
“Nanti kalau Bi Ai dan nenek datang, mama dan papa pulang ya?” ujar Dylan yang sudah berpamitan sejak awal.
“Iya, pulanglah. Mama dan papa harus membuat adik untuk Rio,” jawab anak itu dengan suara polosnya.
Sontak hal tersebut membuat Anyelir terperanjat karena ia tak pernah mengajari Rio berbicara seperti itu sama sekali.
“Rio, siapa yang bilang begitu?” tanya Anyelir untuk memastikan.
“Aku,” jawab Dylan dengan ringan.
Hal itu juga diamini dengan anggukkan dari anaknya. “Benar.”
Anyelir pun menggelengkan kepala. “Kalian ini, ya ....”
“Itu benar.” Dylan tersenyum lebar dengan wajah tampannya.
Hal itu tertangkap oleh netra Anyelir dan serta merta perempuan itu pun tersipu. Dia yang salah tingkah, memelintir jarinya sendiri sambil bingung hendak melakukan apa.
Akan tetapi, di sela jantungnya yang ingin meledak ini, Anyelir mencoba mempertahankan kewarasan. Setidaknya agar pria tersebut tak terlalu mempermainkan hatinya. Ah, mungkin bukan Dylan yang mempermainkan, tapi Anyelir sendiri yang terlalu mudah untuk terbawa perasaan terhadap segala sesuatu kelakuan dari sang suami.
“Assalamu’alaikum.” Suara salam dari dua orang perempuan itu datang, pertanda jika ini adalah saatnya Rio dan Anyelir harus berpisah.
“Wa’alaikum salam.” Anyelir menyambut keduanya dan menyalami. “Ibu sama Bi Ai kok tumben udah datang jam segini. Kan, ini masih siang,” ujarnya perempuan itu. Dia merasa bersyukur ada kedatangan dua orang ini yang bisa mengalihkan rasa salah tingkahnya.
“Iya, biar kalian bisa cepat pulang. Sudah, Rio tidak apa-apa, kan, sama nenek?” Lastri mengusap kepala cucunya yang sedang sakit tersebut.
Pria kecil itu pun menganggukkan kepala, menunjukkan lesung kecil di pipi kirinya. “Aku tidak apa-apa, baru saja papa bilang, kalau mama dan papa harus membuat adik untukku.”
Kedua wanita itu pun terkekeh mendengar penuturan Rio.
Dylan kemudian mendekat pada Anyelir, dia menggandeng lengan Anyelir tiba-tiba dan mengajaknya pergi dari sana.
*
Ini adalah hal yang mengejutkan, perilaku Dylan benar-benar mudah berubah. Dalam sekejap pria itu tiba-tiba bersikap manis, tapi tak boleh terlena karena bisa jadi akan ada hal tak terduga yang dapat membuat pria tersebut bersikap kasar lagi padanya.
Seorang pria menatap Anyelir dan Dylan yang berjalan dengan bergandengan tangan. Pria tersebut memberikan senyum lebarnya sambil bersandar pada dinding.
Dylan tahu, jika itu adalah sahabatnya. Pertemuan terakhir mereka dalam keadaan tak baik-baik saja. Lalu kini mereka berpapasan dan Dylan sengaja mengeratkan pelukannya di pinggang ramping sang istri.
“Pa ... Pak Dylan, jangan seperti ini,” pinta Anyelir yang merasa risi karena Dylan memeluknya terlalu erat di tempat umum seperti lorong rumah sakit ini.
“Kau kenapa? Apa karena tadi ada Rian yang menatap kita dan melihat kita berjalan seperti ini?” tanya Dylan sambil menyindir pada sang istri.
Anyelir spontan menoleh ke kanan dan kiri. “Memang di mana ada dokter Rian?” Wanita itu tak menyadari keberadaan pria tersebut saat di ujung lorong tadi.
“Pura-pura saja kau ini,” ketus Dylan.
Perempuan itu hanya menggelengkan kepala. Sejak kapan dia berpura-pura. Anyelir benar-benar tak melihat keberadaan Rian tadi.
Meninggalkan bangunan serba putih dengan aroma obat yang menempel di sana, kini Dylan dan Anyelir telah sampai di mobil mereka. Keduanya duduk di bagian depan, dengan posisi Dylan yang mengemudikan mobil.
“Ti ... tidak,” timpal perempuan itu sambil terus membuang muka.
“Kau kesal karena aku tak memberitahu saat ada Rian tadi?” gurau Dylan pada perempuan di sampingnya.
Anyelir merasakan mobil yang ia naiki sedikit bergetar begitu Dylan menyalakan mesin. Dia masih saja tak menatap langsung pada sang suami, tapi perempuan itu melihat pantulan pria tersebut melalui jendela mobilnya. Ya, wajah dari pria yang ia suka, tapi ia takut bila bersamanya.
“Kau masih memikirkan Rian?” tanya Dylan.
Kali ini perempuan itu pun menoleh pada pria yang memberinya pertanyaan. Kenapa sejak tadi yang dibahasnya adalah tentang Rian dan Rian? Apakah seperti cemburunya seorang Dylan Bagaskara? Ah, Anyelir tak boleh terlalu percaya diri terlebih dahulu.
“Aku bertanya, kenapa kau diam saja?” ujar Dylan lagi.
“Justru saya aneh pada Pak Dylan, kenapa Anda selalu menanyakan Dokter Rian?” jawab Anyelir, kini perempuan itu yang memberi nada dingin pada suaminya.
Sambil terus memegang kemudi, pria itu menoleh pada sang istri. “Sampai kapan kau memanggilku dengan sebutan seperti itu? Kamu masih marah padaku?”
Anyelir kembali membuang muka, dia tak menjawab apa yang diucapkan oleh Dylan. Entah kenapa, dirinya kini merasa tak nyaman pada suaminya. Tepatnya setelah kejadian kemarin, Anyelir benar-benar ingin menjaga jarak dari pria tersebut. Jadi, meski ada insiden yang menimpa Rio dan membuat keduanya lebih dekat, tetap saja perempuan itu masih merasa tak nyaman di sekitar suaminya.
Rumah mewah keluarga Bagaskara itu telah terlihat di depan mereka. Sampai Dylan menghentikan kendaraannya pun, Anyelir masih tutup mulut saja.
“Anda tidak akan kembali ke kantor perusahaan?” tanya Anyelir. Perempuan itu membuka lagi mulutnya saat mereka berada di rumah. Bukan karena ingin bertanya pada Dylan, tapi dia justru ingin Dylan kembali ke kantornya saja.
Pria itu tak menjawab, hingga mereka berdua kini telah berada di lantai dua kediaman mereka. “Karena aku ingin mendengar jawaban darimu.”
Anyelir berbalik dan menatap suaminya. “Jawaban untuk apa?” tanya perempuan itu sambil memegang gagang pintu kamar.
Dylan pun mendekat dan ikut memegang gagang pintu tersebut. Tepatnya, pas berada di atas tangan Anyelir.
“Kau masih marah padaku?” tanya Dylan tepat di depan Anyelir dengan menggunakan suara yang sensual dan menggoda perempuan itu.
Wanita dengan bibir bak buah sakura tersebut tak bisa pergi ke mana pun, dirinya hendak mundur tapi Dylan memegangi tangan yang sedang berada di gagang pintu.
“Atau kau memikirkan Rian?” tanya Dylan lagi sambil membuka pintu tersebut dan mendorong Anyelir untuk masuk ke kamar milik perempuan itu.
Lirih suara derit pintu begitu halus saat mereka berdua masuk. Anyelir berjalan dan memilih untuk bersembunyi, tapi Dylan langsung menariknya, sembari kaki dari pria tersebut mendorong pintu kamar agar tertutup kembali.
“Kenapa Anda terus menanyakan Rian? Apakah Anda cemburu?” Anyelir membalik pertanyaan untuk suaminya.
Dylan pun menjepit kedua pipi perempuan tersebut hingga Anyelir mengerucutkan bibirnya. Bibir bak buah sakura yang merona senada dengan pipinya.
“Kalau iya, kenapa?” Pria itu pun mendorong Anyelir hingga perempuan itu terbaring di atas ranjang dengan posisi Dylan yang sedang berada di atasnya.
Anyelir tak bisa menjawab, dia benar-benar merasa bahwa posisinya sedang terimpit sehingga tak bisa mengelak dan melakukan perlawanan. Keduanya tangannya bebas berada di kedua sisi kepala, tapi Dylan menekan badannya agar perempuan ini tak bisa pergi ke mana pun.
“Katamu, laki-laki yang memaksa pada perempuannya itu sangat tidak gentle. Jadi ... sekarang aku minta izin padamu,” ucap Dylan perlahan sambil melepaskan satu per satu kancing baju Anyelir.
Perempuan itu hanya bisa menelan ludahnya. Dia bisa paham apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Apa sekarang kauberi aku izin untuk menyentuhmu?”