Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
12. Ayo Jemput Mama!


“Kurang ajar!” Dylan sudah mengepalkan tangan dan tak bisa lagi membendung amarahnya.


“Wait, Bro! Santuy!”


Namun untung pada saat itu ada dua orang temannya yang ternyata mengikuti Dylan turun sampai area parkiran. Mereka tahu, jika dibiarkan maka akan terjadi keributan, untuk itu mereka berdua turun dan mengamati gerak-gerik Dylan.


Lagi-lagi, Dylan gagal melampiaskan emosinya. Kali ini kedua temannya yang lain, Leon dan Farel yang menahannya.


“Rian meminta kami untuk kemari,” ucap pria yang berambut agak panjang berwarna pirang dengan wajah putih khas Asia Timur.


“Aku harus memberi pria itu pelajaran! Andin sedang dalam bahaya!” Dylan memberontak karena akal sehatnya tengah pergi sejenak.


“Sadar, Bro! Kalau kamu yang menghardik pria itu, justru kamu yang berada dalam bahaya.” Saat ini, Farel yang menasihati Dylan.


Entah bagaimana Dylan bisa menyimpulkan jika Andin dalam bahaya, padahal jelas sekali jika Andin itu sedang berselingkuh di depan sang suami.


Dylan pun menghela napas mencoba menenangkan dirinya. Dia melihat mobil yang membawa Andin bersama pria tersebut pergi meninggalkan area parkir hotel.


Meski telah bisa menguasai diri lagi, namun Dylan kali ini mengusap dahinya. Bisa-bisanya ia membiarkan sang istri dibawa oleh pria lain.


“Aku harus mengejar Andin!”


Ternyata pria itu belum sadar sepenuhnya.


Dylan berlari namun Leon mencegahnya. Ia membanting lengan sang kawan yang berusaha menghentikan, namun akhirnya justru lengan Dylan yang dipelintir oleh Leon.


“Sadar, Bro!” Farel mengetuk kepala kawannya tersebut.


Dylan sempat berlari, namun kakinya tersandung dan ia pun jatuh. Saat ia tersungkur, tangannya mengepal. Tinjunya memukul pinggiran pot taman yang ada di dekatnya hingga punggung tangan pria itu menjadi lecet dan muncul sedikit darah. “Sial!”


Leon pun menarik lengan Dylan agar kawannya itu bangkit dan kembali ke tempat acara berlangsung.


Namun karena pakaian yang dikenakan oleh Dylan dan Leon sudah tak beraturan akibat perkelahian mereka, Farel pun menyewa sebuah kamar dan mereka meminta dua setel pekaian baru untuk kedua kawannya.


Hanya saja, saat Leon telah berganti pakaian, Dylan malah tertidur di kamar tersebut sendirian.


“Andin ... Andin ...,” racau pria tersebut di tengah tidurnya.


Kedua teman Dylan telah kembali ke area serbaguna tempat acara berlangsung meninggalkan Dylan yang masih belum bangun dari tidurnya.


Sementara itu, Nyonya Lastri yang tengah dikerumuni oleh para ibu-ibu lain karena penasaran mengenai apa yang terjadi dalam rumah tangga sang anak pun memutuskan untuk pulang. Tak lupa, ia juga meminta maaf pada Deswita dan suaminya karena apa yang ia lakukan tanpa sengaja telah merusak acara.


*


Kembali pada saat dini hari setelah Anyelir pulang dari rumah Nyonya Lastri.


“Andin ... Andiin ....” Dylan masih saja mengigau menyebut nama wanita yang telah menyelingkuhinya tersebut.


“Andin ...!” Akhirnya Dylan terbangun saat ia memimpikan Andin pergi dengan pria lain. Dalam hatinya, ia juga masih diliputi kemarahan karena Anyelir yang tiba-tiba datang merusak segalanya.


Pria itu meremas rambut dan membanting tangannya. “Ini semua karena Anyelir!”


*


Sore hari


“Papa, Papa! Mama bekerja di rumah sakit tempat Rio dirawat?” tanya anak kecil yang sedang duduk dalam mobil berdampingan dengan Dylan.


Sambil mengusap kepalanya, pria itu mengangguk. “Emm ... Tante Anyelir belajar sekaligus bekerja di tempat ini.”


“Tante Anyelir?” Rio mengulang sebutan Dylan untuk mamanya itu.


Bagi Rio, dia sudah menganggap jika Anyelir adalah mamanya yang sebenarnya. Anak kecil itu sama sekali tak kesulitan melupakan Andin, entah apa penyebabnya, sepertinya hal itu dikarenakan Andin yang tak pernah ada untuk Rio setiap hari.


“Iya, Tante Anyelir. Mamanya Rio, kan, Mama Andin. Bukan Tante Anyelir.” Dylan berusaha untuk mengingatkan lagi tentang Andin pada Rio. Bagi pria itu, masih terlalu sulit untuk menerima Anyelir di hidupnya, apalagi dengan mengakui wanita itu sebagai ibu kandung Rio, meski kenyataannya seperti itu.


Rio mengerutkan dahi. “Tapi nenek bilang, Mamanya Rio adalah Tante Balon Panda. Lagi pula, Rio tak mau memiliki mama seperti Mama Andin. Dia tak pernah peduli pada Rio.” Anak kecil itu pun merajuk sambil melipat tangan dan membuang muka dari papanya.


“Rio tidak boleh seperti itu, Rio harus menghormati orang tua. Begitu juga terhadap Mama Andin, Rio harus sayang pada Mama Andin.” Tak mau menyerah, Dylan akan tetap berjuang memberi pengertian pada Rio agar ia tak melupakan istrinya.


Jika bukan karena perintah dari ibunya, tentu saja Dylan enggan untuk menjemput Anyelir ke rumah sakit. Ia tak keberatan untuk mengajak Rio bermain keluar, namun kenapa harus menjemput wanita itu juga? Ini sangat merepotkan bagi Dylan. Ditambah suasana sore hari yang selalu hujan, hal itu menambah tingkat kemalasan yang dirasakan oleh Dylan.


Apalagi Rio sangat menuntut pada Dylan agar mereka menjemput Anyelir. Hal itu membuat Dylan mau tidak mau harus datang kemari, jika ia tak pulang membawa Anyelir, bisa dipastikan ibundanya itu akan murka dan marah padanya. Dylan masih sayang semua aset dan juga sahamnya, oleh karena itu, ia tak akan menentang keinginan sang ibunda.


“Itu mama!” Rio berdiri di dalam mobil sambil menunjuk ke arah pintu samping IGD. Di sana ada seorang perempuan keluar.


Dia dapat melihat Anyelir sedang mengulurkan tangan untuk merasakan air hujan.


“Dasar Bodoh! Sudah tahu musim hujan, malah tidak membawa payung,” umpat Dylan lirih sambil memperhatikan Anyelir dari mobilnya.


Dia melirik pada payung cadangan yang ada dalam mobil, namun tentu saja Dylan tak akan menawarkan payung tersebut untuk Anyelir.


Biarkan saja wanita itu kebasahan!


Hal ini bukan tanggung jawab Dylan untuk menawarinya payung. Ia hanya berkewajiban untuk menjemput Anyelir, bukan memayunginya juga.


“Papa, kita beri payung untuk mama, ya?” tanya Rio sambil menunjuk payung yang ada di mobil mereka.


Dylan menatap pada anaknya. “Biarkan saja!” balas Dylan.


Sementara itu, di luar pintu IGD, seorang wanita menggunakan jaket untuk menahan dinginnya cuaca. Ia mencari sesuatu dalam tas, namun sepertinya ia lupa membawanya.


“Oh, iya. Payungku ketinggalan di rumah Bu Lastri.” Anyelir baru ingat, jika kemarin para pelayan rumah tersebut yang menyimpan payungnya.


Akhirnya, karena waktu sudah semakin sore, Anyelir pun menutupkan hoodie jaket ke kepalanya, dia berencana untuk lari dan menuju ke halte bus.


Namun saat itu juga, seseorang menggenggam tangannya dan memberikan sebuah payung. “Pakai ini,” ucap pria tersebut dengan suara berat disertai senyum manis.


“Terima kasih, Dokter Rian,” balas Anyelir sambil tersipu.


Kejadian di depan IGD itu terlihat oleh seseorang yang sedang berada di mobil parkir. Pria itu membuang muka dan langsung menyalakan mobil untuk keluar dari jajaran parkiran.


“Kita mau pergi, Pa? Mama, kan, belum masuk?” protes anak kecil yang ada di sampingnya.


Dylan tak menjawab, ia hanya mengendarai mobilnya untuk keluar dari area tersebut.


Sementara itu, Rio membuka kaca jendela. Ia melihat di mana Anyelir sedang berjalan menuju ke arah halte, lalu anak itu berteriak, “Mama! Kami menjemputmu!”


Spontan saja, semua orang yang sedang berada di sana melihatnya. Termasuk Dokter Rian dan semua kawan sesama ko-as yang baru pulang. Dalam benak mereka pun muncul pertanyaan, sejak kapan Dokter Anyelir mempunyai anak?