
“Apakah Anyelir hamil? Atau ... dia kenapa?” Dokter Rian bertanya pada Dylan.
Pria tersebut malah mematung setelah mengajukan pertanyaan.
“Hei, Bro!” Sang dokter itu menjentikkan jari di depan wajah kawannya.
“Apa yang kutanyakan tadi?” Mendadak Dylan sadar dan itu bukanlah tujuannya datang kemari.
“Kau meminta izin cuti untuk Anyelir dan ingin membawanya pulang sekarang juga. Aku tanya, memang Anyelir kenapa? Apakah dia hamil?” tanya Dokter Rian menegaskan sekali lagi.
Dylan menggelengkan kepala. Kenapa dirinya malah menanyakan tentang Anyelir? Membuat malu saja! Pria itu mengutuk dirinya sendiri.
“Emm, belum. Tapi ... kami akan melakukan program kehamilan untuk pengobatan Rio. Kautahu sendiri, kan? Anyelir harus segera hamil untuk mendapatkan obat bagi Rio.”
Dokter Rian hanya mengangguk saja. Dia memang pernah mendengar pengakuan dari Anyelir yang mengatakan jika Rio adalah anak kandungnya, akan tetapi kenapa hal tersebut bisa terjadi? Rian masih belum menemukan jawabannya.
“Ya, masalah itu bisa dibicarakan dengan pihak kampus. Aku tidak memiliki wewenang dan kapasitas untuk memberi izin cuti.” Rian menepuk punggung belakang kawannya.
“Lalu ... ada satu lagi yang mau kutanyakan,” lanjut Dylan menahan agar Rian tidak terburu-buru keluar.
“Ada apa lagi?” Pria berbaju putih tersebut berbalik dan urung meninggalkan ruangannya.
“Kau mengenal Wira?”
Kali ini Rian langsung menanggapi serius ucapan kawannya. “Apa ini tentang Andin?” tanya Rian.
Kedua pria itu pun mengambil posisi dan duduk berhadapan di kursi.
“Tolong beritahu aku informasi tentang Wira. Aku sudah mencari tetapi, semuanya nihil. Dia memiliki koneksi yang kuat untuk menutupi privasinya,” ujar Dylan.
Rian mengusap dagu. “Kami pun sebenarnya tidak boleh memberikan data pasien. Karena jika aku memberikannya padamu, sama saja dengan pihak rumah sakit yang membocorkan data pasien. Kau pasti paham itu,” jelas Rian.
Dylan mengangguk mengerti. “Aku tahu, Yan. Tapi tolong aku kali ini. Aku harus menemukan Andin dan berbicara dengannya. Pria yang bernama Wira itu pasti sedang merantai istriku sehingga dia tidak bisa pergi.”
Rian merenung sejenak. Pria itu pun berdiri lalu berjalan menatap ke arah jendela untuk melihat pemandangan taman rumah sakit yang dipenuhi nuansa hijau.
“Kumohon, Yan. Bantu aku.”
Sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jasnya, Rian pun menatap kembali pada Dylan.
“Seandainya Andin pergi dari Wira, kaumau apa?” tanya Rian. Pria ini masih bingung dan tak mengerti dengan teka-teki kehidupan rumah tangga kawannya. Namun yang Rian lihat di matanya saat ini adalah Anyelir yang sangat menyukai suaminya meski sang suami masih mencintai istri pertamanya walau perempuan itu berselingkuh.
“Aku ... aku mau ... menyelamatkan rumah tanggaku dengan Andin,” jawab Dylan yang terdengar cukup egois bagi Rian.
“Lantas Anyelir? Dia adalah ibu kandung dari anakmu dan barusan kau mengatakan akan melakukan program kehamilan bersamanya. Jika kau kembali pada istri pertamamu, lantas bagaimana dengan Anyelir?” tanya Rian dengan sedikit kritis saat ini.
Dylan menghela napas. “Kau tidak akan paham, Yan. Aku sama sekali tidak mencintai Anyelir,” sanggah pria tersebut menjelaskan pada Rian.
Namun jawaban itu tentu saja tidak membuat Rian puas. Ia malah merasa kesal pada kawannya yang tampak bodoh kali ini. Bagaimana tidak? Andin sudah berselingkuh, namun Dylan malah ingin mempertahankannya. Padahal wanita itu juga sama sekali tak memberi anak untuk kawannya tersebut.
“Aku mungkin ... emmm ... maksudku ... kami sepakat untuk bercerai.” Dylan mengatakannya dengan ragu.
“Dylan, aku tak tahu apa yang terjadi dengan rumah tanggamu. Tapi apa pun itu yang terjadi, aku tak rela jika kau menyakiti perempuan sebaik Anyelir.” Rian mengutarakan pikirannya.
“Aku ... menikahi Anyelir sekarang hanya karena obat untuk Rio.”
Rian pun mengembuskan napasnya. “Dylan, mungkin aku tak berhak berkata seperti ini. Namun ... kau harus tahu, jika pria sepertiku ini belum ingin menikah karena menunggu adanya wanita sebaik Anyelir. Seandainya kaumau melepasnya baik-baik dari sekarang, biar aku yang menjadi ayah sambung bagi Rio.”
Dylan membelalak mendengar pernyataan dari Rian. Ia tak dapat mengira jika kawannya sendiri akan mengatakan hal itu secara terang-terangan.
“Sebenarnya, terapi sel punca itu, memang yang terbaik adalah sel punca milik saudara dari ayah dan ibu kandung. Namun, seandainya hanya saudara dari ibu yang sama saja pun terapi itu masih bisa dilakukan. Semoga kau mengerti maksudku,” ucap Rian sambil berjalan meninggalkan Dylan yang mematung di dalam ruangannya.
Namun baru sampai di pintu, pria tersebut berbalik dan menatap pada kawannya yang masih termangu lagi. “Ini adalah nomor kontak milik Wira. Semoga kau berhasil membawa Andin kembali!”
Tatapan mata Rian saat itu menunjukkan persaingan yang sangat ketat. Dylan merasakan aura kompetisi yang begitu sengit saat berbicara dengan Rian barusan.
Kawannya itu memberikan nomor kontak Wira secara sengaja, padahal sebelumnya Rian sangat menjaga privasi pasiennya. Dari hal tersebut, seakan-akan Rian berkata, “Silakan cari Andin aku membantumu agar kau cepat kembali untuk bersama dengan Andin. Lalu serahkan Anyelir padaku.”
Seharusnya Dylan merasa bahagia, namun yang dirasakan Dylan kali ini justru dia merasa resah. Ia kesal pada Rian, tapi tak bisa diungkapkan.
Dia sendiri tak mengerti, padahal dia bisa dengan mudah menyelesaikan permasalahan ini. Namun seakan ada yang mengganjal di hatinya.
Dylan pun pergi dari rumah sakit tersebut, dari kejauhan pria itu melihat Anyelir yang sedang tersenyum kepada Rian. Entah apa yang mereka bicarakan, namun hal itu benar-benar membuat Dylan merasa gusar.
Pria itu mengendarai mobil dengan perasaan tidak tenang, ia tekan pedal gas menggunakan kakinya dan mengebut saat keluar dari rumah sakit menuju kembali ke perusahaan.
Seharusnya dia senang, kali ini ia tinggal mencari Wira, lalu mengambil Andin dan membatalkan perceraian.
Setelah itu, lepaskan Anyelir dan berikan pada kepada Rian. Urusan terapi untuk Rio biar mereka yang mengurus. Setelah itu, jika memperkarakan hak asuh, biar Rio diasuh oleh keluarga Bagaskara, karena ibunya yang sangat menyukai sang cucu.
Seharusnya Dylan merasa senang.
Seharusnya pria itu berterima kasih pada Rian.
Namun kenapa Dylan gusar?
Kenapa pria itu merasa kesal?
Apa yang salah?
Apa jangan-jangan dia tidak rela untuk melepaskan Anyelir?
Kenapa dia berharap Anyelir saat ini mengandung anaknya?
Ciiiiit!
Dylan menghentikan mobil dan membanting setir menuju ke tepi jalan.
Pria itu terengah-engah melampiaskan kemarahannya. Apa yang dikatakan oleh Rian itu benar, tapi kenapa ia marah karena saran dari kawannya itu?