Menikahi Mantan Istri

Menikahi Mantan Istri
38. Teralihkan Kecemburuan


“Baiklah, rapat hari ini selesai. Terima kasih untuk yang telah menunjukkan presentasinya, nanti kami akan mempertimbangkan lagi saran dari kalian masing-masing,” ucap Dylan menutup rapatnya.


Setelah itu, notulen menyerahkan hasil rapat pada Dylan selaku pemimpin rapat hari ini.


Dia pun berjalan bersama sekretarisnya yang berambut pirang untuk menuju kembali ke ruangan.


“Tera, bisa kauhangatkan sup dan minumanku?” tanya Dylan  menunjuk pada makanan yang dibawakan oleh Anyelir dari rumah.


Bekal itu sebenarnya dibuat untuk Anyelir sendiri yang akan ia makan saat di rumah sakit setiap jadwal makan siang. Namun, karena melihat Dylan tak sempat makan dan masih merasa pening saat pagi hari, perempuan itu memaksa suaminya membawa bekal untuk makan di kantor.


“Baik, Pak,” jawab sekretaris Dylan bernama Tera tersebut.


Dylan pun lanjut dengan memeriksa laporan pembangunan perumahan di berbagai kota yang dikelola perusahaannya.


Persentase penjualan dari hari ke hari semakin baik, hal tersebut membuat Dylan optimis dengan proyek lain dari rencana pembangunannya.


Tuk tuk tuk


Suara sepatu mengetuk pada lantai, wanita berambut pirang itu pun kembali datang ke ruangan tempat bosnya bekerja.


“Saya membawakan pesanan Anda, Pak,” ucap Tera sambil meletakkan nampan di meja Dylan.


“Terima kasih,” jawab Dylan tanpa melihat pada wanita itu karena ia masih sibuk dengan laporannya.


Tera pergi meninggalkan ruangan sang bos dan menutup pintunya.


Selepas sekretaris itu pergi, Dylan menyelesaikan pemeriksaannya pada laporan-laporan yang ada di meja. Setelah itu, ia menutup sementara dokumen-dokumen tersebut dan langsung melihat pada makanan yang dibuat oleh Anyelir.


Pening yang ia rasakan tadi pagi memang berangsur pulih setelah meminum wedang jahe buatan istri keduanya tersebut. Namun kini ia menjadi agak sedikit lapar karena tadi hanya sarapan sedikit dalam mobil.


Sup iga yang hangat ditambah dengan nasi, Dylan memakannya dengan lahap. Ini belum jam makan siang, akan tetapi waktu ini juga sudah terlalu lewat untuk sarapan. Namun apa pun itu, pria itu tak peduli dan ia fokus untuk menghabiskan bekal buatan istri.


Setelah rasa kenyang itu menguasai perutnya, pria dengan rahang tegas itu pun berjalan keluar dari ruangan. Kali ini dirinya benar-benar bugar dan tak merasakan pusing lagi.


“Tolong bereskan meja saya,” ujar Dylan saat melewati meja sekretarisnya.


“Baik, Pak,” jawab Tera sambil berdiri dan menuju ruangan bosnya.


“Pak Dylan?” panggil Tera yang membuat sang bos berbalik.


“Kotak makannya akan dibawa pulang?” tanya wanita tersebut sambil membetulkan kacamata.


Dylan berpikir sejenak. “Dicuci saja, lalu masukan lagi pada tasnya. Biar nanti kubawa pulang.”


Tera pun tersenyum sambil mengangguk. “Apakah ini bekal dari Bu Andin?” tanya sang sekretaris sambil tersenyum lebar.


Sepertinya wanita itu belum tahu mengenai Anyelir yang menjadi istri baru sang bos.


Dylan hanya tersenyum sedikit.


Namun hal yang menjadi perhatian bagi Dylan bukanlah pertanyaan itu, melainkan kalimat yang dikatakan oleh Tera setelah ini.


“Bu Andin adalah istri idaman ya, Pak. Padahal dia baru tiba di bandara pagi ini, tapi langsung bisa memasak untuk bekal suami.” Tera mengucapkan hal tersebut sambil tersenyum ke arah majikannya.


Dylan pun langsung meradang mendengar ucapan Tera. “Coba katakan sekali lagi!” titahnya dengan tatap mata tajam. Sontak hal tersebut membuat Tera langsung pucat dan gadis blasteran itu berpikir jika dia telah melakukan kesalahan.


“Eem, Bu Andin baru tiba di bandara pagi ini, tapi langsung bisa ... me ... memasak untuk A ... Anda, Pak.” Dia benar-benar gugup sambil gemetar saat membereskan meja milik Dylan.


Pria tersebut langsung mengerutkan dahi.


“Di bandara?”


“Ya, dia berada satu pesawat dengan kakak saya yang baru tiba dari Bali,” ucap Tera menunduk takut. “Anuu ... mungkin saya yang salah lihat,” lanjutnya meralat ucapan sebelumnya.


Tidak peduli dengan jadwal bisnis selanjutnya, Dylan langsung menyusun rencana untuk mencari keberadaan Andin.


Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari pria bernama Wira dan tentunya rumah sakit milik keluarga Rian adalah tujuan pertamanya. Karena merekalah yang memiliki koneksi dengan pria tersebut.


*


Pria itu mengendarai mobil menuju ke rumah sakit. Meskipun ini jam sibuk, namun jalan raya di kota ini pasti selalu mengalami kemacetan. Seberapa keras dia membunyikan klakson, tak akan membuat mobil di depannya bergegas menyingkir. Semua orang memiliki kepentingan dan tujuan masing-masing, untuk itu mau tidak mau semua harus bersabar sampai kemacetan ini dilalui.


Mobil ini merayap pelan. Dylan sudah merasakan gerah dan panas akibat suasana ini.


Namun untungnya beberapa menit kemudian ia berhasil terlepas dari jebakan macet yang membuatnya seakan berada di dalam spa tengah jalan raya.


Rumah sakit milik keluarga Rian, merupakan rumah sakit tempat Anyelir menjadi koas di sana. Namun pada saat itu, Dylan sama sekali tak mengingat pada istri keduanya. Yang ada di sebagian besar otaknya saat itu adalah Andin. Dia harus menemukan Andin.


Berlari menyusuri lorong, Dylan tak henti-hentinya memanggil Rian melalui ponselnya. Namun kawan dari Dylan itu tak memberi jawaban dari panggilannya.


Dylan pun berinisiatif untuk mengunjungi ruang kerja Rian. Dia melewati bangsal rawat sebelum sampai di ruang kerja pribadi sang dokter muda yang masih bujangan tersebut.


“Ah, dokter Rian memang sangat tampan. Apa dia akan jatuh cinta pada perawat seperti kita?”


“Dia sangat berdedikasi dan profesional. Mana mungkin dia akan jatuh cinta pada kawan dalam satu tempat kerjanya.”


“Ya memang benar, keluarga konglomerat pasti telah menjodohkan anaknya sejak lahir.”


Melewati ruang berkumpulnya para suster, membuat Dylan mendengar berbagai gosip tentang kawannya. Dia juga mengakui, jika temannya ini cukup populer di kalangan para dokter dan suster muda.


“Permisi,” ucap Dylan menghampiri salah satu suster di sana.


“Iya, Pak?”


“Bisa saya bertemu dengan Dokter Rian?” tanya Dylan.


Suster itu pun saling memandang pada kawannya. “Maaf, Pak. Apa Anda telah membuat janji?”


Aku menggeleng. Ah, pasti dipikirnya aku adalah pasien yang hendak berobat pada Rian.


“Aku ... bukannya ingin berobat, hanya saja ....”


“Dylan, sedang apa kamu?” Suara familliar itu terdengar dan menghentikan Dylan.


Pria itu langsung menoleh dan matanya pun bertatapan pada sang dokter yang sedang ia cari. “Rian, aku ingin bertanya padamu.”


Hanya saja, Dylan mendadak terganggu dengan keberadaan istri keduanya yang berdiri di dekat Anyelir. Dia pun mengernyitkan dahi, apa yang sedang dilakukan oleh Anyelir sehingga berjalan berdua dengan Rian? Apa mereka sedang menjalani proses pendekatan dalam sebuah hubungan.


“Iya, boleh tanyakan saja. Ada apa?” ujar Rian.


Mereka berdua pun meninggalkan tempat itu untuk berbicara di tempat yang lebih privasi.


Namun selama berjalan, Dylan tak bisa membuang pikirannya yang begitu liar memikirkan kedekatan Rian dan istri keduanya di tempat yang tak bisa ia lihat.


“Bicaralah, di ruanganku tak ada orang lain yang mendengar,” ujar Rian.


Dylan sejenak merenung. Pria itu pun mendadak lupa dengan tujuan utamanya dan berkata, “Bisakah aku membawa Anyelir pulang dan meminta dia untuk cuti?”


*


Si Dylan kenapa sih?


Xixixixi