus menginjak pedal gas dengan keras tanpa mengindahkan perkataan Anyelir.


“Jika kau marah karena tak mau mengantarku makanya berhenti aku akan pergi sendiri! Berhenti, bedebah! Pria brengsek! Jangan bunuh aku dengan cara seperti ini!” umpat Anyelir secara sengaja sambil terengah-engah, air matanya luruh karena amarah yang terlalu memuncak.


Dylan pun langsung menepikan kendaraannya dan berhenti. Pria itu langsung memukul pada setang kemudi dan menundukkan kepala.


“Kenapa pula aku mau pergi denganmu. Aku juga tak ada bedanya dengan dirimu yang terpaksa menjalani pernikahan ini.” Wanita itu melepas sabuk pengamannya dengan segera dan langsung membuka pintu mobil.


Ia tak mau berpamitan atau sekedar basa-basi, langsung saja ia turunkan kaki menginjak tanah dan saat itu juga ia banting pintu mobil sambil meninggalkan Dylan.


Dia tidak tahu ke mana arah untuk pergi menuju optik langganan Tuan Gunadi, saat itu juga dia menghentikan taksi.


“Mau ke mana, Mbak?” tanya sang sopir.


Anyelir bingung ke mana ia harus pergi karena tak punya tujuan. “Coba ke jalan Rambutan, Pak.”


Itu adalah alamat rumah Lina, kawan baiknya. Wanita itu tak punya tujuan. Sehingga ia tak tahu harus pergi ke mana.


Mobil yang ia naiki pergi, setelah membayar uangnya Anyelir pun turun. Dia sendiri tak peduli dengan Dylan, yang ... entah pergi ke mana pria tersebut. Terserah, apakah dia hendak menyusul Anyelir, kembali ke rumah atau bahkan pergi menemui istri pertamanya, Anyelir tak peduli.


Itu adalah kali pertama wanita itu marah pada Dylan. Sekaligus menjadi kali pertama Anyelir mengumpat bahkan berbicara tidak formal pada pria yang menjadi suaminya tersebut.


Dengan langkah gontai, wanita itu berjalan ke arah rumah kontrakan bercat biru muda. Dia bukan pagarnya dan berjalan menuju ke teras.


Melepas alas kaki, menuju ke pintu dan mengetuknya.


Tok tok tok


“Lina ... ini aku.”


Wanita berkucir di tengah kepalanya itu mengetuk lagi pintu rumah sang sahabat.


“Lina .... Lin,” panggil Anyelir berulang kali.


Terdengar suara langkah kaki dari dalam yang tergopoh-gopoh.


Anyelir mengintip dan ia tersenyum begitu melihat siluet sahabatnya dari kaca.


“Anye ....” Lina pun terkejut saat melihat kawan baiknya itu berada di depan kontrakan. “Ada apa? Ayo masuk!”


“Kamu lagi santai, nggak?” tanya Anyelir mengajukan pertanyaan bodoh. Karena seharusnya ia sudah tahu jika temannya itu tak pernah memiliki waktu luang untuk bersantai.


“Aku lagi ... biasalah! Kamu masih belum nemuin kacamatamu?” Kemarin Anyelir mengatakan pada Lina jika kacamatanya hilang.


“Heem .... Nanti harus berangkat aku, Anye.” Lina mengeluh sambil merebahkan diri di atas sofa bed.


“Ya, aku ganggu dong. Sorry, Lin.”


“Ish, ganggu apaan. Kamu tuh udah kayak orang lain aja, tahu nggak? Ada apa sih? Raut wajah kamu udah nggak baik-baik aja, tau!” Lina bisa menerka dari sudut mata Anyelir yang seperti baru saja mengeluarkan air mata.


Anyelir pun hanya terdiam, ia ingin bercerita apa yang baru saja terjadi padanya. Namun perempuan itu seakan tak tahu bagaimana harus memulai dan sepertinya ia telah tak memiliki lagi tenaga untuk bicara usai meluapkan amarahnya pada Dylan tadi.


“Kamu bisa temenin aku ke optik nggak, buat beli kacamata.” Anyelir pun teringat pada tujuan utamanya saat pergi tadi. Daripada ia bercerita tentang kekesalannya, lebih baik ia menuntaskan kepentingannya saja.


“Ya ampun, kukira apa. Sekarang?” tanya Lina sambil menguap.


“Kayaknya kamu butuh istirahat, Lin. Aku pergi sendiri aja,” ucap Anyelir yang merasa bersalah.


“Eh, tunggu dulu! Aku bukannya nggak mau nganterin kamu. Tapi ... aku punya teman yang kerja di optik gitu deh. Mending kamu pakai lensa kontak aja, di optik tempat dia kerja tuh murah kok. Kalau kamu mau ... nanti sepulang dia kerja aku suruh dia ke tempat kamu. Biar dia ngukur minus kamu, tapi bakal besok dia bawa lensanya. Cuma kalau kamu mau sekarang juga dapat lensanya, mending ke optik aja langsung.” Lina memberikan saran pada Anyelir.


Akan tetapi, wajah Anyelir mendadak ragu.


“Kenapa?” tanya Lina.


“Aku nggak biasa pakai soft lens, Lin.” Anyelir mengatakan kelemahannya.


Lina pun mengembuskan napas dengan berat.


“Pelan-pelan, dicoba, belajar, biasakan,” ucap Lina pada kawannya itu.


“Lagian, rambutmu itu looh!” Lina protes pada dandanan Anyelir.


“Eh, eh, jangan dibuka kucirnya,” protes Anyelir sambil menahan tangan Lina yang sudah ad di kepalanya untuk melepas ikat rambut berwarna hitam itu.


“Aku bukan mau buka, tapi ... mau benerin kucir kamu.”


Kawan dari Anyelir itu mengikat ulang rambut milik Anye. Namun dia menyisakan sedikit bagian dari anak rambut di bagian depan agar sedikit menjuntai. Lalu Lina mengambil pengeriting rambut dan menggulungnya pada juntaian anak rambut milik Anyelir.


“Nah, ini sih mending.” Lina tersenyum saat melihat hasil dandanannya. “Kamu kalau nggak pakai kacamata itu cantik banget tahu! Aku iri sama wajah kamu,” ujar Lina.


Namun Anyelir hanya menggelengkan kepala. Ia pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh kawannya itu.


“Ya udah, ah. Kamu istirahat saja, Lin. Biar aku pergi sendiri. Kamu share aja lokasi optik punya teman kamu itu,” ucap Anyelir sambil berdiri dan membereskan barang.


“Iya, sip! Aku juga udah chat teman aku dan ngasih tahu kalau ada kamu datang.”


“Makasi ya, Lin.”


*


Jika Anyelir sedang bersiap untuk pergi ke optik tempat temannya Lina bekerja, maka Dylan kali ini tak menyiakan kesempatan untuk datang ke pengadilan agama dan memenuhi jadwal mediasi bersama istrinya.


Dia masih berharap dengan sangat besar dan berdoa agar sang istri mau berdamai lalu kembali bersamanya.


Dylan pun berkata pada petugas yang akan mendampinginya untuk mediasi.


“Pak Dylan, ternyata Anda bisa datang. Saya dengar, Bu Andin menolak mediasi. Jadi yang hadir saat ini hanyalah kuasa hukumnya saja, mereka telah menunggu di ruang untuk mediasi.”