
Anyelir mendengar apa yang dikatakan oleh Dylan. Namun wanita itu memilih untuk tidak menggubrisnya. Daripada dirinya harus sakit hati karena dituduh melakukan hal ini dan itu, lalu ujung-ujungnya dirinya disiksa oleh Dylan, lebih baik ia tak perlu berkata apa-apa.
“Dylan, dari mana kamu?” tanya Lastri kali ini pada anaknya.
Dylan pun menoleh, kenapa mendadak ibunya menanyakan hal itu. Karena dia pikir jika sang ibu tak menaruh curiga dan tahu jika Anyelir pergi ke optik ditemani oleh Dylan.
“Kenapa ibu bertanya seperti itu?” Dylan malah balik bertanya.
Sementara Anyelir yang telah berjalan sampai ruang tengah pun ikut menghentikan langkah, ia tak menduga kalau mertuanya itu akan mencurigai Dylan juga.
“Karena ibu tanya pada petugas optik langganan keluarga kita, tak ada kamu ke sana. Mereka hanya melihat Anyelir seorang diri.” Nyonya Lastri menegaskan jika dirinya mendapatkan laporan dari petugas optik, bukan dari Anyelir yang mengadu.
Anyelir yang berjarak beberapa meter dari mereka pun menggumam tanpa suara, “Oh, jadi optik tempat temannya Lina kerja tadi itu adalah optik langganan Ibu sama Bapak. Kebetulan sekali.”
Atas pertanyaan dari sang ibunda, Dylan pun terdiam. Ia seakan sudah tertangkap basah dan tak bisa mengelak jika dirinya memang tak menemani Anyelir untuk datang ke optik.
Namun Nyonya Lastri kali ini tak mendesak Dylan, karena sepertinya dia sudah tahu jawabannya. “Aduh, kamu tuh, ya. Untung kamu perginya untuk mediasi di pengadilan agama dan hasilnya gagal mediasi. Seenggaknya itu udah jadi bukti gimana wataknya si Andin,” celetuk sang ibu.
Dylan yang saat itu masih dalam keadaan tak enak hati perkara itu memilih untuk menjawab. Jujur saja, gagalnya mediasi dengan Andin berdampak sangat buruk pada perasaannya saat itu.
Sementara itu, Anyelir pun langsung memilih untuk ke atas menuju kamarnya saja. Ia selalu merasa sakit hati jika mendengar tentang istri pertama suaminya itu. Dia memang tahu sejak awal jika dirinya mencintai pria beristri yang tak mungkin membalas perasaannya, namun jika terang-terangan mendengar hal itu, Anyelir merasa sakit hati.
Dylan dan ibunya berjalan bersama, namun pria itu tak banyak menimpali ucapan ibunya. Mereka naik tangga dan di ujung tangga sang ibu pun membuka mulutnya lagi untuk bersuara. “Oh, iya. Ini masalah bayi tabung, kayaknya bapak sama sekali tidak setuju. Kali ini Bapak mau ngomong sebentar tentang itu. Ingat, ya, jangan ngebantah apa pun yang dia omongin. Kalau bisa langsung turutin, udah sana! Biar penyakitnya nggak kambuh-kambuh lagi,” titah Lastri pada anaknya.
Anyelir yang pintu kamarnya di dekat ujung tangga lantai dua itu pun mendengar percakapan tersebut sekilas. Kenapa mereka akan membahas bayi tabung? Begitu pikirnya.
“Duh, semoga saja bapak tidak mengatakan larangan yang keras terhadap bayi tabung, aku takut Dylan akan marah dan melampiaskan kekesalannya lagi padaku.” Anyelir mendadak gelisah sendiri.
Wanita itu pun menutup pintu kamar dan menguncinya dengan rapat, entah kenapa dia takut Dylan tiba-tiba masuk kamarnya lagi dan kemudian marah-marah sampai mencekiknya.
Anyelir memutuskan untuk mandi sore itu.
Melepaskan baju, menyalakan keran dan mengguyur tubuh dari kepala sampai ujung kaki menggunakan air hangat. Anyelir menggosok setiap bagian tubuhnya dan menggunakan sabun dengan wangi aroma terapi untuk merelaksasi dirinya.
Kaca yang menjadi pembatas kamar mandi dan westafel pun berembun karena uap dari air hangat. Tak perlu lama-lama, perempuan itu segera menyelesaikan kegiatannya.
Dia keluar dalam keadaan rambut yang terbungkus dan tubuh yang dililit handuk. Wanita itu tak menggunakan bathrobe karena ia merasa lebih nyaman menggunakan handuk seperti ini.
Rambutnya ia keringkan sambil duduk di depan cermin. Di rumah ini tersedia hair dryer, sebenarnya Anyelir tak terbiasa menggunakannya, namun Lina berkata jika mengeringkan rambut menggunakan pengering juga bisa membantu rambut tertata lebih rapi. Untuk itu, saat ini ia tertarik mencobanya.
Anyelir menyisir rambutnya lalu menyalakan pengering rambut. Udara hangat berembus di tepi kepalanya, dia tetap menyisir rambutnya agar tampak lebih bervolume.
Hingga rambutnya telah setengah kering, Anyelir pun memilih vitamin rambut yang ada di depan meja rias lalu memakainya. Entah kenapa semua perlengkapan untuk merawat tubuh telah tersedia di dalam kamar ini.
Anyelir pun mendengar seseorang mengetuk pintu dan membukanya. Begitu melihat siapa yang datang, wanita itu pun langsung bungkam dan tak mau berkata apa-apa.
Pria itu memaksa masuk ke dalam kamar Anyelir, dia pun menutup pintu dan menguncinya kembali. Berdiri dan menatap tajam pada wanita yang ada di depannya itu.
Dari tatapan matanya, Anyelir bisa melihat jika pria tersebut baru saja melalui hal yang sulit. Mungkin pembicaraannya dengan Tuan Gunadi tidak berjalan lancar dan merugikan dirinya.
Dylan pun mendorong Anyelir sambil menarik handuk yang dikenakan oleh pria tersebut.
“Ah!” Spontan Anyelir pun menjerit karena tubuhnya tiba-tiba terbuka. Dia menghalangi area sensitifnya dengan kedua tangan dan langsung menarik selimut. “Mau apa kamu?” tanya Anyelir pada Dylan dengan nada menyentak.
Namun Dylan tak menjawab dan malah mendorong wanita itu hingga tersungkur di atas ranjang dan langsung menindihnya.
Dylan mencengkeram ujung dagu Anyelir hingga bibir wanita itu mengerucut. “Jadi ini yang kamu mau?” ujarnya pada wanita yang kini berada di bawahnya.
Anyelir tak mengerti, ia berusaha mendorong Dylan sekuat tenaga agar segera pergi dari atas tubuhnya. Namun tak seperti itu yang terjadi, karena pria itu memiliki tenaga yang jauh lebih besar darinya, yang ada kini Dylan melepaskan seluruh pakaiannya dan suaminya Anyelir tersebut berhasil membuang selimut yang menghalangi mereka.
“Kamu sengaja, kan, menghasut kedua orang tuaku agar aku menyentuhmu? Ini yang kamu inginkan? Hah?” bentak Dylan.
“Pergi dari tubuhku! Tolong! Aku akan berteriak!” ancam Anyelir sambil memukul-mukul dada Dylan.
Dylan terus mengendus tubuh Anyelir yang baru saja usai mandi. Wangi aroma terapi yang menempel pada tubuh wanita ini sedikit menambah keinginan Dylan untuk menyentuhnya, walau sebenarnya pria itu sendiri sama sekali tak mau menyentuh wanita lain selain istri pertamanya.
“Dylan, aku benci kamu!” Kali ini Anyelir telah memanggil suaminya tanpa menggunakan kata ‘Pak’ lagi. Dia sudah memukul, mendorong, menyakar bahkan sampai menendang pria yang terus berusaha menciumi seluruh area tubuhnya.
Sampai tenaganya habis namun tak ada hasil, Dylan berhasil memasukinya dan merenggut kesuciannya. Walaupun Anyelir telah memiliki seorang anak, namun dia sebenarnya belum pernah melakukan hal seperti ini dengan pria mana pun.
Meski hal berharganya direnggut oleh pria yang ia sukai sejak lama, namun entah kenapa Anyelir merasa ternoda dan telah dilecehkan.
Wanita itu hanya berbaring sambil terus menangis dan sesekali memukuli Dylan yang sedang berada di atasnya.
“Aku benci kamu, Dylan,” ujarnya sambil terisak.
“Diam kau, dasar murahan!”
*
Bersambung ....
Kesel aku sama si Dylan, entah kenapa walau dengan suami sendiri namun jika diperlakukan seperti itu aku juga nggak akan mau.