
Tidak selalu pelangi yang muncul setelah hujan, ada juga kabut yang menghalangi pandangan. Namun kita harus selalu siap dengan semua kemungkinan yang terjadi, tidak hanya membawa payung ketika hujan, karena masalah lebih besar terjadi jika ada kabut, petir bahkan badai yang mengiringinya.
Dylan sedang merenung di kantornya kali ini. Dia duduk menghadap ke meja dengan dagu yang tertopang oleh kepalan tangannya. Memandangi nomor ponsel Andin dari layar gadgetnya yang tak memiliki foto profil. Ah, bukannya tak memiliki foto profil, namun sepertinya pemilik kontak tersebut memblokir Dylan.
“Kalau kamu tidak pergi dan mau bekerja sama, masalah tidak akan menjadi serumit ini.” Dylan menggumam sendiri.
Suara ketukan sepatu terdengar mendekati ruangan, disusul bunyi ketukan pintu yang disertai kedatangan seorang wanita berambut panjang dengan warna pirang.
“Pak Dylan, ada Pak Farel yang mengajak bertemu.”
Sontak Dylan pun langsung menegakkan badannya. Dia baru ingat jika siang ini ada jadwal pertemuan bersama kawannya tersebut untuk membicarakan proyek baru mereka.
“Duduk, Rel.”
Tanpa kesan formal, Dylan langsung meminta kawannya itu untuk duduk di sofa tempat menerima tamu.
“Kau sedang sibuk rupanya,” ucap Farel.
“Ya, aku sibuk karena siang ini harus menemui klien yang akan membahas mengenai pembangunan properti.” Dylan pun bercanda sambil menghampiri Farel dan duduk di depan kawannya tersebut.
Sama-sama mengenakan jam tangan dengan kelas ratusan juta. Gaya rambut yang tak jauh beda. Sepatu berbeda warna namun dari satu merek ternama yang sama. Mereka berdua dikenal sebagai sosok papa muda yang hits dan tampan dari kalangan konglomerat.
“Sebenarnya, aku ke sini bukan hanya karena pembangunan properti,” ucap Farel sambil mengibaskan tangan di depan Dylan.
“Lantas? Tak mungkin kau hanya sekedar kangen dan ingin menemuiku,” kelakar Dylan di depan Farel.
Farel duduk dengan sedikit menyondongkan tubuhnya dan kaki yang terbuka. Pria itu memiringkan kepala sambil memicingkan mata dan menyentuh bahu Dylan. “Bagaimana bahumu? Aku khawatir karena waktu itu terlalu keras memelintirmu!” ucap Farel.
Dylan menyingkirkan bahunya dari Farel dengan menepis tangan sahabatnya tersebut. “Oh, jadi kau tersangka yang membuat lenganku harus diperban selama tiga hari itu, hah?”
Pria di depannya terkekeh dengan suara nyaring. “Sorry, Bro! Aku hanya takut kau gelap mata dan mengikuti mobil yang sedang pergi itu. Bisa-bisa kau tidak selamat.”
Dylan pun terkejut. “Maksudmu, mobil yang membawa Andin itu?” tanya Dylan memperjelas maksud Farel.
Farel pun mengangguk kepala perlahan. Dia memasang wajah dengan penuh kekhawatiran pada Dylan. Sementara itu, Dylan yang tak mengerti semakin penasaran.
“Memangnya kenapa? Kau takut aku mengebut di jalan karena menyusul mobil itu. Hah!” Dylan menyepelekan peringatan dari Farel.
“Itu salah satunya,” timpal Farel yang tahu dengan tabiat kawannya yang selalu kebut-kebutan ketika sedang marah. “Tapi itu bukan yang utamanya.”
Dylan pun mengernyit.
“Pria yang hadir bersama Andin waktu itu, adalah salah seorang pasien VVIP dari keluarga Rian. Selama proses perawatannya dua tahun lalu, dia menjadi donatur utama di Rumah Sakit keluarga mereka. Sekarang, pria itu memang sudah sembuh dan bukan lagi seorang donatur, namun tetap saja keluarga Rian mengundangnya untuk menjaga silaturahmi dan sebagai tamu kehormatan,” jelas Farel mengenai latar belakang pria yang membawa Andin.
Wajah Dylan pun menunjukkan ekspresi seriusnya. Pasien VVIP itu artinya pria tersebut juga dari kalangan kelas atas yang sama seperti dirinya, walau ada kemungkinan jika pria tersebut lebih kaya darinya.
“Siapa memangnya pasien tersebut?” Kali ini Dylan tak memandang enteng lawannya.
“Keluarga Handoko, pemilik bisnis transportasi dan juga travel. Dia Wiro Handoko.” Farel pun akhirnya menyebut nama orang tersebut.
“Ya, dari orang tua Rian lebih tepatnya. Karena mereka lah yang mengundang Wira.”
Dylan pun mengangguk lagi.
“Ah, aku ke sini untuk membicarakan proyek baru kita, namun jadi teralihkan karena Wira.”
Farel pun menggiring percakapan mereka menuju ke topik utamanya lagi. Dylan pun kali ini tampak semakin serius karena membicarakan masalah bisnis yang akan dikerjakan. Ia bahkan bolak-balik dari sofa ke meja untuk mengambil laptop atau beberapa dokumen yang perlu ia tunjukkan ke Farel.
Sampai pada mereka menyepakati hal yang didiskusikan.
“Baiklah, aku setuju untuk supplier kita ambil dari beberapa pemasok. Tak masalah dengan harga, yang penting kita mengambil kualitas yang terbaik yang bisa mereka jual untuk kita.”
“Benar, denah lanskap yang kamu tunjukkan juga aku sudah menyetujuinya. Papaku berkata dia mengikuti keputusanku, jadi diskusi kita kali ini sudah menjadi final. Aku tinggal mengabarkan saja pada mereka.”
Dylan dan Farel pun saling berjabat tangan juga menepuk pundak satu sama lain.
“Aku senang pundakmu tidak lepas karenaku,” kekeh Farel untuk yang ke sekian kalinya.
“Ya, ada yang merawat dan membalut lukaku dengan kain,” jawab Dylan sambil tersenyum simpul. Ia mendadak ingat dengan wajah Anyelir yang tersipu namun memaksakan diri untuk tetap membalut luka milik Dylan.
“Sama istri barumu?” tanya Farel sambil meledek pada Dylan.
Tatapan mata Dylan kali ini memicing pada kawannya.
“Aku sebenarnya terkejut saat orang tua kita membahas hal itu di pesta perayaan hari jadi perusahaan keluarga Rian. Hal itu bahkan lebih mengejutkan daripada melihat Andin berselingkuh.”
Kali ini Dylan semakin melotot ke arah Farel.
Farel pun mengerucutkan bibirnya sedikit sambil menutup dengan tangan. Dia baru sadar jika telah salah bicara. Sebenarnya, ketiga teman Dylan sering memergoki wanita bernama Andin itu bersama dengan perempuan-perempuan penyanyi karaoke ataupun sesama model yang sangat terkenal sebagai penjual tubuh. Mereka tahu jika lingkungan pergaulan Andin bukan dari kalangan wanita baik-baik.
Meski tak pernah mendapati secara langsung perselingkuhan istri dari Dylan tersebut, namun cepat atau lambat mereka memprediksikan jika hal tersebut akan terjadi. Mereka pernah menasihati Dylan mengenai istrinya, namun itu hanya satu kali saja. Setelah itu, mereka tak berani berkata apa-apa lagi tentang Andin karena Dylan selalu marah jika sang kawan mengatakan keburukan sang istri.
“Kau boleh pulang,” tukas Dylan pada kawannya.
“Baiklah.” Farel sudah merasa jika dirinya membuat suasana menjadi canggung. Sesuai dengan prediksinya, ia mengira jika Dylan ini sama sekali belum move-on dari Andin.
Namun ini masih lebih baik dibanding Dylan yang mengamuk. Mungkin karena sekarang telah ada istri baru, jadi isu tentang perselingkuhan Andin tak terlalu menyakitinya.
“Woy, Farel!” panggil Dylan sekali lagi.
Farel pun yang sudah hampir berada di ambang pintu, terpaksa menghentikan langkah dan berbalik menatap Dylan lagi. “Ada apa?” tanyanya.
“Nanti malam kau kosong?”
Farel mengangkat kedua alisnya. “Kenapa? Kaumau kutemani minum?” tebak Farel yang bisa menebak isi pikiran Dylan dari raut wajah kawannya.
Dylan mengangguk. “Ya, temani aku minum setelah keluar dari kantor nanti!”